Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
49.Resep menguntungkan


__ADS_3

Ray memeluk erat tubuh Veln yang tertidur dalam posisi miring memunggunginya, jari-jari tangannya tak henti mengusap-usap kepala istrinya. Suhu tubuh perempuan dalam dekapannya begitu terasa, sangat panas. Saat ini Ray benar-benar merasa bersalah, menciumi pelipis Veln dengan tak henti membisikan kata maaf ditelinga perempuan ayu itu.


Seketika Ray teringat akan resep menguntungkan yang diberikan oleh Om Heri dan hendak Ray praktikan, namun ada sedikit keraguan. Akhirnya dengan banyak pertimbangan, otaknya memutus dengan cepat.


" V.. Aku bantu turunkan suhu tubuhmu ya " Ray bertanya seolah meminta ijin atas aksi yang akan Dia lakukan. Tak ada jawaban, karena sepertinya Veln sudah begitu terlelap dalam tidurnya " Ok. Diammu, aku anggap sebagai persetujuan " Ray mengeluarkan senyum menyeringainya dengan kedua matanya melekat menatap wajah cantik istrinya.


" Maaf ya sayaang.. ini demi kesembuhanmu dan keinginanku " Ray terkekeh geli dan tanpa basa-basi Ray melucuti seluruh pakaian yang dikenakan istrinya tentu dengan tak lupa menikmati pemandangan tiap lekuk tubuh Veln yang terlihat begitu mempesona. Ray hanya menyisakan dalaman yang masih melekat ditubuh perempuan itu. Diakhir aksinya menelanjangi terbukalah kedua kelopak mata Veln yang pada akhirnya merasa terganggu dengan gerakan Ray, bola matanya langsung membulat sayu mendapati dirinya berbungkus kain yang hanya menutupi bagian inti yang terpenting miliknya saja. Terlihat senyum yang begitu manis dari ujung bibir seorang Ray, yang membuat Veln mengurungkan niatnya untuk memaki Ray yang sudah dengan tega memperlakukannya sedemikian rupa dalam keadaan yang tak berdaya. Namun karena senyum itu lah,akhirnya Veln lebih memilih untuk diam dan pasrah atas apa yang akan dilakukan suaminya. Yang dipikirkannya sekarang didalam otaknya hanyalah cukup melenguh dan pasrah V, itulah tugas utamamu sekarang.


Kini giliran Ray menanggalkan seluruh pakaiannya, kecuali boxernya. Ray membiarkan celana boxernya tetap menggantung dipinggang kekar dan lebarnya. Ray kembali menyusup kedalam selimut, mendekat dan menyatukan tubuhnya ketubuh Veln dengan erat.


" Ray sepertinya.. Aku tidak akan bisa melayanimu dengan baik saat ini " Parau suara Veln terdengar. Ray menundukkan kepalanya untuk menatap jelas wajah ayu istrinya yang mendongak kearahnya.


" Memang apa yang kau pikirkan? " Ray tersenyum geli mendapati tatapan istrinya yang terlihat pasrah seperti hendak diperkosa.


" Apalagi.. bukankah sudah jelas. Kali ini aku serahkan kendali sepenuhnya " Ucapannya begitu lemas tak bertenaga.


" Hahahaa.." Ray malah tertawa lepas, membuat Veln menatap kearahnya dengan penuh ketidak berdayaan " Tidurlah " Ray membenamkan wajah Veln kedalam dada bidangnya namun tangan Ray ditepis begitu saja oleh Veln. Kembali Veln mendongakkan wajahnya kearah Ray.


" Singkirkan pikiran mesummu " Ray memahami benar raut wajah Veln yang meminta penjelasan " Aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya ingin mempraktikkan resep yang diberikan oleh Om Heri yaitu metode kangguru, melakukan kontak dari kulit kekulit secara langsung dapat membantu menormalkan suhu tubuhmu " Dengan punggung tangan mengusap-usap pipi pucat Veln " Atau jangan-jangan kau malah menginginkan sesuatu yang lebih terjadi? Aku bisa lihat dengan jelas pikiran mesummu menginginkan itu, benar-benar tidak bisa dipercaya dalam kondisi ini kau masih sempat menginginkan hal itu " Ray mengerlingkan sebelah matanya dan tersenyum lebar seolah merasa puas telah menangkap basah otak mesum Veln.


