Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
55.Double


__ADS_3

Veln keluar dengan baju santainya, setelah melakukan ritual mandi keduanya. Sore ini dia terpaksa harus mandi dua kali akibat ulah Ray suaminya.


" Hem, makin kinclong " Ucap Ray dengan senyum menggodanya.


" Jelas. Gimana nggak kinclong, secara sore ini aku diguyur sampai berkali - kali dan semua itu berkat dirimu" Dengan sedikit merengut yang dibuat - buat " Aku lapar, Ray " Lanjutnya kemudian.


" Makan yuk " Ray pun beranjak dari duduknya dan menuntun Veln turun kebawah menuju meja makan.


○○○


" Sekali-kali kita makan diluar yuk ? " Ajak Veln dengan berharap permintaannya diangguki oleh Ray.


" Ok, kita ajak Renand " Mereka pun melipir kearah kamar Renand, adik kecil tersayangnya. Sebelumnya Veln tak lupa mengingatkan Ray dengan berbisik pelan untuk membantunya balas dendam kepada adik kecilnya yang diangguki oleh Ray tanda setuju.


Tok tok tok


" Kak, ada apa? " Renand segera membuka pintu kamarnya " Kak V, kalian sudah berdamaikan? " Menggaruk tengkuknya meski tak gatal. Veln hanya melempar senyum merespon pertanyaan kedua adik kecilnya.


" Mau ikut tidak? kita mau makan diluar " Ajak Ray yang tentu langsung disambut baik oleh Renand.


○○○


Mereka bertiga pun kini sudah berada didalam mobil, dengan Ray yang kini sibuk bersiap menyalakan mesinnya.


" Mau makan apa? " Tanya Ray dengan fokus menyetir dibalik kemudinya.


" Mie ayam " Veln menjawab cepat.


" Mie ayam? " Renand memastikan.


" Iya, mie ayam yang tadi siang kita makan " Veln menegaskan.


" Tidak bisa " Tolak Ray " Terlalu banyak makan mie tidak baik untuk kesehatan, ganti yang lainnya saja "


" Tidak mau, aku mau makan mie ayam lagi ditempat langganan Rey"


" Kakak ipar, kenapa tidak minta makan direstaurant mewah? malah milih makan mie ayam ditempat langganan aku, padahal kak Rey sudah siap membayarkan tagihannya! "


Veln terkekeh merasa lucu, karena dia sendiri pun tak mengerti kenapa begitu sangat menginginkan kembali untuk menikmati semangkok mia ayam. Mungkin karena pengaruh dari semenjak menikah dia baru ketemu lagi dengan makanan tersebut.


" Entahlah boy, yang jelas aku benar-benar ingin makan mie ayam lagi "


" Kita makan mie ayam " Suara Ray membuat Veln merasa sumringah " Tapi nanti, minggu depan. Tidak sekarang " Langsung Veln membuang nafas lesu.


" Tapi aku maunya sekarang, kau juga mau kan boy? " Meminta dukungan dari Renand, namun Renand hanya bisa nyengir tidak berani menjawab. Dia memilih aman, tidak mau kena imbas dari kasus mie ayam ini.


" Bagaimana kalau nasi padang boy? " Ray bersi kukuh dengan mencoba mempengaruhi Renand dengan makanan kesukaannya juga. Tentu dengan senang hati Renand akan menerima keduanya, toh dua-duanya makanan kesukaannya.


" Lakukan apa mau mu Ray, mungkin kau lebih memilih melihat bayi kita ngiler sepanjang waktu "


" Bayi?!! " Serentak Ray dan Renand mengulang kata bayi dengan membulatkan matanya.


Ray buru-buru menepikan mobilnya dan menghentikan laju kendaraannya.


" Kak V, kau hamil? " Rey langsung menyerobot pertanyaan yang seharusnya ditanyakan oleh kakaknya. Dengan raut wajah penuh harapan Ray menunggu jawaban istrinya atas pertanyaan yang diberikan adik kecilnya.


