
Langkah Nina tertahan, saat seorang pria tua datang menghampiri dari arah dalam ruangan.
Dialah Dudi, Ayah sambung dari Fenina. Terlihat tampilan pria itu rapih dan berwibawa seperti dahulu, tidak amburadul seperti belakangan dengan rambut panjang dan jambang yang tak terurus.
" Nak " Sapa Dudi lembut, namun terlihat kecanggungan disana. " Kalian sudah sampai? " Melirik kearah Nina, lalu berpindah kesosok Renand yang masih ditempat semula. " Nak, Rey. Kenapa berdiri saja disitu ayo masuk? "
Nina semakin dibuat bingung dan bertanya-tanya, adakah hal yang dia lewatkan? Bagaimana bisa Ayah dan adiknya terlihat sudah begitu akrab dengan pria yang sedari tadi membuat mulutnya selalu ingin ngegas.
" Kalian sudah saling mengenal? " Nina menggerakkan jari telunjuknya kearah Renand dan Ayahnya dengan wajah penuh penasaran.
" Malam, Om " Renand mendekat dan menyalami pria itu sopan dan hormat, tanpa memperdulikan pertanyaan Nina. Sementara Dudi hanya menanggapi dengan senyuman atas pertanyaan yang dilontarkan putrinya.
Hal itu pun sukses membuat Nina semakin membolakan matanya, perempuan itu benar-benar membutuhkan penjelasan seakurat mungkin.
" Malam juga Nak, ayo duduk dulu. Kukira kalian tidak jadi datang " Pak Dudi menggiring Renand untuk duduk dikursi ruang tamunya. Akibat keterlambatan mereka, pria tua itu berfikir bahwa Renand dan putrinya tidak jadi datang. " Loh, kenapa dengan lengan tanganmu, nak? "
" Eh, ini? Ini bekas gigitan salah satu binatang peliharaan komplek " Renand melirik kearah Nina, dengan menahan senyum. Pria itu pun langsung sigap menutup luka bekas gigitan Nina yang terlihat kentara dengan menurunkan lengan panjang kaos oblongnya, yang sebelumnya pria itu memposisikan lengan kaosnya hanya sebatas siku dengan menariknya keatas.
Nina yang disamakan dengan binatang peliharaan langsung mendengus kesal dan mlengos. Rupanya membuat Fenina naik darah sudah menjadi hobi Renand sekarang.
" Kok bisa sampai digigit begitu? Perasaan, Kakak pake mobil kan? " Revina yang sempat melihat mobil Renand yang terparkir tepat didepan rumah tak langsung percaya begitu saja.
" Iya, kita memang pake mobil. Tapi karena kita lupa membawakan oleh-oleh untuk kamu dan Om, akhirnya kita berinisiatif untuk kembali kedepan komplek dengan berjalan kaki. Eh ditengah jalan, pake ada anak orang ngamuk-ngamuk " Renand sedikit tertawa meledek, begitu pun dengan Om Dudi yang mengerti maksud pria muda itu ikut mengeluarkan tawanya.
Sementara Vina yang polos hanya bisa memprotes ucapan Renand. " Binatang peliharaan Kak, bukan anak orang " Terang saja, perkataan Vina semakin membuat Renand dan Om Dudi semakin tertawa lepas. Dan sukses membuat Nina semakin menahan kekesalannya.
" Bagaimana kalau kita langsung kemeja makan saja? Ayo Nin, Ayah sudah lapar " Dudi yang melihat raut wajah Nina yang terlihat tak karuan langsung melerai obrolan dengan mengajak mereka keruang makan.
Memang itulah rencana awal Renand membawa pulang Nina kerumahnya, yaitu untuk memenuhi undangan makan malam sekaligus mendekatkan kembali Fenina dan dirinya dengan keluarga wanitanya.
•••
Seusai makan malam, mereka berkumpul diruang tengah untuk mengobrol. Dilihat dari keakraban mereka, Nina semakin yakin dengan dirinya sendiri bahwa telah terjadi sesuatu antara Renand, Ayah dan adiknya.
Perempuan itu berfikir keras, sudah berapa bab yang sudah dia lewati? Hingga sampai tidak mengetahui perkembangan hubungan perkenalan mereka?
Pria ini hidupnya selalu penuh kejutan.
Nina meraba jantungnya sendiri, dia berharap organ tubuh vital yang satu ini masih bisa bekerja dengan normal. Agak berlebihan memang, karena Nina mengkhawatirkan fungsi jantungnya yang takut sedikit menurun karena terlalu sering mendapatkan tekanan dan kejutan dari pria tampan ini.
__ADS_1
" Kak Nina, nginep disinikan? " Tanya Vina penuh harap.
" Em, sepertinya begitu dek " Jawaban Nina mampu membuat senyum melengkung diujung bibir Vina dan Dudi.
" Vina sudah merapihkan kamar kamu, nak. Ya sudah, Ayah lelah mau istirahat. Kamu juga Vin, tidur sudah malam. Biarkan Kakakmu untuk mengobrol sebentar dengan calon suaminya " Ucapan terakhir Dudi sukses membuat dirinya, Renand dan Vina mesem-mesem. Namun tidak untuk Fenina yang terlihat masih dongkol dan kesal.
•••
Sepeninggal Ayah dan adiknya, Nina pun beranjak bangun dan ikut meninggalkan Renand yang masih setia duduk diruangan itu.
" Nin " Renand langsung merasa bingung saat Nina pun kemudian ikut beranjak pergi.
