Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
19.check out


__ADS_3

Dengan lembut jempol tangan Ray mengusap ujung bibir Veln yang belepotan terkena saos mayones, membuat Veln pun melakukan hal yang sama mengusap bibir sendiri dengan punggung tangannya.


" Kemari, mendekatlah. Akan aku bersihkan bibirmu dengan ********** " Dengan santai dan senyum menyeringai tangan kanan Ray mencengkeram leher istrinya dan hendak menarik wajah Veln lebih dekat membuat Veln sontak membulatkan mata dan menutup bibir dengan punggung tangannya.


Ray melebarkan senyum melihat rasa grogi dalam diri istrinya, dan itu membuat Veln terlihat tambah menggemaskan dimata Ray. Sementara Veln menyadari masih ada seseorang yang setia menunggui mereka makan, dialah sekertaris Sam. Seseorang yang tidak bisa diragukan lagi kesetiaan, loyalitas dan dedikasinya dalam perusahaan RV Wiratama Group. Dengan leher yang masih dicengkeram tangan Ray, Veln melirikan matanya kearah sekertaris Sam.


" Sekertaris Sam " Suara Veln terdengar lirih setelah melepaskan telapak tangan yang menutup bibirnya, wajahnya sedikit merona merasa malu atas apa yang dilakukan Ray terhadapnya. Ray pun ikut melirik kearah Sam dan melepaskan tangannya dari leher Veln.


" Sam, kau masih disini? apa kau sedang mengawasiku? keluarlah, isi energimu sampai full, satu jam lagi nanti aku akan turun " Perintah Ray, Sam pun tanpa membantah keluar dari ruangan itu.


" Apa sekertaris Sam juga belum sarapan sama seperti kita? " Veln bertanya dengan bersiap mulutnya menggigitkan sandwich yang disodorkan Ray.


" Hem " Ray menjawab ringan.


" Apa kau tidak memberinya makan juga pagi ini? "


" Buka mulutmu kembali, dan cepat habiskan makanannya. Kalau kau banyak bicara akan aku gigit bibirmu " Mendengar itu Veln langsung menutup bibir dengan kedua telapak tangannya.


" Sam tidak akan makan, sebelum melihatku makan " Terang Ray. Veln hanya sedikit terkejut dan mengunyah kembali makanannya.


" Apa sekarang kau merasa puas? sudah membuat kami semua menunggu hanya untuk melakukan sarapan? " Kembali nada bicaranya terlihat biasa tapi kandungannya membuat hati Veln merasa tidak enak.


" Maaf " Dengan suara lembutnya meminta maaf.


○○○


Setelah selesai saling menyuapi, Ray beranjak menuju kamar mengambil remot tv dan menyalakannya. Begitu juga dengan Veln yang terlihat seperti anak ayam mengikuti induknya. Ikut mendudukkan tubuhnya disofa disebelah Ray. Mereka fokus menonton acara pagi yang disediakan oleh salah satu stasiun tv swasta.


Selang beberapa lama muncul dua orang pelayan datang, mereka menganggukkan kepalanya sopan kearah Ray.


" Permisi tuan, kami hendak membereskan barang-barang tuan atas perintah tuan Sam " Ray mempersilahkan, mereka pun bergegas meraih koper dan membuka pintu lemari untuk merapikan pakaian.


" Mau kemana? " Melihat Veln beranjak dari duduknya.


" Mau mengemasi pakaian kedalam koper, lebih baik aku saja yang melakukannya sendiri " Tangan Ray menarik lengan Veln, untuk menyuruhnya duduk kembali ditempat semula.


" Tidak usah, biar mereka yang membantu membereskannya " Veln pun kembali menempelkan pantatnya disamping Ray.


" Tapi boss, aku bisa melakukannya sendiri. Tidak perlu sampai harus menyuruh mereka yang mengerjakannya " Sembari telunjuknya menunjuk kearah dua pelayan itu yang sudah sibuk memasukkan pakaian kedalam koper.


" Aku sudah terbiasa melakukan apapun sendiri, jadi tidak akan masalah kalau hanya sekedar merapikan baju-baju kedalam koper "


" Dengarkan aku, mulai sekarang dan seterusnya jangan bawa kehidupanmu sewaktu tinggal bersama kedua nenek sihir itu yang seperti Upik Abu " Suara Ray terdengar seperti peraturan yang harus dipatuhi.


