Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
92. Ektra Part


__ADS_3

Hoek hoek hoek..


" Mami, Mami kenapa? Mami sakit? " Celoteh Ley dengan wajah penuh kekhawatiran.


Namun tak dihiraukan Veln, perempuan itu hanya mengangkat tangannya dengan merentangkan telapak tangan lebar-lebar dan ditunjukan kearah putranya. Memberi isyarat agar Ley tidak mengganggunya dan segera berlalu menuju kekamar mandi meninggalkan putranya.


" Papiiiiiii.. " Bocah itu keluar kamar sembari berlari menuruni tangga.


Kontan pendengaran Ray yang mendengar suara lengkingan putranya membuatnya langsung beranjak dari duduk dan menuju arah suara.


Ray langsung menangkap dan mengangkat tubuh putranya " Boy, jangan diulang.. tidak boleh menaiki atau menuruni tangga dengan berlarian. Bahaya " Ley mengangguk tanda mengerti dengan yang diucapkan Ayahnya.


" Papi, Mami sakit " Mulut mungilnya berucap, dan perkataan Ley spontan menarik perhatian Ray.


" Sakit? "


" Emmm, Mami muntah-muntah " Bocah kecil itu pun menirukan gaya Ibunya, menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangan kecilnya dengan bersuara.. hoek hoek hoek. Terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


Tingkah anak itu membuat Ray tersenyum dan tiba-tiba wajahnya yang belum lama ini menyiratkan kekhawatiran berubah menjadi berbinar bahagia.


" Bersiaplah boy, kau akan memiliki adik bayi " Ray menaik turunkan putranya dengan sesekali mencium gemas bagian tubuh Ley dengan semangat karena asumsinya sendiri.


" Horeeeeeeee " Sorak bahagia Ley saat mendengar kata adik bayi. " Ahahahaa " Dengan diselingi tawa geli akibat ulah Ayahnya yang tak henti-henti menciumi hampir seluruh bagian tubuh miliknya.


Ceklek..


Saat Ray masuk kedalam kamarnya dengan masih membawa Ley dalam gendongan, telinganya disambut dengan suara khas seseorang yang sedang merasakan enek dan mual dari dalam kamar mandi.


Hoek hoek hoek..


Ray menghampiri Veln, menurunkan putranya disamping wastafel. Tangannya sigap memijit-mijit pelan tengkuk istrinya dan mengelus lembut punggung perempuan ayu itu.


Dan apalagi yang dilakukan bocah itu tentu ikut mempraktekkan apa yang dilakukan Ayahnya terhadap perempuan yang sudah melahirkannya.


" Sudah " Veln menepis halus kedua telapak tangan Ayah dan anak itu. " Mami tidak apa-apa " Menenangkan putranya. " Aku baik-baik saja, Ray " Lalu beralih menatap suaminya.


" Kau terlihat pucat sayang " Ray mengelus pipi Veln yang terasa lembut dan halus.


Ray menurunkan putranya dari atas wastafel, lalu tanpa aba-aba mengangkat tubuh istrinya. " Ayo boy " Memberi perintah kepada putranya untuk mengikutinya keluar kamar mandi. Veln yang merasa lemas menurut saja saat tubuhnya dibopong ala bridal style oleh Ray.


Ray menurunkan Veln diatas sofa ruang tv kamarnya, tanpa disuruh bocah itu pun ikut menaiki sofa dan duduk disamping Ibunya. Sementara Ray memilih duduk dibawah lantai yang berlapis karpet tepat dihadapan Veln.


Telapak mungil Ley mengelus lembut perut datar Veln dengan berkata " Adik bayi jangan nakal, karena Mami sedang sakit " Lalu mulutnya mendaratkan kecupan disana.


Mata Veln langsung membola mendengar celoteh anaknya, perempuan itu langsung melirik kearah Ray yang sedang tersenyum sumringah tanpa alasan yang tak dia ketahui untuk meminta penjelasan.


" Adik bayi? "


" Emm, diperut Mami sekarang ada adik bayi kan? " Mata polosnya menatap Veln dengan menunjuk-nunjuk perut datarnya.


" Siapa yang bilang, kalau diperut Mami ada adik bayi? "


" Papi " Ley menunjuk Ray yang sedang menyandarkan kepalanya dikedua paha istrinya.


Veln menggeleng dan menghembuskan nafas, dengan menatap Ray tajam.


" Boy, Mami minta tolong bisa? "


" Emm "


" Bilang sama bibi, Mami minta dibuatkan teh manis anget. Setelah itu, Ley main dulu sama Mbak Lala atau Mba Lili karena ada sesuatu yang harus dibicarakan Mami sama Papi "


Bocah itu mengangguk mengerti, dan sebelum pergi berlalu dari ruangan itu bibir mungilnya menyempatkan diri untuk mengecup beberapa kali perut Ibunya.


