
Ray terlihat duduk menyender dikursi belakang mobilnya, dengan mata menatap jalanan. Terlihat telunjuknya mengusap-usap bibirnya sendiri dengan siku ditumpukan diatas pintu mobilnya. Air mukanya kini sudah tak segarang barusan, sudah lebih tenang. Namun entah mengapa dimata Veln, Ray nampak lebih tampan ketika sedang emosi bahkan aura kewibawaanya sama sekali tak hilang tapi tetap membuatnya merasakan takut.
Sekertaris Sam menghentikan mobilnya tepat didepan lobby hotel, Ray langsung keluar tanpa menunggu sekertaris Sam membukakan pintu mobilnya, lalu tak lama kemudian diikuti Veln dan sekertarisnya keluar. Mereka masuk mengikuti Ray dari belakang yang berjalan sedikit cepat menuju restaurant. Terlihat Veln agak sedikit tertinggal mengimbangi langkah kaki Ray, untung sekertaris Sam selalu setia mengikuti dibelakangnya.
" Sekertaris Sam, apa tuan mu sekarang sedang menunjukan kekesalannya? " Veln bertanya sembari melanjutkan langkahnya. Meski raut wajah Ray sekarang sudah nampak normal namun tetap terlihat masih marah dan tidak memperdulikan Veln.
Sedang Sam seperti biasa pertanyaan apa pun yang Veln berikan untuknya hanya dijawab dengan senyum.
Ray sudah duduk terlebih dahulu dengan punggung bersandar dan menyilangkan sebelah kakinya, mata elangnya menatap tajam Sam dan istrinya yang hendak menghampiri dengan wajah datar namun masih terlihat ada amarah disana.
" Ray, sepertinya aku akan kembali kekamar terlebih dahulu " Ucap Veln terjedah sebentar.
" Aku akan ganti pembalut sebentar " Dengan nada berbisik lebih mendekat kearah Ray.
" Hem " Terdengar simple namun mendengar jawaban Ray membuat hati Veln sedikit lega.
Veln pun pergi berlalu meninggalkan Ray dan sekertaris Sam.
○○○
Dua puluh menit telah berlalu, Veln terlihat memasuki area restaurant. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti mengurungkan niatnya untuk menghampiri Ray karena melihat keberadaan Yas sedang duduk disamping Ray. Dibenaknya ada rasa menyesal mendalam kenapa harus menolak untuk makan diruangan private.
Dari kejauhan terlihat jelas jari jemari Yas melepaskan gelang rajut benang dari lengan Ray, dan meletakkan begitu saja dengan sembarang diatas meja.
Yas terlihat bergelayutan diatas lengan Ray, dengan sesekali menyandarkan kepalanya. Dan sialnya tiap kali Yas terlihat bermanja-manjaan Ray selalu menyambutnya dengan baik. Tangan Ray lembut membelai rambut Yas seperti yang biasa Ray lakukan terhadap Veln, sampai disudut bibirnya pun kadang terlihat senyuman termanis Ray. Mereka terlihat menikmati obrolan demi obrolan yang membuat Veln panas untuk menatapnya.
Karena rasa kesal yang sudah tak terbendung lagi akhirnya Veln memilih untuk angkat kaki dari tempat itu.vTubuhnya berbalik dengan cepat dan melangkah keluar dengan perasaan campur aduk. Sehingga tanpa sadar menabrak sekertaris Sam yang entah sudah berapa lama ikut berdiri mematung dibelakangnya yang seolah mengawasi Nonanya yang sedang menangkap basah tuan mudanya.
" Aduh " Veln terkaget dan bahunya sedikit merasa sakit karena menyenggol tubuh kekar sekertaris Sam.
" Samsul.. " Matanya tidak kalah kaget tatkala mendapati orang yang dia tabrak adalah sekertaris Sam.
" Ikut Aku " Tanpa ragu dan pemberitahuan terlebih dahulu Veln langsung menarik lengan sekertaris Sam untuk keluar dari tempat tersebut tanpa ada perlawanan dari sekertaris Sam.
" Dengar ya sekertaris Samsul.. disini anda hanya orang luar, jadi jangan coba-coba ikut campur urusan dalam negeri kalau kau tidak mau sampai dideportasi dari wilayah kekuasaan ku " Sam hanya menganggukkan kepalanya seperti biasa, tanpa mengerti apa maksud dalam perkataan Nona mudanya.
Yang tertangkap diotaknya hanya mungkin, dirinya tidak boleh ikut campur dalam permasalahan rumah tangga majikannya. Kemudian tanpa permisi Veln berlalu meninggalkan sekertaris Sam.
Sekertaris Sam masih berdiri tak bergeming didepan pintu masuk restaurant mengamati punggung Veln yang masih terlihat jelas hendak berlalu dari tempat tersebut.
Namun, belum sempat pandangannya menghilang dari mata sekertaris Sam, Veln membalikkan tubuhnya dan hendak kembali menuju tempat Ray.
