
Perhatian..
Khusus untuk part ini lebih baik dibaca malam hari.. dan yang dibawah umur mohon untuk diskip saja 😄😅.
Happy reading.. 😙
Ray mengecup seluruh wajah Veln berulang kali, seperti menyapu halaman hingga bersih dari kotoran.. wajah ayu itu kini terpenuhi liur beraroma mint dari mulutnya.
Gerakannya terhenti lama disatu titik yang selalu menggoda matanya.. bibir ranum nan mungil itu yang selalu membuatnya ingin selalu melahap dan mencecapnya. Rasa manis dan wanginya membuat nagih dipikiran.
Ray melonggarkan jarak tubuhnya dan tersenyum nakal kearah Veln, matanya tak henti memandangi kemolekan tubuh istrinya yang berbalut gaun malam nan indah dan seksi modelnya. Sementara yang berada diposisi target utama nampak sibuk meredam rona wajah malu bercampur grogi dan deg-degan setengah mati, jantungnya seakan meloncat-loncat dengan keras didalam sana.
" V " Mengusap seksi bibir istrinya dengan sentuhan yang sulit untuk diartikan.
" Hem " Menjawab dengan berat dan suara sedikit tertahan, Veln sedikit gemetaran mendapat perlakuan yang sedikit intim dari suaminya. Memang ini bukan untuk yang pertama kalinya dia mendapatkan sentuhan yang sedikit bergairah dari suaminya, tapi untuk malam ini firasatnya sudah begitu tajam bahwa sepertinya tidak akan ada lagi pengampunan untuknya, saat ini juga mungkin hingga ujung kaki sampai ujung rambut Ray akan melahapnya. Tidak akan ada lagi penundaan, halangan dan rintangan apapun pasti Ray akan terjang. Setidaknya untuk waktu yang cukup lama dia harus sabar menahan diri dan tidak ada alasan lagi untuknya, untuk tidak melakukan saat ini juga. Sudah saatnya untuk Ray memetik dari buah kesabarannya. Hal yang paling menguntungkan baginya ketika harus menahan diri untuk menyalurkan hasratnya yaitu dia sangat beruntung hingga saat ini status perjaka masih melebelinya, meski sulit dan berusaha keras menahan diri ketika berdampingan dengan istrinya dimanapun apalagi diatas ranjang namun masih bisa dia redam dengan iman dan otak bersihnya yang belum pernah tercemari dan merasai bagaimana nikmatnya surga dunia. Walau tidak bisa dipungkiri sebagai laki-laki normal tentu ada rasa yang bergejolak luar biasa jika dihadapkan dengan seorang perempuan yang cantik, manis, dan menggemaskan seperti perempuannya.
" Kau gemetaran sayaang " Ray tersenyum simpul mendapati istrinya yang tegang, mengusap puncak kepala Veln dan menciumnya.
" Aku merasa seperti tawanan yang sudah waktunya untuk mendapatkan hukuman pancung saat ini juga " Ray terkekeh geli mendengar pernyataan istrinya yang begitu lirih bahkan hampir tak bersuara karena rasa cemas yang sedang bersarang dan menguasai dirinya.
Ray mengelus lembut bahu Veln yang terbuka " Rileks V " Dan menciumnya dalam membuat desiran aneh yang dirasakan perempuannya.
" Akan aku coba " Mendongak kewajah suaminya yang sudah berdiri tegap dihadapannya. Ray tersenyum menatapi wajah Veln yang ekspresinya tidak karuan, namun justru terlihat ayu dan menggemaskan. Membuatnya semakin bergejolak.
" Apa ada sesuatu yang terjadi saat aku tinggal dirumah sendirian? hem? " Berusaha mengalihkan sebentar, menormalkan kondisi wanitanya untuk menuju kearah yang lebih santai. Tentu tak lupa tetap dengan memberikan sentuhan-sentuhan ringan dibagian tubuh Veln.
" Em " Veln mengangguk pasti " Aku merasa kesepian Ray, karena tidak ada yang mengajakku berdebat dan membuatku kesal " Ray tersenyum simpul, satu pertanyaannya mampu sedikit mengusir rasa ketegangan dalam benak istrinya. Sebelah tangan Ray meraih dagu runcing milik Veln, mendongakkan wajah perempuannya dan mencium ringan, menyatukan bibirnya dengan bibir perempuan dihadapannya.
Ray melepaskan ciumannya " Katakan hal baru apa yang kau dapatkan dari rumah ini selama aku tinggal pergi? "
" Banyak hal, hingga membuatku pusing untuk mengartikannya.." Veln melenguh kecil saat lidah Ray menyambar leher jenjangnya " Tapi.. tidak masalah.. Aku sudah kebal dengan semua kemisteriusanmu " Lanjutnya lagi dengan lancar ketika posisi wajah Ray tidak lagi menghujam bagian tubuhnya.
" Good "
" Kau tidak kangen padaku? " Goda Ray kemudian mendapati Veln yang terlihat sudah nampak biasa tanpa ada rasa malu, takut, grogi sekaligus khawatir disana.
