Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
67. Penyelesaian


__ADS_3

Dengan langkah gontai dan berderai air mata, Veln berjalan menuju kamarnya. Kamar yang biasa dia gunakan untuk tidur dan beristirahat bersama Ray. Untung saat itu masih dalam keadaan tengah malam, hingga Veln tidak perlu malu untuk menunjukan kesedihannya disepanjang jalan menuju kamarnya.


Didalam kamar, Veln menghempaskan tubuhnya sembarang diatas kasur dan menangis hingga puas untuk meluapkan rasa sesak didadanya.


Perempuan itu tidak dapat tidur dengan benar, karena perasaan dan pikirannya yang berantakan membuatnya harus rela terus terbangun dalam lelapnya.


Hingga pagi menjelang matanya harus menyerah karena sudah tidak sanggup lagi untuk terpejam, pandangannya lekat menatap kosong langit-langit kamar. Sampai tak lama terdengar pintu kamar yang terbuka, Veln langsung miring meringkukkan badannya.


Dan benar sesuai dugaannya, Ray lah yang masuk kedalam kamar. Langkah Ray berjalan mendekati kasur empuknya, mata Ray mendapati Veln yang sedang tidur meringkuk memunggunginya.


Ray berdiri menyenderkan tubuhnya didinding dan dengan tangan bersidakep diatas dada. Lama laki-laki itu memandangi tubuh Veln yang tak bergerak sama sekali diatas sana. Sampai setelah matanya merasa puas, Ray segera masuk kekamar mandi untuk menyegarkan diri.


Lima belas menit kemudian Ray sudah rapih dengan baju kerjanya, Ray melongok sebentar kearah ranjang dan masih mendapati Veln yang masih dalam posisi semula. Lalu Ray pun pergi dengan meninggalkan suara pintu yang berdebum, akibat ditutup dengan keras oleh tangannya.


Ray merasa sangat kesal bercampur marah namun terkadang merasa iba dan kasihan terhadap perempuan yang menghuni kamarnya. Bahkan ketika emosinya mereda, ingin rasanya dirinya berlari memohon maaf dan mendekap wanitanya. Namun sungguh ketika niatan itu muncul, egonya pun ikut datang dan lebih menguasai fikirannya. Hingga selalu saja membuatnya melontarkan kata-kata kasar yang tak enak didengar, dan memunculkan sikap menyebalkannya.


Veln yang sedari tadi meringkuk dengan mata yang terpejam dan sesekali menggigiti bibirnya, akhirnya dapat bernafas lega setelah kepergian Ray.


Tak ada niatan sedikit pun untuk beranjak dari kasur itu, mungkin sampai dengan seharian pun dia akan tahan tiduran disitu. Biarlah, toh Ray sudah memberikan kamar ini untuk dirinya.


○○○


Satu minggu sudah dua orang itu menjalani hidup dengan tanpa mengganggu satu sama lain, tanpa bertegur sama dan tidak saling peduli.


Veln, memutuskan untuk mengikuti permainan Ray. Entah mungkin sampai kapan, mungkin sampai stok kesabarannya habis.


Dia akan bangun dari kasurnya begitu Ray sudah pergi, dan secepatnya tidur sebelum Ray kembali.


Veln sengaja menghindar agar tidak sampai bertemu langsung dengan Ray. Untuk menjauhkan hal-hal yang tidak diinginkan, karena Veln mengerti dan paham ketika Ray berhadapan langsung dengan dirinya maka saat itulah emosi pria itu tidak akan terkendali. Karena itu perempuan ayu itu lebih memilih untuk menghindar dan mengalah, Veln pun tidak ingin seluruh para pekerja sampai tau dan mendengar pertikaiannya. Cukup hanya dirinyalah saja dan pria itu yang harus merasakan imbas dari takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan.


○○○


Sampai datanglah minggu pagi yang cerah, Veln bangkit dari tidurnya dan beranjak duduk menuju sofa ruang televisi kamarnya setelah memastikan Ray benar-benar sudah keluar dari kamar sehabis mandi.


Veln berharap dihari libur ini, Ray tetap sibuk dengan kegiatannya. Dan Veln pun berharap semoga saja Ray pun menghilang hingga tengah malam nanti seperti biasanya, agar dia tak harus bertatap muka langsung dengan pria itu.


Saking sibuknya memikirkan hal itu, Veln sampai terperanjat ketika pintu kamar terbuka.


Dan setelah sepekan lamanya, tanpa disengaja tatapan mereka bertemu. Dengan sama-sama menunjukan ekspresi datarnya, mereka saling berpandangan.


