Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
47.Noda


__ADS_3

Ray mengangkat tubuh Veln kekamar mandi, dan menurunkannya tepat dibawah shower.. mereka mengulang kembali acara ritual mandinya, namun dipertengahan acara Ray kembali melancarkan aksinya yang membuat Veln hanya bisa pasrah menerima sentuhan Ray yang berujung saling memberikan kebahagiaan.


" Maaf ya sayaang.. habis kamu terlalu menggoda dan menggemaskan " Bisik Ray pelan ditelinga Veln dengan posisi yang masih saling berpelukan.


Veln bergerak dan melerai pelukan diantara mereka " Ray, sepertinya untuk kali ini lebih baik kita mandi saling bergantian "


" Hem, aku akan keluar.. biar kau yang lebih dulu menggunakan kamar mandi ini "


" Biar.. Kau saja duluan yang menggunakannya, aku mau duduk dulu "


" Ok " Ray meraih handuk kimono dan membantu mengenakannya ketubuh Veln " Maaf.. Aku sudah membuatmu lelah " Mengecup kening Veln dalam lalu melepas kepergian istrinya.


○○○


Kini Veln menggantikan posisi Ray dikamar mandi, Sementara Ray melesat turun kebawah. Ruang makan tujuan utama Ray saat ini.


" Kak " Sapa Renand yang sudah duduk bertengger disalah satu kursi meja makan.


" Kapan pulang? "


" Kemarin siang "


" Baguslah, kau masih ingat pulang.. masih mau singgah dirumahku "


" Ah.. ini kan juga salah Kak Ray, karena terlalu sibuk mengurusi pekerjaan sehingga membuat jarang berada dirumah, dan karena itu juga aku jadi malas pulang "


" Ada atau tidak ada aku sudah seharusnya kau pulang kerumah " Ucap Ray sembari menarik satu kursi untuk dia duduki.


" Ok boss " Dengan mengangkat tangannya dan memberi hormat.


" Mana Kakak ipar? " Tanya Renand dan belum sempat terjawab Bibi Stela terburu mencela obrolan mereka.


" Tuan muda, apa anda sudah akan sarapan? "


" Hem, tapi diatas.. Aku dan V akan sarapan dikamar "


" Baik tuan, Bibi akan menyiapkan makanan untuk dibawa kekamar"


" Maaf Bi, sebelumnya tolong bereskan kamar ku terlebih dahulu.. ganti spreinya dengan yang baru, dan khusus hari ini aku mau Bibi turun tangan langsung mengawasi mereka yang membenahi kamarku " Menunjuk beberapa pelayan muda yang sedang fokus mengelap beberapa barang " Bibi harus jamin jangan sampai ada bisik-bisik yang nantinya membuat V merasa malu " Bibi Stela mengangguk tanda mengerti walau pun sedikit ada kebingungan dari perkataan tuan mudanya membuat nona mudanya malu??apa maksudnya?


" Kak Ray, jau dan Kakak ipar tidak makan disini? ah.." Renand mendesah kecewa " Padahal aku sengaja menunggu kalian turun untuk makan bersama ketika mendengar kau sudah pulang "


" Maaf, lain kali kita lakukan itu " Ray bangkit dan menepuk punggung adiknya.


" Aku merasa benar-benar terabaikan olehmu, Kak. Apalagi ketika kau sedang mengunjungi hotelmu, ditempat Om Aldo dan Tante Susan.. kau juga akan ikut lupa jalan pulang " Renand berucap sedikit kesal.


" Hey, kenapa kau tidak memakai seragam sekolahmu " Menyadari Adiknya yang hanya mengenakan pakaian bebasnya.

__ADS_1


"Jangan mengalihkan topik Kak, hari ini aku mau bolos "


" Untuk hari ini ku maafkan, tapi tidak lain kali " Ray mengacak rambut Renand sembarang.


" Katakan Kak, kenapa kau begitu betah ketika mengunjungi kota kecil itu? "


" Waktu itu ada misi penting yang harus aku selesaikan.. dan maaf untuk hari ini, sepertinya kau harus menikmati masa bolosmu sendirian. Kita habiskan waktu bersama-sama besok, aku akan ambil libur " Ray beranjak pergi namun langkahnya terhenti sebentar.


