
Ray menatap tajam kearah Veln tanpa berkedip dengan berdiri tegak dan kedua tangan ditenteng diatas pinggang. Sementara Veln hanya mampu menelan ludah membeku dan menunduk tak berani melakukan pergerakan sedikit pun.
" Ehemm " Deheman keras nan kasar keluar dari mulut sitampan nan mengerikan itu.
" Maaf Ray, aku mengaku salah " Seketika Veln mendongakkan wajahnya gugup dan memohon ampun mendengar suara deheman bak sebuah peringatan keras.
Dan disituasi yang tidak tepat tanpa berdosa sweety sikucing angora datang menghampiri perempuam ayu itu, memutarinya beberapa kali lalu berhenti tepat dihadapan kedua kakinya, mendusel-duselkan wajahnya.. menempelkan bulu-bulu halus puluhan kali dikaki putih nan mulus itu, membuat siempunya merasa geli dan sekuat tenaga untuk menahan tawanya.
Kumohon manis.. pergi, pergilah tidakkah kau takut dengan singa jantan dihadapanku?!
Veln membatin dengan menghentakan sedikit kakinya pelan berusaha mengusir sweety yang semakin membuatnya merasa geli dengan bulu-bulu halusnya dan pada akhirnya Dia tak dapat lagi menahan tawanya.
" Xixixixii.. hentikan sweety, aku benar-benar merasa geli " Veln terkekeh dengan memperhatikan tingkah lucu sweety dibawah kakinya. Menyadari tatapan tajam Ray masih belum berakhir, dia pun langsung membungkam mulutnya.
" Ikut aku.. tanggung akibatnya " Dengan langkah panjang dan tegapnya Ray berlalu masuk lebih dalam menuju anak tangga.
" Sweety.. Mami tinggal dulu ya, Mami harus fokus ngurusin Papi. Papi lagi naik darah, butuh perlakuan ektra " Veln berjongkok dan mengelus sebentar puncak kepala kucing abu-abu itu sepeninggal Ray.
○○○
Secepat kilat dengan berlari Veln menyusul Ray yang sudah bersiap hendak membuka pintu kamarnya, Veln langsung menerobos cepat sebelum pintu kamar tertutup kembali.
Punggung tangannya mengusap kening yang berkeringat, basah akibat gerakan olah raga dadakannya.
Masih dengan raut dinginnya Ray berdiri dengan bersandar dipunggung sofa ruang tv kamarnya dengan bersidakep, dengan takut-takut Veln melirik kearah Ray.. dan seperti dugaannya, aura wajah suaminya masih belum memancarkan keramahan.
Veln langsung tertunduk saat matanya bertabrakan dan reflek bergerak mundur beberapa langkah saat mendapati pergerakan Ray yang ternyata hanya memindahkan kedua tangannya yang tadinya bersidakep kembali ditenteng dipinggangnya.
Ya ampun kenapa sampai terlihat semengerikan ini, tapi tampak cakep membuat Ku ingin menghambur kearahnya.
" Kamu.."
__ADS_1
" Ampun Ray.. Aku mengaku salah, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf " Veln langsung menyerbu tubuh Ray dan mendekapnya dengan tak henti-hentinya memohon ampunan tanpa memberi kesempatan untuk Ray menyelesaikan ucapannya.
Veln mendongakkan wajahnya yang masih menempel didada bidang suaminya, merasa penasaran dengan ekspresi suaminya yang sama sekali tak merespon permohonan maafnya namun dengan cepat dia benamkan kembali kedada bidang itu seketika mendapati wajah Ray yang ternyata masih mengarah tajam kearahnya.
Kini Veln benar-benar merasa takut, mendapati Ray yang ternyata sedang benar-benar marah terhadapnya karena itu dengan tanpa sadar Veln meremas-remas jari-jemarinya yang melingkar dipinggang Ray untuk menghilangkan rasa takut itu tentu dengan tubuhnya yang masih menempel rapat ditubuh atletis milik Ray. Dan hal itu dirasakan oleh Ray yang tak sedikit pun berniat untuk menghentikan perlakuan intimidasinya.
" Kau lancang sekali.. beraninya peluk-peluk tubuh aku setelah seharian bergumul dengan asap dan debu diluaran sana " Dengan secepat kilat Veln melepaskan pelukannya.
" Maaf " Maaf maaf dan maaf cuma itu yang bisa perempuan itu ucapkan sekarang.
