
Mata mereka masih saling bersitatap. Ray dengan sorot kacau, penuh emosi, dan ketidak berdayaan atas ego yang terus menguasai fikirannya. Sementara Veln masih dengan sorot tenang dan tatapan sendunya.
" Kalau itu membuat mu puas, sebagai putrinya, aku mewakilkan meminta maaf padamu " Lalu, Veln menyempatkan diri untuk menghela dan membuang nafasnya berat. " Setelah itu, kumohon berhenti membuat arwah ayah dan ibu ku tidak tenang. Biarkan mereka beristirahat dengan damai. Aku yakin, papa mu juga tidak mengingin kan kau yang seperti ini "
" Mungkin, aku akan memaafkan kalian jika saja kata maaf mu bisa mengembalikan kehidupan papaku "
" Ray, sebesar itukah kau menginginkan kembali berdampingan dengan papa mu? " Veln sudah mulai sedikit naik pitam, bagaimana bisa seorang Ray harus membuatnya melawan garis takdir Tuhan!
" Haruskah aku memperjelas kepadamu? betapa aku sangat menginginkan kembali berdampingan dengan papa ku? "
" Sekalipun aku bisa menghidupkan kembali papa mu, mungkin aku akan memilih terlebih dahulu untuk menghidupkan kembali ayah dan ibu ku sejak dulu "
" Tepat sekali, seorang anak akan melakukan apa pun untuk orang tuanya. Hal itulah yang sedang aku lakukan, keadilan atas nama papa ku " Veln tersenyum sinis dan mlengos memalingkan pandang kearah lain. Dia hirup banyak-banyak udara disekitar seolah tidak ingin berbagi oksigen dengan Ray.
" Baiklah, aku mengerti sekarang" Veln kembali menatap lekat ke arah Ray, dia tangkubkan kedua telapak tangannya diwajah Ray. Matanya menatap sendu dengan meneliti setiap pahatan diwajah pria yang berada dihadapannya. Veln mengecup sayang dikening Ray, dikedua kelopak Ray hingga membuat Ray terpaksa memejamkan matanya sekilas dan kecupannya berakhir dibibir Ray. " Bersiaplah, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk mu "
Kedua telapak tangan Veln bergerak turun kepundak Ray, seketika dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata tangan perempuan itu menyambar cepat leher Ray dan mencekiknya kuat-kuat hingga membuat bola mata Ray membulat. Kaget dengan gerakan tak terduga perempuan dihadapannya, namun Ray seolah pasrah tidak melawan.
Selang beberapa detik Veln melepaskan tangannya, membebaskan leher Ray begitu saja.
Dengan cepat Ray menghembuskan nafas melalui mulut, seolah sembari mengeluarkan sesuatu yang menyangkut didalam kerongkongannya yang membuat nafasnya sejenak terhenti.
" Beri tau aku jika kau sudah siap, aku akan melakukannya demi untuk membuat mu agar dapat berdampingan dengan papa mu " Veln tersenyum kecut dan menatap tajam kearah suaminya.
Ray membenarkan posisinya, berdiri tegak dengan mengusap lehernya.
" Dasar perempuan gila " Umpat Ray dengan berjalan keluar.
" Kau yang sudah membuat ku gila " Sengaja sedikit berteriak, agar didengar telinga suaminya. Lalu dengan cepat Veln beranjak dan mengejar langkah Ray.
" Berhenti " Teriak Veln kembali yang tak dihiraukan Ray. " Ayo kita selesaikan saat ini juga " Berjalan sedikit berlari untuk mengejar langkah kaki Ray.
Tak tuk tak tuk tak tuk..
" Ray " Mencoba menghentikan Ray, masih dengan berjalan sedikit berlari.
Begitu tepat berada dibawah tangga, Veln langsung menarik tangan suaminya.
" Lepas "
" Kita selesaikan saat ini juga, aku sudah tidak tahan dengan keadaan ini " Suara Ray yang sedikit kesal sangat berbanding terbalik sekali dengan ucapan Veln yang terdengar lirih. Veln dapat kembali menguasai emosinya.
" Tidak ada yang perlu diselesaikan, kenyataan yang sudah terjadi tidak mungkin bisa diubah "
" Kalau kau mau, ada yang bisa diubah dan diperbaiki. Hati, pola pikir dan sudut pandang mu. Ku mohon sadarlah Ray "
" Jangan memerintah ku. Apalagi disini, didalam rumah ku " Ray seolah mempertegas bahwa siapalah perempuan dihadapannya didalam rumah ini.
" Ku mohon Ray, jangan seperti ini " Veln kembali meraih lengan Ray.
" Pergilah " Ray menghempas kasar Veln, hingga perempuan itu terduduk diatas lantai. Dan berlalu menuju ruang kerjanya.
" Kak V "
Jreeeeeng..
Tanpa mereka sadari Renand yang kembali untuk mengambil helmnya yang tertinggal, akhirnya terpaksa harus menyaksikan keributan kedua kakaknya. Hingga beberapa pelayan yang tanpa sengaja berada diruangan itu pun terpaksa ikut menyaksikan kejadian yang tidak menyenangkan itu.
