
Ray kini terlihat nampak segar setelah membersihkan diri. Ray sudah tidak sabar untuk secepatnya menemani V dan calon
buah hatinya.
Dengan telapak kaki telanjang, dia melangkah menuju kamar Veln penuh semangat.
Klek.. klek klek.
Ray memutar gagang pintu kamar Veln.
Klek klek.
Setelah berkali-kali dicoba, sudah dipastikan pintu kamar Veln saat ini dalam keadaan terkunci.
Ray membuang nafasnya panjang, menghilangkan rasa kecewa dan menghalau frustasinya.
Ray menuju dapur dan mengambil gelas, dia hendak minum untuk menenangkan diri.
Sebenarnya tidak ada rasa marah atau emosi sedikit pun terhadap perempuannya. Batin Ray hanya merasa sedikit berat dan tersiksa dengan perlakuan Veln.
Jika boleh memilih, Ray lebih memilih dicaci, dimaki dan dihajar saja hingga babak belur dari pada didiamkan seperti ini.
Bahkan hingga nyawa terakhirnya pun dia rela menyerahkannya ketangan seseorang yang benar-benar dia sayang dan dia cinta, yang besarannya sudah tidak bisa diragukan lagi.
Bisa dibayangkan dari awal pertemuannya melihat Veln yang masih berseragam sekolah menengah atas menyeberangi lampu merah itu tanpa disadari hatinya ternyata sudah menaut disana. Dari sebelum dia mengenal perempuan itu, bahkan perasaannya sudah tertambat. Namun semuanya hancur begitu saja tatkala mendapatkan bisikan raja iblis yang berhasil menaikkan egonya.
Ray sadar luka yang ditorehkannya dihati, jiwa dan seluruh tubuh Veln lebih dalam dari pada hukuman yang saat ini dia akan dapatkan.
Gleg gleg gleg.
Ray meneguk minumannya hingga kandas, lalu dia menuju ruang depan yang sebagian tempatnya sudah dipenuhi barang-barang dagangan Veln yang tertumpuk rapih.
Sepertinya malam ini pria itu harus rela untuk tidur diatas lantai ruang depan rumah yang dibeli Veln. Beruntung lantainya sudah beralaskan karpet, sehingga Ray tidak terlalu khawatir untuk bersentuhan langsung dengan lapisan keramik itu.
" Huuuuuft " Ray merebahkan diri dengan membuang nafasnya. Dia terlentang dengan satu lengan ditengkuk dan diletakkan diatas keningnya. Matanya lekat memandangi langit-langit dengan otak yang memutar moment-moment manis bersama Veln.
Mengenang awal pertemuannya, hingga dia berhasil menjebak dan memerangkap perempuan itu kedalam ikrar pernikahan.
Ray dibuat senyum-senyum sendiri oleh kenangan-kenangan yang berkelebat memenuhi otaknya.
Hingga waktu telah menunjukan tengah malam, bahkan mendekati dini hari tiba-tiba satu tetes bulir air mata jatuh dari pelupuk matanya. Manakala dia mengingat kenangan pahit itu, bagaimana perlakuannya terhadap wanitanya. Mulut pedas tak terkontrolnya dan bahkan sifat tanpa belas kasihannya yang pernah dia tunjukkan dihadapan V, membuatnya kini menyesal yang begitu teramat.
Sampai dengan detik ini Ray masih belum bisa memejamkan matanya. Mungkin karena kesibukannya memikirkan Veln, dengan paket komplit harus merasakan tidur dengan beralaskan lantai yang terasa keras ditubuhnya.
○○○
Didalam kamar terdengar samar-samar suara kasur berderik menandakan sang penghuninya masih belum terlelap.
Sedari tadi Veln tiduran dengan berputar-putar diatas sana, hingga kini posisinya sudah berubah. Yang awalnya kepala untuk kaki, berganti menjadi kaki untuk kepala.
Dia memiringkan tubuhnya, dan posisinya yang seperti itu membuat matanya dengan mudah melihat ponsel Ray yang tergeletak diatas lantai. Ponsel yang sedari tadi terus mengeluarkan bunyi suara.
Mungkin karena bunyi berisik dari ponsel milik Ray yang membuatnya sedari tadi susah untuk memejamkan matanya.
" Sayang, kamu tidak nyaman ya dengan suara berisik itu? itu ponsel milik Papa. Anggap saja sebagai nyanyian penghantar tidur kita, ok " Veln mengelus perutnya sayang.
Sepertinya kehadiran ponsel milik Ray sangat cocok untuk dijadikan alibi oleh Veln yang kesulitan untuk terlelap.
__ADS_1
Pada kenyataannya ponsel tersebut mampu membuat perempuan itu tersenyum sendiri, manakala mengingat kejadian manis saat bersama Ray.
Dan entah sampai pukul berapa mereka, Veln dan Ray akan mempertahankan kedua kelopak matanya untuk terus membuka.
