Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
85. Frustasi


__ADS_3

Sejak saat itu, mulut Veln kembali terkunci rapat. Bahkan benar-benar sangat rapat. Begitu nampak kehadiran Ray, Veln bahkan seperti tidak mau membuka celah sedikit pun meski hanya untuk mengijinkan sedikit udara


keluar masuk dari sana.


Niat Ray kembali membawa pulang Veln sebagai hukuman justru berujung pada keadaan yang diluar ekspektasi.


Dan malam itu, tiba-tiba Veln beranjak dari tidurnya. Ray yang sedang duduk disofa single dengan memangku laptopnya sedikit teralihkan pandangannya kearah perempuan itu.


" V, apa aku terlalu berisik dan mengganggu tidur mu? " Veln tak menggubris pertanyaan Ray, dia menyelonong begitu saja menuju pintu keluar.


Lalu Ray kembali fokus dengan pekerjaannya, mungkin seperti biasa V nya terjaga karena butuh kekamar mandi untuk berkemih.


Lima belas menit kemudian fokus mata pria itu otomatis terganggu, melihat perempuannya yang entah sudah keberapa kali dirinya memergoki Veln mandi ditengah malam dan kembali menuju kamar hanya dengan menggunakan handuk yang dikemben.


Dan yang membuat Ray kalap, dengan tanpa canggung dan santai Veln mengganti gaun tidur hamilnya diruangan tersebut. Bahkan gaun yang dikenakannya nampak lebih seksi dari yang sebelumnya.


Tentu sebagai laki-laki normal ada yang Ray rasakan dibawah sana, dia pun dengan terpaksa meninggalkanya rutinitasnya dan langsung menuju kamar mandi untuk bermain solo.


Ray terpaksa harus bermain solo untuk memenuhi hasratnya semenjak kejadian pengusiran yang dilakukannya terhadap Veln. Ray cukup tau diri untuk tidak memintah jatah kepada istrinya.


Sementara Veln, kembali menuju kasurnya dengan wajah tanpa dosa dan tanpa merasa bersalah.


Yang Veln rasakan dia hanya butuh penyegaran dan menghilangkan hawa panas dan gerah ditubuhnya yang selalu datang menghampiri semenjak usia kandungannya semakin membesar, karena itu Veln sering nekad membersihkan diri meski dijam malam seperti ini.


○○○


" Sayang, Papa tinggal kerja dulu. Kamu baik-baik dan jangan nakal " Ray mengecup janin yang ada dalam perut Veln berkali-kali. " V, aku pergi dulu " Ray juga mengecup kening Veln dan mengusap-usap lembut rambut istrinya. " Bu, tolong jaga Veln dan bayi dalam perutnya untuk ku "


" Baik tuan " Bu Ani mengulas senyum untuk majikan prianya, Ray pun sempat membalasnya sekilas sebelum dia pergi dan berlalu meninggalkan rumah mungil itu.


Setelahnya, seperti biasa Veln akan sibuk dengan online shopenya. Dia mulai bergelut dengan gunting, lakban dan beberapa barang yang dibutuhkannya untuk membungkus beberapa barang yang dipesan konsumennya untuk dipaket.


Hingga menjelang siang hari, ada yang dirasa tidak beres didalam perutnya. Sesekali Veln merasakan melilit yang masih bisa tertahan, bahkan dalam keadaan seperti itu Veln masih sanggup menyelesaikan pekerjaannya. dipastikan saat ini dia sedang merasakan kontraksi ringan. Merasakan sakit sebagai tanda-tanda dirinya akan melahirkan.


Sore hari yang hampir menjelang petang, setelah berdiskusi dengan bu Ani, Veln pun memutuskan untuk secepatnya menuju rumah sakit. Selain rasa melilit yang sudah begitu sering dan dengan selang jarak yang agak dekat-dekat alasan lainnya yaitu karena air ketuban Veln pun sudah pecah dan terus merembes.


Beruntung, begitu bu Ani dan Veln baru saja keluar dari rumah terlihat Mami Rosa dan Rosi datang menuju kearahnya yang awalnya bermaksud ingin mengunjungi Veln.