" Jangan melakukan pekerjaan yang orang lain bisa melakukannya untukmu, lakukan saja tugasmu yang tidak bisa digantikan oleh mereka " Dahi Veln mengernyit bingung dengan yang diucapkan Ray.

__ADS_1


" Tapi, sungguh aku tidak apa-apa " Protes Veln.


" Jangan membantah. Kau ini baru juga sehari jadi istriku sudah mau berani membangkang " Ray sedikit menajamkan pandangannya.


" Atau kau mau bertukar tugas dengan mereka? " Ray memberikan penawaran yang sudah membuat Veln berfirasat tidak enak.


" Maksudnya? " Ragu untuk bertanya.


" Kau boleh mengerjakan pekerjaan mereka dan mereka yang akan menggantikan tugasmu " Mata Ray tetap fokus mengarah kelayar tv yang hendak berganti acara.


" Memang apa saja tugasku yang tidak bisa digantikan oleh mereka? " Veln semakin antusias penasaran.


" Duduk diam disampingku ketika aku ingin ditemani " Ray melirikkan matanya kearah Veln.


" Lalu " Veln seakan menantang, sembari merapatkan posisi duduknya mendekat kearah Ray dan tersenyum menggoda.


" Menuruti dan mematuhi perintahku " Sembari mendenguskan kepalanya kewajah istrinya, yang mumbuat Veln melonggarkan duduknya.


" Maksudmu tidak apa-apa untuk mereka membantah perintahmu? " Kedua pelayan itu masih sibuk mengemasi pakaian kedalam koper sembari mendengarkan obrolan mereka dan matanya sekali-kali melirik kearah Ray dan Veln.


" Termasuk mereka " Tangan Ray meraih remot tv dan mengganti channelnya.


" Kemarilah " Veln menggeser kembali duduknya lebih dekat kearah Ray.


" Tugas utamamu, yaitu menina bobo kan aku " Sembari membisikkan ketelinga Veln dan membuat Veln hendak menjauhkan lagi duduknya namun tangan Ray keburu menahan dengan melingkarkan kebahu Veln. Veln menunduk grogi membuat Ray tertawa kecil.


" Lihatlah, baru satu hari kau menikahi aku sudah berani hendak berselingkuh dengan mau meniduri mereka. Benar-benar jahat " Veln beranjak pergi menuju kamar mandi dengan kesal meninggalkan Ray yang tersenyum jahat. Sementara kedua pelayan itu terlihat menangkupkan kedua tangan didadanya mendengar ucapan Veln yang terdengar keras. Entah apa yang kedua orang itu pikirkan.


○○○


Veln keluar dari kamar mandi sembari membereskan rambut ekor kudanya, dan mendapati Ray tengah berdiri bersidakep bersandar ditembok.


" Boss, apa calon selingkuhanmu sudah pergi? " Sembari matanya menyapu seluruh ruangan dan tidak mendapati siapapun kecuali Ray.


Kedua pelayan itu sudah dahulu keluar yang sebelumnya disusul oleh pelayan laki-laki yang membantu membawakan koper untuk dibawa kebawah.


" Apa sekertaris Sam yang akan mengatur pertemuanmu dengan mereka? " Menggoda dengan menajam kan pandangannya kearah Ray.


" Jaga ucapanmu " Ray menarik tangan Veln dan menggiringnya untuk turun.


" Ayo turun, mungkin Sam sudah menunggu kita " Langkah mereka ditujukan kearah lift.


" Memang akan seperti itu kan. Selain Samsul itu kunci gembok rahasiamu, dia juga merupakan orang yang akan merealisasikan semua keinginanmu. Termasuk pernikahan 100 juta ini berkat usahanya semuanya dapat berjalan sesuai rencanamu " Sembari menunggu pintu lift terbuka Veln berbicara tak jelas arahnya.


" Apa sekarang kau sedang menunjukkan kecemburuanmu? " Ray melingkarkan tangannya kebahu Veln, dan menggiring istrinya untuk masuk kedalam lift yang sudah membuka pintunya. Setelah pintu lift tertutup Ray memencet tombol paling dasar, dan menatap Veln dengan senyum menyeringai.

__ADS_1


" Nona siapa yang kau maksud dengan Samsul itu? " Mendorong tubuh Veln kepojokan ruangan lift dan menguncinya dengan kedua lengan kekarnya. Seketika tawa Ray meledak membuat Veln sedikit gemetar dan kebingungan.