Dalam hitungan detik setelah suara Ray sudah tak terdengar lagi, tiba-tiba dengan spontan Veln menangis dengan begitu sesenggukan dan membenamkan sendiri wajahnya didada bidang Ray. Tangisan Veln semakin mengeras dan semakin menjadi-jadi sampai air matanya membasahi bagian tubuh milik Ray.


" Upsss.. V, cup cup cup " Bukannya menghentikan tangisnya, Veln malah makin sesenggukan tak karuan " Maaf sayaang kalau ada perkataanku yang menyinggung perasaanmu " Ray menepuk-nepuk punggung Veln yang terbuka " Maaf ya "


" Aku.. hkhkhk, aku malu.. Ray " Ucap Veln dengan masih sesenggukan.


" Tidak usah malu, aku kan suamimu.. menunjukkan pikiran mesum terhadap suami sendiri itu kan tidak apa-apa " Perkataan Ray diakhiri dengan tawanya yang menggema.


" Huaaaaaaa hkhkkhkhkhk " Veln semakin menangis menjadi-jadi, merasakan malu yang teramat sangat. Dia merutuki pikiran mesumnya yang datang dalam keadaan yang tidak tepat. Bisa dibayangkan bagaimana malunya Veln terhadap suaminya yang dia kira hendak melakukan hal yang diinginkan, dan bodohnya dirinya malah terlihat pasrah meski tubuhnya dalam kondisi yang tidak memungkinkan dan seperti siap menerima akan tiap sentuhan dari seorang Ray.


Bodoh.. bodoh.. bodoh, benar-benar bodoh dan oon. Bagaimana bisa dalam kondisi sakit tak berdaya seperti ini sampai bisa terbesit pikiran mesum seperti itu, sama saja dengan mempermalukan diri sendiri.


Veln mengumpati dirinya sendiri.


" Hkhkhk.." Veln masih sibuk menangisi kebodohan dan rasa malunya.


" Cup cup cup.. " Masih dengan sabar menenangkan tangis istrinya, dengan tersenyum geli yang disembunyikan, menyaksikan kekonyolan istrinya.


○○○


Selang beberapa menit, suara tangis dari bibir mungil itu meredam.. kini nafasnya mulai teratur, kembali tenggelam kealam tidur lelapnya.


Ray tak hentinya senyum-senyum sendiri sembari memandangi tubuh istrinya yang berada dalam pelukannya, mengingat betapa konyol dan menggemaskannya tingkah wanitanya.


Namun semakin lama semakin panas,hawa yang merasuk kedalam tubuh Ray. Bukan karena suhu tubuh Veln yang berpindah ketubuh Ray, namun dikarenakan pertahanannya runtuh seketika terus-menerus mendekap dan menatapi tubuh setengah telanjang istrinya membuat adik kecilnya dibawah sana mulai terpanggil.


Ray terlihat frustasi, karena harus sekuat tenaga untuk menahan diri. Bagaimana mungkin dengan kondisi Veln yang tak berdaya seperti ini harus meladeni nafsunya yang sudah tak terbendung. Dan pada akhirnya Ray melambai tanda menyerah, bisa dibilang Ray gagal membantu menurunkan suhu tubuh istrinya. Dengan secepat kilat Ray berlari terburu-buru menuju kamar mandi meninggalkan Veln yang terlihat masih tertidur dengan pulas dan tenang. Tentu masih dengan kondisi tubuh demamnya, yang sedikit menurut dan sudah tak terlalu mengkhawatirkan.


Tanpa ragu Ray menyalakan air kran, entahlah mungkin untuk sementara dia akan sedikit mendinginkan hawa tubuhnya yang sedikit memanas akibat perlakuannya sendiri terhadap Veln.


Ahh.. sepertinya aku masuk kedalam perangkap Om Heri, pasti sekarang dia sedang terbahak puas menertawakanku karena sudah berhasil mengerjai seorang Ray.


Ray tersenyum simpul..


Tapi bukan sepenuhnya salahmu juga sie Om, didalam lubuk hati aku yang terdalam.. Aku juga menginginkannya.


Ray terkekeh geli menyadari setitik otak kotornya.