" Tidak tau " Tanpa merasa bersalah dengan wajah polosnya menjawab.


" Lalu, maksudnya apa sayang dengan ucapan mu yang barusan? "


" Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya takut ngeces terus menerus kalau sampai tidak ketemu sama semangkok mie ayam "


" Jadi, sebenarnya hamil tidak? " Sepertinya Ray masih penasaran.

__ADS_1


" Kak kita turuti saja siapa tau kak V memang benar-benar sedang ngidam " Sela Renand " Aku nggak mau nanti punya ponakan yang hobynya ngeces " Renand tertawa geli sembari membayangkan " Besok baru kita cek, apa kak V benar-benar hamil atau tidak "


Akhirnya Ray pun melajukan kembali kendaraannya ketempat tukang mie ayam langganan Rey mangkal.


○○○


Tak butuh waktu lama mereka pun sampai ditempat tujuan. Suasananya kini lebih rame dibanding tadi siang, meraka pun langsung mencari tempat untuk duduk.


Lima belas menit kemudian datanglah tiga mangkok mie ayam yang sebelumnya dipesan Renand, dan satu mangkok tambahan spesial berisi ceker ayam.


Renand mengambil dua ceker ayam dari mangkok Ray, memindahkan kemangkoknya.Namun dengan cepat Ray mengambil kembali satu ceker ayam dari mangkok adiknya dan diletakkan kemangkok Veln.


" Dibagi dua " Ucap Ray " Karena prioritas aku sekarang bukan cuma kamu saja boy " Mata Veln dan Renand saling pandang lalu saling melempar senyum. Namun seketika Veln menyadari ada yang aneh disini.


" Ray, kau tidak makan ini? " Sembari menunjukan ceker ayam didalam mangkoknya.


" Kak Ray bilang, kaki ayam menjijikan karena mengorek apa pun saat mencari makan "


" Jangan dengarkan. Makanlah, itu baik untuk tulang mu "


" Khusus untuk hari ini, kalau kau mau memakannya aku kasih doeble " Veln mengerlingkan sebelah matanya, entah seketika muncul pikiran untuk menjahili suaminya. Ray tersenyum dan menggeleng tak percaya, wanitanya kini sudah semakin centil dan berani untuk menggodanya.


" Doeble? apa maksudnya kak? " Renand yang benar polos atau hanya pura-pura merasa kepo.


" Bukan urusan mu, boy " Ray yang menjawab dengan bersiap mengambil kaki ayam dengan sumpitnya.


Dengan menatap dalam kearah istrinya, Ray melahap beberapa kaki ayam dihadapannya. Kaki ayam alias ceker ayam makanan yang paling anti untuk dia telan kedalam mulutnya kini sudah melesat masuk kedalam perut kotaknya. Bukannya tidak suka, bahkan rasanya saja sedari kecil hingga sampai dengan saat ini baru Ray ketahui karena jangankan menelannya baru berniat untuk memakannya saja perutnya sudah keburu mual-mual dan minta dimuntahkan. Tapi tidak dengan hari ini, mungkin karena ada kekuatan tersendiri atau ada hasrat mesumnya yang membuat Ray dengan senang hati menghabiskan hingga sudah mencapai tiga potong kaki ayam tersebut. Dan satu yang tidak Ray sesali, ternyata rasanya memang enak.


" Aku tidak percaya kalau tidak melihatnya sendiri " Renand yang terkejut kini buka suara.


" Jangan membesar-besarkan boy " Masih sibuk dengan ceker ayamnya.


" Kak, apa yang kau bayangkan ketika menelan nya? " Renand benar-benar dibuat penasaran oleh Ray.


" Jangan kotori kepolosan Renand dengan otak mesum mu, Ray " Protes Veln dengan masih menahan tawanya. Mendengar itu Renand jadi sedikit mengerti dengan makna double yang didengarnya belum lama ini, yang membuatnya salah tingkah dan menggaruk pelipisnya asal.


