
Ojeg online yang ditumpangi Veln otomatis berhenti ketika sampai ditempat fotocopy. Memang sebelumnya Veln sudah memberi tau Mas ojegnya untuk berhenti sebentar ketika melewati tempat fotocopy sebelum diantarkan ketempat tujuannya.
Dia hendak memfotocopy beberapa lembar kertas yang disimpan diamplop coklatnya karena belum memiliki salinannya.
Sementara itu matahari bersinar begitu cerahnya berbanding terbalik dengan keadaan yang dirasakan Veln saat ini, bahkan dia pun benar-benar melewatkan sarapannya. Sebelumnya Veln menghampiri ruang tengah yang multifungsi itu, iya satu tempat dijadikan tiga fungsi sekaligus. Tempat kumpul keluarga, nonton tv dan tempat untuk makan baik makan malam, makan siang dan sarapan.
Bukan menghampiri sie lebih tepatnya melewati karena ruangan itu satu arah dengan arah keluar rumah sekaligus bermaksud berpamitan dengan Mbak Del.
" Mbak, aku kerja dulu ya "
Delina yang sedang asik mengunyah makanannya pun otomatis melirik Veln.
" Kamu nggak sarapan dulu? "
" Nggak Mbak, aku belum lapar " Veln beralasan.
" Bukannya semalam jamu bilang jam kerja mu dimulai jm 11.00? kenapa sepagi ini sudah begitu terburu-buru? " Cletuk Virina.
" Mau ketempat fotocopy dulu, ada beberapa data yang belum ada salinannya. Trus mau nyari-nyari informasi kekantor urusan agama, sehabis itu aku langsung ketempat kerja "
" Baiklah, nanti Mbak Del juga akan bantu carikan informasi ke Pak Rt. O ya sebaiknya jamu juga sekalian keluar saja dari kerjaan kamu, juragan Seno pasti tidak akan suka kalau mendengar calon isterinya masih capek-capek bekerja "
" Hemmm, aku berangkat dulu Mbak " Veln langsung meng ia kan saja apa yang dikatakan Mbak Del, biar enggak ribet pikirnya.
●●●
Setelah mendapatkan beberapa salinan yang dibutuhkan, Veln segera berlalu meninggalkan tempat fotocopy itu. Sesegera dia menghampiri tukang ojeg onlinenya yang menunggu dibahu jalan. Selang beberapa menit merekapun berlalu meninggalkan kepulan asap kenalpot yang sedikit pekat.
Tak butuh lama untuk sampai ketempat tujuan. Apalagi Mas ojeg online yang Veln tumpangi sepertinya begitu lihai meliuk-liukkan kendaraan roda duanya, jadi meskipun arus lalu lintas sedikit padat pagi ini tetap tidak membuat memakan waktu banyak untuk sampai ketempat tujuan.
●●●
Veln nampak begitu tertegun ketika melihat dari bahu jalan pintu depan MANJA COFFE terbuka dan terlihat seorang laki-laki tak dikenal sedang duduk sembari memainkan sebuah ponselnya. Cara berpakaiannya formal persis seperti seseorang yang kemarin
datang bersama Mas Denis.
Pandangan laki-laki itu langsung tertuju kearah Veln, segera dia berdiri dan meletakkan ponselnya disaku celana ketika melihat Veln berjalan menuju arahnya. Kini jarak mereka sudah lebih dekat dari sebelumnya, kalau diukur mungkin jarak mereka berdua kurang lebih seratus centi meteran.
Laki-laki itu reflek membungkukkan kepalanya sopan kearah Veln.
" Maaf, apa anda Nona Veln? " Bertanya dengan begitu sopannya.
Sepertinya aku populer sekali ditempat ini, sampai-sampai laki-laki yang tidak aku kenal pun bisa dengan sempurna menyebut namaku.
Veln menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Saya Sam " Kaki-laki itu memperkenalkan diri.
" Mari Nona, tuan Muda sudah menunggu anda diatas " Lanjutnya lagi.
Cih. Tuan muda?!! Veln agak sedikit merinding dengan sebutan itu.
Siapa tuan muda yang orang ini maksud???apa mungkin panggilan tuan muda ini ditunjukkan untuk si boss? tidakkah terlalu berlebihan!!!
Sembari membatin Veln mengikuti langkah kaki laki-laki yang bernama Sam itu. Veln digiring kelantai dua menuju rooftop.
Benar saja disana sudah ada seorang laki-laki yang duduk dengan santai sembari sibuk dengan laptopnya.
Jadi benar si boss yang dimaksud dengan sebutan tuan muda itu? Veln menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, seakan tak percaya.
" Permisi tuan, Nona Veln sudah datang " Dengan sopan, bahkan sopan sekali Sam memberi tau kedatangan Veln. Semakin membuat Veln bingung dengan keadaannya sekarang.
" Hemmm " Hanya menjawab singkat tanpa menoleh, mata dan tangannya masih fokus menatap layar laptopnnya. Entahlah apa yang sedang dilakukan bossnya dengan laptopnya itu sampai seperti tidak mau kehilangan titik fokusnya, itulah yang sekarang ada difikiran Veln.
