
Didalam kamar mandi Veln melepaskan handuk kimononya, dan bergegas menjalankan ritual membersihkan diri.
Rambutnya yang panjang dan sedikit kusut akibat terkena hair spray dia basahi dan bersihkan menggunakan shampo yang sudah tersedia dikamar mandi tersebut. Lalu diteruskan dengan menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun yang aromanya begitu wangi dan menenangkan.
Aku bahkan menyukai selera tuan muda itu. Wangi shampo dan wangi sabun yang biasa dia gunakan aku begitu menyukainya.
Tanpa berlama-lama Veln menyelesaikan acara mandinya tanpa berendam. Memang biasanya juga setiap mandi dia tidak pernah berendam, karena baik dikamar mandi rumahnya yang dulu atau kamar mandi dirumah Paman Rian tidak tersedia bath up hanya ada bak mandi dan gayung saja.
Veln keluar dari kamar mandi masih dengan menggunakan handuk kimono, dan kepala yang terbungkus handuk menutupi rambut yang basah. Langkah kakinya ditunjukan kearah lemari yang berada disudut kamar. Tangannya sigap membuka lemari dan hendak mengambil baju ganti, pandangan matanya menyapu isi lemari mencari sesuatu. Setelah menemukan barang yang tak asing dipandangan matanya, Veln langsung menyaut dan mengenakannya.
Veln memilih celana kolor panjang dan kaos oblong untuk ia kenakan yang terkesan santai ketika orang lain melihatnya. Tangannya berkali-kali menggosokkan handuk diatas kepala bermaksud mengeringkan rambut panjang yang basah sehabis dishampo, Veln tidak menyadari ada hair dryer diatas meja rias yang sudah disediakan oleh pihak hotel. Setelah dirasa setengah mengering Veln meletakkan kembali handuknya digantungan kamar mandi.
Dia membuka pintu kamar dan melongokkan kepalanya kearah ruang depan untuk memastikan apakah Ray sudah kembali?namun tidak mendapati siapapun disana, akhirnya karena kantuk yang sudah tidak tertahan lagi Veln memilih berbaring diatas sofa kamar untuk tidur. Veln memilih tidur diatas sofa, karena merasa rambutnya yang masih setengah basa belum benar-benar kering khawatir menimbulkan noda disprei putih tempat tidur. Dan tak butuh waktu lama kedua matanya sudah tertutup dan tertidur pulas.
○○○
¤ Dikamar hotel yang lainnya
" Kalian jangan macam-macam ya, sekalipun aku dikurung sampai besok pagi dikamar ini tidak akan merubah apapun " Suara Ray terdengar sedikit kesal.
" Santailah Ray, aku hanya ingin sedikit balas dendam saja atas apa yang sudah kau lakukan padaku " Dengan tawa kecil Denis berbicara sembari membaringkan tubuhnya diatas kasur. Sementara Ray melangkahkan kakinya menuju pintu, dia berusaha membuka paksa pintu kamar hotel namun usahanya sia-sia dan kembali duduk diatas sofa.
" Kak Ray ceritakan bagaimana kau bisa mengenal Veln? " Suara Danis terdengar lirih tak bersemangat, pandangan Ray beralih kearah danis yang sedang duduk dilantai sembari menyandarkan punggungnya ditepian tempat tidur, sebelah kakinya berselonjor sedangkan yang sebelahnya lagi ditengkuk menumpu salah satu tangannya.
" Bantu bebaskan aku dulu dari cengkraman kakakmu " Mata Ray melirik sinis kearah Denis, sementara Denis kembali hanya memberikan senyum puasnya.
" Dan kau, kemarilah.. duduklah disebelahku. Jangan seperti itu, seperti seseorang yang bosan hidup saja " Ray membereskan posisi duduknya yang tadinya tegak menjadi bersandar santai sembari menepuk-nepuk sofa disebelahnya meminta Danis untuk pindah duduk disampingnya.
" Kau tau kak Ray? aku benar-benar begitu frustasi dengan kenyataan ini, aku harap semua ini cuma mimpi " Masih dengan gaya tak bersemangatnya. Tiba-tiba Denis terbangun dari posisi tidurnya dan sedikit mendekatkan kearah adik laki-lakinya.