" Dan apa kau bilang? kunci gembok rahasia? " Kembali Ray tertawa kecil sembari jari-jarinya lembut mengelus pipi Veln dan membuat Veln menelan ludah.


" Berhenti membicarakan soal pernikahan 50 juta mu itu, aku tidak suka " Sembari ibu jari Ray mengusap lembut bibir Veln.


" Boss, apa kau sedang menggodaku? " Dengan perasaan yang deg-degan dan nafas yang tak beraturan.


" Apa kau merasa seperti itu? " Tangan kiri Ray mendekap pinggang Veln dan menarik kearahnya lebih dekat. Membuat Veln menundukan kepalanya.


" Ti-tidak, aku hanya memikirkan bagaimana menjalankan pernikahan 100 juta ini " Dengan lirih dan sedikit gemetar Veln menyesuaikan diri berada didekapan Ray. Mendengar kata pernikahan 50 juta menurut versi Ray membuat hatinya memanas, Ray memegang dagu Veln dan mendongakkan wajah istrinya. Ditatapnya kedua bola mata Veln dengan lekat dan menurun kan pandangannya kearah bibir Veln yang mengatup.


" Apa pernikahan ini kau anggap hanya sebatas hutang 50 jutamu itu? " Dengan raut wajah yang sedikit memerah karena menahan emosi Ray dengan sabar menunggu jawaban dari mulut Veln.


" Memang untuk itu kan kau menikahiku? " Ray dibuat tambah kesal dengan jawaban Veln.


" Nona, kau sama sekali tidak menganggapku sebagai suamimu? " Berusaha menegaskan lagi apa yang sebenarnya dipikirkan perempuan dihadapannya.


" Entahlah " Veln melontarkan jawaban dengan santai, membuat kilatan mata tajam Ray seolah hendak menerkam Veln.


" Cih " Ray mengumpat kesal sembari memalingkan wajahnya kesembarang arah dan menenteng kedua tangannya keatas pinggang setelah melepaskan dekapannya dari tubuh Veln.


" Habislah kau " Dengan cepat Ray menarik pinggang dan kepala Veln secara bersamaan. Dan hendak ******* bibir ranum itu dengan bringas membuat Veln terkesiap dan sedikit meronta kecil.


Ting tong


Bunyi pintu lift yang terbuka lebar, mengurungkan niat Ray yang hampir mendaratkan bibirnya kebibir merah Veln.


Ray mendorong tubuh Veln sedikit kasar dan keluar dari lift meninggalkan Veln.


Sebentar Veln mematung, sembari menatap punggung tegap itu berjalan menuju arah lobby. Tangannya sigap menahan tombol ketika pintu lift hendak menutup kembali dan dengan segera menyusul langkah suaminya.


Terlihat beberapa karyawan hotel berdiri dan menundukan kepalanya sopan kearah Ray dan Veln yang menyusulnya dari belakang.


" Sam, apa kau sudah menyiapkan semuanya " Langkah Ray terhenti dihadapan Sam yang ikut berdiri diantara karyawan hotel.


Dia ini, betul-betul dianggap tamu istimewa dihotel ini. Veln membatin.


" Sudah tuan " Menjawab seperlunya. Terlihat Ray menujukan tatapannya kearah staf hotel yang berdiri disamping sekertaris Sam.


" Apa Denis masih berada dikamarnya? " Staf hotel itu terlihat gelagapan mendengar pertanyaan Ray.


" Sepertinya masih tuan, maaf akan saya pastikan sebentar " Dengan ragu staf hotel itu menjawab pertanyaan Ray.


" Pastikan untuk dia agar jangan sampai keluar kamar hingga tengah malam nanti, ini perintah " Ray pun berlalu menuju keluar setelah mendapatkan jawaban dari staf hotel yang mengiyakan.

__ADS_1


Maaf sepupuku, anggap saja ini sebagai awal balas dendamku. Ray membatin sembari masuk kedalam mobilnya dan tersenyum sinis yang sebelumnya dibukakan pintu oleh Pak Yan dan menutupkannya kembali lalu langkah Pak Yan memutar bermaksud membukakan pintu mobil satunya untuk nona mudanya masuk dan menutupnya kembali. Sementara sekertaris Sam duduk dikursi depan samping Pak Yan yang siap untuk mengemudikan mobilnya.


Bersambung..


__ADS_2