
Sepanjang melakukan makan malam, perlakuan manis terhadap Fenina tak henti diberikan oleh keluarga Wiratama. Dari hal kecil seperti yang dilakukan Mami Rosa terhadapnya barusan.
" Nak, cobain.. Ini enak loh. Ini salah satu makanan yang digemari oleh pria keturunan Wiratama " Mami Rosa meletakkan potongan daging ikan bumbu rujak diatas piring Fenina dengan tersenyum.
" Nin, makannya dicombine pake ini lebih mantul " Rosi memberi saran sembari meletakkan sepotong perkedel jagung yang menggiurkan mata.
Mendapatkan perlakuan seperti itu membuat Nina kini merasa nyaman dan santai berada diantara mereka, tidak canggung dan kikuk lagi.
" Terimakasih " Ucap Nina sedikit malu-malu.
" Ley juga mau " Suara bocah itu membuat semua mata mengarah kearahnya.
" Ley mau perkedel jagung? " Rosi menunjuk makanan yang dimaksud, dan segera meletakkan kepiring anak laki-laki itu saat bocah itu menganggukkan kepalanya.
" Nenek, Ley juga mau itu " Bocah itu menunjuk ikan bumbu rujak yang diinginkannya.
" Waduh, Ley mau ikan bumbu rujak? tapi ini sedikit pedas loh sayang " Mami Rosa ragu untuk memberikan makanan tersebut untuk cucunya, sembari melirik kearah Veln meminta persetujuan.
" Nggak apa Mi, kasih sepotong buat ngilangin rasa penasarannya " Begitu putranya bersiap untuk melahap masakan yang sedikit pedas dirasa itu, Veln langsung sigap menuang air putih dengan penuh kegelas bocah itu.
Ley mengunyah ikan bumbu rujak yang dicombine dengan perkedel jagung seperti yang Nina lakukan atas saran Rosi, dan nyatanya memang enak dirasa. Sampai bocah itu meminta nambah berkali-kali, meski harus memakannya dengan kewalahan dan diselang-seling dengan meminum air putih.
Dahinya yang bercucuran keringat akibat efek kepedasan membuat yang lain tersenyum dan menggelengkan kepala. Namun tak menyurutkan niatnya untuk berhenti menikmati dua makanan tersebut.
Satu lagi fakta yang ditemukan Nina tentang pria keturunan Wiratama selain memiliki wajah yang serupa dan memiliki gaya yang hampir mirip, ternyata selera lidah mereka pun tidak jauh berbeda. Terbukti dari Ray dan sikecil Ley yang begitu menikmati masakan tersebut, meski terasa pedas buat dimakan seukuran anak seusia Ley.
•••
Setelah makan malam berakhir, mereka pun berkumpul diruang tengah untuk berbincang-bincang.
" Jadi, kapan kalian akan menikah? " Pertanyaan Ray kontan membuat Sam kembali dipojokkan, tapi tidak dengan Rosi. Rosi justru menanggapi dengan santai pertanyaan kakak tirinya.
" Menunggu waktu yang tepat, Tuan " Begitulah sekertaris Sam, sikap formilnya seperti sudah mendarah daging dalam dirinya. Meski lambat laun dirinya akan menjadi adik ipar dari tuannya namun tak membuat rasa hormatnya berkurang terhadap bos besarnya.
" Mungkin tahun depan Kak, Rosi masih mau menikmati kebebasan hingga dipenghujung tahun ini " Rosi pun menyengir tanpa merasa berdosa. " Nin, kamu yang sabar ya. Untuk sementara nikmati dulu masa singlemu sampai satu tahun kedepan "
" Eh, iya mbak " Entahlah hanya itu yang bisa dikeluarkan dari mulut Fenina untuk merespon ucapan Rosi tanpa mengerti maksudnya.
__ADS_1
" Bagus lah, jangan terlalu lama menunda-nunda takutnya milik Sam keburu karatan " Ray tersenyum mengejek dengan melirik kearah Sam yang terlihat duduk dengan gaya kakunya. " Belum lagi Fenina dan Renand takut keburu jamuran nungguin kalian " Tawa pria itu meledak disusul kekehan kecil dari Mami Rosa.