" Ray "

__ADS_1


" Hem " Pria itu asik mengelus perut rata istrinya sembari menyandarkan dagunya diatas kedua paha Veln.


" Jangan menyebar gosip yang belum tentu kebenarannya "


" Sudah jelas, mual dan muntah-muntah kalau tidak hamil ya sudah pasti hamil lah " Ray menyengir kuda.


" Ucapanmu persis seperti seseorang yang minta dihajar "


" Awas kalau bayi yang ada dalam perutmu sekarang tak lebih baik dan seganteng aku dan Ley, gaya ngidammu kenapa selalu berbau ekstrem? Sepertinya anak-anakmu begitu sangat menyukai untuk menyiksaku! " Mendengar perkataan Ray, reflek tangan Veln mengangkat dengan mengepalkan telapaknya dan ia daratkan pelan diatas pipi suaminya dengan cekikikan karena melihat ekspresi Ray yang memejamkan mata seolah pasrah namun tetap waspada.


" Berhenti mengkhayal, aku belum melepas alat kontrasepsinya.. artinya_ "


" Huuuuust, jangan diteruskan " Ray menjulurkan jari telunjuknya dan mengarahkan kearah mulut Veln dengan binar penuh kecewa. " Jujur, disini kenapa terasa kecewa? " Ray menegakkan duduk, menunjuk hatinya dan menangkubkan kembali wajahnya dikedua paha istrinya.


" Kalian benar-benar menginginkan seorang bayi? Kau dan Ley? "


Ray mendongakkan kepalanya, dan mengangguk mantap. " Tapi jika kau belum siap, aku tidak memaksa V "


" Kalau begitu aku akan membuat jadwal secepatnya untuk melepaskan alat kontrasepsinya "


" Benar " Ray memastikan, Veln pun mengangguk dengan tersenyum manis.


Ray beranjak dari duduknya dan langsung menyerbu istrinya, menyentuh seluruh wajah Veln dengan mengecupnya berkali-kali.


" Lalu yang tadi itu kenapa sayaang? hoek hoek, pucat dan pusing disini? " Menunjuk kening Veln dengan memijat perlahan diujungnya.


" Sepertinya masuk angin, dua hari ini aku kehujanan saat pulang dari toko bunga "


Penjelasan Veln cukup masuk akal, hingga Ray cukup puas dan tak menuntut pencerahan lagi dari mulut Veln. Ray pun mengangkat tubuh istrinya, untuk dipindahkan diatas ranjang.


" Istirahatlah, dan untuk sementara sepertinya kau tidak perlu mengunjungi toko bunga itu "


" Emm "


" Satu lagi, untuk selanjutnya dan seterusnya kalau tidak ingin menyetir sendiri mintalah Pak Yan atau Asep untuk mengantar dan menjemputmu saat mengunjungi toko bunga "


" Menurutlah, atau tidak sama sekali aku beri ijin untuk mengunjungi tempat itu? "


Veln memilih untuk menurut dan patuh, ketimbang tidak diberi ijin dalam memantau bisnis barunya, kebiasaannya menggunakan kendaraan online harus pupus ditengah jalan.


Berbekal pengalaman dari Florist Sa, Veln mendirikan toko bunga yang diberi nama Baby Florist. Dan sungguh sangat menggiurkan pendapatan dari toko bunga yang ia dirikan hasilnya sangat memuaskan, meski dengan tanpa membawa embel-embel nama besar suaminya. Dirinya bertekad mendirikan toko bunga ini sebagai bisnis rahasia, Veln ingin Baby Florist berkembang dan maju dengan hasil jerih tangannya sendiri.


○○○


Seminggu kemudian, terlihat Veln dan dua orang karyawannya menghembuskan nafas lega setelah sedari tadi berkutat dengan merangkai bunga pesanan beberapa pelanggan dengan secara bersamaan harus pula meladeni pengunjung yang datang untuk membeli setangkai atau beberapa ikat bunga.


" Maaf ya sudah membuat kalian bekerja terlalu keras "


" Tidak apa-apa Mbak " Ucap Heni dan Nina kompak.


" Untung, Nina dapat belajar dengan cepat " Syukur Heni.


" Hem " Veln mengacungkan jempol, menyetujui ucapan Heni tentang Nina yang belum lama bergabung dengan toko bunganya.


" Tapi, saya masih perlu belajar lebih banyak lagi Mbak " Rendah Nina.


" Kita semua, selama masih bernafas harus tetap belajar dan menggali ilmu sedalam-dalamnya " Ucapan Veln diamini oleh kedua karyawannya.


○○○


" Mamiiiii " Jelas suara lengkingan itu berasal dari mulut mungil Ley yang sukses membuat ketiga perempuan itu menoleh kearah pintu masuk, mata mereka pun sekaligus menangkap sosok lain dibelakang Ley.


