Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
Part 11


__ADS_3

Fenina melenggang dengan tak bersemangat melewati pintu utama rumah keluarga Wiratama, sesekali terdengar hembusan nafas kecewa. Dibenaknya, perempuan itu berharap semoga Renandnya datang menghampiri dirinya.


" Ehem " Reflek Fenina menoleh kearah suara " Aku akan mengantarmu pulang "


" E, eh " Nina hampir saja terjungkal, karena kakinya sedikit kesleo saat menuruni undakan diteras rumah utama Wiratama akibat rasa kaget dari suara Renand yang begitu tiba-tiba. Beruntung, pria itu dengan segera menahan tubuh perempuan itu.


" Modus ya? " Perempuan itu mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan perkataan laki-laki dihadapannya. " Pura-pura jatuh saat menyadari ada aku dibelakangmu, biar aku merasa simpati "


" Dih, nggak sampe segitunya. Aku masih menyayangi diri aku sendiri. Buat apa melukai diri hanya untuk mendapatkan simpati darimu " Tentu Nina harus mengelak, karena memang itu murni tak seperti dugaan Renand. Nina menepis tangan Renand lembut dengan membenarkan posisinya.


" Ok. Untuk yang satu ini jangan ge er dulu ya.. Aku melakukannya hanya karena amanat dari Kak Ray dan Kak V " Niat baik Renand mengantarkan pulang tidak ingin disalah artikan oleh Nina.


•••


Tak berapa lama, mereka sudah berada didalam mobil. Kendaraan roda empat yang dikemudikan Renand nampak sudah membaur dengan kendaraan yang lainnya dijalan raya.


" Um, tadi habis dari mana? Kok nggak ikut kumpul keluarga? " Nina berusaha untuk menghilangkan kecanggunggan, satu minggu tak bertemu serasa bertahun-tahun tak jumpa. Benar-benar canggung, akibat sikap Renand yang tak seperti biasa. Seolah tanpa minat terhadap perempuan disebelahnya.


" Ada sesuatu yang harus diurus, lagi pula aku enggan harus ketemu kamu " Nina yang sedang fokus ikut menatap jalanan, langsung mendelik kearah Renand. Enggan? Sampai sebegitukah? " Takut nggak bisa move on " Masih dengan intonasi cueknya.


Ujung kalimat Renand mampu membuat Nina melengkungkan senyuman, setidaknya masih ada sedikit harapan. " Rey, kita balikan yuk " Dengan tidak tau malu dan percaya dirinya. " Em, tau nggak? Awalnya aku sedikit canggung dan malu bertemu dengan keluargamu. Tapi karena keluargamu yang begitu welcome lama-lama aku jadi merasa nyaman " Tanpa menunggu jawaban Renand, Fenina kembali nyerocos mencurahkan awal pertemuannya dengan anggota keluarga besar Wiratama. Bisa jadi juga mulut bawelnya sengaja dia gunakan untuk menahan rasa malu yang hadir belakangan saat menyadari ucapannya yang diawal.


" Syukur kalau kamu merasa nyaman "


" Jadi.. "


" Apa? "


" Kita balikan ya? " Nina menyengir kuda.


" Aku pikir-pikir dulu "

__ADS_1


" Hemmm, mau puasin diri dulu buat balas dendam sama aku? " Renand melirik Fenina, lalu menyengir.


" Pasti Kak Rosi yang sudah berkhianat disini " Kembali Fenina menyengir kuda. Tanpa ragu Renand menuduh Rosi sebagai pelakunya, karena Renand paham benar bagaimana kakak perempuannya yang tidak bisa menjaga rahasia dan suka melakukan aksi balas dendam akibat dirinya yang sering diledek.


Gagal sudah acara balas dendam Renand, akibat ulah kakaknya yang sudah membocorkan rencana kepada gadis pujaannya.


Awalnya, Renand berencana akan memberi sedikit pelajaran pada perempuannya yang sudah dengan gampang dan tega memutus sebelah pihak hubungan yang sudah dengan susah payah dan penuh paksaan yang dia bangun. Namun harus dirinya akhiri, karena semua terbongkar akibat mulut ember Kakaknya, Rosi.


