Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
8.Rooftop Part 2


__ADS_3

Udara dan terik matahari dirooftop dirasa semakin panas, namun sama sekali tidak mempengaruhi penghuni rooftop yang sedang melakukan negosiasi.


" Ayo memohonlah, meminta lah kepadaku untuk menyelesaikan masalahmu "


Tenggorokan Veln terasa kering dan haus tanpa memperdulikan Ray, dia langsung menyaut gelas yang berisi jus jeruk yang berada didepannya. Veln berfikir mungkin jus yang ada dihadapannya sengaja disediakan untuknya.


Gelas yang berisi jus jeruk itu hampir menempel dibibir tipis dan berisinya, namun suara Ray berhasil menghentikannya.


" Kau, lancang sekali ya! "


Mata Veln langsung menatap sumber suara, meminta penjelasan.


" Berani sekali kau hendak meminum minuman Sam "


Mendengar perkataan Ray tangan Veln sesegera mengembalikan gelas yang berisi jus jeruk itu ketempatnya semula. Sekarang dia hanya bisa menelan ludah menatap gelas jus jeruk yang menggiurkan itu.


" Minumlah punyaku " Sembari menyodorkan gelas minumannya kearah Veln " Setidaknya aku ini kan calon suamimu jadi milikku sama juga milikmu "


Tanpa berpikir panjang karena rasa haus yang sepertinya sudah tidak tertahan lagi Veln langsung mengambil alih gelas minuman dari tangan Ray.


Gleg gleg gleg


Veln menghabiskan hampir setengah gelas jus nanas yang awalnya terisi penuh diwadah bening itu.


Terlihat senyum manis diujung bibirnya, merasa beruntung karena Ray sudah menukar jus jeruk dengan miliknya. Karena Veln memang begitu sangat menyukai buah yang satu ini. Matanya tertuju kepiring dihadapannya, piring yang bersebelahan dengan gelas jus jeruk yang batal dia minum tadi. Diatas piring itu tertata rapi dua potong sandwich sayur dengan isian telur rebus keju dan saos mayones. Entah saat itu kenapa dia begitu sangat lapar sekali, mungkin efek karena belum sarapan. Dijulurkan lidahnya menyapu bibir bawah dari ujung keujung.


" Apa kau lapar " Ray memperhatikan apa yang dilakukan Veln.


" Tidak " Menjawab pertanyaan Ray dengan mata yang masih menatap roti sandwich yang berada diatas piring putih itu.


" Kau sudah sarapan pagi ini? "


Menggelengkan kepalanya sembari melirik sebentar kearah Ray lalu matanya kembali ditujukan kembali ke roti sandwich yang rasanya ingin sekali dia untuk memakannya.


" Makan lah " Ray menyodorkan roti sandwich miliknya beserta piring-piringnya.


Mata Veln dilirikkan sebentar kearah Ray lalu mengalihkan kepiring yang disodorkan Ray, dengan senang hati Veln meraih piring sandwich dari tangan Ray.


Setelah benar- benar mendarat ditangannya, dia pandangi dalam-dalam dua potong roti sandwich itu dengan penuh senyum bahagia, lalu sesegera mungkin melahapnya tanpa rasa malu.


Ray pun ikut dibuat senyum-senyum oleh tingkah Veln, begitu juga dengan Sam yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua tak kalah melebarkan senyumnya.


Sesaat hening, hanya terlihat Veln yang sedang asik menikmati makanan dan minumannya. Begitu juga dengan dua orang lainnya, mereka malah lebih asik memperhatikan sigadis mengunyah sandwichnya.


" Boss "


" Hemmm "


" Ayo sebutkan berapa jumlah nominal yang harus dibayar? "


" Aku bilang memohonlah kepadaku, kau ini benar-benar tidak waras ya lebih memilih si juragan itu dibanding aku " Ray sedikit merasa kesal.


" Kau benar-benar tidak terpesona kepadaku?apa kedua bola mata indahmu tidak menangkap aura kharismatikku? sehingga kau lebih memilih dipersunting oleh orang yang lebih cocok jadi Ayahmu? sudah menghabiskan dua potong sandwich dan segelas jus kenapa masih tidak bisa berfikiran jernih juga "


" Boss kalau aku melepaskan juragan Seno, aku akan membuatmu mengeluarkan banyak uang. Bukankah 50 juta itu jumlah yang fantastis, aku merasa kasihan terhadapmu. Aku tidak setega itu. Penghasilanmu berjualan kopi mungkin tidak sebesar penghasilan juragan Seno, kesejahteraan Mbak Del dan Virina juga akan terancam, uang bulanan yang dijanjikan juragan Seno mungkin akan lepas begitu saja " Veln menghela nafas panjang.