Lima menit kemudian Ray menatap matanya kearah sebuah jam tangan yang melingkar dilengannya.
" Duduklah " Sembari ekor mata Ray melirik kearah Veln.
Sam menarik satu kursi yang letaknya tepat dihadapan Ray, dan mempersilahkan Veln untuk duduk.
" Silakan Nona "
Tanpa membantah Veln pun segera mendudukkan tubuhnya kekursi yang disiapkan oleh Sam dengan perasaan bak putri raja. Sedangkan Sam masih diposisi semula, berdiri tegak seperti komandan upacara disamping Veln dengan jarak tidak terlalu dekat.
" Hari ini kamu terlihat antusias sekali, sampai datang dua jam lebih awal dari jam janjian kita " Matanya lekat menatap Veln.
" Mungkin kamu sudah mulai sadar ya akan dinikahi oleh laki-laki tampan yang memiliki seribu pesona seperti aku, sehingga membuatmu jadi bersemangat "
Wuuuueeek, Veln langsung merasakan ada yang salah dengan perutnya sehabis mendengarkan kata-kata bossnya itu.
__ADS_1
Tampan dan memiliki seribu pesona seperti aku?!! ada ya orang seperti ini yang kelewat percaya dirinya. Memang dari awal juga aku sudah mengakuinya boss, kau itu begitu sempurna tanpa celah tapi harus ya kau mengatakan itu kepadaku?!
" Apa kau sudah membawa semua data-data yang akan diperlukan nanti? "
Mendengar ucapa Ray, Veln pun langsung mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam tasnya.
" Sam, kamu mengertikan apa yang sekarang harus kamu lakukan " Dengan nada memerintah.
" Urus semuanya sesuai dengan apa yang sudah aku ceritakan kepadamu "
" Baik tuan "
Bola mata Veln memperhatikan kedua orang ini yang berbicara layaknya seorang raja yang memerintahkan patihnya untuk melakukan sesuatu.
" Silakan Nona, serahkan amplopnya kepadaku " Sam mengulurkan tangan kanannya kearah Veln.
Veln tak menghiraukannya, tangannya masih dengan erat memegang amplop coklat itu.
" Berikan amplopnya, Sam yang akan mengurus segala sesuatunya " Ray menangkap keragu-raguan dalam diri Veln.
Veln masih tak bergeming, pandangannya menatap nanar kearah amplop coklat itu. Dan bukannya menyerahkan kotak besar berwarna coklat itu ketangan Sam, dia malah justru meletatakkan amplopnya diatas meja dan dijadikan alas untuk kedua tangannya bertumpu sembari melipat.
Melihat yang dilakukan Veln, Sam langsung menarik kembali tangannya ketempat semestinya.
" Kenapa? " Ray menatap bingung.
" Boss memangnya berapa besar kerugian yang harus saya bayarkan kalau saya menolak ajakan anda untuk menikah? "
Ray tersenyum mendengar perkataan Veln.
Apa dia benar-benar sedang menolakku???
" Kamu hitung saja, saya rasa kamu cukup paham bagaimana memperkirakan kerugian yang saya alami karena perbuatan mu "
Kau masih bisa bilang kerugian, ponsel mu saja masih terlihat baik-baik saja sekarang tergeletak diatas meja dekat laptop mu.
" Kau bahkan membuat ku mengeluarkan uang tambahan bulan ini untuk membeli ponsel baru " Ray seakan mengetahui apa yang dipikirkan Veln.
Benarkah??? ponsel yang sekarang ada dihadapannya itu ponsel baru?!!
" Maaf "
" Siapa itu juragan Seno? " Ray menautkan alis nya penasaran.
" Seseorang yang akan menggantikan pengeluaran tambahan anda bulan ini "
Ray menegakkan duduknya dan matanya tajam menatap Veln lebih tajam dari sebelumnya seolah meminta penjelasan lebih mengenai seseorang yang disebutkan Veln.
" Calon suami saya boss "
Ray langsung terbangun dari duduknya, dan menutup laptop yang sedari tadi terbuka. Kedua telapak tangannya ditumpukan diatas meja, tubuh dan kepalanya agak sedikit didekatkan kearah Veln. Kali ini tatapannya lebih mematikan dari yang sebelumnya.
" Emm, seseorang yang dijodohkan Mbak Del denganku " Veln langsung menangkap maksud Ray.
" Dia merupakan orang no satu dikampungku, bahkan Mbak Del bilang kekayaannya tidak akan habis sampai empat turunan. Mungkin bukan hal yang sulit buat juragan Seno untuk mengganti kerugian kepada anda atas kesalahan yang saya lakukan "
" Sejak kapan kamu mengetahui kalau kamu dijodohkan? "
" Semalam "
" Kalau begitu tolak perjodohan ini, jarena sejatinya aku yang lebih dulu melamar mu "
Ray semakin mendenguskan kepalanya dihadapan Veln, membuat Veln terkesiap memundurkan posisi duduknya. Kedua tangannya pun sudah tidak dia tumpukan lagi diatas meja, sekarang posisi kedua tangannya ditumpukan diatas kedua lututnya.
