Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
72. Bertemu kembali


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, Veln duduk dengan fikiran berpusat kemasa depannya. Beruntunglah, rasa lemas, mual dan pusing seolah mengerti dengan keadaannya. Mereka bubar dan pergi begitu saja, entah kemana.


Rencana yang sudah pernah dia buat sebelumnya hancur berantakan. Mau tidak mau dengan datangnya calon buah hati yang sebelumnya tidak Veln prediksikan membuatnya harus membuat ulang kembali masa depannya, tentunya masa depan bersama anaknya kelak.


Veln menuliskan rencana A, B, C hingga D dibuku agendanya. Veln sengaja membuat banyak rencana, karena dia menyadari pasti akan adanya banyak kekacauan nanti dalam rencananya. Oleh sebab itu dia sangat hati-hati merancang masa depannya, apa lagi ini juga menyangkut kehidupan anaknya.


Hingga jam menunjukan pukul sembilan pagi, Veln yang sedari tadi sibuk berkutat dengan rencana masa depannya segera menghentikan aktifitas.


Dia bangkit dan masuk menuju kamarnya, Veln mengambil ponsel yang berada diatas kasur.


Veln duduk, dan menarikan jari-jarinya kelayar pipih tersebut.


💌 Sekertaris Sam, aku ingin bertemu dengan tuan mu. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya. Katakan dimana aku dapat menemui tuan mu?


Veln mengirimkan pesan kenomor sekertaris Sam, dan tanpa menunggu lama ponsel Veln berbunyi mendapatkan balasan pesan dari sekertaris Sam.


💌 Tunggu sebentar, saya akan menjemput anda, nona. Tuan muda hari ini ada dirumah. tidak kekantor, sedang tidak enak badan.


💌 Tidak usah dijemput, saya akan kesana menggunakan taxi online. Pastikan saja untuk saya dapat bertemu dengan tuan mu.


💌 Baiklah nona, kemarilah. Tidak usah sungkan, saya jamin anda akan dapat bertemu tuan muda.


Veln pun langsung bersiap, mengenakan pakaian yang sekiranya nyaman untuk dirinya, dan dipadu dengan sepatu flate shoes andalan.


â—‹â—‹â—‹


Begitu sampai tepat didepan pintu gerbang rumah milik Ray, Veln turun dan membayarkan taxinya.


Veln menghela dan membuang nafasnya dengan terpejam, sejenak menenangkan diri dan mengumpulkan seluruh keberaniannya didepan pintu gerbang yang menjulang tinggi itu.


" Apa kabar nona " Sapa penjaga gerbang yang membukakannya saat menyadari keberadaan nona mudanya diluar pagar lewat cctv.


" Seperti yang anda lihat pak " Veln tersenyum ramah dan dibalas penjaga gerbang tersebut.


" Mari, sekertaris Sam sudah menunggu anda didepan pintu utama " Sebelumnya penjaga gerbang tersebut sudah diberitahukan oleh sekertaris Sam.


Begitu sampai dipintu utama, penjaga gerbang kembali menuju posnya dan meninggalkan Veln bersama sekertaris Sam, bi Ana dan seorang pelayan muda.


" Selamat datang kembali nona " Ucap sekertaris Sam yang dibalas senyum tipis Veln.


" Silakan nona " Bibi mempersilahkan Veln untuk mengganti sepatunya dengan sandal rumahan yang sudah disediakan oleh pelayan muda disampingnya.


" Terimakasih bi " Veln tersenyum kearah bi Ana.


" Mau bibi buatkan coklat hangat atau coklat dingin? " Tawar bi Ana.


Hoek hoek..


Veln menggoyangkan tangannya mengisyaratkan tidak, dengan menahan rasa mual saat mendengar kata coklat ditelinga.


" Terimakasih, tidak usah bi " Veln menolak tawaran bi Ana.


" Nona, sepertinya anda kurang sehat? sama seperti tuan muda "


" Saya baik-baik saja sekertaris Sam, hanya saja saya akan merasa enek ketika mendengar kata coklat ditelinga.. hoek " Veln membekap mulutnya, dan meminta secepatnya kepada Sam untuk dipertemukan dengan tuan mudanya.


" Mari nona, tuan muda saat ini ada didalam ruang kerjanya " Veln mengikuti Sam dari belakang dengan begitu tenang.


Sam mengetuk pintu ruang kerja Ray, membukanya meski Ray belum mempersilahkan masuk.


" Silakan nona " Sam mempersilahkan Veln untuk masuk.