○○○


Dengan bersusah payah Ray kembali mengenakan pakaian ketubuh molek Veln satu persatu, tentu setelah dengan sangat lama dia menenangkan diri didalam kamar mandi.


Ray mengecup kening Veln lembut, dan beranjak menuju pintu kamar karena terdengar bunyi ada yang mengetuk.


" Maaf tuan, saya mengganggu "


" Ada apa? "


" Ini obat untuk Nona "


" Aa.. terimakasih Pak Dim, maaf sudah merepotkan "


" Tidak usah sungkan tuan, ini sudah tugas saya. Apa ada lagi yang perlu saya bantu? "


" Untuk sementara tidak ada Pak Dim "

__ADS_1


" Kalau begitu saya permisi "


Ray langsung bergegas kembali menuju ranjang tidurnya, sebelumnya tak lupa dia meletakkan kantong kresek yang berisi beberapa obat dan vitamin diatas nakas.


Ray berdiri disisi Ranjang dengan posisi sedikit setengah berjongkok, wajahnya dihadapkan tepat dihadapan wajah cantik istrinya.


" V.. bisa kau bangun sebentar? " Ray berbisik pelan ketelinga Veln " Kau harus makan sayang dan meminum obatmu " Ray menatapi Veln menunggu jawaban dan pergerakan dari bibir istrinya. Cukup lama akhirnya Veln menggeliat dan menggelengkan kepalanya.


" Aku masih mau tidur " Ray tersenyum simpul mendengar jawaban istrinya. Akhirnya dengan melewatkan jam makan siang mereka berdua terlelap. Ray memutuskan untuk naik keranjang tanpa menyusup kedalam selimut dan berbaring disebelah istrinya, memeluk erat tubuh mungil itu dalam dekapannya.Ray berharap pelukannya yang terhalang selimut tebal itu dapat menjauhkan dari pikiran yang diinginkannya.


○○○


Jam menunjukkan pukul delapan malam, terlihat Ray sibuk menaruh mangkok bubur yang telah habis isinya diatas nakas.


" Minum obatmu " Ray menyodorkan beberapa obat dan vitamin.


" Apa ini? "


" Permen " Ray tertawa


" Maksudku, kenapa aku harus meminum ini?mana banyak pula.. Aku seperti orang sakit saja sampai harus minum obat sebanyak itu? " Ucap Veln sedikit kesal namun suaranya terdengar lemah.


" Badan kamu panas sayang, dan kelelahan.. ini cuma obat penurun panas dan vitamin " Veln mengambil alih obatnya dan menuntun telapak tangan Ray menuju keningnya.


" Aku sudah tidak apa-apa kan? "


" Masih panas " Mengecek suhu badan veln dikening dan turun keleher untuk memastikan.


" Sedikit, aku bawa tidur lagi juga nanti akan menghilang "


" Iya sayang.. Kau boleh melanjutkan lagi tidurmu tapi minum obatnya dulu. Om Heri bilang m


kau benar-benar kelelahan, ditambah lagi kondisi tubuhmu yang sepertinya kurang gizi jadi perlu obat dan minum vitamin "


" Apa??? " Veln memelotot kesal " Om Heri pasti orang yang sudah mengganggu tidurku, sudah menggrepe-***** tubuhku beraninya mengataiku kurang gizi "


Bukan Om Heri V yang mengataimu kurang gizi tapi aku.. habisnya baru digempur segitu aja kamu sudah tersungkur. Eits menggrepe-*****.. benar juga, Om Heri sudah begitu lancang menyentuh-nyentuh lengan V dan bagian yang lainnya. Pintar mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Sungut Ray dalam hati.


"Jangan lakukan apapun.. Aku hanya kesal saja karena harus meminum obat " Lebih tepatnya kesal karena sudah dikatai kurang gizi " Aku cabut ucapanku, tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukan Om dokter itu "