" Tentu saja, soal itu jangan ditanya "
" Kalau begitu peluk dong " Merentangkan kedua tangannya memberi isyarat untuk didekap, namun tak dihiraukan wanitanya.
" Kau sendiri bagaimana? rindu tidak? "
__ADS_1
" Sudah pasti "
" Kalau begitu kenapa harus aku yang memelukmu? kenapa tidak sebaliknya? Kau yang memeluk aku "
" Ok " Ray hendak menangkup tubuh yang ukurannya lebih mungil dari tubuhnya yang sedang duduk diatas sandaran tangan kursi sofa ruang tv dengan kaki menggantung menjulur seksi. Gerakannya terhenti tatkala Veln menahannya dengan cara dua telapak tangannya dilekatkan kearah dada bidang Ray yang terbuka karena kancing piyama yang belum sempat terkait satu sama lain.
Gleg.. Veln menelan salivanya menatapi dada bidang Ray yang terbuka untuk kedua kalinya.
" Stop! biar aku saja yang akan mendekapkan diri kearahmu " Veln terkekeh geli menyadari kecentilannya. Menarik pinggang Ray agar lebih dekat dengan sebelah tangannya dan menenggelamkan wajahnya kearah perut Ray yang kekar dan sejajar dengan posisinya yang terduduk dan satu tangan yang lain sedikit menyibak piyama Ray dan meraba lembut menggunakan jemari lentiknya sisi perut yang berbentuk kotak-kotak tersebut.
Ray hanya diam, membiarkan Veln menjelajahi tiap lekukan diperutnya. Menahan diri untuk tidak terlalu terburu-buru dengan perasaan sedikit penasaran sampai sejauh mana wanitanya bisa menggoda dan merayunya. Dan satu hal yang Ray kini pahami dari istrinya, membiarkannya sementara bertingkah agresif akan lebih menguntungkan dirinya dibandingkan dengan sebaliknya.. mengingat pada kejadian waktu itu semakin didekati istrinya malah akan semakin aneh dan semakin galak yang ada emosinya nanti akan tiba-tiba datang dan meletup-letup ketika salah langkah sedikit saja, dan bisa-bisa gagal total rencana untuk menerjang wanita ayu dihadapannya malam ini. Karena itu Ray akan lebih memilih mengikuti alurnya terlebih dahulu.
Veln mendongak pelan kearah wajah Ray dengan masih menempelkan dagunya diperut suaminya.. mengulas senyum semanis mungkin, ya Veln melakukan itu hanya untuk menunjukkan senyum itu kearah suaminya.
Cup
Mencium dengan pelan pusar suaminya dan mendongakkan kembali wajahnya kearah Ray.
Cup cup cup
Mengecup pelan berkali-kali dan lagi diakhiri dengan mendongakkan wajahnya, kemudian menunjukkan senyum termanisnya.
Veln terkekeh, lalu menggelengkan kepalanya " Bukan aku, tapi kau yang sedang menggoda ku " Kembali Veln mencecap dalam pusar Ray dan jari-jemarinya yang bebas meraba menjelajahi perut hingga dada bidang Ray.
Ray menjambak rambut Veln pelan bahkan sangat pelan seolah mengintruksikan wanitanya untuk mendongakkan wajah ayu nan lembut kearahnya.
Dug
" Au " Veln mengaduh pelan tatkala mendongakkan wajahnya dan seketika itu juga Ray membentakkan keningnya kekening Veln.
" Itu hukuman karena kau sudah terlalu nakal dan lancang menjamah tubuh atletisku " Tawa kecilnya menyeruak ketika melihat Veln yang sibuk mengusap keningnya dengan ekspresi yang lucu dan menggemaskan.
Ray menyingkirkan tangan Veln dan bibir lembutnya mengecup lama mengganti meredakan rasa sakit. Ray menarik tubuh Veln mengarahkannya untuk bangun dan berdiri ditempat yang sama persis ketika dirinya duduk. Smirknya nampak diiringi dengan kilatan mata yang berubah sedikit liar. Ray meraih bagian belakang kepala Veln membuat perempuan itu menundukkan wajah dan sedikit membungkukkan tubuhnya karena posisinya yang kini lebih tinggi dari Ray.
" Santai V , ok "
" Hem " Sembari manggut-manggut dan Ray langsung melahap dan merasai bibir manis itu.
" Nikmati sayaaang " Melepas pagutannya sebentar memberi ruang untuk menangkap oksigen dan merapatkan kembali dengan ciuman yang semakin dalam dan semakin panas membuat Veln hanya bisa menjawab dengan manggut-mangkut lagi. Ray menyusuri tiap kulit putih, halus nan lembut istrinya. Mengusap bebas bagian punggung yang terbuka bebas akibat bentuk gaun tidur yang dikenakannya yang benar-benar kurang bahan. Mereka berdua larut dalam ciuman yang semakin dalam dan semakin memabukan, bahkan menjadi candu untuk keduanya. Tanpa sadar posisi Veln kini sudah setengah berdiri dan masih bertumpu pada sandaran tangan kursi sofa. Ray menarik keatas kedua tangan istrinya tanpa melepaskan pagutannya. Kedua tangannya meraih kedua sisi bagian rok yang dikenakan Veln, menariknya keatas meloloskan dari tubuh Veln dan melemparnya kesembarang tempat. Tentu saja gerakan itu tidak sama sekali memutus ciuman-ciuman hangat yang diberikan Ray. Ciuman yang menjalar keseluruh bagian tubuh Veln. Sesekali terdengar melenguh dari bibir mungil Veln, akibat beberapa bagian sensitifnya disentuh habis-habisan oleh suaminya.