" Kak V " Rosi melengkingkan suaranya dari kejauhan dengan berlari kecil menghampiri Veln yang diikuti Mami Rosa dibelakang.


" V " Mami Rosa memperhatikan menantunya. " Mau melahirkan? " Terlihat ada rasa panik diwajah perempuan yang masih modis diusia yang sudah tidak muda lagi.


" Sepertinya begitu Mi "


" Kalau begitu ayo kita segera kerumah sakit "


Mereka pun secepatnya menuju rumah sakit dengan menggunakan mobil milik Mami Rosa.


○○○


Didalam salah satu sebuah ruangan rumah sakit terlihat Veln berbaring miring dengan tenang disebuah ranjang.


Waktu kelahiran yang diperkirakan kurang lebih dua jam an lagi, menunggu hingga jalan lahir terbuka sempurna tak membuat Veln beringsatan atau menjerit-jerit tak karuan karena menahan sakit.


Sepertinya rasa sakit yang setara dengan patahnya dua puluh tulang secara bersamaan saat seorang perempuan hendak melahirkan tidak berpengaruh terhadap perempuan satu ini.

__ADS_1


Mungkin ini disebabkan karena pengaruh alunan musik klasik yang mengalun indah diruangan itu sebagai salah satu metode hipnobirthing yang Veln pilih untuk membantu merelaksasikan seluruh tubuh, otak dan fikirannya.


Ditambah lagi dengan usapan-usapan lembut dan penuh sayang yang dilakukan oleh Ray pada seluruh tubuh bagian belakangnya.


Ray datang satu jam setelahnya begitu diberi kabar oleh Rosi, Ray langsung berlari meninggalkan kesibukannya.


" Huuuuuuft " Sesekali terdengar tarikan dan hembusan nafas dari mulut Veln, demi menahan rasa sakit akibat kontraksi yang semakin kuat dan datang dengan lebih sering.


Bayangkan sekuat tenaga Veln harus menahan rasa sakit yang berulang dibarengi dengan menahan untuk tidak boleh mengedan sebelum jalan lahir terbuka semua, padahal dirinya merasakan bayinya seolah ingin segera minta dikeluarkan.


Namun karena perempuan itu tidak menginginkan terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti terjadi pembengkakan pada jalan lahir akibat dipaksakan mengedan sebelum waktunya. Akhirnya dia lebih memilih anjuran petugas medis.. dia memilih bertahan untuk tidak mengedan sebelum mendapatkan intruksi dari pihak medis. Dia menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya untuk mengurangi rasa sakit, dengan fikiran kembali difokuskan pada alunan musik, bayangan bayi mungil dan tangisannya saat berada dipangkuan, dan membayangkan sugesti-sugesti positif lainnya, dan tak lupa juga menikmati sentuhan dan perhatian lembut dari Ray.


Ray membungkuk mensejajarkan wajahnya ditelinga Veln " I love you, V " Dengan telapak tangan mengusap-usap terus menerus seluruh tubuh Veln yang dapat dijangkau oleh telapaknya.


Sungguh kalau boleh jujur, mendengarkan itu membuat hati Veln berdesir, dan sukses menambah kekuatannya seribu kalilipat dalam menghadapi proses persalinannya.


Hal itu pun sukses membuat Ray mengernyitkan kening dan terkagum-kagum terhadap perempuan yang sedang bertaruh nyawa demi buah hatinya.


Velnnya memang benar-benar perempuan hebat, tangguh dan kuat. Ray sampai tercengang memperhatikan istrinya yang hanya disibukkan mengatur nafasnya panjang-panjang dengan memejamkan mata dan sesekali meremas sprei atau bantal yang perempuan itu gunakan untuk berbaring miring hanya untuk menahan rasa sakit yang tidak bisa Ray bayangkan.


Nyatanya persiapan jiwa raga Ray untuk dibantai, dicakar hingga dijambak-jambak terbuang sia-sia.


Hingga semua jalan lahir telah terbuka seluruhnya secara sempurna, sama sekali tidak ada ditemukan kekerasan fisik dalam tubuh Ray akibat penganiyayaan.


