
Ray memarkirkan kembali kendaraan roda empatnya dipusat perbelanjaan terbesar dipulau itu, ditempat yang sama yang belum lama Dia datangi bersama Veln dan Sam.
Ray pun bergegas memasuki tempat itu dengan berjalan beriringan bersama Yas.
" Kak Ray, tidakkah kau merasa kalau kita ini seperti pengantin baru " Yas mengembangkan senyumnya full menghiasi wajah ayunya. Ray hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya dan meraih trolly belanjaan bersiap untuk mengiring Yas berbelanja oleh-oleh.
Setelah trollynya hampir terisi setengahnya, Yas menghentikan kegiatan belanjanya dan mengarahkan trollynya yang didorong Ray kearah kasir. Setelah dirasa tidak ada lagi tempat yang harus dituju Ray bersiap menjalankan mobilnya menuju arah pulang.
Mereka berdua sudah sampai dipintu kamar hotel tempat Yas menginap.
" Dengarkan aku Yas, jangan ikuti aku pulang besok. Pulanglah esok lusanya, orang ku sudah membantu mengurus keperluan mu " Dengan menatap sayang kearah Yas.
" Dan satu lagi, jangan bersikap kurang ajar terhadap kakak ipar mu. Aku tidak menyukai sikap mu terhadap V saat direstaurant tadi, kau harus menghormati dan memperlakukannya dengan baik dan layaknya seorang kakak bagi mu sama seperti kau memperlakukan ku " Dengan penuh penekanan Ray mengucapkan itu, dan bergegas kembali kekamar hotelnya setelah memastikan Yas masuk kedalan ruangannya.
○○○
Veln yang sedang duduk dikursi ruang tamu segera beranjak berdiri ketika melihat Ray datang dengan diikuti sekertaris Sam dibelakangnya tanpa Ray sadari. Ray melewati istrinya begitu saja, tanpa melirik apa lagi menyapanya.
Dia masih marah rupanya? harusnyakan gantian.. Aku yang harusnya ngambek terhadapnya sekarang karena kejadian direstaurant tadi.
Veln membatin dengan menatapi punggung Ray yang hampir tenggelam dibalik pintu kamar.
" Permisi Nona " Veln mengalihkan pandangannya kearah sekertaris Sam, suara sekertaris Sam pun sukses menghentikan langkah Ray yang hampir tenggelam dibalik pintu kamar yang sudah akan ditutup.
" Apa perlu, saya menyuruh pelayan untuk membawakan makan malam anda kesini? " Veln menyadari keberadaan Ray diambang pintu dan meliriknya.
" Kami sudah makan nona, tinggal anda saja yang sedari siang belum makan " Sam menangkap maksud lirikan Veln kearah tuan mudanya.
" Kalau begitu tidak usah sekertaris Sam, aku masih belum lapar " Tolak Veln pelan.
" Tapi sedari siang anda belum makan Nona " Sam sedikit mengkhawatirkan kondisi perut Nona mudanya.
" Biarkan Sam, dia tidak akan mati walau tidak makan sampai besok pagi sekali pun " Kata-kata dinginnya keluar begitu saja dari mulut Ray.
" Mungkin dia sedang memperdalam ilmu kebatinan, sehingga dia menahan diri untuk makan.. untuk itu berhati-hatilah, jangan terlalu dekat dengannya agar tidak dijadikan bahan uji coba olehnya " Kemudian Ray pun berlalu begitu saja tanpa adanya perasaan bersalah.
" Tidak apa-apa sekertaris Sam, anda bisa pergi sekarang. Kalaupun aku nanti membutuhkan sesuatu, aku akan menghubungi room service " Sam mengangguk tanda mengerti.
" Semangat Nona " Dengan mengepalkan tangannya Sam memberikan semangat kepada Nona mudanya untuk menyelesaikan masalahnya dengan Ray lalu pergi keluar dari ruangan tersebut.
○○○
Veln perlahan membuka pintu kamar dan mendapati Ray sedang tiduran terlentang diatas sofa.
Dengan langkah pasti dan tanpa ragu Veln mendekati suaminya. Veln duduk bersimpuh dilantai dibawah sofa menghadap Ray. Mata mereka saling beradu pandang dengan ekspresi yang sama-sama mendatar.. sangat lama, bahkan begitu lama dan satu sama lain tidak ada yang berkedip.Sampai pada akhirnya Veln mengedipkan kedua matanya tanda menyerah.
__ADS_1
Tangan kanannya dilingkarkan kepinggang Ray tanpa canggung, dengan sebelah pipinya pun ikut disandarkan keperut Ray.Tatapannya diarahkan kebawah. Sesaat suasanya hening tanpa suara, seolah mereka sedang benar-benar menikmati situasi itu.
" Maaf.. " Suara lembut Veln memecah keheningan.
" Ray.." Veln menghela dan menarik nafas panjang.
"Jangan bicara apapun, cukup dengarkan aku " Pinta Veln dengan mengeratkan pelukannya kepinggang Ray.