" Bugggg " Dengan begitu keras Denis meninju bahu belakang Danis membuat mata Ray terkaget.
" Auuu " Terdengar suara Danis meringis agak sedikit kesakitan.
" Apa kau merasakan sakit? " Tanya Denis tanpa merasa bersalah.
" Tentu saja sakit kak. Kenapa kau meninju ku? kak Ray yang seharusnya kau tinju itu, bukan aku " Keluh Danis, Ray hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kedua saudaranya yang konyol itu.
" Aku hanya membantumu, kalau sekarang kau itu tidak sedang bermimpi.. ini kenyataan, jadi kau harus bisa menerima itu. Setidaknya untuk hari ini kita bisa membalas dendam dengan mengurungnya sampai besok " Denis mengeluarkan tawa senangnya.
" Dengan begitu pasti Ray akan mati kesal karena rencana malam pertamanya tertunda " Denis pun lebih keras mengeluarkan tawanya. Sementara Danis tetap tidak tertarik dengan segala hal apapun, masih duduk terkulai lemas tak berselera.
" Kau benar-benar akan mengurungku sampai besok? " Ray memastikan hal gila yang dilakukan Denis.
" Tentu saja, setidaknya ini bisa menjadi obat atas rasa sakit hati aku " Tawa Denis terdengar lagi dan kembali dia merebahkan tubuhnya diatas kasur.
" Kau tau, aku bisa melaporkanmu atas tindakan penyekapan "
__ADS_1
" Laporkan saja, aku tidak takut " Tantang Denis sembari tersenyum puas.
" Baiklah terserah kau saja " Ray pasrah dengan apa yang dilakukan Denis.
" Tapi beri aku waktu sebentar untuk menemui Veln, dia pasti mengkhawatirkan aku "
" Ckckckck.. kau ini, tenang saja. Santai saja malam ini nikmatilah dulu tidur bersama kami " Denis tak menghiraukan permintaan Ray.
" Kak apa kau sekarang sedang memamerkan hubungammu dengan Veln " Danis memulai lagi kekonyolannya.
" Ayolah Dan, bantu aku keluar dari sini setidaknya bantu aku untuk bertemu Veln sebentar saja. Dia pasti sedang kebingungan disana "
" Sudah kubilang santai saja, tidak usah mengkhawatirkan Nona manis. Dia pasti akan baik-baik saja, aku sudah menyuruh Sam untuk mengurus Nona manis sementara waktu "
" Sial, Sam ikut membantu dibelakangmu?awas kau Sam " Ray mengumpat kesal. Namun setelah mendengar penjelasan Denis Ray sudah sedikit menjadi tenang dan bangun dari duduknya menghampiri kedua kakak beradik itu. Ray mengacak rambut dan mengusap pundak Danis pelan sebagai bentuk rasa sayang seorang kakak terhadap adiknya.
" Geser.. beri aku tempat untuk tidur " Sembari tangan Ray mendorong tubuh Denis, Denis pun menggeser posisi tubuhnya untuk memberi ruang buat Ray untuk bisa berbaring.
" Ray, kau benar-benar akan tidur? " Denis bertanya dengan raut wajah bingung, sementara Ray sudah dengan posisi tidurannya.
" Aku lelah, aku akan menurutimu. Mari kita bersantai melewati malam ini bertiga " Dengan senyum mencurigakan dan nada santai Ray berbicara membuat Denis mendudukkan tubuhnya dan merasa kesal.
" Kau tidak marah? setidaknya kau harus menghajarku karena akan membuatmu melewatkan malam pertamamu " Denis dibuat bingung oleh Ray.
" Bukankah kau sendiri yang bilang, untuk aku tenang dan santai melewatkan malam ini dengan kalian?! kenapa sekarang kau minta aku untuk menghajarmu?!! Baiklah.."
" Arrrrgh " Denis mendesis kesakitan dan mencoba berdiri dengan sedikit bersusah payah.