# " Tau nggak? Dalang dibalik kumpul keluarga ini ya priamu. Rey mau kami mengenal lebih dekat dengan calon istrinya, tapi dia juga sekaligus sok-sok an pengen balas dendam juga katanya. Jadi, kamu ngerti kan Nin, harus bagaimana bersikap! Saat berada bersama adik kecilku. Bila perlu kamu kerjain balik lagi aja dia. Yang pasti, adik kecilku itu begitu jatuh hati dan memujamu. Jaga hatinya untuk kami ya, Nin " # Itulah sebaris kalimat yang dibisikan Rosi, sesaat sebelum mereka menghampiri Renand.


" Rey , terimakasih ya " Penuh tulus Nina mengucapkannya.


" Buat? "


" Semuanya.. Untuk kesejahteraan keluargaku dan juga untuk hatimu " Nina menyungging senyum manisnya. Tangan kiri Renand terulur kearah puncak kepala Nina untuk mengusapnya dengan penuh sayang. " Mulai dari sekarang, aku kembali jadi gadismu kan? " Benar-benar putus urat malu Fenina, perempuan itu malah berucap dengan suara centilnya.


" Heh, jangan terlalu percaya diri kamu " Fenina tersenyum kecewa, dengan protes Renand yang terdengar serius. " Gadisku, apa-apaan! Yang benar itu calon istri aku " Renand tertawa setelah menjeda kalimatnya yang membuat Nina bersiap untuk menelan kecewa atau bahagia. Beruntung ujung kalimat Renand terdengar memuaskan ditelinga.


Senang dan haru nampak diwajah perempuan itu, sungguh sebagai seorang wanita dia merasa sangat beruntung.


Dengan gerakan cepat Renand menepikan mobil dan menghentikan lajunya. " Memang ucapanku ada yang menyakitimu? " Renand memandang panik kearah Nina. Bukannya merespon, perempuan itu malah semakin sesenggukan dengan berlinang air mata. " Nin, maaf. Maaf, kalau ucapanku ada yang menyakiti hati kamu " Renand mengusap lembut pipi basah Nina dengan punggung tangannya.


" Cuek dan jutekku yang tadi itu nggak serius.. Itu hanya sedikit ungkapan kekesalanku saja, jadi jangan dimasukin kehati ya " Nina masih terdiam, perempuan itu gini sibuk mengendalikan ingusnya yang sebagian sudah keluar dan ikut mengusap wajahnya yang basah. " Kalau ditimbang-timbang, harusnya pernyataan aku yang menganggapmu sebagai calon istri cukup menebus kelakuanku yang menyebalkan tadi. Tapi, nyatanya tetap membuat air matamu keluar. Maaf, Nin "


Nina menangkup tangan Renand yang berada diwajahnya, lalu perempuan itu menatap pria dihadapannya yang memancarkan aura penyesalan disana. " Rey, ini tangisan haru. Sungguh, aku sama sekali tidak merasa tersakiti olehmu " Sejenak perempuan itu menyruput ingusnya dan yang sudah terlanjur keluar dia lap dengan telapaknya. Setelahnya Nina kembali menangkupkan kembali telapak tangan Renand yang membingkai wajahnya.


" Aku merasa tersanjung dan beruntung bisa digilai pria sepertimu " Nina menghela nafasnya sejenak. " Pria yang begitu luar biasa, baik dan rendah hati.. Dan satu lagi, tampan " Nina terkekeh diujung ucapannya.


" Disituasi melow begini, masih sempet ngegombal juga ya " Renand menggelengkan kepalanya. " Benahi wajah kusutmu " Kini telapak tangan mereka berdua sibuk mengusap sisa-sisa air mata yang bercampur ingus diseluruh pipi basah Fenina.


Renand menengadahkan kedua telapak tangannya. " Hih, kamu jorok ya " Dengan mata yang menatap telapaknya penuh jijik. " Harusnya, kamu membersihkan ini dengan tissu basah " Protes Renand, saat menyadari telapaknya yang tercemar air mata bercampur ingus Nina.