Hingga begitu Veln tersadar, perempuan itu langsung memutus kontak matanya. Kembali duduk dan memalingkan pandang kesisi berlawanan dengan jalur yang akan dilewati oleh Ray.


Ray menelan ludahnya, dan berjalan menuju ruang ganti untuk mengambil ponselnya yang tertinggal disana.


Setelah mendapatkannya Ray pun kembali menuju arah pintu keluar.


Sebelum Ray sampai menyentuh gagang pintunya, seseorang dari luar lebih dulu membukanya dan duaaaaaar.

__ADS_1


" Pagi " Sapaan pagi penuh semangat dari mulut Renand mengejutkan Veln.


Sosok adik kecilnya muncul tanpa pemberitahuan, sudah dipastikan akan dapat merusak keadaan yang belakangan telah berjalan dengan baik.


" Kapan kau kembali? " Ray tak menghiraukan ucapan selamat pagi dari adiknya.


" Baru saja. Aku bawakan sarapan, Mami sengaja memasaknya untuk kalian "


" Kalian sarapan saja duluan, aku mau mandi terlebih dahulu " Veln berusaha menghindar, agar tak terjerembab kedalam keadaan yang tidak menyenangkan.


" Ya ampun kak V, kau menyebalkan sekali. Sudah sesiang ini masih bertahan dengan baju piyama mu? " Renand sedikit merasa kesal. " Kau pasti merasa malu saat ini, karena harus bertemu dengan adik kecil mu yang sebentar lagi menjelma menjadi seorang pria dewasa dalam keadaan amburadul " Veln mengernyit bingung, dengan sudut mata Ray yang sedikit mencuri pandang kearahnya. " Sebentar lagi aku akan kuliah bukan anak SMA kemarin sore lagi, dan seketika itu juga aku akan menjelma menjadi seorang pria dewasa, pria matang yang dielu-elukan banyak wanita seperti kak Ray " Renand tertawa merasa geli dengan ucapannya sendiri.


" Good boy " Veln menunjukan dua jempolnya kearah Renand. " Jadilah dirimu sendiri. Jangan pernah menirukan orang lain, apalagi mengikuti gaya kekanakan seseorang "


Jlep, sindiran itu langsung mengena kearah Ray yang membuat Ray mendelik tak suka tanpa dipedulikan oleh Veln.


" Turun yuk, aku sudah lapar " Ajak Renand tidak sabaran.


" Kau duluan saja, aku akan mandi terlebih dahulu " Tolak Veln lagi.


Namun Ray menghampirinya, dan menarik tangan Veln " Meski belum mandi tetap terlihat cantik, karena itu jangan membuat kami menunggu. Benarkan boy " Renand mengangguk setuju dan mereka pun turun bersama-sama untuk menuju ruang makan.


○○○


Dimeja makan sudah tertata rapih beberapa menu makanan hasil masakan Mami Rosa yang dibawa Renand. Bibi Ana yang bantu menatanya diatas meja.


" Kak V " Renand merasa heran dengan kakak iparnya yang justru memilih sarapan dengan roti.


" Aku sedang D I E T boy " Dengan penuh penekanan Veln mengucapkan kata diet, membuat Ray sedikit terbatuk kecil.


" Kau bisa membuat pengecualian untuk hari ini " Ucapan Ray terdengar seperti hembusan angin segar.


" Aku akan bertahan, aku takut keterusan nantinya " Veln merespon dengan sibuk mengoles rotinya dengan selai, tanpa dia sadari sedari tadi Ray menatap lekat kearahnya. Tentu saja Veln lebih memilih bertahan dan harus cukup puas dengan roti untuk setiap sarapannya, karena alasan itu dia tidak berani untuk menyentuh atau mencicipi masakan Mami Rosa. Walau sejujurnya belakangan ini sebenarnya nafsu makannya dirasa sedang sedikit meningkat.


" Kak V, tubuh mu sudah seideal ini kenapa masih saja melakukan diet? "


" Untuk jaga-jaga, agar aku dapat lebih mudah mendapatkan pria lain ketika kakak mu pergi meninggalkan aku " Ray langsung menyaut gelasnya dan meminum isinya hingga kandas, ucapan Veln yang sedari tadi terdengar lirih dan lembut namun sukses membuat terdengar panas ditelinga Ray.


" Kalau itu terjadi, aku orang pertama yang akan memungut mu " Ucap Renand dengan serius.


" Terimakasih boy, ayo makan sarapan mu dengan benar " Renand pun mengangguk dan mereka pun kini tengah sibuk dengan makanannya masing-masing.


○○○


Setelah selesai Renand berpamitan untuk kembali kerumah besar Wiratama, karena dia sudah berjanji untuk mengantar Maminya belanja bulanan.