" Order delivery " Ucap Renand sembari mengangkat jinjingan kantung kresek yang sempat diam tertegun beberapa saat.


Ley menghampiri Maminya dan tangan kecilnya memeluk erat tubuh perempuan yang sudah melahirkannya setelah tadi sempat berputar menyalami dan mencium pipi Heni dan Nina.

__ADS_1


Kini mereka sedang duduk melingkar, menikmati makan siang yang dibawakan oleh Renand dari cafe n resto miliknya. Dengan tanpa gangguan mereka melahapnya, karena untuk sementara pintu Baby Florist ditutup dengan disertai tulisan Closed.


" Ehem " Renand berdehem, membuat Nina yang sedang membasuh tangannya terjingkat kaget.


" Bos, anda mengagetkanku "


" Kau masih menganggapku bosmu? sementara dirimu kabur dan sudah menjadi karyawan ditempat lain? "


" Maaf " Nina tersenyum hambar lalu menundukkan wajahnya dan kembali fokus membersihkan telapak tangannya yang kotor.


" Besok datanglah ketempatku untuk mengambil gajimu yang belum sempat terbayar. Aku tidak mau terbebani, karena aku bukan tipe orang yang suka menzholimi orang lain dengan tidak memberikan hakmu " Setelah puas, Renand yang sengaja membuntuti Nina kini berlalu begitu saja. Meninggalkan Nina yang terpaku dengan menghela dan membuang nafasnya berat.


○○○


Keesokan harinya, Nina yang sudah berada diruangan Renand hampir satu jam lamanya reflek terbangun dari duduk.. mengangguk hormat ketika melihat mantan bosnya yang masuk kedalam ruangan.


Blug.. Krek, sepertinya Renand melakukan hal yang lain setelah menutup pintunya saat menyadari keberadaan Nina diruangan itu.


Renand berjalan menuju meja kerjanya yang diikuti Nina dibelakangnya, pria itu segera mendudukan tubuhnya dengan tangan merogoh sebuah amplop coklat dari dalam laci.


" Ambil lah, itu gaji terakhirmu " Ucap Renand sembari mendaratkan amplop tersebut diatas meja tepat dihadapan Nina.


" Terimakasih, bos " Dengan senyum yang terbit disudut bibirnya. " Seandainya saja anda tidak keras kepala seperti sekarang, mungkin aku tidak akan kabur dari tempat ini " Hari ini Nina benar-benar merasa beruntung, karena dapat dengan mudah melewati bos gantengnya dalam pengambilan gaji terakhirnya.


Renand mengedikkan bahu dan tersenyum menyeringai.


" Baiklah, jika sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan saya pamit undur diri "


" Pergilah, bosmu mungkin sudah menanti ditempat kerja barumu "


" Terimakasih bos " Saking bahagianya Nina membungkukkan badannya seperti layaknya orang-orang jepang yang sedang saling memberikan hormat. " Permisi " Kemudian perempuan itu pun segera bergegas menuju arah pintu.


Dan..


Ceklek.. ceklek ceklek, ceklek.


Deg..


Nina berbalik badan dengan tatapan setajam silet cukur, rasa kesalnya berkalilipat saat mendapati senyum iblis milik Renand.


" Bos "


" Hem "


" Aku fikir anda sudah memahami keputusanku, tapi rupanya_ " Nina langsung terkesiap saat Renand berjalan cepat menuju arahnya. " Bos, apa yang ingin anda lakukan " Kali ini Nina merasa kewalahan saat menghadapi mantan bosnya yang terlihat lebih nekad dari biasanya.


" Jangan takut, santai baby " Bisikan Renand terdengar mengerikan ditelinga Nina, apalagi pria itu kini berhasil memerangkap tubuhnya dengan kedua tangan kekarnya.


" Tolong, jangan seperti ini bos " Nina menangkupkan kedua telapaknya, memohon dengan santai tanpa rasa takut sama sekali. Mungkin dirinya sudah kebal atas perlakuan dari laki-laki dihadapannya.


" Katakan, apa aku harus menghamilimu terlebih dahulu, hah? "


Pletak.. Dengan berani, Nina menjitak keras kepala bosnya hingga terdengar pekik suara mengaduh.


" Jaga ucapanmu, bos " Renand meraup kasar wajahnya, lalu kembali memerangkap tubuh Nina.


" Lalu katakan aku harus bagaimana? " Renand mendengus frustasi kearah wajah Nina.


Nina menghela nafasnya dan tak terduga " AKU JUGA TIDAK TAU " Nina menjerit, melengkingkan suaranya persis seperti yang biasa Ley, keponakannya lakukan.


.


.


.

__ADS_1


Tunggu ekstra part selanjutnya, hee.. Jangan lupa baca juga novel terbaru dari author yang berjudul Menggoda.


Tks,😙.


__ADS_2