
Ray mendongak frustasi menatap langit-langit, pembalasan dendam yang belum seberapa dilakukan istrinya seperti sudah menghantam pikirannya.
"Jangan seperti ini V " Menarik tubuh mungil itu kedalam dekapannya " Aku tidak tahan melihatmu memperlakukan Sam dengan begitu spesial " Bisik Ray ditelinga Veln yang terdengar melow, senyum mengebang muncul dibalik wajahnya yang terbenam diceruk leher Ray yang berdiri agak menjongkokkan tubuhnya merasakan kemenangan.
" Kau membuat seluruh tubuhku serasa terbakar.. panas " Lanjutnya lagi dengan mengeratkan dekapannya.
" Lepas Ray "
" Tidak "
" Kau bisa terlambat bekerja "
" Tidak masalah, aku akan ambil libur satu hari lagi " Dengan menciumi cuping telinga perempuan dalam dekapannya. Akibat perbuatan Ray, Veln menggeliat kecil membuat Ray menyerah sendiri dan melepaskan pelukannya karena dirasa ada yang sudah sedikit menegang didalam sana.
"Jangan membolos, kau bisa dipecat nanti"entah apa yang ada dipikiran perempuan ini, mungkin Veln hanya berpikiran kalau Ray hanya seorang karyawan biasa yang menduduki jabatan lumayan tinggi. Satu atau dua level dibawah bossnya.
" Mau kemana? " Ray menghentikan pergerakan Veln yang terlihat hendak berlalu dari hadapannya.
" Mau ambil es batu kebawah untuk mengompres lukamu "
" Tidak usah " Ray memegang pinggang Veln dengan kedua tangannya dan mengangkat Veln begitu saja seperti kapas yang ringan dan mendudukkan perempuan ayu itu diatas punggung sandaran sofa ruang televisi, membuat kaki Veln menggantung diudara dengan bebas.
" Aku akan menyuruh seseorang untuk membawakannya kesini " Ray mendekati nakas disamping tempat tidurnya dan meraih gagang telfon, menyambungkan keruang dapur.
Veln memperhatikan langkah Ray yang tertuju pada keberadaannya, matanya kini terfokus pada bahu Ray yang terluka. Mulut Veln sibuk meniup pelan luka Ray yang masih tertutup kemeja putih yang dikenakannya.
" Pasti terasa perih " Masih sibuk meniup bahu Ray dengan perasaan bersalah.
" Tidak seperih yang disini " Menunjuk keletak hatinya " Saat kau lebih memilih Sam untuk memakai gelang pembelianmu "
" Soal itu kita bisa bahas nanti, hentikan dulu kecemburuanmu. Sekarang aku akan membantu mengganti kemejamu " Veln membuka satu persatu kancing kemeja Ray, semakin kebawah semakin menampakkan dada bidang dan perut kotak-kotak Ray yang terlihat atletis membuat mata Veln sedikit melebar dan menelan ludah. Ray tersenyum bangga mendapati ekspresi perempuannya yang terlihat terpukau dengan bentuk tubuhnya.
" Terhipnotis dengan tubuh atletisku, hem? " Pipi Veln memerah, merasa malu karena tertangkap wajah mesumnya oleh Ray. Namun dengan tidak tau malunya Veln menganggukkan kepalanya dan menusuk-nusuk perut kotak Ray dengan telunjuknya.
" Tapi sangat disayangkan Ray.. tubuh indahmu harus terluka akibat gigitan singa betina " Veln terkekeh atas julukan yang dia berikan sendiri untuk dirinya dan menyibak sebelah kemeja yang terdapat noda merah disana memperlihatkan luka gigitan yang terlihat jelas dibahu Ray.
Ray menghembuskan nafas panjang dan memalingkan pandangnya kesembarang arah dengan kedua tangan ditentengkan dipinggangnya.
" V.. sebaiknya secepatnya kau usir tamu bulananmu " Menendang punggung sandaran sofa dengan kesal.
" Ckkk.. sialll, rasanya aku sudah tidak tahan dengam godaanmu " Berdecak sebal dan mencengkeram tengkuk leher Veln, membuat Veln terkesiap dan menahan nafasnya.
" Kenapa kau begitu manis dan semenggemaskan in.."
Tok tok tok
Ucapan Ray terhenti seketika dan tangannya melepaskan diri dari leher istrinya denga membuang nafas kasar.
" Masuk "
Terlihat Bibi Stela, Pak Dima dan dua orang pelayan lainnya masuk membawa satu baskom air es dan handuk kecil.