Renand datang sebenarnya hanya untuk mengantarkan masakan yang dimasak oleh Maminya, untuk diberikan kepada kakak dan kakak iparnya. Namun karena lapar, akhirnya dia memutuskan untuk sekalian ikut sarapan terlebih dahulu dirumah kakaknya.

__ADS_1


Sementara itu, Veln memilih untuk kembali kekamar. Dengan mengejutkan ternyata Ray mengikutinya dari belakang, suara Ray yang sedang berbicara dengan sekertaris Sam lewat sambungan telfon menjadi petunjuk untuk Veln mengetahui bahwa langkah kakinya sedang diikuti oleh Ray.


Dengan sengaja, Veln menghentikan langkahnya membiarkan Ray untuk masuk terlebih dahulu.


Veln masih berdiam diluar kamar, dengan hatinya memberi sugesti untuk disalurkan keotaknya. Bahwa tidak akan terjadi apapun, mungkin saja Ray kembali kekamar hanya untuk mengambil sesuatu yang tertinggal bukan untuk mengajak berdebat dengannya yang pada akhirnya telinganya harus rela untuk mendengarkan mulut pedas laki-laki itu.


Begitu fikiran, perasaan, dan hatinya mantap, Veln langsung melangkah masuk. Perempuan itu sedikit terkejut manakala mendapati Ray yang sedang berdiri dengan bersidakep dan tubuhnya bersandar disandaran sofa. Namun beruntungnya, Veln dapat dengan cepat mengembalikan ekspresinya.


Ray terlihat menatap lekat kearah Veln, namun Veln tak menghiraukannya terus melangkah dan melewati Ray.


" Tadi itu, apa kau sedang menunjukkan taring mu? "


Duaaaaar.


Seperti dugaan Veln, Ray kembali membuka peluang untuk Veln bersiap mengeluarkan kata-kata menyakitkannya.


" Benar " Veln menjawab santai, dengan mendudukkan pantatnya diatas sofa. Niatnya untuk mandi, dia urungkan. Entah mengapa kali ini Veln pun merasa gatal ingin meladeni Ray. " Mari kita selesaikan semuanya "


Posisi mereka yang saling memunggungi begitu mendukung layaknya musuh bebuyutan.


" Aku sudah muak dengan keadaan ini " Ucapan Veln yang datar, namun sukses membuat Ray mendelik kearah perempuan ayu itu. " Kau itu cerdas dan berpendidikan tinggi, jadi berhentilah bersikap kekanakan "


" Jangan pernah berani mengatai ku kekanakan "


" Kalau begitu bersikaplah sesuai dengan kemampuan otak mu " Ray mendekat kearah Veln, sedikit membungkukkan tubuhnya dan mengunci tubuh perempuan itu dengan kedua lengan kekarnya.


" Apa maksud mu? "


" Berhentilah berfikir bahwa seolah hanya kaulah yang dirugikan dari kejadian itu, kau merasa hanya dirimulah yang terluka disini. Sadar Ray, ini takdir. Tidak ada satu orang pun yang menginginkan seperti ini " Veln menatap sendu kearah Ray. " Tidak papa mu, ayah dan ibu ku, bahkan orang lain yang terlibat didalamnya pun kalau mereka bisa memilih, mereka tidak akan sudi ditempatkan dalam keadaan seperti itu "


" Kau benar " Ray mengusap pipi mulus Veln, lalu tersenyum sinis. Dan dengan gilanya Ray menyempatkan menyatukan bibirnya dengan bibir Veln. " Tapi, aku tetap tidak terima karena kedua orang itu sudah berani menyeret papa ku masuk kedalam kesialannya " Ray melepaskan ciumannya dan menunjukan senyum mengejek.


" Mereka orang tua ku, berkatalah dengan sopan saat mengucapkannya. Seharusnya etika mu setara dengan pendidikan tinggi dan otak cerdas mu " Mata Veln mulai berkaca tapi dia bertekad untuk tidak menangis hari ini.


" Sopan santun itu ditunjukan untuk seseorang yang layak diperlakukan seperti itu. Sementara dua orang itu! apa mereka pantas mendapatkannya? aaa.. " Ray mengusap bibir Veln dengan ibu jarinya. " Aku lupa kau itu kan putrinya " Ray tertawa sumbang.


" Turunkan ego mu " Veln menepis lembut tangan Ray. " Dan berhentilah menyakiti dirimu sendiri, aku tau kau terluka bahkan sangat terluka dengan keadaan kita yang seperti ini " Entah Veln memperoleh kesabaran dari mana asalnya, yang dia tau api hanya akan padam oleh air. Veln berharap kobaran api milik Ray tidak lebih besar dari sumber air yang dia miliki.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2