" Polos apanya, usianya saja yang masih dibawah umur tapi pikirannya sudah pekat melebihi air comberan " Veln mendelik tidak suka mendengar ucapan Ray yang mengatai adiknya sendiri.


" Diantara kita bertiga itu, kak V lah yang paling polos " Celetuk Renand yang akhirnya malah mendapatkan tinjuan keras dibahunya. Tangan Veln reflek terulur mendengar ucapan Renand, Veln tidak habis pikir bagaimana bisa seusianya dengan percaya diri mengakui bahwa dirinya lebih berpengalaman dan mengerti tentang itu dibanding dirinya sendiri.


" Tutup mulut mu boy, bagaimana pun aku lebih berpengalaman " Kembali matanya fokus kearah Ray.


" Dengar boy, kau itu kalah pengalaman " Ledek Ray.


" Ok, ok.. Cukup kak. Jangan kau habiskan ceker ayamnya " Ray pun melirik kearah Veln dan mendapat anggukan tanda persetujuan. Gila saja kalau sampai istrinya membatalkan kesepakatan tentang jatah doublenya hanya karena dirinya menghentikan makan kaki ayam secara sepihak. Sementara dia sudah memakan dan menghabiskan banyak salah satu anggota tubuh dari ayam tersebut.


Ray pun meletakkan sumpitnya dan dengan segera mencuci rongga mulutnya dengan meminum air sebanyak-banyaknya. Tidak bisa dipungkiri meski merasakan enak namun tetap masih ada rasa sedikit jijik, wajar mungkin karena ini untuk yang pertama kalinya jadi belum begitu terbiasa.


○○○


Sampai pada akhirnya mereka angkat kaki dari tempat itu setelah menghabiskan isi empat mangkok itu dengan bersih sempurna, tentu setelah membayar lunas semua tagihannya mereka meninggalkan tempat itu.


" Kak V, kau luar biasa " celetuk Renand membuka suara setelah beberapa lama tak ada obrolan karena kedua kakak beradik itu sibuk bertukar suara dengan ponselnya masing-masing. Sementara Veln sibuk dengan pikirannya sendiri, menatapi jalanan dari balik kaca jendela mobil dengan merasakan kenyang diperutnya. Saat ini mereka sudah kembali berada didalam mobil untuk kembali pulang, masih dengan formasi yang sama Ray yang fokus duduk dibalik kemudi dengan Veln yang berada disampingnya dan Rey yang terpaksa dan harus menerima dengan ikhlas duduk dikursi belakang.


" Kau juga akan menanggung akibatnya boy. Selain dapat merubah selera makan ku, kakak ipar mu juga berhasil mempengaruhi setiap keputusan yang kuambil " Lalu Ray tersenyum menyeringai " Turun " Perintahnya, terhadap adik tercintanya.


Rey yang sedari tadi sibuk bertelfonan dengan orang yang berada disebrang sana dibuat mendelik hebat saat diminta turun oleh kakaknya didepan pintu gerbang rumah yang sangat dia kenal. Saat ini mobil Ray tepat berhenti didepan rumah yang ditinggali Nenek Lusiana, Mami Rosa dan juga Rosi tanpa Renand sadari karena waktu didalam mobil tadi dia terlalu sibuk dengan ponselnya.


" Turun, tanggung akibat mu karena sudah berani menculik dan membawa pergi wanita ku " Ray mempertegas lagi perintahnya.


" Ampun kak. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi " Tolak Rey cepat " Kak V, tolong jangan seperti ini " Dengan mendenguskan kepalanya diantara jok kursi yang diduduki Ray dan Veln.


" Tunjukan jiwa kelaki-lakian mu boy " Ucap Veln dengan menjulurkan tangannya kearah belakang untuk mengusap puncak kepala adik kecilnya.