__ADS_1


Dengan perasaan tenang dan tanpa ragu, Veln masuk dan berdiri diujung pintu dua langkah didepan sekertaris Sam.


Ray yang langsung menoleh saat pintu ruang kerjanya terbuka, sedikit terperanjat dari duduknya saat mendapati kemunculan Veln.


Lama mereka saling bertatapan, seolah sedang membiarkan melepaskan rasa rindu yang begitu mendalam dan menderu dihati.


Ingin rasanya mereka saling berhambur untuk saling mendekat dan berpelukan menyalurkan dan melepas rasa sesak didada yang menyiksa.


Mereka nampak saling menikmati menatapai raut wajah pasangannya, dengan saling diam tak bersuara dan berlangsung lama.


Namu seperti biasa, ketika ego sudah mengalahkan segalanya maka setan pun akan turut campur disana.


" Ada apa? " Suara tegas dan dingin Ray memecah keheningan.


" Maaf, mengganggu waktu mu " Tenang dan biasa saja, suara lembut Veln menunjukan bahwa dirinya adalah wanita yang luar biasa.


" Katakan " Ray sedikit melunak, mungkin tersihir dengan nada suara Veln yang menenangkan telinga.


" Saya permisi dulu tuan, saya akan menunggu didepan " Sam mengerti, dan berniat memberi waktu untuk mereka.


" Tetap ditempat, tidak ada yang perlu dirahasiakan lagi mengenai aku dan perempuan ini "


Deg..


Seolah mendapat sayatan kecil dihati perempuan itu, terasa sakit dan perih.


" Benar, apa yang dikatakan tuan mu sekertaris Sam " Veln tersenyum kecut.


Ray bangkit dari duduknya, berdiri sedikit berjongkok dengan kedua tangan ditumpukan diatas meja kerjanya.


" Cepat, katakan maksud dan tujuan mu datang kerumah ini ?! "


Veln berjalan pasti dan tegap mendekat kearah Ray. Ray yang tidak suka didekati perempuan itu, memilih mlengos menunjukan ketidak sukaannya.


" Aku HAMIL " Dengan tegas, lugas dan penuh penekanan.


Jedeeeeeeeer..


Ray langsung menolehkan wajahnya kearah Veln yang terlihat tenang dan tanpa beban, kakinya yang tegap berdiri sedikit bergoyah.


Telapak tangannya pun yang reflek tergerak tanpa sengaja menjatuhkan sebuah flash disk diatas lantai yang tersenggol dari meja kerjanya, namun beruntung gengsinya masih terjaga karena tidak ada yang menyadari keterkejutan Ray mendengar pernyataan Veln.


Pandangan matanya turun kearah perut Veln yang rata, lalu kembali kearah wajah perempuan itu yang memperlihatkan ekspresi santai dan biasa.


Dengan Sam, sudah pasti sama terkejutnya. Dia yang tadinya berdiri tegap dengan menundukan kepalanya menatap fokus kearah lantai, dengan secepat kilat mendongakkan wajahnya menatap kearah dua orang didepannya.


Mulut Sam sedikit membentuk huruf O, dan menelisik ekspresi dua orang yang berdiri tak jauh darinya.


Sam begitu terpukau dan tersihir dengan ekspresi nona mudanya, bagaimana bisa perempuan itu bisa setenang dan sesantai itu? Sementara beban hidup yang sedang dia pikul begitu berat.


Mungkin orang lain sudah akan tinggal nama, dengan keadaan hidup serumit itu perempuan mana yang tidak tahan untuk melakukan bunuh diri!


Tapi, tidak dengan perempuan luar biasa yang ada dihadapannya. Sungguh menakjubkan.


" Lalu? " Jawaban macam apa itu? bukankah sangat menggelikan ketika seorang suami diberitahukan oleh istrinya bahwa dirinya sedang mengandung buah hatinya, diperutnya akan segera tumbuh buah cintanya hanya respon semacam itu yang ditunjukan.


Veln menelan ludahnya, berusaha menetralkan amarah yang hampir naik keubun-ubun.


Tentu sebagai seorang manusia biasa, meski sedikit pasti dia akan merasa emosi, syok dan kecewa mendapati reaksi ayah dari calon anaknya yang hanya sebatas itu.


Tapi secepat itu pula Veln menyadari dan segera dapat menguasai dirinya sendiri.

__ADS_1


Toh dari awal juga bukankah dia sudah harus benar-benar siap dan menerima atas segala apapun yang ditunjukkan Ray atas reaksi dari berita yang dibawanya.