" Maaf merepotkan kalian " Ucap Veln merasa tidak enak tentu tak lupa dengan senyumnya.
__ADS_1
" Tidak apa-apa nona ini sudah tugas kami " Suara Pak Dima dan bibi Stela terdengar secara bersamaan yang dibalas senyum manis Veln.
" Tolong kemarikan handuk dan air esnya " Veln mengambil handuk kecil dan mencelupkannya kedalam air es.
" Tahan Ray.. ini akan membantu menghentikan darah dilukamu " Veln menempelkan handuk dingin itu kebahu Ray yang terluka yang sebelumnya sudah Dia peras.
" Tuan muda, anda terluka? " Ucap Pak Dim alias Pak Dima penuh tanya, karena sewaktu dibawah tadi Ray masih terlihat baik-baik saja.
" Bagaimana anda bisa terluka tuan? " Bibi Stela tak kalah penasaran.
" Istriku mengamuk.. Dia galak sekali seperti singa betina " Dengan terkekeh Ray menjawab pertanyaan kepala pelayan dirumahnya dan tentu membuat mereka semua yang ada diruangan tersebut pun ikut tertawa tak terkecuali Veln.
Veln masih mengopres bahu Ray dengan sebelah tangannya, dan satu tangannya mengusap-usap perut kotak-kotak suaminya.
" Maaf bisakah salah satu dari kalian mengambilkan plester untuk Ray? " Ucap Veln kesalah satu pelayan muda disana.
" Tentu nona " Salah satu pelayan yang tak sibuk sigap berjalan dengan menunduk menuju kotak p3k yang terletak didekat sofa yang berhadapan dengan tempat tidurnya.
" Stop " Ray menghentikan langkah pelayan tersebut yang terlihat malu-malu.
" Bagus, tetaplah kalian menunduk ketika berada disekitarku bila perlu pejamkan mata kalian meskipun hendak berjalan " Veln yang sibuk hendak mencelupkan handuk kedalam baskom yang dipegang pelayan satunya langsung mengalihkan pandang kearah wajah Ray yang sedang tersenyum usil, begitu juga dengan sepasang kepala pelayan langsung menatap kearah tuannya yang sedang memunggungi menghadap Veln.
" Karena mulai sekarang keindahan tubuh dan wajah tampank hanya boleh dinikmati oleh perempuanku " Ray terkekeh, sementara Veln sibuk memutar kedua bola matanya sedang Pak Dim dam bibi Stela saling pandang dan tersenyum tipis mendengar ucapan tuannya. Tak lama Veln dan sepasang kepala pelayan ikut menyusul terkekeh mendapati satu pelayan yang memegang wadah berisi air es menunduk dalam dan memejamkan matanya, sementara yang satunya tak kalah membuat lucu berjalan meraba-raba dengan mata terpejam.
○○○
Veln selesai menempelkan plesternya dibahu Ray dan menuntaskan melepas kemeja Ray yang masih menggantung disebelah bahunya.
Sementara seluruh pelayan tadi sudah keluar dari kamar tersebut beberapa menit yang lalu.
" Tetap disini, aku yang akan menaroh dan mengambil kemejaku sendiri " Ray mengecup bibir Veln sebelum berlalu menuju walk in closet.
Tak lama Ray kembali dengan kemeja yang lain sudah menempel ditubuh kekarnya dengan kancing yang semuanya masih terbuka. Ray kembali berdiri dihadapan Veln, tentu dengan maksud agar Veln membantunya mengancingkan seluruh kemejanya yang masih terbuka.
Dengan lincah Veln memasukkan benda bulat tersebut kelubangnya masing-masing.
" Selesai " Merapihkan kerahnya sedikit.
" Ayo kita turun " Lanjut Veln lagi dengan bersiap-siap melompat dari posisi duduknya sekarang yang tertahan oleh kedua tangan Ray yang memegang pinggang Veln.
" V "
" Hem "
"Janji dulu "
" Apa? "
"Jangan membuatku cemburu, meskipun itu terhadap Sam atau Pak Dima sekali pun "
" Tergantung "
" Kejadian direstaurant siang itu aku mengaku salah, tapi anggap itu sebagai pembalasanku karena dulu kau sudah terlalu centil terhadap Denis sepupuku "
__ADS_1
" Kita lanjutkan negosiasinya nanti malam, kita turun sekarang.. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu Nenek " Ray pun mengangkat dan menurunkan tubuh wanitanya pelan dan menautkan jari-jemarinya kejari-jari Veln dan menuntun istrinya turun kebawah.