" Benar tidak apa-apa? " Veln mengangguk mantap, membuat emosi Ray sedikit menurun. Sebenarnya Ray juga tidak serius mengatakan akan membuat perhitungan namun begitu mendengar kata ***** dari mulut Veln entah membuat darahnya mendidih, apalagi ketika mengingat saat Om Heri memegang-megang lengan Veln dan menatapi istrinya dengan begitu pecicilan. Edan bukan??? entah itu disebut cemburu atau kegilaan berlebihan yang jelas sejenak Ray sudah dibuat sedikit tak waras. Bagaimana bisa Ray sampai begitu tak rela Veln disentuh oleh dokter pribadinya alias Om Heri yang sudah dianggap seperti Pamannya sendiri meskipun masih dalam tahap wajar selayaknya seorang dokter yang memeriksa pasiennya. Namun untung pikiran buruknya hanya melintas sekelebat, otak warasnya kembali ketempat semula dan menyadari memang seperti itulah Om Heri. Om Heri, dokter keluarga yang usianya sudah tidak muda lagi namun semangat dan kekonyolannya masih tetap membara. Apalagi kalau soal menjahili Ray, Om Heri akan sangat begitu antusias. Karena itulah ketika mereka bertemu akan sangat terlihat begitu dekat dan pastinya menimbulkan kegaduhan saling melempar ejekan atau beradu argumen selayaknya seperti seorang yang seumuran.


○○○


" Kalau begitu minum obatnya "


" Harus ya? " Ray mengangguk membenarkan " Tapi aku butuh makanan yang lainnya untuk membantu menelan ini, seperti pisang misalnya "


" Kau lucu sekali sayaang, meminum obat saja tidak bisa seperti anak-anak saja " Ray menjulurkan tangannya dan meraih air putih diatas nakas " Mulai sekarang belajar ya minum obat hanya dengan menggunakan air putih "


" Tidak mau, aku benar-benar tidak bisa Ray "


" Ini mudah sayaang.. Kau hanya tinggal membuka lebar tenggorokanmu, dan memasukkan obatnya lalu dorong dengan air dalam gelas ini, bila perlu habiskan airnya sampai benar-benar terdorong kekerongkongan "


" Tidak, aku sudah sering mencobanya berkali-kali tetap tidak bisa "


" Coba lagi, lakukan sesuai intruksi aku barusan "


" Kau akan menyesal Ray, karena sudah memaksaku "


" Tidak akan, ayo lakukan sesuai arahan " Dengan terpaksa Veln berusaha membuka tenggorokannya dengan selebar-lebarnya dan mulai memasukkan obat kedalam mulutnya lalu menyambar gelas yang disodorkan oleh Ray dan meminumnya sampai tandas.


Dan..


Wuuuuuuush, Veln menyemburkan air tegukan terakhir beserta obatnya kearah Ray. Perutnya terasa kembung saat harus menghabiskan isi dalam gelas tersebut, ditambah lagi rasa obat yang pahit menyeruak keseluruh mulutnya karena tak kunjung masuk ketenggorokan.


" Ya ampun V.. Kau minta dicium ya " Ray sontak terkaget ketika mendapatkan semburan dari mulut istrinya, melihat tampang Ray yang sedikit basah malah membuat Veln menertawainya.


" Ayo bersihkan wajahku yang basah ini dengan lidah dan bibirmu " Ray berusaha mencari kesempatan yang menguntungkan buatnya.


" No " Tolak Veln dengan menggerak-gerakkan satu jari telunjuknya.


" Tidak ada pilihan lain, kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu " Ray terkekeh merasa lucu.

__ADS_1


" Perbuatan apa? memang aku menghamilimu? yang benar saja " Veln memutar bola matanya.


" Kalau begitu biar aku yang menghamilimu, dan kau cukup mempertanggung jawabkan atas terbangunnya adik kecilku "


Brak bruk bruk brak...


Seketika seluruh bantal yang ada diatas kasur berterbangan kearah Ray yang terlihat hendak menerjang Veln. Suasana gaduh pun berakhir setelah terdengar suara pintu kamar terbuka dan terdengar bunyi langkah sepatu yang semakin mendekat kearah mereka.


Tuk tuk tuk


" Hallo sayaaaang " Terlihat sesosok wanita tua masuk dengan langkah yang masih terlihat begitu energik dengan Bibi Stela yang mengekor dibelakangnya.


" Nenek " Secara bersamaan Ray dan Veln memanggil Lusiana.


" Ya ampun.. apa-apaan ini? apa cucuku melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga? " Lusiana terlihat sedikit syok melihat bantal yang bertebaran dilantai dan sedikit noda basah.