__ADS_1


Memang, seusai mengeringkan pipi basahnya Nina juga menyempatkan diri untuk mengelap telapak tangan Renand menggunakan telapaknya. Membuat tangan Renand berkali-kali lipat tercemar air mata yang bercampur ingus perempuan itu.


Nina hanya bisa tersenyum dan mengucap kata maaf. " Maaf, sini dilap pake gaun aku biar steril " Dengan memasang wajah tanpa dosanya.


" Percuma, karena bekas ingusmu sudah terlanjur meresap kekulit telapak tangan aku "


" Terus gimana dong? "


" Tau " Renand mengedikkan bahunya dengan mata menatap kearah telapaknya dan Fenina bergantian. " Lagi pula kan sayang sama gaunnya yang sudah terlanjur menyatu dengan kecantikan kamu " Pipi Nina nampak semakin memerah atas pujian Renand. " Sukses buat Kak V, yang sudah membuat Feninaku terlihat cantik dengan gaun pilihannya " Pemuda itu menyunggingkan senyumnya, kemudian bersiap untuk melajukan kembali kendaraan roda empat yang sebelumnya menyempatkan terlebih dahulu untuk mengibas-ngibaskan telapaknya.


" Oya, kenapa harus merepotkan Mbak Veln segala? Kamu kan bisa langsung mengundang aku buat keacara makan malam keluargamu! " Nina melirik Renand yang sudah kembali fokus dengan kemudinya. " Gara-gara harus jemput aku, Mbak Veln jadi harus sabar menghadapi suaminya. Mood suaminya kurang baik akibat kejebak macet, mereka jadi sedikit-sedikit berantem, sedikit-sedikit beradu argumen, dan sedikit-sedikit mesra-mesraan bikin aku baper sekaligus gemesin ngeliatnya "


" Karena aku males jika harus berdebat sama kamu, pasti banyak drama nanti saat aku ngundang kamu buat makan malam keluarga. Kamu kan orangnya ngeselin suka membangkang, makanya aku lebih memilih bantuan Kak V. Dan terbukti, karyawan teladannya langsung patuh saat diperintah majikan " Renand tersenyum sedikit mengejek. " Entah jika tanpa bantuan Kak V, nanti yang ada.. Ngajak makan malamnya satu kali, tapi ngambek sama ributnya nanti bisa berkali-kali. Perempuankan gitu, suka mengungkit-ngungkit hal-hal yang memancing keributan "


" Maaf.. Mulai sekarang aku akan nurut dan patuh sama kamu. Aku nggak akan ngeselin dan ngebangkang lagi "


" Dimaafin.. Tapi, kebetulan aku ada urusan mendadak juga sih. Karena itu aku justru nggak bisa ikut gabung keacara yang aku rencanakan sendiri dan buat pasangan suami istri yang satu itu jangan diambil pusing. Memang begitulah cara mereka menuangkan rasa cintanya, dengan saling gasrak-gusruk tidak sama dengan pasangan yang lainnya. Jika orang lain yang melihatnya nampak seperti bertengkar, tapi ketika diteliti dengan seksama taunya lagi mesra-mesraan dengan saling hujat menghujat dan saling mengerjai. Dan yang paling bikin panas otak, ketika mereka benar-benar saling bermesraan.. Terlihat manis sie, tapi juga bikin kesel karena mereka seperti menganggap dunia hanya milik mereka "


" Iya, yang lain cuma dianggap nyamuk.. Bikin aku pengen nangis dan gigit jari menyaksikan kemesraan mereka " Lalu mereka pun terkekeh geli.


•••


Setelah bergelut menyusuri jalanan, akhirnya mereka pun sampai dipelataran rumah Fenina. Renand mematikan mesin mobilnya, namun pemuda itu justru duduk santai menyandarkan punggungnya dijok kursi kemudi setelahnya. Sepertinya dia tak berniat untuk segera keluar dari dalam kendaraan roda empatnya tersebut.


" Nin " Renand menoleh kearah Nina, begitu pun dengan Fenina merasa terpanggil ikut menolehkan wajahnya kearah sumber suara. " Kamu seriuskan? mau kalau aku jadiin calon istri? "


" ... "


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2