Mami Rosa merasa sependapat dengan Ray, Sam yang sudah siap dan mapan justru harus sabar hanya demi alasan putrinya yang terlalu kekanakan yaitu masih menginginkan kebebasan. Mami Rosa merasa aneh dengan putrinya yang sudah merasa mantap saat diminta Sam untuk menjalin hubungan kearah yang lebih serius, namun menolak untuk diajak segera naik kepelaminan dengan alasan ingin menikmati masa singlenya dulu untuk sementara waktu.
" Astaga, Ray " Veln memelototkan mata kearah suaminya. Veln merasa kesal dengan ucapan yang kurang pantas dilontarkan suaminya meski itu hanya candaan.
" Iya, sayaaaang.. Naboknya jangan disini nanti dikamar aja "
" Ck, kenapa sedari tadi kau itu begitu sangat menyebalkan " Veln memutar bola matanya jengah. Yang lain hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka, terkecuali Ley yang tetap sibuk dengan mobil-mobilannya dan memang tak mengerti dengan arah pembicaraan mereka.
" Kak V, apa Sam ku yang kaku ini bisa sesweet Kak Ray saat bersama wanita tersayangnya? " Rosi meragukan keromantisan dalam diri Sam yang memang dari luar nampak datar sebelas dua belas dengan atasannya.
" Loh, memang kamu tidak bisa merasakan keromantisan Sam saat sedang berkencan? Pertanyaan kamu itu, ya cuma kamu sendiri yang bisa menjawabnya " Mami Rosa merasa tidak habis pikir dengan putrinya yang satu ini.
" Ha ha haa " Ray seolah sedang menertawakan Sam, entah kenapa malam ini pria itu begitu bersemangat untuk membuly asisten sekaligus sekertaris pribadinya. " Apa selama kau mengencani adikku, kau memperlakukan Rosi seperti kau memperlakukan berkas-berkas kantor? " Ray membayangkan Sam yang terlalu serius dan fokus saat jalan dengan adik perempuannya tak seperti layaknya seseorang yang berpacaran, namun mungkin lebih mirip dengan karyawan kantor yang sedang bertemu muka dengan kliennya.
" Ray " Veln merasa ada yang tidak beres dengan suaminya, setelah dirinya kini giliran Sam yang jadi sasaran Ray.
" Iya, sayaaang " Ray tersenyum dan mengerling genit kearah istrinya. Veln tak menanggapinya, perempuan itu lebih memilih menjawab rasa penasaran adik iparnya.
" Rosi dengar ya " Ucap Veln terjeda karena harus menghirup oksigen sebentar untuk melingkupi paru-parunya. " Memang kamu pikir, yang Kak Ray lakukan selama ini sampai bisa semanis ini berkat siapa? Sudah jelas berkat campur tangan dari sekertaris Sam "
" Memang seperti itu kenyataannya, benarkan sekertaris Sam? "
" Benar, Nyonya muda " Tak disangka ucapan Veln mendapat dukungan sesuai dengan yang diharapkannya, membuat perempuan itu percaya diri untuk tersenyum mengejek kearah suaminya. " Tante, tolong beritahukan pada putrimu.. Meski saya terlihat garing diluar tapi terasa empuk didalam, jadi jangan khawatirkan hal itu. Saya akan bersikap romantis ketika sudah tiba waktunya " Rosi cengengesan merasa tersentuh mendengar pernyataan tunangannya yang menurutnya spesial terdengar ditelinga.
" Nak, Sam. Jangan terlalu dipikirkan. Rosi memang begitu, terlalu memkhawatirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan "
" Jiahahahaaaa.. Donat kali, garing diluar tapi empuk didalam " Sosok Renand yang tiba-tiba muncul langsung ikut menertawakan Sam dan menyambar obrolan sembari berjalan mendekat kearah mereka.