○○○
" Rey " Veln menyapa Renand, bangkit dan segera menghampiri suaminya. Meninggalkan Renand begitu saja, karena saat ini yang ada diotak dan fikirannya hanya Ray dengan masalah yang harus segera diselesaikan.
Veln menerobos masuk begitu saja, membuka pintu ruang kerja Ray yang tak terkunci.
__ADS_1
" Ray, kumohon jangan seperti ini " Veln mendekati Ray yang sedang duduk dikursi meja kerjanya.
" Pergilah "
" Tidak, kita harus selesaikan hari ini juga "
" Aku bilang, pergi "
" Ada apa ini kak? " Renand yang sadar ada yang tidak beres dengan kedua kakaknya langsung menyusul mereka keruangan itu.
Sejenak Ray dan Veln terdiam, mata mereka hanya saling pandang.
" Kau ingin tau apa yang terjadi dengan kami? "
" Stop, Ray " Veln menghentikan mulut Ray, agar tidak meneruskan ucapannya. " Tidak apa boy, hanya sedikit kesalah pahaman. Kau akan mengerti setelah kau menikah nanti "
" Hahahaa " Ray tertawa sumbang " Itu bukan kesalah pahaman, tapi kenyataan " Ray bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela.
" Bisa kalian jelaskan padaku, apa yang sedang terjadi? "
" Kau tau_ "
" Cukup Ray " Veln menghampiri adik kecilnya dan menggiring Renand untuk keluar ruangan. " Tidak ada apa-apa. Aku akan jelaskan semuanya padamu boy, tapi nanti tidak sekarang "
" Kau takut rupanya, tapi dengan senang hati aku akan memberitaunya. Karena, Renand berhak tau fakta yang satu ini "
" Katakan kak, ada apa? " Cecar Renand, yang langsung berbalik kearah Ray.
" Aku telah salah menikahi perempuan ini " Veln menunduk dengan memejamkan matanya. " Kau tau_ "
" Hentikan Ray, ku mohon "
" Dia adalah putri dari dua orang itu, dua orang yang menghambat kepulangan papa "
Duaaaaar..
" Kau, berfikiran sama kan dengan ku boy? " Dengan fikiran dan hati Veln yang kacau namun masih tetap berusaha tenang. " Ini takdir. Tidak ada yang dapat dibenarkan dan disalahkan disini "
Renand hanya diam, matanya menatap nanar kearah kakak iparnya. Veln melepaskan tangannya dari tubuh Renand, ketika mendapati mata Renand yang sedikit berkabut emosi.
Renand terlihat syok, memundurkan langkahnya dan pergi berlalu begitu saja tanpa betkata-kata.
" Bagaimana bisa kau berfikiran untuk mendapatkan dukungan dari Rey? " Ray tersenyum sinis. " Kau lupa? kalau dia itu juga putra papa ku " Ray membalikkan tubuhnya kearah jendela dengan berkacak pinggang.
" Katakan Ray, apa yang harus aku lakukan? " Suara Veln nyaris tak terdengar.
" Seharusnya kau tau apa yang harus kau lakukan " Masih dengan berkacak pinggang dan memunggungi Veln.
" Baiklah, aku mengerti " Veln mendekat pelan kearah Ray " Apa aku boleh memeluk mu? untuk yang terakhir kalinya? "
" Lakukan " Dengan tanpa ragu, Veln pun menyelusupkan lengannya kearah pinggang Ray, perempuan itu mendekap kuat Ray dari belakang.
" Ku mohon, simpan kata-kata pedas mu. Cukup kau hanya memberikannya ketelingaku, tidak untuk yang lainnya. Dan.. " Veln menarik nafasnya berat, dengan wajah yang masih terbenam dipunggung Ray. " Maaf, jaga dirimu baik-baik "
Veln mengendurkan dekapannya, hendak melerai pelukan dipinggang Ray tapi tiba-tiba Ray berbalik dan tangannya menarik pinggang dan tengkuk wanita itu.
Sudah tentu, mereka berciuman. Ciuman yang justru terasa begitu hangat dan menenangkan.
Veln diam, malah terkesan menerima hal itu. Benaknya berfikir, biarlah ini akan dia jadikan salah satu kenangan termanis bersama Ray.
Mereka pun melakukannya dengan sangat lama, dan setelah puas Ray melepas tautannya lalu berbisik ditelinga Veln.
" Pergilah "
__ADS_1
Dag dug dag dug dag dug..
Veln masih mematung. Ingin rasanya dia melepaskan buliran air matanya yang sudah mengantri diujung kelopak. Tapi tekadnya kuat, dia tidak ingin menangis, apa lagi dihadapan Ray.