" Tidakkah kau bayangkan seberapa kacaunya otak dan pikiran ku dari semenjak kau melamar dan menikahi ku dengan paksa hingga sekarang aku menjadi Nona Ray.. disatu sisi aku merasa beruntung dinikahi oleh mu, dari pada harus jadi istri juragan Seno. Disisi lain otak ku penuh dengan berbagai pertanyaan mengenai dirimu. Kau bahkan langsung menikahi ku begitu saja tanpa memperkenalkan siapa dirimu dan keluargamu? dan itu membuat pikiran ku berlarian kemana-mana. Bahkan sekertaris Sam tak membantu apapun tiap kali aku menanyakan tentang mu. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaan ku?!! Satu hal yang membuat aku tidak lari darimu sampai saat ini, yaitu karena Alaku tau kau itu orang baik " Veln memainkan tengkuk baju lengan kanan Ray, mencubit-cubit kecil dengan jari-jarinya.
" Untuk itu biarkan aku mengenalimu lebih dalam, jangan beri aku kesulitan dengan diam mu. Setidaknya beri jawaban tiap aku menanyakan tentangmu. Aku janji.. Aku tidak akan mengungkit-ungkit lagi soal 50 juta mu" Veln mengaitkan jentiknya kesalah satu jentik Ray sebentar dengan diiringi senyum tipisnya, meski tak mendapat reaksi dari Ray.
Setelah dengan panjang lebar mengeluarkan ocehannya, sekejap mulutnya terdiam lalu mengganti posisi dengan menyandarkan dagunya diatas perut Ray. Matanya sedikit membulat mendapati Ray yang sedang menutup kedua matanya, namun tak berapa lama kembali ketatapan sendunya.
" Ray.." Menusuk-nusuk pelan dada bidang Ray dengan telunjuknya.
" Kau benar-benar tertidur? " Jarinya masih sibuk menusuk-nusuk dada Ray dengan mata menatap lekat kearah wajah suaminya.
"Jadi, kau tidak mendengarkan curhatan ku? " Veln menggembungkan kedua pipinya menunjukan rasa kecewa.
Veln beranjak berdiri dan menatap Ray sebentar, mengacak rambut Ray dan berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri yang sebelumnya mengambil pakaian ganti terlebih dahulu didalam lemari.
Ray membuka matanya, menatap punggung Veln yang hampir tenggelam dibalik pintu kamar mandi. Terlihat senyum tipis disudut bibirnya. Ray sebenarnya tidak benar-benar tidur, dia bahkan mendengar semua perkataan Veln dari awal hingga akhir.
○○○
Veln keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan baju piyamanya.
Dia kembali mendekati Ray yang masih berbaring diatas sofa.
" Ray.." Veln memanggil pelan nama suaminya.
" Ray.." Kedua kalinya Veln memanggil nama suaminya, namun sama sekali tidak ada pergerakan karena kali ini Ray benar-benar terlelap tanpa sengaja.
Veln pun berlalu menuju tempat tidur yang sebelumnya lama berkutat membereskan baju-baju dan kopernya. Dia membaringkan tumbuhnya disana sesekali berguling-gulingan seperti bocah menunggui suaminya siapa tau terbangun, namun hampir satu jam lamanya masih belum ada pergerakan tanda-tanda Ray akan bangun membuat tanpa sengaja Veln pun sudah terlelap begitu saja diatas kasur.
Jam menunjukan pukul dini hari, Veln terbangun dari tidurnya.. tampak matanya yang masih terlihat begitu mengantuk. Namun dengan terpaksa dia harus beranjak dari tidurnya karena tidak mendapati Ray disampingnya. Langkahnya ditujukan kembali kearah sofa, benar saja seperti yang dipikirkannya Ray masih tertidur diatas sofa dengan posisi membelakangi Veln berdiri dan sudah mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya.
Saat Veln terlelap Ray terbangun dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dan mengganti bajunya dengan piyama. Sebelum melanjutkan tidurnya kembali Ray sebentar menghampiri Veln yang sudah tertidur diatas ranjang. Dia membetulkan selimut yang tersibak oleh pergerakan Veln saat menggeliat, dan mencium kening istrinya lama lalu kembali menuju sofa dan melanjutkan mimpi.
Dengan susah payah Veln menahan kantuknya sewaktu mendekati sofa, dan kini dia merasa enggan dan malas untuk kembali ketempat tidur akhirnya dengan tanpa canggung dia membaringkan tubuhnya diatas sofa disamping Ray. Veln melingkarkan lengan kanannya kearah perut Ray, memeluk Ray dari belakang dengan tangan kirinya dia jadikan sandaran untuk kepalanya.
○○○
Waktu menunjukan pagi hari, posisi mereka kini sedang berhadapan dengan berpelukan. Veln mengerjapkan matanya terlebih dahulu, terlihat senyum merekah disudut bibirnya mendapati tubuhnya yang dipeluk hangat oleh suaminya. Didalam sana terasa ada perasaan nyaman dan berbunga, bahkan aroma tubuh Ray pun benar-benar dia nikmati dengan santai.