" Aku tidak akan membiarkan pelakor menyusup kewilayah pemerintahan ku " Langkah Veln terhenti dihadapan sekertaris Sam, lalu kembali masuk menuju restaurant. Mendengar itu sekertaris Sam hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Veln mendudukkan diri disamping kanan suaminya dengan perasaan campur aduk, namun tetap berusaha tenang dan percaya diri. Begitu juga dengan sekertaris Sam tak lama dia pun ikut bergabung bersama.
" Hallo Nona, kita ketemu lagi. Kau ingat dengan ku? " Veln menyapa Yas sekedar untuk berbasa-basi. Lalu matanya beradu pandang dengan Ray.
" Maaf sepertinya aku tidak terlalu mengingat mu " Jleb. Jawaban Yas langsung membuat hati Veln mengkerut.
" Tidak masalah, nanti juga kau akan mengenali aku. Kau akan terbiasa melihat ku selama kau gemar menempeli Ray " Dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
" V.. sepertinya kau yang harus terbiasa dengan keberadaan ku " Kata-kata Yas terdengar menantang.
__ADS_1
V.. apa-apan ini, barusan dia bilang tidak mengingat ku?! lalu apa? dengan sempurna dia mengucapkan nama ku seperti Ray ketika mamanggil ku. Benar tidak salah lagi, aku mencium aroma pelakor dalam dirinya.
" Baiklah sepertinya kita harus berteman agar bisa lebih dekat dan saling mengenal, apalagi sepertinya Ray sudah bercerita banyak tentang ku kepada mu sampai kau bisa mengucapkan nama ku dengan begitu sempurna " Masih dengan wajah datar dan tetap berusaha tenang.
" Untuk itu aku akan pikir-pikir terlebih dahulu " Ucapan Yas benar-benar terdengar menyebalkan ditelinga Veln.
" Tidak apa-apa, kalau begitu terserah kau saja Nona Yas " Dengan memutarkan kedua bola matanya merasa jengkel.
" Ray, kau mau makan apa? " Lanjut Veln. Mendengar Nonanya berbicara tangan Sam sigap diangkat keatas memberi isyarat agar seorang pelayan mendekat.
" Aku sudah pesankan makanan untuk Kak Ray " Dengan wajah tanpa bersalahnya Yas menyauti pertanyaan Veln. Sementara Ray hanya diam dengan pandangan yang masih terlihat marah kearah Veln.
" O.. begitu ya, terimakasih Nona, maaf sudah merepotkan mu " Masih berusaha tenang dan sabar.
Veln membuka buku menu yang diberikan seorang pelayan kepadanya.
" Sekertaris Sam, kau mau makan apa? biar aku pesankan " Veln langsung menunjukkan pesanannya kearah pelayan tersebut, sebelum pergi meninggalkan mereka.
Tangan Veln dijulurkan keatas meja untuk meraih gelang yang diletakkan sembarang diatas meja oleh Yas. Veln beranjak berdiri memutari Ray dari belakang dan berhenti diantara Yas dan suaminya duduk.
" Permisi Nona Yas, bisa kah kau bergeser sedikit? Aku akan memakaikan ini ketangan suami ku " Menunjuk gelangnya dengan mengusir Yas secara halus. Namun Yas sama sekali tidak bergerak dari duduknya.
" Kak Ray tidak terbiasa memakai barang-barang seperti itu, benarkan kak? " Seperti meminta dukungan dari Ray.
" Karena itu aku melepaskannya " Masih dengan mempertahankan posisi duduknya disamping Ray. Sementara Ray masih tidak mau ikut campur dengan obrolan kedua perempuan itu, sama seperti Sam yang hanya memperhatikan saja dari posisi duduknya.
" Benarkah? " Masih dengan ekspresi datarnya.
" Tapi sewaktu pertama kali aku memakaikannya sebelum Kau melepasnya, kak Ray mu terlihat begitu bahagia " Veln hendak meraih lengan kiri Ray, namun dihalangi oleh Yas.
" Kembalilah duduk ditempat mu, jangan membuat keributan disini " Jedeeeeer, ternyata respon Ray tidak seperti yang diharapkan Veln.
Akhirnya dengan sangat terpaksa Veln kembali kekursinya, sementara Yas terlihat tersenyum mengejek dengan menyenderkan kepalanya dibahu kiri Ray.
Ray, kau benar-benar marah kepada ku ???
Veln hanya bisa menelan ludah dan menghela nafas panjang.
○○○
Seorang pelayan terlihat membawakan pesanan yang sudah diorder terlebih dahulu oleh Yas.
Dan sepiring spagetti mendarat tepat dihadapan Ray. Ray langsung meraih garpu dan mengaduk-aduk makanannya, lalu memasukkan kemulutnya sesuap demi sesuap, tiba-tiba pikiran jahat Yas terlintas dibenaknya.