" Satu lagi, Rey.. untuk hari ini jangan mengganggu Kakak iparmu "


Ck.. apa Kakak ipar mengadukan perlakuanku padanya?


" Dia harus istirahat "


Sepertinya aku salah mengira.. ternyata Kakak ipar bukan tipe pengadu.


" Sip.. apa maksud ucapan Kak Ray?mengatakan pada Bi Anna untuk tidak membuat Kakak ipar malu? "


" V mengamuk dan memporak porandakan kasur king size ku " Ray terkekeh.


" Kalian bertengkar? "


" Tidak. Kami hanya bergulat " Menunjukkan senyum jailnya.


" Kak Ray jangan membuat Kak V terluka, kalau sampai itu terjadi aku akan menghajarmu "Renand terbangun dari duduknya, merasa panas dan marah kalau sampai benar-benar Kakaknya main tangan terhadap istrinya Renand akan benar-benar memukul Kakaknya.


" Santai Rey.. itu tidak seperti yang kau pikirkan, duduklah kembali dan makan sarapanmu " Ray berlalu menuju ruang atas, dan Renand bersiap untuk melakukan sarapan.


○○○


" Bibi akan mengirimkan sarapan kalian " Bibi Stela mengulas senyum bahagianya " Bibi tidak menyangka ternyata tuan muda kini benar-benar sudah besar, bahkan sudah dewasa " Mengelus lengan kekar Ray lembut.


Ray tersenyum balik " Ingat Bi, jangan sampai ada keributan yang membuat V ku merasa malu, dan.. jangan sampai otak pelayan muda dibawahmu tercemari karena menemukan sesuatu yang penting " Ray tertawa kecil.


" Baik tuan muda, jangan khawatir.. Bibi akan membersihkan bercak noda itu dengan sangat rapih" Bibi Stela pun pamit pergi.


○○○


" Aaaaaaa..." Sepeninggal Bibi Stela terdengar Veln berteriak histeris, membuat Ray langsung melesat menuju arah suara.


" V " Ray mendapati kedua tangan Veln yang mencengkeram kuat handuk kimononya dengan raut wajah yang sedikit frustasi " Ada apa? "


" Stop " Tangannya terulur, menghentikan langkah Ray " Aku terharu.. bahkan saking terharunya sampai aku ingin menangis sekencang-kencangnya " Uapan Veln terdengar kesal namun pasrah.


" Kenapa? " Ray sedikit khawatir.


" Aku sebel sama kamu" Ray semakin dibuat bingung " Karena kau sudah mentatto seluruh tubuhku, semuanya.. tak tersisa, disini, disini, disini dan disini juga " Menunjuk area perut, bahu dan bagian lainnya yang masih tertutup handuk kimono, dan yang terakhir menunjuk bagian leher jenjangnya yang terlihat jelas kiss mark bertebaran disana. Veln menyadari itu ketika dirinya hendak mengenakan baju ganti, bamun tiba-tiba dirinya bercermin untuk memastikan apakah tubuhnya berubah dan masih seseksi dulu saat dirinya masih virgin.

__ADS_1


" Hahahaa " Ray terkekeh geli " Maaf sayaang "


" Berhenti.. keluar lah Ray, aku mau ganti baju " Kembali Veln menghentikan langkah Ray yang hendak mendekat dan mengusirnya dari ruangan itu.


" Ok, ok " Ray mengangkat tangannya dan berjalan mundur meninggalkan walk in closet.


○○○


Selang beberapa menit Veln keluar dengan rambut setengah basahnya, kedua tangannya sibuk menggosok rambutnya dengan handuk.


" Kemarilah " Ray mengulurkan tangannya dan menggoyangkan telapaknya memberi isyarat untuk Veln agar mendekat. Namun Veln belum begitu menghiraukannya, pandangannya terpaku pada kasur king size yang sudah tertata rapih.


" Uhh.. Aku masih merasa sedikit tidak nyaman ketika berjalan, sedikit nyeri dan terasa ada yang mengganjal didalam sana " Veln sedikit meringis.