" Kita pindah sayang "
__ADS_1
" He_ Hpmmmmmmmt " Ray langsung melahap kembali bibir istrinya tanpa memberi kesempatan Veln melanjutkan kata-katanya.
Ray mengangkat tubuh istrinya ala bridal tanpa melepaskan lumatannya, meletakkan pelan diatas kasur king size yang berbalut sprei warna putih tersebut dan tentu masih dengan tanpa melepaska bibirnya kebibir istrinya.
Kini ciuman Ray beralih tempat, leher jenjang Veln menjadi targetnya, semakin kebawah dan semakin nakal tatkala sampai dibagian yang menyembul begitu nyata.
"Eungh.." Veln melenguh frustasi, mencari jawaban atas apa yang sedang dia rasakan namun tak menemukan jawabannya.
" Ray "
" Hem " Tetap sibuk dengan aktifitasnya mencumbui tiap lekukan tubuh istrinya.
" Sandal.. eungh.. Aku.. terpelanting " Spontan begitu saja kata yang keluar dari mulut Veln ketika menyadari sandal rumahan yang dikenakannya jatuh entah terkapar dimana tentu tetap dengan merasai sentuhan mulut Ray yang membuatnya tidak bisa untuk tidak melenguh.
Ck. Dikondisi seperti ini bukan saatnya memikirkan sandal. Veln merutuki dirinya sendiri.
" Sayaang.. bukan saatnya untuk memikirkan sandal " Melanjutkan kembali aktifitasnya.
" Hem.. eunghhhh "
Ray bangkit dan berdiri tegap dihadapan Veln yang tidur terlantang begitu seksi dan menantang karena saat ini hanya pakaian dalam saja yang Veln kenakan, fantasi liar Ray meningkat saat menatap kabut gairah dimata istrinya.
Saat dirasa sudah diwaktu yang tepat, dengan cepat Ray melucuti pakaiannya dan melemparnya sembarang dibawah sana.
" Ray piyamamu bisa kotor jika kau biarkan mereka teronggok disana " Veln terduduk, mendelik tajam menatapi Ray yang melepaskan pakaian tidurnya dan meletakkannya kesembarang tempat.
" Biar, Bibi bisa mencucinya untuk membuatnya kembali bersih " Ray mendekat membuat Veln kembali merebahkan tubuhnya.
"Jangan memperbanyak pekerjaan Bibi, tidakkah kau kasihan terhadapnya? "
" Kau konyol sekali V.. sudah kubilang ini bukan saatnya untuk memikirkan piyamaku, atau sandalmu yang terpelanting " Ray tersenyum geli " Ini membuatku frustasi, bahkan saat aku melepaskan gaun tidurmu yang belum selesai dijahit itu kau tidak protes dan cerewet seperti ini. Kau tau ujungnya nanti bukan aku yang menyiksa Bibi dan pelayan lainnya, tapi kau.. karena bercak merah yang nanti kau tinggalkan disini " Menepuk sprei dan selimut yang sudah tak jelas wujudnya. Veln tersipu malu dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, namun tak berlangsung lama karena Ray langsung menyingkirkannya dan menyatukan kembali bibirnya kedalam bibir Veln. Ray kembali mencumbui tiap lekuk tubuh itu dan setelah foreplay yang begitu lama adik kecilnya sudah tidak bisa menahan diri lagi.
" Sayaang.. boleh Aku melakukannya sekarang? " Tak ada jawaban, namun terlihat dari sorot mata istrinya yang menyatakan ia " Ini akan sedikit sakit.. tahan ya " Ray menghujani kembali tubuh Veln dengan ciumannya sampai pada saat Veln terlihat menikmati sentuhannya, Ray langsung menghujamkan miliknya kemilik istrinya. Sempit dan mencengkeram. Terlihat bulir air mata lolos dikedua ujung kelopak mata yang terpejam, mulutnya mengatup rapat dengan kedua tangan mencengkeram keras lengan Ray menahan sakit. Sakit yang teramat.
Mereka pun sejenak saling menyesuaikan diri, sampai pada satu titik sebuah rasa yang tidak dapat terungkap oleh kata atau hal apapun.
Bersambung..
*Ning nung ning nung ning nung duaaaar.. mp nya segitu ajalah,pusing n belibet sendiri nih author mengekspektasikannya.😄😅🤣😂😙.
Jaga kesehatan.. dan semoga kita selalu dalam lindungannya.Amin.😊*
__ADS_1