__ADS_1


" Tapi tidak dengan cara ini juga kak, memang tidak ada pilihan lain? "


" Tidak ada, nikmati waktu mu dengan mereka. Bagaimana pun dia ibu mu, mau sampai kapan kau bersikap seperti ini terhadap perempuan yang sudah melahirkan mu? " Seru Ray penuh penekanan.


" Huh, aku seperti ini juga karena aku lebih memilih berada dibelakang mu kak "


" Aku tidak membutuhkan dukungan mu. Sekarang terserah kau, kalau masih mau dianggap sebagai adik oleh ku sebaiknya kau menuruti perintah ku "


" Kak V " Masih berusaha mencari dukungan didetik-detik akhirnya.


" Sebaiknya, kau turuti saja boy "


" Baiklah, aku turun " Dengan tanpa gairah dan keterpaksaan Renand turun dari dalam mobil.


Renand mengetuk pintu kaca jendela mobil, Ray mengerti dengan maksud adik kecilnya Ray membuka kaca jendela mobilnya " Tolong kak, secepatnya kau akhiri hukuman ku "


" Besok sore kita menjemput mu, boy " Kali ini Veln yang menjawab.


" Besok pagi " Tawar Rey penuh harap.


" Besok siang, aku akan menjemput mu. Tapi kalau kau kabur, maka selamanya aku tidak akan pernah menjemput mu. Kau mengemis minta kembali pun aku tidak akan menerima mu " Penuh ancaman " Sekarang masuklah, bersikap manislah terhadap ibu mu, boy " Ray mengacak rambut Renand, dan mengawasinya sampai Renand benar-benar masuk kedalam rumah.


" Ray "


" Hem "


" Mendekatlah, ada sesuatu diwajah mu " Tanpa rasa curiga Ray pun mendekatkan wajah kearah istrinya.


Cup.. Veln mengecup kening Ray dan turun kebibirnya.


" Terimakasih, Ray " Ray membalas mencium kening Veln.


Setelah merasa yakin Renand tidak melarikan diri, Ray melajukan kembali kendaraannya menuju rumah.


Ray menuruti permintaan istrinya, memulangkan Renand adik kecilnya kekediaman Nenek Lusiana.


Veln berfikir dengan meningkatnya kadar frekuensi pertemuan Renand dengan ibunya dapat sedikit membantu untuk memperbaiki hubungan mereka, karena bagaimana pun darah lebih kental dari air. Maka dari itu Veln berharap apa pun pokok masalahnya akan lebih mudah untuk menyatukan Renand terlebih dahulu dengan ibu mertuanya. Baru kemudian memikirkan hubungan Ray dan mami Rosa.


" Kau tidak marah kan, Ray? "


" Mana bisa aku marah sama kamu, sayang " Ray melirik Veln sekilas lalu kembali fokus kearah jalanan " Bisa angus nanti "


" Apanya? " Veln sedikit bingung.


" Jatah doublenya "


Hahahahaa.. mereka pun tertawa bersama dengan serempak, mengingat kesepakatan konyol yang ditawarkan Veln saat ditempat penjual mie ayam.


" V, kalau aku ambil bonusnya lain kali bisa kan? aku mau memastikan dulu, mengecek apa kau beneran hamil atau tidak? aku tidak mau sampai menyakiti bayi kita saat pencairan kupon undian"


" Sepertinya tidak Ray, aku mengatakan itu hanya karena aku kesal padamu "


" Kamu yakin? " Ray menatap dalam untuk memastikan.


" Hem " Veln menganggukan kepalanya tegas.


" Ok, sayaang sepertinya kau juga sudah tidak sabar menikmati jatah double dari aku " Keduanya pun kembali tertawa bahagia.


Ray menambahkan kecepatan mobilnya, dan dengan lincah mengungguli beberapa kendaraan lainnya. Sudah tentu saat ini Ray bahkan Veln juga mungkin sudah tidak sabar untuk cepat sampai dikediaman mereka.


*Bersambung..


like, coment, rate, n votenya jangan lupa y..

__ADS_1


matur thanks you.. 😙*


__ADS_2