" Aku bantu gendong? "


" No " Jawaban Veln membuat Ray menempelkan kembali pantatnya diatas sofa " Itu? " Veln menunjuk kasur yang sudah berganti sprei biru langit, mendekati Ray dan meminta penjelasan.


" Aku yang meminta mereka untuk membereskan dan meminta menggantinya dengan sprei yang baru "


" Aahhh, sepertinya untuk sementara waktu aku tidak akan berani keluar menampakkan diri karena terlalu malu " Veln membenamkan wajah dan mendusel-duselkannya dipaha Ray dengan posisi berlutut dilantai menghadap Ray " Bercak merah itu pasti akan bikin geger seluruh penghuni rumah ini " Nendongakkan wajahnya kearah Ray yang dibalas senyum menggemaskan olehnya " Kenapa tidak bertanya dulu padaku, malah langsung memerintah mereka untuk membereskannya " Kembali Veln membenamkan wajahnya ditempat semula.


Ray mengambil alih handuk yang berada ditangan istrinya,bdan mengangkat wajah Veln dari pahanya " Kenapa wajahmu bersemu merah begitu hah? Kau benar-benar merasa teramat malu ya? " Ray menggoda Veln yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus dan terkekeh kecil " Berbaliklah, aku bantu mengeringkan rambutnya " Ray memutar tubuh Veln untuk membelakanginya.


" Ahhh " Veln mendesah frustasi " Aku pasti dijadikan bahan hot gosip oleh mereka "


" Tenanglah V itu tidak akan terjadi karena Bibi Stela sendiri yang akan menanganinya " Ray mulai mengusap lembut kepala istrinya dengan handuk.


"Jadi Bibi tau kronologi yang sebenarnya? " Veln membalikkan wajahnya " Seharusnya kau bisakan sedikit berbohong, dan mengatakan pada Bibi dan yang lainnya kalau bercak itu bekas luka goresan " Ucapannya melirih seolah menyesali kenyataannya yang terjadi.


" Mungkin alasan itu yang akan digunakan oleh Bibi untuk menghindari gosip terhadap yang lainnya, kalau untuk Bibi sendiri tanpa aku memberi tahu pun, dia tau dan sudah sangan paham dengan sempurna. Bagaimanapun dia lebih senior dari kita V.." Ray membenarkan kembali posisi Veln dan mulai mengusap lagi rambut Veln.


" Huffft.. setidaknya aku sedikit merasa lega mendengar itu " Menghela nafas panjang dengan raut wajah yang masih sedikit was-was.


" Lagi pula apa yang kau takutkan? mereka tidak akan berani bergosip.. kalau pun itu terjadi, harusnya kau merasa bangga V karena aku pria tampan dan mapan dengan sejuta pesonanya yang telah berhasil memerawanimu " Tawa Ray menggema seketika membuat Veln merasa sebal beribu sebal dibenaknya.


" Ck, mau aku buat adik kecilmu puasa berbulan-bulan! " Veln menepis tangan Ray dan mendelik tajam kearahnya.


" Upsss.. ampun V " Mengangkat kedua tangannya, meminta pengampunan lalu memajukan tubuhnya dan memeluk bahu Veln, mencium pipi istrinya lembut dan berbisik "bMaaf sayang.. mereka tidak akan berani membicarakanmu. Kalau pun ada akan aku jahit mulut lancangnya " Veln tertawa kecil dan membalas mencium pipi Ray.


" Aku lapar Ray "


" Hem, setelah ini kita sarapan.. tunggu beberapa menit lagi rambutmu akan kering sempurna " Sebenarnya bisa saja Veln menggunakam hair dryer untuk mengeringkan rambutnya, namun langkah itu tidak diambilnya ketika tidak sedang dalam keadaan terburu-buru. Karena Veln fikir mengeringkan dengan alami akan membuat rambutnya lebih baik dan sehat.


*Hallo.. ayo ramaikan like dan comentnya😄,votenya juga ya..


tks buat para reader yang sudah sudi membaca,like n coment dan memberikan votenya.

__ADS_1


see you..


Bersambung*..


__ADS_2