" Sam " Ray memanggil sekertarisnya yang sudah sejak tadi berdiri diluar ruang kerjanya. Sebenarnya, Sam sudah sejak tadi berada disana namun ketika hendak masuk keruang kerja Ray, Sam mengurungkannya karena menyadari ada yang terjadi diruangan tersebut. Akhirnya, Sam lebih memilih menunggu diluar ruangan. Toh, Ray pun menyadari kedatangannya. Kalau pun nanti dirinya dibutuhkan, Ray pasti akan memanggilnya. Persis seperti apa yang dilakukan Ray barusan.
" Iya tuan "
" Bawa perempuan ini jauh-jauh dari penglihatan ku " Suara Ray yang datar, sebenarnya sukses mengiris perih hati dan pendengaran Veln. " Kau mengertikan apa yang harus kau lakukan terhadapnya " Ray menunjuk kearah Veln dengan dagunya.
" Iya tuan " Tidak ada yang bisa dilakukan Sam, selain patuh terhadap tuannya.
" Kalau begitu lakukan sekarang "
" Baik tuan " Sam mengambil nafas sebentar dan menatap Veln iba. " Mari ikutlah dengan ku nona "
Veln yang sedari tadi berdiri diam dengan menunduk, menurut saja apa yang diperintahkan Sam. Veln mengikuti Sam dibelakangnya untuk keluar dari ruangan itu dengan tanpa menoleh sedikit pun kearah Ray.
Perempuan ini benar-benar terusir, dari rumah ini sekaligus dari hati siempunya.
Bahkan tubuhnya yang masih dia bungkus dengan baju piyamanya tak dia permasalahkan sama sekali, sama sekali tidak ada niat untuk Veln berganti pakaian.
" Tunggu sekertaris Sam, beri aku waktu untuk mengemasi barang-barang ku. Maksud ku, barang-barang milik ku bukan barang pemberian tuan mu " Hanya itu yang dia ingat, yang terakhir harus dia lakukan dirumah ini.
" Tidak perlu nona, nanti saya yang akan mengurusnya " Veln pun mengangguk pasrah, mengerti atas maksud Sam.
○○○
Dia hanya cukup menuruti perintah Sam. Ketika digiring kemobil Veln cukup menurutinya, masuk duduk manis dijok penumpang.
Veln tidak peduli, Sam membawanya kemana pun dia tidak akan keberatan. Ketika Sam, terdengar menelfon dari samping pak Yan menyetir pun Veln hanya fokus menatap kearah luar dari kaca jendela mobil yang dia naiki.
Sampai beberapa menit kemudian, Sam mengajak turun Veln tepat dilobby hotel. Didepan lobby RV hotel Group, yang merupakan pusat hotel dari RV Group yang berada diibu kota.
Dengan tanpa hambatan Sam dan Veln masuk, menuju salah satu kamar yang dituju. Begitu pintu lift terbuka Sam keluar dengan Veln yang masih setia mengikutinya. Dan tak lama sampailah disalah satu kamar hotel yang dimaksud.
Sam membukakan pintunya dan mempersilahkan nona mudanya untuk masuk.
" Silakan nona " Veln pun masuk dengan ikhlas tanpa ada paksaan. " Saya tau, nona perempuan yang kuat dan tangguh " Ujar Sam, seakan menyemangati. " Tetaplah disini nona, sampai saya kembali. Saya sudah memerintahkan kebagian room service untuk mengirim makanan ketika jam makan tiba. Dan jangan ragu, minta lah bantuan mereka ketika membutuhlan sesuatu " Veln mengangguk paham. " Kalau begitu, saya tinggal dulu " Sam yang sedari tadi berdiri diambang pintu bersiap untuk angkat kaki.
" Tunggu, Sekertaris Sam " Sam pun mengurungkan langkahnya. " Maaf sudah merepotkan mu "
" Tidak nona, anda tidak usah sungkan "
" Satu lagi, tolong jangan beri tau apa pun kepada Rosi kejadian ini. Saya tidak mau hubungan mereka yang sudah membaik menjadi renggang kembali " Sam mengangguk tanda mengerti. " Dan, terimakasih sekertaris Sam "
Setelah kepergian Sam, Veln pun menutup pintu kamar hotelnya. Dan bersiap melangkah menuju kasur, dia menghempaskan tubuhnya diatas sana dan tidur meringkuk.
Tanpa sadar air matanya yang sudah terkumpul meleleh begitu saja tanpa ada yang mengkomando.
Veln memutuskan untuk meluapkan kesedihannya sampai puas, mungkin dia akan menangis hingga air matanya terkuras habis dan kering. Menangis hingga meraung-raung pun akan dia lakukan jika dapat meringankan beban permasalahannya.
.
.
.
.
.
*Halo.. tks ya buat yang udah like ,coment , vote n ratenya.
__ADS_1
Author selalu baca loh coment-coment dari kalian, bahkan author sampai baca berkali-kali.
Makasih loh udah bikin author cengengesan saat baca coment kalian, apalagi coment yang part si Ray yang menindas Veln. Emang si Ray ini musti diuleg, digeprek trus dikasih sambel sama Veln biar tau rasa. Haa🤣😙*