" Tidak ada maksud apapun, aku hanya berfikir ayahnya berhak tau atas janin yang sekarang ada diperut ku "


" Aku percayakan anak itu padamu. Tanpa aku, kau bisa mengurusnya dengan baik. Soal financial, Sam yang akan mengurusnya. Dia yang akan mengurus semua kebutuhan kalian "


Bagai tersambar petir dan tersengat aliran listrik dengan daya ribuan volt, pernyataan Ray mampu membuat Veln membeku dan tidak dapat berfikir.


Sam yang merupakan satu-satunya saksi dalam drama menyedihkan ini, rasanya ingin sekali menghajar tuannya atas sikap yang sama sekali tidak terlihat gentle itu.


Setelah mengeluarkan kata-kata super pedasnya, Ray nampak terburu pergi dari ruangan tersebut.


" Saya harap, anda tidak akan pernah menyesali keputusan yang telah anda buat tuan " Suara lirih Veln mampu menghentikan langkah Ray. " Mungkin ketika saya memutuskan untuk menutup pintu, saya pastikan jika anda tidak akan pernah bisa masuk lagi " Ray menoleh, memejamkan mata dan mengangkat sebelah tangannya. Lalu pergi begitu saja dengan tergesa-gesa.


Batas kesabaran perempuan itu sepertinya sudah habis, sampai sopan santun sebagai seorang istri pun dia abaikan. Secara tidak langsung dengan ucapan Saya dan Anda sudah menjelaskan bahwa sekarang meraka hanyalah orang asing.


" Nona " Sam mendekat, dan sudah bersiap manakala terjadi reaksi yang diluar dugaan.


Veln tersenyum kearah Sam " Sepertinya ini sudah diambang batasku, aku akan pergi sebelum dilempar jauh olehnya. Setidaknya, aku lebih terhormat ketika memilih mundur sendiri dengan teratur "


Sam menatap penuh iba kearah Veln, namun diluar ekspektasi, sekali lagi Sam dibuat menganga dengan keadaan perempuan dihadapannya yang terlihat baik seolah tanpa masalah.


" Maaf sekertaris Sam, sepertinya untuk kali ini dan seterusnya saya membiarkan anda berjuang sendiri menghadapinya " Veln terkekeh geli membayangkan menjadi Sam yang harus terus mendampingi tuannya yang begitu keras dan memiliki ego diatas rata-rata. " Saya menyerah, sudah tidak mampu lagi untuk meluruskan jalan fikirannya "


Sam tersenyum canggung " Anda baik-baik saja nona? "


" Tentu, aku sudah mempersiapkan diri dengan baik sebelumnya "


" Saya tau anda wanita yang kuat dan tegar, tapi saya baru tau kalau anda begitu sangat luar biasa "


" Kau terlalu berlebihan sekertaris Sam. Baiklah, aku harus pergi. Ada banyak hal yang harus aku lakukan " Veln menyungging senyum.


" Saya akan mengantar anda pulang nona "


" Terimakasih sekertaris Sam, sebaiknya kau temani tuan mu. Saya bisa pulang sendiri "


Sam pun mengantar nonanya hingga kepintu utama. Dipintu utama bi Ana, pak Dim dan pak Yan terlihat menunggu nona mudanya keluar.


Veln berjalan dengan tersenyum menghampiri mereka.


" Pak Dim, pak Yan.. bi Ana " Pandangan Veln memutar kearah mereka. " Tolong, jaga tuan muda kalian untukku " Mereka serentak mengangguk.


Para pekerja rumah itu mengerti jikalau ada yang tidak beres dengan majikannya, tanpa tau duduk permasalahannya. Namun mereka bisa apa? hanya diam yang bisa mereka lakukan.


" Aku akan sangat merindukan kalian, saya pamit bi " Veln memeluk bi Ana dengan erat, lalu menghadap Sam dan menganggukkan kepala sebagai simbol pamitannya.


Veln pun berjalan keluar, dengan penuh ketegaran meninggalkan rumah yang kini pemiliknya sangat begitu tidak menginginkannya. Veln hanya cukup puas dengan perlakuan seluruh pegawai rumah itu yang begitu hangat dan masih menganggap dia sebagai nyonyanya.


.


.


.


.


.


*Hallo.. autor ucapin banyak-banyak terimakasih ya buat kalian yang udah kasih perhatian sama novel satu ini.


Masih.. dipart ini, otak si Ray masih nyangkut disolokan.

__ADS_1


Dan cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian yang sama itu merupakan suatu ketidak sengajaan.. so, buat readersnya tahan ya jangan emosi😅😙


__ADS_2