__ADS_1
Veln mendongakkan wajahnya, mendapati Ray masih tertidur. Dengan pelan Veln berusaha melepaskan diri dari pelukan Ray agar tidak sampai membangunkannya. Namun begitu sulit karena tangan kekar Ray begitu erat melingkar ditubuhnya.
Senyum tipis Ray tercetak disudut bibirnya tanpa Veln sadari. Sebenarnya Ray sudah terbangun semenjak tadi namun karena melihat Veln yang masih terlelap sehingga dia mengurungkan niatnya untuk beranjak dari tempatnya, karena takut mengganggu tidur istrinya.
" Ehemm " Veln mencoba berdehem untuk memastikan apakah tidur Ray masih dalam keadaan pulas, karena tidak ada geliat sama sekali membuat Veln berpikir kalau Ray masih lelap dengan mimpinya.
Veln menyentil-nyentil pelan lengan Ray, dan mengusapnya beberapa kali seolah sedang menghilangkan rasa sakit akibat sentilannya. Dan kejadian tersebut terjadi berulang kali.
Ya sedari tadi Veln menyibukkan diri dengan memainkan jari-jari lentiknya ketubuh Ray.
Lama kelamaan Veln merasa gemas, karena meski sedari tadi tangannya bergerak-gerak tapi sama sekali tidak membuat Ray terbangun. Sementara dia merasa sangat ingin sekali kekamar mandi untuk membuang air kecil. Akhirnya reflek jarinya mencubit kecil lengan Ray dengan keras, membuat Ray kaget dan terperanjat bangun tanpa memperhatikan posisi tidur istrinya.
Debuuuuugh..
" Auuu.." Veln spontan terjatuh dari atas sofa tempatnya berbaring akibat gerakan suaminya. Terang saja dia akan ambruk kelantai meski hanya tersenggol sedikit apalagi dengan gerakan Ray yang tak terduga itu otomatis membuatnya terpelanting kebawah. Secara sofa yang dia tempati tadi hanya menyisakan sedikit ruang untuknya, selebihnya dikuasai Ray yang posisinya berada ditengah.
" Aduuh.." Veln mengaduh kesakitan dengan meringis merasakan ngilu diseluruh tubuhnya. Senyum Ray terlihat mengembang tanpa sepengetahuan Veln merasakan lucu atas istrinya.
" Salah mu sendiri kenapa jari mu begitu nakal, hingga membangunkan tidur nyenyak ku " Ray bangun dari duduknya dan berlalu meninggalkan istrinya menuju kamar mandi dengan mulut terkekeh pelan agar tak terdengar istrinya.
" Bukannya membantu membangunkan malah berlalu begitu saja " Veln bergumam dengan kaki yang menendang keudara, sembari berusaha menetralkan rasa ngilu akibat tubuhnya yang berbenturan dengan lantai.
Lima belas menit berlalu, Ray keluar sudah dengan berpakaian rapih dan mendapati Veln masih terlentang diatas lantai.
" Mau sampai kapan kamu mempertahankan posisi mu? tiduran diatas lantai, hem? " Dengan nada sinis dan tatapan datarnya yang khas dari seorang Ray. Mendengar itu Veln pun beringsut bangun dengan bersusah payah menahan ngilu yang masih terasa dibeberapa bagian tubuhnya.
" Cepat bangun dan mandi kalau tidak mau aku tinggal pulang, jadwal penerbangan tidak akan ditunda hanya demi penumpang seperti dirimu " Ray berlalu keluar meninggalkan Veln yang masih sibuk berdiri dari posisi sebelumnya.
○○○
Veln keluar dari kamarnya, mendapati Ray dan sekertaris Sam sudah duduk diatas meja makan. Dia pun menghampiri dan mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi meja makan.
" Selamat pagi sekertaris Sam " Sapanya lembut yang hanya dijawab anggukan dan sedikit senyum dari sekertaris Sam. Kemudian mereka bertiga pun disibukkan dengan sarapan paginya.
Setelah semuanya sudah menghabiskan sarapannya, mereka beralih duduk keruang tamu.
" Sekertaris Sam jam berapa kita pulang? " Veln mendudukkan diri disamping Ray.
" Masih ada waktu setengah jam untuk kita menurunkan sarapan terlebih dahulu Nona " Veln manggut-manggut mendengar jawaban Sam, sementara Ray terlihat sibuk menyibak berkas-berkas yang baru diberikan oleh sekertaris Sam.
" Nona bagaimana keadaan perut anda? apa lambung anda baik-baik saja? " Ternyata Sam masih mengkhawatirkan Veln yang dari kemarin siang tidak mengisi perutnya.
" Sam, jangan terlalu perhatian dengan perempuan ini. Semakin diperhatikan maka dia itu akan semakin galak, entah karena bawaan tamu bulanan atau memang karena tempramennya yang luar biasa " Kata-kata pedas itu keluar dari mulut Ray dengan mata tanpa beralih dari berkas-berkas ditangannya. Mendengar itu Veln hanya bisa menelan ludahnya. Sam yang merasa berada disituasi yang tidak mengenakkan pamit undur diri dengan alasan hendak mempersiapkan dan membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang.
Bersambung..
__ADS_1