" Kak Ray sepertinya makanan mu lebih enak, apa kau bisa menyuapinya untuk ku? " Dengan gaya sok imutnya Yas sengaja membuat Veln merasa jengkel.
Ray melirik sebentar kearah Veln membuat pandangan matanya kini beradu, seolah meminta ijin untuk menyuapi Yas. Sementara Veln hanya diam dan hanya bisa membatin.
Jangan Ray, kumohon jangan.. kalau kau berani menyuapinya aku berhentikan kau jadi suami *k*u.
Ray pun menyuapkan garpunya kearah mulut Yas.
Baiklah, tidak apa-apa kali ini kau kumaafkan.
__ADS_1
Kembali Veln membatin.
" Terima kasih Kak Ray, benarkan yang ku bilang kalau makanan mu lebih enak " Ray melanjutkan makannya setelah menyuapi Yas.
" Kak Ray, kau juga harus coba makanan ku " Lanjut Yas lagi.
" Ehem.." Veln berdehem keras, berharap Ray menolak suapan yang disodorkan Yas. Namun kembali tidak sesuai dengan harapannya, Ray mengambil alih sendok dari tangan Yas dan memasukan sendiri makanannya. Meski tidak langsung menerima suapan dari Yas tetap membuat Veln menelan ludah kesal. Dan yang membuat Veln benar-benar merasa panas kejadian tersebut tidak terjadi sekali dua kali malah berlangsung berkali-kali.
Cih. Apa dia sengaja membuat ku cemburu?!!dengan melakukan itu bukankah kalian sedang melakukan ciuman secara tidak langsung.
Sam terlihat memperhatikan dengan seksama raut wajah Nona mudanya yang nampak begitu menahan kesal.
Mata Veln masih fokus menatap kedua orang itu yang asik menikmati makan siangnya ketika seorang pelayan meletakkan makanannya dan makanan sekertaris Sam.
" Selamat menikmati sekertaris Sam " Sam menganggukkan kepalanya dan terlihat mereka pun mulai menikmati makanannya menyusul Ray dan Yas.
Baru satu suap Veln menikmati makan siangnya, Yas kembali berulah.
" Kak Ray bagaimana kalau kita pergi sekarang saja " Yas bangun dari duduknya, meraih garpu yang masih berada ditangan Ray dan meletakkannya diatas piring.
Veln menghentikan aktifitas makan siangnya dan matanya kembali fokus menatap Ray dan Yas.
" Nona Yas, bagaimana kalau kepergian mu ditunda sebentar. Beri kami waktu untuk menghabiskan makanannya, setelah itu kami akan ikut dengan mu " Yas tidak memperdulikan perkataan Veln dan langsung meraih lengan Ray, mengajaknya untuk beranjak dari duduknya.
" Memangnya kau ada keperluan apa sampai terlihat terburu-buru begitu? " Melihat Ray yang sudah beranjak dari duduknya, Veln berusaha menghentikan kepergian mereka.
" Maaf V.. ini bukan urusan mu jadi kau tidak perlu tau kita akan kemana. Ayo kak Ray " Kelakuan Yas semakin membuat Veln kesal, namun tetap berusaha dia tahan sebisa mungkin.
" Kalau begitu aku akan ikut dengan kalian " Veln beranjak dari duduknya bersiap-siap untuk mengikuti mereka yang hendak pergi keluar.
" Kak Ray " Tiba-tiba suara manja Yas yang terdengar menyebalkan ditelinga Veln menyeruak, mengisyaratkan kepada Ray kalau Yas tidak suka dengan keikut sertaan Veln.
" Duduklah kembali, habiskan makan siang mu. Aku akan pergi sebentar mengantar Yas " Penolakan Ray spontan membuat Yas tersenyum menang.
Veln menatap Ray dengan wajah sendu dan pancaran mata yang mengisyaratkan kekecewaan.
" Sekertaris Sam, apa kau bisa menggantikan tuan Ray untuk mengantarkan Nona Yas? " Belum sempat Sam menjawab, baru saja beranjak dari duduknya namun Ray sudah mengeluarkan keputusannya.
" Teruskan makan siang mu Sam, mungkin dia tidak mengerti dan paham kalau kau juga manusia yang butuh energi " Dengan menunjukkan jari telunjuknya kearah Veln, dan lagi perkataan Ray membuat Yas besar kepala. Trus bergelayutan dengan manja dilengan kekar Ray.
" Baiklah, sepertinya anda harus menghabiskan makan siang mu sendirian sekertaris Sam. Karena tiba-tiba perut ku merasa kenyang.bPermisi " Veln berlalu mendahului Ray dan Yas yang hendak pergi dari tempat tersebut.
*Satu
Dua
Tiga*
Veln berhitung dengan membatin.
*Kejar
Ayo kejar*..
__ADS_1
Dia membatin kembali berharap Ray mengejarnya..
Bersambung...