Mereka terus menggerak-gerakkan tubuhnya, kekanan dan kekiri secara bergantian. Terus mencari rasa nyaman ditubuhnya. Hingga lelah, hingga tanpa disadari mata mereka terpejam dan terlelap sempurna.
○○○
Veln duduk disalah satu kursi meja makan, setelah dirinya sibuk berperang dengan beberapa alat dapur untuk mengasah kembali salah satu keahliannya yang sempat terlupakan.
Dia segera meneguk susu hamilnya hingga habis, memberi asupan gizi pertama untuk janin yang berada didalam perutnya.
Tak berselang lama terdengar suara dari sebelah ruangan.
Hoek hoek hoek..
Rutinitas pagi hari yang tak terlewatkan, yang dirasakan Ray yaitu morning sickness.
Mendengar itu Veln dan bu Ani saling berpandangan mata, dan fikiran mereka mengenai Ray pun sama.
Tuan muda tampan bermulut pedas dan dingin itu sepertinya sedang mengalami masuk angin!!!
Ray berjalan dengan wajah dan tubuh tidak karuan. Niatnya untuk kekamar mandi, dia belokkan tatkala matanya menangkap punggung Veln yang sedang duduk dikursi meja makan.
Ray dengan reflek dan cepat memangkukan kepalanya dibahu Veln dengan tangan melingkar sempurna didada perempuan itu.
Sungguh luar biasa, rasa mual yang mengaduk-aduk berkekuatan angin ****** beliung sedikit demi sedikit menghilang tatkala ujung hidungnya mencium aroma khas tubuh Veln.
Ray terus menerus mengendus leher jenjang Veln dengan memejamkan mata, dia begitu sangat menikmatinya.
" Tuan, sepertinya anda masuk angin " Ucap bu Ani. " Mau saya buatkan teh jahe? " Tawar bu Ani kemudian.
Ray membuka mata dan mengangkat kepalanya. " Terimakasih, tidak usah bu " Ray menyandarkan dagunya dibahu Veln. " Belakangan memang setiap pagi saya seperti ini, tapi akan membaik dengan sendirinya tanpa atau dengan meminum obat " Ray kembali hendak mencium aroma perempuan ayu itu dari leher jenjangnya.
Karena rasa sebal dan risih mulai tak tertahankan Veln hendak mengibaskan tubuh Ray dengan kasar.
" Mungkin tuan ngidam " Ucapan bu Ani membuat Veln mengurungkan niatnya, karena bagaimana pun ngidam ini mempengaruhi calon bayinya.
Ngidam? bisa jadi. Mungkin ada kemungkinan Ray yang ngidam, karena belakangan Veln pun sama sekali tidak merasakam rewel pada janinnya.
Veln merasa baik dan normal seperti biasa, tidak seperti ibu hamil pada umumnya.
Ditambah lagi dikampung halamannya ada beberapa yang mengalami hal itu, seorang istri yang hamil namun suaminya yang merasakan ngidam.
Persis seperti almarhum ayahnya juga, ketika almarhum ibunya mengandung dirinya dulu justru yang merasakan ngidamnya adalah almarhum ayahnya. Itu pun Veln dengar berdasarkan cerita dari para tetangga ditempat dia tinggal dulu.
" Apa? " Ray langsung membulat kaget. " Mungkinkah, bu? " Ray seolah meminta jawaban yang lebih memuaskan lagi.
" Bisa jadi tuan, karena ketika seorang perempuan hamil sebagian besar pasti akan merasakan ngidam. Namun sebagia kecilnya kadang ngidam dirasakan oleh suaminya " Jawaban bu Ani seolah belum memuaskan Ray, terlihat dari wajahnya yang masih menunggu keterangan selanjutnya. " Seperti pening dan mual yang tiba-tiba datang dalam kondisi tubuh yang sehat dan fit "
" Tepat, seperti itu " Ray berdiri tegap dan membenarkan ucapan bu Ani. " Dan ibu tau, pagi ini ketika aku menempel dengan V ku, seperti ini.. " Ray mendusel-duselkan wajahnya dirambut Veln seolah memberi contoh. " Dengan perlahan rasa yang menyiksa tubuh ku menghilang " Bu Ani hanya bisa tersenyum merespon penuturan tuan mudanya.
Veln menghela nafasnya panjang, untuk menormalkan kembali emosinya yang sempat memanas akibat pelukan Ray yang secara tiba-tiba dan pengaruh lelah demi untuk menyiapkan sarapan paginya.
" Kita sarapan bu " Ucapan Veln membuat Ray terpanggil untuk ikut duduk disana melakukan sarapan.
Ray yang belakangan disituasi pagi harinya hanya mampu meminum dan memakan yang berhubungan dengan coklat, entah mengapa pagi ini pria itu sangat menginginkan makanan rumahan yang sudah tersaji diatas meja.