" Bagaimana mungkin aku berani memohon kepadamu, sedangkan masalahku ini bisa membuatmu seketika menjadi bangkrut "


Cih. Perempuan ini, lagi-lagi dia lebih mengkhawatirkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri.


" Baiklah kali ini aku akan berbaik hati kepada mu, tanpa kau harus memohon pun aku akan menyelesaikan masalahmu dengan juragan Seno. Kamu cukup fokus mempersiapkan diri untuk acara pernikahan nanti "


" Boss, apa kau akan menggadaikan tempat ini? "


" Itu urusanku, mau aku gadaikan atau bila perlu aku jual sekalian "


" Sam urus semuanya sesuai yang aku perintahkan, aku mau semuanya berjalan sesuai rencana " Sembari matanya beralih memandang Sam.

__ADS_1


" Kamu mengertikan mana yang harus kamu bereskan terlebih dahulu "


" Dan, kamu cukup persiapkan diri saja. Beri tahu seluruh anggota keluargamu berita bahagia ini, bahwa kita akan segera menikah "


Ray beranjak dari duduknya dan segera menjinjing sebuah laptop dan ponselnya berlalu meninggalkan Veln.


Sedangkan Veln masih terduduk dikursinya sembari menatap kepergian Ray, lalu menundukankan wajahnya.


Aku bisa mengerti bagaimana inginnya juragan Seno untuk menikahiku, tapi dengan laki-laki yang satu ini? Aku tidak paham kenapa begitu menginginkan menikahi aku???sedangkan mengenalku saja baru berjalan dua hari ini?!!!


" Hey " Suara Ray sedikit mengeras berdiri tepat didepan pintu keluar masuk antara rooftop dan ruangan lantai dua membuat Veln mendongakkan kepalanya kearah Ray.


" Aku akan keruangan Denis, kau lakukan pekerjaanmu sebagaimana mestinya " Ray pun berlalu meninggalkan rooftop.


Pandangan Veln beralih kearah Sam, ketika menyadari segelas jus jeruk dan dua potong roti sandwich miliknya masih belum tersentuh.


" Tuan sebaiknya anda secepatnya makan makanan anda " Sembari tak lupa menyunggingkan senyum.


" Nona panggil saja saya dengan sebutan Sam " Sembari sedikit mendekatkan kearah Veln.


" Maaf tuan Sam apa saya boleh bertanya sesuatu? "


" Tentu "


" Apa hubungan anda dengan Pak boss? "


" Saya sekertaris pribadi tuan muda Ray "


Sekertaris pribadi? hidup orang ini benar-benar terlalu berlebihan ya, hanya untuk mengelola satu kedai kopi ini saja menyediakan sekertaris pribadi. Dan apa???barusan tuan Sam memanggil si boss dengan sebutan tuan muda Ray?!


" Panggil saya Sam saja "


" Baiklah tuan Sam, maksud saya Sam, eh bagaimana kalau sekertaris Sam saja terdengar lebih sopan? "


Sam menganggukkan kepalanya tanda setuju.


" Duduklah sekertaris Sam "


" Emmm " Veln merasa ragu " Apa kau tau sekertaris Sam alasan tuan muda Ray menikahiku? "


" Tentu "


" Kalau begitu katakan padaku alasannya? "


" Maaf Nona, saya tidak bisa memberitahukannya pada anda "


" Kenapa? "


" Karena hal itu diluar kapasitas saya Nona "


" Ini akan menjadi rahasia kita berdua, saya tidak akan memberitahukan kepada tuan mudamu soal membocorkan alasan tuan muda anda menikahiku sekertaris Sam " Veln mendesak tak gentar.


" Maaf Nona, kalau memang anda begitu penasarannya kenapa tidak langsung menanyakannya saja ke tuan muda "


" Baiklah, saya akan turun kebawah. Jam kerja ku sebentar lagi dimulai, saya permisi dulu sekertaris Sam "


●●●


Veln pun meranjak dari duduknya, dan berlalu meninggalkan sekertaris Sam dengan perasaan kecewa.


Dilantai bawah telihat seluruh karyawan Manja coffe sudah berkumpul, kecuali seorang yang sedang mendapat jatah libur.


Mereka menatap heran melihat Veln muncul berjalan menuruni anak tangga.


" Aku habis dari rooftop, tapi diatas ada boss yang sedang berbincang sepertinya dengan temannya " Sembari menyunggingkan senyum.


Seolah puas dengan penjelasan Veln, mereka pun kembali menuju posnya masing-masing. Kecuali Liana masih mengintrogasi Veln dengan beberapa pertanyaan.

__ADS_1


" Pagi ini seperti biasanya kamu dateng lebih awal? " Veln menganggukkan kepalanya.