" Oe oe oe " Pada akhirnya lahirlah seorang putra yang sehat dan sempurna, generasi penerus dari keluarga Wiratama yang diberi nama Laire Lanang Sejagad Putra Saka Wiratama.


○○○


Enam minggu telah berlalu, baby Ley pun kini terlihat lebih sehat dan kuat. Jangan tanya, pipinya kini terlihat semakin bulat dan penuh berisi seperti bakpao.


Veln pun segera mengangkat sikecil Ray junior dalam pangkuannya, dan bersiap hendak menyusui putranya. Namun entah mengapa mulut mungil itu masih tidak mau menghentikan tangisnya, akhirnya Ray mengambil alih putranya dan segera memeriksa popok bayi mungil tersebut. Dan benar saja ternyata baby Ley buang air besar, karena risih ingin segera diganti akhirnya sikecil itu memberi kode dengan cara menangis.


Dengan sangat telaten Ray membantu Veln untuk menggantikan popok putranya tanpa diminta.


" Selesai.. saatnya bobo lagi, minum susu ya pangku dipelukan Mami " Ucap Ray terhadap putranya. Veln pun dengan senang hati menggantikan Ray memangku anaknya sekaligus menina bobokan kembali dengan memberinya asi.


○○○


Siang hari begitu bu Ani pulang dari pasar, bu Ani langsung membereskan semua barang belanjaannya untuk disimpan ditempatnya masing-masing.


Setelahnya bu Ani bersiap untuk memasak menu makan siang, dengan fokus bu Ani melakukan pekerjaannya hingga selesai.


Tepat begitu waktu telah menunjukan jam makan siang, bu Ani segera menuju kamar majikannya untuk memberitahukan bahwa makan siangnya telah siap untuk dihidangkan. Namun bu ani tidak menemukan Veln dan putranya didalam kamar.


Dan saat bu Ani masuk menuju kamarnya, bu Ani langsung panik setengah mati. Tanpa pikir panjang bu Ani segera menghubungi tuannya.


Ray yang mendengar kabar kurang mengenakkan, langsung pulang untuk menemui bu Ani.


" Ini tuan " Bu Ani menyerahkan sebuah sertifikat rumah, tumpukan uang tunai dan beberapa kotak perhiasan.


Ray langsung terkulai lemas, Ray berlari menuju kamar Veln dengan ponsel ditelinga berusaha menghubungi nomor Veln.


Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.


Ray membuka lemari pakaian yang terlihat setengahnya sudah berpindah tempat entah kemana. Ray pun menemukan ponsel Veln yang tergeletak, dengan sebuah sim card disampingnya yang sudah patah menjadi dua.

__ADS_1


🤳 Ray " Sam, Veln pergi dengan membawa serta putranya " Sam terkesiap, dan sudah tentu tanpa menunggu perintah lebih lanjut sekertaris Sam langsung melaksanakan tugasnya.


○○○


Sudah berbulan-bulan Ray setia menghuni kamar kecil itu tanpa meninggalkannya sedikit pun. Ray berharap? Veln kembali pulang dengan membawa putranya, buah hati mereka berdua.


Ray terlihat begitu sangat frustasi, bahkan wujudnya terlihat tak terurus. Perusahaan pun jika tanpa bantuan Sam dan Rosi mungkin akan bangkrut dan hancur. Rasa-rasanya dirinya sudah hampir gila, tidak ada lagi yang dirinya fikirkan selain harapannya dapat melihat kepulangan Veln dan putranya.


Kepergian Veln yang kedua kalinya benar-benar membuat Ray hancur berantakan. Ray merasa seluruh jiwa dan raganya ikut terbawa pergi bersama perempuan itu. Ray seperti kehilangan gairah hidup, tidak ada aktifitas lain selain mengurung diri didalam kamar dengan tatapan kosong dan penuh pengharapan akan kemunculan dua orang yang sangat disayanginya.


Kali ini Veln kabur dengan benar-benar sangat terencana dan rapih, bahkan Ray dan Sam tidak dapat menemukan keberadaannya.