Kontan mendengar lontaran perkataan Renand membuat Ray semakin bersemangat memojokkan Sam, dengan mengeluarkan tawanya yang semakin lepas.
Dengan Fenina, sudah tentu raut wajahnya semakin terlihat sumringah saat melihat kedatangan Renand. Seseorang yang sedari tadi dipertanyakan oleh hati dan pandangan matanya akhirnya menampakkan diri.
" Om, ganteng " Ley langsung bangkit dan berlari menghampiri Renand. Dengan sigap lelaki muda itu mengangkat keponakannya dalam gendongan dan menciumi seluruh permukaan wajah bocah itu.
" Kenapa kau belum tidur boy? Belum mengantuk? " Renand dan yang lainnya malah dibuat tertawa dengan jawaban anak itu. Bocah itu menganggukkan kepalanya untuk membenarkan perkataan Om gantengnya, namun dibarengi dengan mulutnya yang menguap.
__ADS_1
" Ray, sepertinya Ley lelah " Ujar Veln mengkode suaminya, untuk segera membawa putranya ketempat ternyaman.
" Kak, kalian menginap saja disini " Tawar Renand, yang diangguki Mami Rosa dan Rosi.
" Kami akan pulang, aku tidak akan mambiarkan kalian melihat saat harga diriku jatuh ditangan perempuan ini " Ray menunjuk Veln dengan jempol tangannya.
" Maksudnya? "
" Sebuah pembalasan dendam " Rosi ikut mengerutkan keningnya tak mengerti. " Begitulah perempuan. Diluar terlihat lemah mengalah, tapi begitu didalam kamar mereka akan mengeluarkan taringnya. Benarkan Mam? " Ray mengambil alih putranya dari gendongam Renand yang terlihat sudah terkulai lelah.
" Mami rasa, V mu tidak seganas itu Ray "
" Lihatlah, Mami saja sampai bisa tertipu dengan tampang lugu menantunya " Sembari matanya melirik kearah istrinya yang nampak terlihat biasa. Namun pria itu tau jika Velnnya sedang mempersiapkan diri untuk melakukan balas dendam akibat ulah dirinya yang sudah membuat perempuan ini kesal dan merasa dikerjai saat diperjalanan barusan.
" Kak Ray, tolong bisakah dijelaskan lebih rinci arah pembicaraanmu? Sayang, bisa kau jelaskan maksud dari pembicaraan dari atasanmu? " Rosi terdengar meminta penjelasan lebih terhadap Kakak dan tunangannya.
" Cie, sayaaaaang " Ledek Renand yang diikuti kekehan Ray.
" Maksudnya, besar kemungkinan Kakakmu malam ini untuk tidur dikamar mandi " Jawab Sam datar namun sukses membuat Ray mendelik tajam.
" Sam " Geram Ray. Enak saja pikirnya, memang tidak ada tempat yang lebih bagusan lagi selain memberi ide untuk dirinya diungsikan kekamar mandi!
" Jiahahahaa.. Kamar mandi?!! " Renand yang langsung paham, kontan menertawainya.
" Loh, kenapa harus tidur dikamar mandi? " Entah karena terlalu polosnya Rosi atau bagaimana? Hingga sampai membuat perempuan itu masih belum mudeng dengan arah pembicaraan ini.
" Biar sekalian bisa membersihkan wc toilet " Ujar Veln asal.
" Sayang, sepertinya kamu juga lelah sampai ngomongnya ngelantur begitu " Ray mendekat kearah istrinya, pria itu membelai sayang rambut Veln dengan Ley yang berada digendongan.
Tanpa menunggu lama, Ray dan keluarga kecilnya undur diri. Pria itu tak mau ambil resiko, Ray takut jika bertahan lebih lama lagi ditempat ini akan semakin membuat otak istrinya lelah dan kepanasan atas segala tingkah dan ucapannya.
Entahlah malam ini sepertinya sifat jahil dan cerewet pria itu tak terkendali, mungkin akibat moodnya yang sedang dalam keadaan kurang bagus efek terkena macet saat perjalanan barusan.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..