" Apa mereka setiap harinya selalu memancing? " Tanya Liana lagi.


" Hemm, mereka memang slalu sering memancing "


" Memancing keributan " Ujar Liana yang membuat mereka berdua pun melepas tawa.


Siang itu suasana Manja Coffe beraktifitas seperti biasanya. Pengunjung pun sudah mulai berdatangan dan memenuhi meja ruangan Coffe Shop tersebut.


Liana fokus melakukan pekerjaannya, begitu juga dengan Veln. Namun selang beberapa menit kemudian Veln melihat sekertaris Sam menuju arah pintu keluar Manja Coffe, dan satu jam berikutnya tak kunjung kembali. Justru malah Mas Denis yang terlihat masuk keruangan dan langsung menuju lantai atas. Lima belas menit berikutnya terlihat Mas Denis turun dari lantai atas dan menuju arah Veln.


" Bagaimana Nona, apa anda sudah bisa menyesuaikan diri ditempat ini? " Tak lupa tersenyum.


Veln mengangguk dan melempar senyum manisnya kearah Denis.


" Baiklah, mari kita berjuang bersama-sama "


Dan mereka pun saling melempar senyum, lalu Denis menuju ruang barista yang berada dibelakang punggung Veln. Tangannya meraih celemek Manja Coffe dari atas rak yang masih terlipat rapih, lalu segera mengenakan ditubuhnya.


" Rupanya barista number one hari ini akan beraksi " Veln bergumam-gumam kecil yang sedari tadi memperhatikan Denis lewat lirikan matanya.


" Denis, aku keluar sebentar ya " Suara itu berasal dari bibir Ray yang berada disamping depan Veln, tanpa Veln sadari kedatangannya.


Melihat Ray, Liana langsung bertingkah aneh. Nggak ada angin nggak ada hujan dia menyikut lengan Veln.


" Na.. sakit tau "


" Cakep maksimal " Ucap Liana tanpa mengeluarkan suara. Veln hanya memutarkan kedua bola matanya.


" Satu jam lagi nanti aku jemput ya " Ujar Ray kepada Denis, tanpa menyadari bahwa dirinya sedang dipandangi Liana dengan terkagum-kagum.


" Ok " Sahut Denis " Kamu nggak mau minum kopi buatanku dulu? "


" Terima kasih, lain kali saja Ray menolak tawaran Denis. Matanya dialihkan kearah Veln.


" Nona bisa tolong ikut aku " Belum juga Veln menjawab Ray langsung berlalu menuju pintu keluar Manjja Coffe.


Liana cengar-cengir sambil manggut-manggut ke ge-er an sendiri, dan mendorong Veln untuk segera mengikuti Ray.


Tidak bisa dipercaya!!! lihat saja tuan muda ini bertingkah biasa saja seolah-olah tidak berniat untuk menikahiku.


Ray terlihat berdiri disamping mobilnya, dan Veln bergegas menghampiri. Ray membuka pintu mobilnya dan mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang, sebuah kotak dus sapatu cats dengan merk ternama dan mengulurkannya kearah Veln.


" Simpan ini diruang atas "


Veln mengambil alih kotak dus sepatu itu.


" Seperti yang aku katakan tanpa kau memohon pun aku akan berbaik hati menyelesaikan masalahmu. Cukup menurutlah dan ikuti perintahku "


Lihatlah dia mulai lagi merayuku untuk menikah dengannya, padahal barusan dia bertingkah seperti tidak mengenal dan tidak tertarik padaku.


" Boss, apa aku boleh menanyakan sesuatu kepadamu? " Agak sedikit ragu-ragu.


" Tentu "


" Sebenarnya apa alasan anda menikahiku?sampai-sampai mau berebut dengan juragan Seno? "


Cih. Apa dia menganggap dirinya Trophy?!!


" Kalau seorang perempuan dinikahi berarti hendak dijadikan apa? " Ray berbalik bertanya.


" Isteri " Veln menjawab polos.


" Sudah tau jawabannya kenapa masih bertanya?!! minggirkan tubuh mu. Aku akan mengemudikan mobil ku, jangan sampai kau terserempet nanti "


Ray meninggalkan Veln, masuk kedalam mobilnya dan menyalakan mesinnya lalu segera mengemudikan kendaraan roda empatnya dan berlalu meninggalkan Veln.

__ADS_1


Bukankah kata-kata dan tingkahnya itu tidak seperti ingin menjadikan aku isterinya setelah dinikahi. Masih abu-abu. Tidak seperti juragan Seno yang jelas berwarna putih cerah benar-benar mencari isteri, hanya saja memilih yang usianya lebih muda.


Bersambung..


__ADS_2