" Sial. Kau benar-benar menghajarku Ray " Denis mengumpat kesal sembari berusaha mendudukan tubuhnya diatas kasur dengan bantuan Danis yang menghampirinya.
" Bukankah kau sendiri yang minta dihajar? " Bela Ray dengan tawa keras yang diikuti oleh Danis.
" Hey bocah, kenapa kau ikut menertawakan ku? " Denis dibuat tambah kesal dengan ulah Danis yang ikut menertawakanya.
" Habisnya kau lucu sekali kak, kau itu kenapa dengan begitu bodohnya meminta dengan cuma-cuma untuk dihajar Kak Ray " Dengan kembali mengeluarkan tawanya, menertawakan kelakuan kakaknya.
" Itu belum seberapa, tunggu pembalasanku ketika kau menikah nanti akan aku kurung kau tiga bulan untuk melewatkan malam pertamamu " Ancam Ray dengan nada tidak serius dan cengengesan.
" Bahaya kak, bisa jamuran pisangmu " Danis menimpali dengan tawa senangnya diikuti Ray membuat Denis semakin dongkol dibuatnya.
" Kau itu memang benar-benar kejam. Jangankan dalam hal bisnis.. dalam hal beginian saja tindakanmu sungguh diluar dugaan " Sembari masih merasakan sakit ditubuhnya Denis mengejudge Ray.
" Sudahlah lupakan, sebaiknya kita tidur. Aku lelah dan mengantuk " Ajak Ray kepada kedua kakak beradik itu.
" Tunggu kak, kau harus berjanji dulu padaku. Tidak akan menyakiti dan membuat Veln menangis, apalagi meninggalkannya " Danis mulai lagi dan agak sedikit lebay untuk didengar.
" Tanpa kau minta pun aku tidak akan pernah melakukan itu " Dengan meyakinkan Ray menjawab pertanyaan Danis, yang membuat Danis sedikit tenang dan menerima kenyataan bahwa dia harus rela menjadikan Veln sebagai kakak iparnya.
__ADS_1
○○○
Waktu sudah semakin sore, dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.00 wib.
Terlihat Veln menggeliatkan tubuhnya diatas sofa dan berlahan membuka matanya. Sesekali mulutnya menguap masih merasa sedikit kantuk. Matanya menyapu keseluruh ruang kamar berusaha menyadarkan diri, setelah beberapa detik otaknya mulai berkerja seperti biasanya. Ingat, bahwa dirinya sekarang sedang berada dikamar hotel.
Veln membangunkan tubuhnya dari atas sofa dan mendekati pintu kamar mandi. Menempelkan sebelah telinganya dibalik daun pintu, lalu membukanya karena tak mendengar suara apa pun dari dalam sana memastikan bahwa tidak ada siapa pun didalam kamar mandi. Benar saja memang tidak ada siapapun didalam sana, akhirnya tangannya menutup kembali pintu kamar mandi.
Lalu langkahnya diarahkan kearah pintu kamar dan membukanya, matanya mengawasi ruang tamu dan dapur tidak ada siapa pun disana.
Apa mungkin boss belum kembali?
Veln pun membuka pintu kamar yang satunya memeriksa dan memastikan apakah suaminya benar-benar belum kembali. Dan memang benar dikamar sebelah pun Veln tidak menemukan Ray.
Suara keroncongan terdengar dari perut Veln, yang membuat dia mendekati dapur mini yang berada diruangan itu. Tangannya membuka sebuah pintu kulkas dan mendapati beberapa botol air mineral, diraihnya satu botol air mineral dari dalam kulkas tersebut lalu mendudukkan tubuhnya diatas kursi meja makan yang tak jauh dari tempatnya berdiri barusan. Diatas meja makan Veln menemukan camilan khas dari kota tempatnya berasal, tanpa ragu Veln memakannya dan menghabiskan sebotol air mineral yang dia ambil dari dalam kulkas.
Lumayan buat mengganjal perutku, paling tidak bisa buat bertahan sampai tuan muda datang.
Veln kembali menuju kamar setelah menghabiskan satu botol air mineral dan beberapa camilan khas dari kotanya.