Pria itu berjalan mondar-mandir merasa kebingungan, sesekali dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Ampun deh ah, gini amat jatuh cinta.. Gumam Renand, keder. Dia bingung harus bagaimana? ditinggalkan seorang diri ditempat yang diluar kekuasaannya.
Namun setelahnya, dia dapat bernafas lega. Karena Nina kembali datang menghampirinya dengan membawa sebuah kotak p3k.
" Duduk " Nina memerintahkan Renand untuk duduk, semenit setelah dirinya mendudukkan tubuhnya diatas sofa.
Perempuan itu menghembuskan nafasnya panjang, melihat Renand yang dengan sengaja memilih mendudukkan dirinya disofa single dengan tersenyum menyeringai. Sabaaaar.. Hatinya terus mengingat kata itu.
Mau tidak mau Nina pun bangun mendekatkan diri kearah Renand. Nina berjongkok dihadapan pria itu, dengan cekatan meraih sebelah tangan Renand yang terluka. Perlahan perempuan itu menggulung lengan kaos panjang milik Renand, yang kemudian menampakkan bekas gigitan giginya yang begitu nyata.
" Nin " Nina tak menjawab panggilan Renand, mata dan tangannya masih fokus membersihkan lengan Renand. " Kamu marah? Masih ngambek? " Tuding Renand, yang memang nyata.
Tak kunjung mendapat respon, Renand pun memilih diam dan membiarkan perempuan itu menyelesaikan kegiatannya. Ada sedikit rasa was-was dalam hatinya jika terus melanjutkan obrolan. Renand takut Nina melepaskan kekesalannya pada lukanya yang terasa nyeri sedari tadi.
" Selesai. Sebaiknya, kamu cepat pulang " Usir Nina, dengan beranjak dari jongkoknya dan bersiap untuk pergi meninggalkan Renand begitu saja.
" Nin " Renand meraih lengan Nina, membuat langkah perempuan itu terhenti. " Tidak adakah yang ingin kamu tanyakan padaku? " Ucap Renand setelah berhasil mendudukkan Fenina disofa single yang bekas dia duduki.
Renand dibuat penasaran oleh perempuan ini, meski terlihat jelas kebingungan diwajahnya mengenai kedekatan dirinya dan keluarganya namun tak membuat Nina menyerang dirinya dengan berbagai pertanyaan.
" Tidakkah kamu ingin tau sesuatu? " Ucap Renand dengan menjongkokkan setengah tubuhnya kearah Nina.
Namun, meski kepala Nina penuh dengan tanya dan rasa penasaran tak membuat perempuan itu mengendor untuk beramah tamah terhadap pria dihadapannya. Nina masih memasang mode jutek.
" Kamu tau, kamu itu semakin menggemaskan kalau seperti ini " Senyum usil pria itu semakin membuat Nina tambah sebal dibuatnya, perempuan itu mlengos memalingkan pandang. " Hahahaa.. Kamu benar-benar lucu tau " Renand menjentikkan jarinya dihelai rambut Nina.
__ADS_1
" Puas-puasin kamu, mumpung masih bisa tertawa. Besok juga palingan udah nangis-nangis, ngemis minta balikan sama aku "
" Akhirnya, bersuara juga "
" Pulang sana "
" Aku diusir nih? "
" Iya, udah nggak ada alasan lagi buat kamu berlama-lama disini. Secara kita kan udah mantan "
" Seriusan? " Mata Renand menatap lekat kearah Nina.
" Seratus persen " Nina menjawab mantap.
" Astaga, tragis sekali nasib cinta aku. Hanya bertahan kurang dari dua belas jam " Renand mendesah kecewa penuh drama. " Sudah malam, aku pulang dulu "
" Silakan, aku juga udah nggak tahan ngeliat kamu "
" Nggak tahan pengen nabok? "
" Itu, tau "
" Tau lah, kan keliatan dari mode jutek kamu " Renand tersenyum tipis. " Jangan galak-galak jadi perempuan "
" Maaf, memang masalah buat kamu? " Nina semakin dibuat tertantang oleh Renand.
" Jelas, masalah dong. Takutnya nggak ada cowo lain yang berani mendekati kamu, kalau nggak ada saingan nanti nggak seru "
" Sepertinya kamu melupakan sesuatu. Kita sudah berakhir, sudah end.. Jadi mana bisa ikut bersaing dengan mereka-mereka yang begitu antri ingin jadi pacar aku "
" Bisalah.. Tinggal ikut gabung dengan mereka berebut untuk jadi pacar kamu lagi " Renand mengacak ujung kepala Nina dengan tersenyum " Aku pulang dulu " Dan pria itu pun berlalu menuju arah pintu keluar.
Lima belas menit telah berlalu. Sepeninggal Renand, Nina terlihat masih duduk bersandar lemas diatas sofa single.
" Aaaaaaaaa " Tak lama perempuan itu memekik pelan, mengeluarkan uneg-unegnya.
Fikirannya merasa dibuat amburadul oleh sosok Renand, sosok laki-laki yang selalu bertindak seenak jidatnya sendiri. Namun satu yang dirinya sadari dan syukuri, kembalinya sosok ayah sambungnya kepribadinya yang dahulu pasti tak lepas dari campur tangan pria yang selalu berhasil mengaduk-ngaduk emosinya.
Mungkin saat rasa kesalnya hilang, baru dia akan meminta penjelasan yang sejelas-jelasnya kesosok pria itu.
__ADS_1
Bersambung..
Hi.. baca novel kedua author juga ya Menggoda. Harap maklum, untuk sementara agak slow up.