" Cukup Nek, jangan drama. Ini bukan kekerasan tapi suatu penyaluran hasrat yang tertunda akibat kehadiranmu " Lusiana terkekeh " Apa yang membawamu datang kemari? Nenek bilang sudah seharusnya yang lebih muda datang mengunjungimu yang sudah sepuh tapi nyatanya Nenek ditempatku sekarang? "


" Dasar cucu kurang ajar, jangan mengataiku sepuh walaupun kenyataannya memang begitu. Membuatku merasa sudah tidak lagi muda " Ray mencium punggung tangan Neneknya dan menuntun kearah Veln.


" Memang begitu kenyataannya "


" Tidak seburuk itu, aku hanya lebih tua sedikit dari Hannaya. Benar begitu kan Han? " Melirik Bibi Stela seolah mencari pembelaan.


" Benar, Nyonya besar " Bibi mengamini saja biar kelar urusannya.


Veln mencium punggung tangan Lusiana dan merasakan sedikit hawa panas ditubuh cucu menantunya.


" Kau masih panas Nak " Menjulurkan punggung tangannya kearah leher cucu menantunya.


" Sedikit Nenek, tapi tidak apa besok pagi juga akan hilang "


" Apa anak nakal itu menyiksamu? " Menunjuk kearah Ray dengan senyum mengejek, sementara Ray hanya bisa menggelengkan kepalanya " Heri memberitahukanku, dia bilang kalau cucu menantu Nenek sedang kurang sehat "


" Mulut Om Heri itu benar-benar comel "


" Hust, kau ini tidak berubah selalu memperlakukan Heri seolah seusia denganmu "


" Memang itu yang Om Heri inginkan, sama seperti Nenek yang tidak mengakui kalau diri Nenek sudah sepuh " Lusiana tertawa geli dibarengi senyum manis Veln yang mengembang.


" Kak " Disela obrolan Rey muncul dengan tiba-tiba. Ray langsung menghadang agar Renand tidak masuk lebih dalam kearah ranjang tidurnya. Ray menuntun Rey keluar kamar, dan cepat-cepat menutup pintunya dan berdiri dihadapan Renand tepat ditengah-tengah pintu kamar.


" Ada apa Rey? "


" Aku dengar Kakak ipar sakit? "


" Hem, dia hanya demam karena kelelahan "


" Benar hanya karena itu? bukan karena kdrt yang dilakukan olehmu Kak? "


" Benar, bagaimana bisa kau sampai berfikiran aku melakukan kdrt terhadap istriku? "


" Kamar tidur yang barusan aku lihat berantakan, dan kelakuan Kak Ray yang seperti seolah menyembunyikan Kak V karena takut kelakuanmu yang mungkin membuat Kakak ipar lebam atau biru-biru terbongkar oleh orang lain. Terbukti dari Kak V yang sama sekali tidak keluar kamar setelah Kakak pulang! "


" Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Dia hanya butuh istirahat, karena itu Kakak iparmu mengurung diri seharian didalam kamar "


Asal kamu tau Rey, disini sebenarnya akulah korban dari tindakan kdrt yang kau curigai.


" Kalau begitu syukurlah, sampaikan maafku untuknya Kak. Aku sudah bersikap kasar terhadapnya, aku rasa Kak V tidak seburuk yang aku fikirkan. Aku khawatir kata-kata pedasku ikut berpartisipasi dalam membuatnya sampai jatuh sakit " Terlihat sirat penyesalan disana.


" Kau akan jatuh hati terhadap V.. Ku, saat kau sudah dekat dan mengenalnya lebih dalam " Menepuk-nepuk bahu Renand pelan.


" Memangnya boleh kalau sampai aku jatuh hati terhadap Kakak ipar? Kau tau Kak Ray istrimu itu begitu sangat menggemaskan "


Bughtt..


Ray menendang kaki Renand dengan kesal.


" Awas!!! berani menggoda Kakak iparmu, aku pecat kau jadi Adikku "


" Au " Rey mengaduh " Ampun Kak, tapi bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk lebih dekat dan jatuh hati terhadap Kak V "


" Sepertinya kau ingin merasakan bagaimana rasanya membersihkan atap rumah ya boy?aku menyuruhmu lebih dekat dan jatuh hati bukan yang seperti itu bambaaaaaang " Ray meraup wajahnya kasar.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2