Keberadaan cctv jalanan atau pun milik pribadi sama sekali tidak membantu. Karena nyatanya Veln keluar dengan sangat begitu apik, terlihat dari cctv yang masih bisa dijangkau Veln rela harus transit kebeberapa tempat untuk menuju persembunyiannya. Hingga rela berganti taxi online beberapa kali sampai kendaraan yang ditumpanginya berhenti ditempat yang tak terjangkau oleh kamera pengintai. Dan dari penyelidikan itu pula diketahui Veln masih transit kebeberapa tempat yang tak terjangkau pengawasan untuk menuju tempat persembunyiannya.


Veln pun bahkan sengaja mematahkan nomor ponsel yang biasa dirinya gunakan. Membekukan nomor rekeningnya dan tak lupa mengembalikan seluruh aset yang dia ambil dari Ray ke si pemiliknya lewat bantuan bu Ani dengan meninggalkan sebuah memo yang perempuan itu letakkan dikamar bu Ani.


Veln benar-benar menghilang tanpa jejak, keberadaannya sama sekali tak terendus meski kekuatan uang milik Ray ikut bertindak.


Sam sendiri sampai dibuat kelimpungan untuk mencari nyonya dan tuan muda kecilnya. Ditambah lagi ketika melihat kondisi Ray yang semakin hari semakin memprihatinkan. Hingga membuat Renand yang sedang mengambil beasiswanya diluar negeri terpaksa harus pulang.


○○○


Cekleeeeek..


Pintu kamar terlihat terbuka, Ray terlihat menoleh dengan malas kearah pintu yang memperlihatkan sosok Renand sedang berdiri disana.


" Kak " Suara Renand terdengar parau seolah tercekat ditenggorokan, Renand terlihat syok melihat kondisi kakaknya yang berantakan.


Tubuhnya yang semakin kurus tak terawat, dengan kedua bola mata yang mencekung akibat kurang tidur ditambah lagi rambutnya yang mulai memanjang tak beraturan dengan bulu-bulu halus yang mulai tumbuh disembarang tempat semakin membuat kondisi Ray terlihat mengenaskan.


Jelas, tiga ratus enam puluh derajat pengusaha muda itu nampak bukan seperti Ray yang seharusnya.


" Boy.. " Suara Ray tertahan ditenggorokan. " Perempuan itu benar-benar meninggalkan aku bersama dengan putranya " Suara Ray terdengar melemah membuat siapa pun yang mendengarnya pasti akan merasakan iba.


Ray menitikkan air matanya, dia menatap kearah Renand adik kecilnya dengan penuh permohonan.. berharap agar Renand dapat dengan sudi membantu untuk mencari V dan baby Ley nya sampai ketemu.


Renand mendekat dan memukul pelan bahu Ray yang sedang duduk terkulai disofa single ruangan itu. " Kak Ray, jika kau memang menyayangi mereka harusnya kak Ray bangkit dan lebih keras lagi untuk mencari keberadaan mereka. Bukannya malah melakukan tindakkan bodoh ini. Kalau kak Ray terus bertahan dalam kondisi ini, secara tidak langsung kau itu sedang melakukan tindakkan bunuh diri secara perlahan " Ray tersenyum getir. " Katakan, apa kak Ray benar-benar menyayangi mereka? "


" Untuk apa boy, aku menjawab pertanyaan yang kau sudah tau jawabannya "


" Kalau begitu kak Ray harus bangun dan mencari mereka lebih keras lagi. Bukannya malah memilih mati perlahan ditempat ini "


" Kau yakin boy, mereka akan diketemukan? "


" Mungkin, tapi jika kak Ray tetap lebih memilih seperti ini. Aku yakin ketika kak V memilih kembali pulang pun, kak Ray tidak akan bertemu dengan mereka. Karena mungkin kak Ray sudah mati terlebih dulu akibat kebodohan mu sendiri "


Terlihat ada sedikit binar kehidupan dibola mata Ray, percakapan yang dilakukan dengan adik kecilnya bagai multivitamin yang perlahan menyegarkan dan menguatkan tubuhnya.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2