○○○
Ketika sedang menuruni tangga terlihat sweety seekor kucing ras anggora milik Ray mendekat kearah Veln.Veln melepaskan jemarinya yang tertaut oleh jemari Ray, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya dan meraih sweety dalam gendongannya.
"vSelamat pagi manis.. apa kau sudah sarapan?vsudah mandikah? " Berjalan dengan mengelus-elus kepala sweety yang berada dalam gendongannya, mulut Veln tak henti-hentinya mengajak berbicara binatang berkaki empat tersebut membuat Ray tersenyum melihat tingkahnya begitu juga Sam dan Pak Dim yang ikut menyunggingkan senyumannya mendapati mulut nonanya yang bawel.
Ray seketika menghentikan langkah istrinya dengan menarik pinggang Veln yang berada dalam jangkauannya karena mendapati Sam yang ikut tersenyum dan memperhatikan istrinya.
" Berikan " Ray mengambil sweety dari gendongan Veln dan menurunkannya kelantai. Lalu Ray menenggelamkan wajah Veln kedalam dadanya.
" Sam jangan coba-coba mencuri pandang kearah wanitaku, dia manis kan? tentu saja V ku bahkan sangat manis sekali hingga bisa membuatmu tersenyum ketika melihatnya " Dengan sesekali mencium puncak kepala istrinya seolah sedang menunjukan kalau perempuan ini adalah miliknya, sementara yang dilakukan Sam hanya bisa mengangguk dan tersenyum maklum terhadap tuannya.
"Jalan " Veln berusaha mendongakkan wajahnya yang ditahan oleh Ray.
" Kalau seperti ini bagaimana aku bisa jalan Ray " Protes Veln.
" Aku yang akan jadi penunjuk jalanmu. Kalau kau mendongakkan wajahmu, itu akan membuat Sam dapat leluasa memandangimu " Dengan menuntun Veln berjalan menuju keluar. Sam yang kemudian mengikuti Ray dari belakang menggelengkan kepalanya, mendapati kekonyolan suami istri tersebut sedari tadi.
○○○
Didalam mobil yang sudah mulai berjalan dikendarai oleh Pak Yan terlihat Ray duduk dengan masih menenggelamkan wajah istrinya.
" Leherku pegal, apa sekarang aku sudah bisa duduk dengan benar? "
" Tahan begitu sampai rumah Nenek baru kau bisa bebas dari dadaku "
" Sekertaris Sam tidak akan melihatku yang duduk dibelakangnya, benarkan sekertaris Sam? "
" Dia bisa curi pandang lewat kaca spion " Ray menyerobot tanpa menunggu jawaban dari Sam.
" Kalau begitu tutup saja kaca spionnya, leherku benar-benar pegal terus-terusan ditenggelamkan seperti ini "
" Pak Yan, tolong tutup kaca spionnya "
"Jangan " Veln langsung memberikan larangan atas perintah Ray yang sudah memasuki tingkat lebay. Mendongakkan wajahnya dengan paksa dan bersusah payah yang membuat Ray akhirnya melepaskannya karena teriakan pura-pura sakit dari mulut Veln akibat tangan Ray yang terlalu kencang menekan bagian kepalanya.
" Ck.. Kau ini kenapa pria setampan ini yang katanya memiliki otak yang brilian sampai bisa terlihat bodoh seperti ini hanya karena sedang menyimpan rasa cemburu " Menghela nafas sebentar dengan mata menangkap senyum tipis berada dibibir Ray.
" Kau itu akan menyusahkan Pak Yan kalau kaca spionnya ditutup.. huh, malah senyum-senyum " Veln mendengus kesal.
" Sekarang penglihatanmu sudah mulai normal? bagus.. biar bagaimana pun kau beruntung karena mendapatkan aku yang memang lebih tampan dan brilian kemana-mana dibanding sekertaris Sam " Veln memutar bola matanya malas, yang diiringi tawa Ray.
" Kita seri, biar bagaimana pun aku juga memiliki paras ayu dan otak yang encer " Terlihat Veln tidak mau kalah yang sedang terjebak dalam kata-katanya sendiri.
" Buktinya sekertaris Sam pun sempat tergoda olehku " Tenyum licik Veln tercetak disudut bibirnya.
" Aku kasih tau ya satu rahasia, kalau sekertaris Sam pernah mengajakku menikah saat membantumu menyiapkan pernikahan kita "
" Ehemm " Sarkas Ray berdehem, membuat hawa didalam mobil kini terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Pak Yan dan sekertaris Sam hanya dapat mengintai cemas dua orang yang duduk dibelakangnya dengan kaca spion.
__ADS_1
Bersambung...