Tangan kanan Ray langsung bergegas mengambil alih amplop coklat itu dan menyerahkannya kepada Sam.
" Sam, ambil ini. Lakukan sesuai apa yang telah aku perintahkan kepadamu "
" Baik tuan " Sam pun mengambil alih amplop coklatnya, dan kembali keposisinya semula.
" Mana bisa begitu " Protes Veln " Aku kan sudah bilang urusanku dengan anda akan ditanggung juragan Seno "
" Apa kau benar-benar menginginkan menikah dengan juragan dikampungmu itu? "
Veln menggeleng pelan.
" Kalau begitu jelas bukan, berarti kau memilih untuk dinikahi aku "
" Tidak menginginkan tapi bukan berarti aku menolaknya boss "
__ADS_1
" Maksudnya "
" Iya seperti yang aku katakan tadi bagaimana pun aku tetap harus menikah dengan juragan Seno "
" Apa perempuan yang bernama Del itu mengancam mu? "
" Mbak Del. Bagaimana pun juga dia lebih tua dari mu, boss "
" Hemm "
" Tidak "
" Lalu apa yang membuat mu sampai lebih memilih si juragan itu dibanding aku?sebutkan beberapa kelebihannya? " Ray benar-benar merasa tidak habis pikir dengan perempuan ini.
" Jawab "
" Juragan Seno hanya lebih kaya saja dari mu boss, seperti yang sudah aku katakan tadi hartanya tidak akan habis sampai dimakan empat turunan "
" Lalu kelebihan ku? sebutkan kelebihan ku menurut mu dari Juragan itu? "
" Tentu saja boss, anda lebih banyak memiliki kelebihan dibanding juragan Seno. Selain lebih tampan, usia anda juga jauh lebih muda dari juragan. Hanya nasibnya saja boss kurang beruntung cuma seorang penjual kopi tidak seperti juragan Seno yang kekayaannya sudah tidak bisa dihitung dengan jari "
Mendengarkan penjelasan Veln yang panjang lebar membuat Ray tertawa lepas, Ray benar-benar dibuat terhibur olehnya.
" Kamu matre juga ya? "
" Terpaksa boss "
" Hahahaaa " Lagi Ray melepaskan tawanya, dan kembali mendudukan tubuhnya diatas kursi.
" Apa dia seorang juragan yang lebih pantas untuk dijadikan ayah, dibandingkan dijadikan suami mu? "
" Hemm " Sembari menelan ludah kelu.
Sial, tidakkah keterlaluan dia lebih memilih menikah dengan seseorang yang lebih pantas jadi ayahnya dibanding aku.
" Kenapa jamu lebih memilih juragan itu dibanding aku? Apa karena kau memang materialistis? "
" Terpaksa boss "
" Karena? "
" Karena hutang Mbak Del yang sebesar 50 juta itu sudah melewati jatuh tempo, kalau kami tidak segera membayarnya rumah yang sekarang kita tempati akan diambil alih. Mbak Del menggunakan sertifikat rumahnya sebagai jaminan "
" Sebagai gantinya kau yang dikorbankan?benar begitu? "
Veln hanya menganggukkan kepalanya.
" Biar Mbak Del mu saja yang menikah dengan si juragan itu, bukankah dia yang membuat masalah jadi dia juga yang harus menerima konsekuensinya "
" Apa kau akan merasa senang boss menjadikan Paman ku seorang duda? "
Ray tersenyum lebar, merasa gemas dengan perempuan yang ada dihadapannya ini.
Bukannya mengkhawatirkan diri sendiri yang hendak dijadikan istri dari seorang yang sudah tua dan mungkin sudah bangka, dia malah mengkhawatirkan Pamannya yang hendak dijadikan duda.
" Jadi kau mengemis kepada juragan mu itu untuk membayarkan hutang-hutang mu kepadaku? "
" Belum boss, mungkin nanti dalam waktu dekat ini. Mohon kerenggangan waktunya "
" Kenapa tidak sebaliknya? Ayo memohonlah kepadaku untuk melunasi hutang-hutang mu terhadap juragan Seno itu "
Sam terlihat tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara Veln langsung membulatkan kedua bola matanya merasa tidak yakin dengan perkataan bossnya.
" Mana berani boss "
" Kenapa? "
" Karena besaran hutang Mbak Del melebihi hutang aku terhadap anda boss. Dan segi ekonomi juragan Seno jauh diatas anda, jadi akan lebih mudah untuk membereskan masalah ku "
" Karena itu memohonlah kepadaku "
Lagi-lagi Sam dibuat tersenyum lebar sembari menggeleng-gelengkan kepalanya oleh Ray.
" Ayo memohonlah kepadaku untuk dinikahi, maka aku pun akan menyelesaikan masalah nu dengan juragan itu "
Sam benar-benar dibikin geleng-geleng kepala terus-menerus oleh Ray. Sam merasa tidak habis pikir dengan Ray, sampai sebegitu konyolnya menghadapi perempuan ini.
Bersambung..
__ADS_1
Hii, baca novel kedua author juga ya berjudul Menggoda. Tks😙