__ADS_1
Sementara Veln sibuk mengisi piringnya, Ray pun ikut sibuk menarik salah satu kursi makan yang berada disamping Veln untuk dihadapkan kearah perempuan itu duduk.
Veln mulai menyuapkan sarapan kedalam mulutnya, setelah sesuap nasi sudah dipastikan mendarat Ray mengambil alih sendoknya. Ray mengambil makanan dari piring Veln dan menyuapkan kemulutnya.
Seperti yang sudah sering mereka lakukan, mereka makan dengan romantis menurut pandangan Ray dan bu Ani saat ini. Sepiring berdua.
Veln sampai harus menambah porsi makanan kedalam piringnya, karena keduanya sama-sama makan dengan lahap.
Setelah selesai mengisi perutnya, Ray mengambil kunci mobil. Dia menuju dermaga, tempat mobilnya terparkir. Ray mengambil beberapa baju kantor dari dalam mobilnya, baju yang selalu tersedia didalam mobilnya untuk persiapan manakala dibutuhkan secara mendadak seperti saat ini.
Ray terpaksa memarkirkan mobilnya didermaga depan, agak jauh dari rumah yang dibeli Veln. Karena rumah yang ditinggali Veln saat ini posisinya agak sedikit masuk kedalam gang.
Dengan tanpa mandi atau cuci muka terlebih dahulu, Ray melenggang menuju mobilnya.
Secara orang ganteng mah bebas, mau sekucel dan sekumel apapun tetep aja gantengnya nggak luntur.
Malahan aura bangun tidurnya justru terlihat sexy dan mengundang..
Setelah itu Ray segera masuk menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, didalam sana terkadang sesekali terdengar bunyi berisik mulut Ray.
Hoek hoek.
Bunyi suara seseorang yang seperti ingin muntah, namun terdengar jarang-jarang.
Sementara Veln kembali bergelut dengan barang-barang dagangannya diruang depan dengan dibantu oleh bu Ani.
Selang beberapa lama Ray sudah Rapih dengan pakaian formilnya. Celana hitam panjang dengan baju kemeja yang lengannya sengaja dia tengkuk sebatas siku.
Ray berdiri bersidakep dengan tubuhnya bersender didinding pembatas antara ruang depan dan ruangan lainnya. Dia menatapi dua orang yang sedang duduk dilantai sibuk dengan pekerjaannya, saai ini Ray persis seperti mandor pabrik yang sedang mengawasi bawahannya.
" Non, ibu mau nyuci dulu ya. Nanti selesai mencuci ibu bantuin lagi " Ucap bu Ani.
" Iya, makasih bu " Bu Ani pun segera bangkit untuk menuju ruang belakang.
Bu Ani melempar senyum saat melewati Ray, tentu Ray membalasnya dengan senang hati. Ray malah bersyukur V nya mempekerjakan bu Ani yang sangat pengertian terhadap dirinya. Memberinya waktu dan kesempatan untuk berdua dengan istrinya.
Ray berfikir, mungkin dilain waktu dia akan membalasnya atas pengertian yang diberikan perempuan baya itu terhadapnya.
" Sayaaaang, Papa peluk ya. Kamu kangen kan sama Papa? Papa juga kangen, bahkan sangat kangen dan rindu sama kamu dan Mami mu " Dengan tidak tau malunya Ray tiduran dibawah lantai, dia miringkan tubuhnya menghadap Veln yang sedang memunggunginya.
Seperti biasa Ray melingkarkan lengannya dengan telapak tangan berakhir diperut Veln, telapak itu mengusap dan mengelus-elus perut perempuannya. Kegiatan favoritenya yang sudah lama tidak Ray lakukan, dan gerakanya tersebut seolah sekaligus membelai janin yang ada didalam perut Veln, calon buah hatinya.
Wajahnya sendiri Ray benamkan ditulang ekor Veln. Sungguh terkesan romantis dan membuat orang lain baper ketika melihatnya.
Posisi seperti itu membuat Ray sudah tak memikirkan kusut dikemeja dan celana panjangnya. Asalkan tidak ada penolakan dan perlawanan dari perempuan itu saja sudah cukup membuat Ray senang. Bahkan rasa sakit dan nyeri diseluruh tubuhnya akibat semalaman tidur dilantai yang keras yang saat ini dia gunakan lagi untuk kegiatan yang sama seolah menghilang tatkala matanya menangkap, apalagi dapat mendekap istrinya seperti saat ini.
Pagi ini untuk Ray, merupakan pagi yang sangat nyaman dan membahagiakan. Bahkan meskipun cuaca berubah menjadi mendung, namun akan tetap terasa cerah untuk laki-laki itu.
.
.
.
Hii.. salam sehat selalu, jaga kesehatan dan kebersihan.
Semoga kita semua selalu dalam lindungannya, amin.😙
__ADS_1