Sembari menunggu Ray kembali, dia menyalakan tv yang berada didalam kamar hotel tersebut.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 08.30 malam, Ray masih belum juga kembali dan karena sudah merasa bosan akhirnya Veln mematikan tv nya dan beranjak dari duduk untuk mencari ponselnya.
Setiap laci kamar dia buka satu persatu, sampai didalam lemari namun tak menemukannya.
Ah.. dimana mereka ( para bridesmaid ) menyimpan ponselku??? kenapa juga tadi siang aku tidak menanyakan ponselku.
Veln membatin sembari kebingungan, sementara suara cacing dalam perutnya kembali berdemo. Akhirnya Veln memutuskan kembali kedapur dan mengambil satu botol air mineral dari dalam kulkas dan meminumnya lagi diatas meja makan sembari menghabiskan semua camilan yang disediakan oleh pihak hotel. Setelah itu kembali masuk kedalam kamar dan menonton tv lagi.
Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit, Ray masih juga belum kembali. Rasa lapar mulai menyerang perutnya lagi.
Ah.. Boss sebenarnya kau mau pulang apa tidak sie? tega sekali kau meninggalkan aku dalam kondisi kelaparan! apa kau menikahi aku hanya untuk ditelantarkan seperti ini??! gumam Veln sedikit kesal.
Dengan kebingungan, dia pun keluar dari kamar dan hendak menuju pintu luar kamar hotel. Namun niatnya diurungkan ketika sampai didepan pintu arah keluar karena mengingat pesan Ray untuk tetap diam disini dan jangan keluar meninggalkan kamar ini, akhirnya Veln kembali kedapur untuk mengambil sebotol air mineral. Seperti biasa Veln langsung menghabiskannya tanpa ditemani camilan.
Veln mondar-mandir seperti setrikaan didepan sofa ruang tamu, sesekali mendudukkan tubuhnya diatas sofa yang dia lakukan kurang kebih tiga puluh menit lamanya.
Ya ampun, Boss apa kau lupa meninggalkan istrimu didalam sini? sekertaris Sam, kau juga kemana? apa kalian janjian untuk menghilang malam ini? pelayan.. benar bahkan tidak ada satu pun pelayan hotel yang masuk keruangan ini.
Raut wajah Veln sedikit frustasi. Sampai pada waktu yang sudah ditentukan baik pelayan atau siapapun tidak akan ada yang berani masuk kekamar yang satu itu kecuali atas perintah Ray dan sekertaris Sam. Itu lah yang diperintahkan sekertaris Sam kepada seluruh karyawan hotel tersebut, dengan maksud agar tuan muda Ray tidak merasa terganggu khususnya untuk malam ini. Namun perintah yang diintruksikan sekertaris Sam malah justru membuat Veln tersiksa.
Dia pun kembali menuju kamar dan mematikan tv yang dibiarkan menyala dan dia tinggal keluar.
Naik keatas kasur berusaha untuk tidur, namun bukannya terlelap dia malah sibuk gulang guling tidak menemukan posisi yang pas. Akhirnya Veln pun beranjak dari tempat tidurnya dan kembali mengambil sebotol air mineral dan meminumnya sampai habis karena bunyi kegaduhan yang dirasakan dalam perutnya. Lalu kembali masuk kekamar menuju arah jendela besar menikmati pemandangan malam dari atas gedung sembari diselingi kekamar mandi pengaruh terlalu banyak meminum air mineral tadi.
Matanya sedikit berair mungkin karena pengaruh mulutnya yang sesekali menguap akibat rasa kantuk yang mulai menyerang. Benar saja sudah dini hari.. jam empat pagi lebih lima belas menit, matanya dialihkan kearah pintu kamar berharap ada seseorang yang membukanya namun tetap tidak ada pergerakan sama sekali. Veln pun memutuskan untuk naik kembali keatas tempat tidur dan begulang guling kembali sampai entahlah tepatnya pukul berapa yang jelas sudah pagi dan akhirnya terlelap juga.
__ADS_1
Bersambung..