" Harusnya kau cepat-cepat mandi membersihkan diri, menghilangkan aroma matahari yang melekat ditubuhmu "
Tanpa ragu Veln pun bergegas melaksanakan perintah sang raja. Dia pun melepas tasnya dan entah karena bingung atau apa dengan konyolnya Veln meletakkan tas kecilnya dileher Ray, mengalungkan talinya disana sebelum berlalu menuju kamar mandi membuat Ray menggeleng-gelengkan kepalanya dan dengan terpaksa meletakkan benda kotak berbahan kulit tersebut ditempat yang semestinya.
○○○
Tak butuh waktu lama untuk Veln menyegarkan diri, dia kini sudah terlihat fresh seperti buah matang yang baru dipetik dari pohonnya.
Senyum termanis andalannya, Veln sunggingkan dihadapan Ray.
" Ck, aku seperti wanita murahan.. menyosor tanpa ada balasan " Veln melepaskan ciumannya dan memundurkan langkah sehingga membuat jarak diantara mereka saat tak mendapat respon dari Ray.
Ray langsung menarik pergelangan tangan istrinya dengan cepat dan meletakkan kembali kepinggangnya, tangannya beralih kepinggang istrinya untuk menarik lebih dekat menghapus jarak diantara mereka. Sementara tangan yang satunya meraih tengkuk Veln.
" Akan aku buat dirimu berharga " Senyum menyeringai tercetak diujung bibir sana dan langsung mendaratkan ciumannya dengan lembut dan semakin dalam. Ray mengangkat pinggul Veln, membuat perempuan itu reflek mengalungkan kedua tangannya kearah leher Ray dan mengaitkan kakinya kepinggang Ray. Tanpa melepas pagutannya Ray membawa Veln kearah ranjangnya dan hal yang diinginkan pun terjadi.
" Maaf ya sayang, membuatmu lelah " Mengecup puncak kepala istrinya dengan terus membelai punggung telanjang Veln. Saat ini posisi mereka sedang berhadapan dengan saling berpelukan setelah beberapa menit lalu melakukan olah raga ranjang.
Veln menganggukkan kepalanya lalu mendongak kearah Ray " Ray, kau sudah tidak marah lagi kan? " Ray tak menjawab hanya senyum yang dia tunjukan " Kalau tau akibatnya berakhir seperti ini tidak seharusnya aku merasa ketakutan sampai setengah mati "
"Jadi, kau menyesal mengakui kesalahan mu?hem? "
__ADS_1
" Aku kan hanya pergi dengan Adikmu, tapi tatapan mu itu sudah seperti mendapati ku sedang berselingkuh saja " Protes Veln.
" Salah ya tetap saja salah.. bagaimanapun kau itu seorang perempuan yang sudah bersuami, sudah seharusnya meminta ijin terlebih dahulu setiap mau melakukan hal apa pun " Menjitak kening Veln dengan tidak sungguh-sungguh " Mengerti tidak? " Sedikit menegaskan suaranya.
" Hem.. maaf " Dengan mengangguk pasrah " Aku mau protes " Terlihat Ray mengernyitkan keningnya " Kenapa menyuruh ku mandi?padahal otakmu sudah terencana untuk berakhir seperti ini? "
Bukannya menjawab Ray malah mendekap tubuh istrinya lebih erat "Jawab dulu " Paksa Veln dengan sedikit memberontak, berusaha mengendurkan pelukan suaminya.
" Gila saja, masa aku harus bergumul dengan asap dan debu yang menempel ditubuhmu? "
" Ahahahaa.. Kau benar, eitttttts tapi kau sendiri juga belum mandi?ini kan curang namanya "
" Hahahaa " Ray tertawa puas " Tidak boleh protes, siapa suruh melakukan kesalahan "
" Ck, bikin kesal saja membuat ku harus mandi dua kali sore ini " Veln menyikut perut Ray, kesal.
" Kita mandi bareng yuk " Ajak Ray dengan bersiap beranjak dari ranjangnya.
" No " Veln menolak tegas " Bakal ada akibat yang kedua kalau kita melakukan itu "
" Ok, kalau gitu aku duluan " Mengusap pucuk kepala Veln.
Sebelum menghilang dari pandangan Veln menghentikan langkah Ray " Ray, aku mau balas dendam terhadap Adikmu " Ray menoleh dengan jari membentuk huruf O " Tapi melalui dirimu "
" Ok, ternyata cantik-cantik pendendam " Terlihat senyum lebar tercetak disudut bibir Ray.
*Aduh maaf ya kalau dipart ini agak kurang greget,soalnya author nulisnya lagi nggak konsen karena ada sesuatu hal lain yang dikerjain.
Jangan lupa like..
Berikan comentnya..
__ADS_1
Juga vote n ratenya..
matur tks you.. 😙*