Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
75. Ujian


__ADS_3

Begitu sampai, mereka memarkirkan kendaraan roda empatnya diparkiran pusat perbelanjaan oleh-oleh terbesar dikawasan tempat tinggal paman Rian.


Mereka keluar dan bersiap menuju rumah yang Veln tinggali bersama keluarga angkatnya.


" Hufffft " Veln menghembuskan nafasnya pelan, dengan mencari kekuatan atas semua perasaan buruk yang ada dibenaknya saat ini.


Dari kejauhan nampak terlihat rumah paman Rian dikerumuni banyak orang, dan saat mata Veln menangkap bendera kuning disana seketika itu juga langkahnya terhenti karena terasa berat.


Renand yang menyadari langsung memegang lebih erat jemari kakak iparnya yang sedari tadi dia genggam.


" Kak V, kau harus kuat " Renand berusaha menguatkan kakak iparnya. " Apapun yang terjadi ini sudah takdir "


" V " Yas mengelus pelan punggung Veln.


" Saya tau, anda orang yang kuat dan hebat nona " Sam seolah mengingatkam siapa diri Veln.


" Kak V kau bukan wonder woman atau pun catwoman, kalau kau ingin menangis.. menangislah " Rosi memegang erat sebelah lengan Veln, untuk antisipasi siapa tau terjadi hal-hal yang diluar dugaan dengan kakak iparnya.


Dan saat itu hanya senyum miris yang dapat dia tunjukan, ingin rasanya menangis dan menjerit-jerit karena harus menjalani takdir Tuhan yang menyedihkan ini. Namun urung dia lakukan, karena air mata ini tak satu pun mau menetes. Mungkin karena sumbernya sudah mengering, atau mungkin juga karena Veln sudah terlalu sering melewati kepedihan dan duka ini. Karena itu dia sudah merasa kebal dan terbiasa.


Mereka dengan setia menggiring kaki Veln yang mulai melangkah lebih mendekat kearah rumah.


Beberapa tetangga yang berada dipelataran menyalami kedatangan Veln dan rombongan, bahkan ada beberapa yang memberikan ucapan duka citanya.


Keadaan itu masih Veln anggap sebagai mimpi pagi harinya. Sampai begitu memasuki ruang depan terlihat jelas dan nyata jenajah paman Rian yang terbujur kaku disana, dengan Mba Del dan Virina yang menangis disampingnya.


Tante Susan dan keluarga kecilnya yang sudah berada disana lebih dulu langsung menghampiri Veln dan memeluknya, berusaha menenangkan kabut duga yang tersirat dimata istri keponakannya. Meski tidak menangis terlihat jelas kesedihan dalam diri Veln.


" Dimana Ray? " Saat mata tante Susan mengedar pandang tak menemukan keponakannya.


Sungguh mendengar tante Susan menyebut nama Ray, dalam kondisi seperti ini membuat kaki Veln bergetar dan nafasnya mendadak merasa sesak. Seseorang yang seharusnya jadi sandaran dan pelepas kesedihannya pada kenyataannya justru malah sibuk dengan fikiran dangkal dan egonya sendiri.


Akhirnya dengan reflek Veln mendudukan diri saat mendapat uluran tangan dari Mba Del dan Virina, untuk menghindar agar dia tidak sampai pingsan karena kedua kakinya yang lemas tidak dapat lagi menahan beban tubuhnya.


Veln sudah tidak tau lagi harus bagaimana menunjukan rasa sedih dan pilunya menghadapi hidup yang begitu berat.


Setelah diabaikan dan dibuang begitu saja oleh Ray, dia pun kini benar-benar merasa sebatang kara dengan kepergian pamannya.


Dia benar-benar sendiri sekarang, Veln pun merasakan bingung harus bagaimana lagi untuk melanjutkan hidup dengan bertumpu dikedua kakinya. Dia merasakan pilu yang teramat dalam hidupnya.


Sampai saat kedua tangan mendarat dan meraba perutnya, Veln seakan mendapatkan energi baru, kekuatan baru setara dengan ledakan bom jepang dikota hiroshima dan nagasaki.


○○○


Setelah acara pemakaman berakhir, tinggal lah hanya keluarga inti dan keluarga besar dari Veln dari pihak suaminya dan beberapa tetangga yang terlihat masih singgah.


Terlihat Mba Del masih berpelukan dengan Virina untuk melepas kesedihannya.


Sementara Veln terlihat didekap tante Susan dengan telapak tangan menyentuh perutnya. Pandangannya terlihat kosong membuat Renand dan sekertaris Sam yang tau benar duduk masalah yang dialami perempuan itu merasa sangat iba.


" Kak V minumlah " Rosi yang datang dari arah belakang menyodorkan segelas teh hangat untuk iparnya. Veln pun membenarkan duduknya dan meraih gelas tersebut, dia meminumnya dengan perlahan.


Entah mengapa setelah rasa pening dan mual tak pernah kembali, selera makannya pun mendadak ikut menghilang. Namun karena Veln ingat ada yang sedang tumbuh didalam perutnya, Veln memaksakan diri untuk minum teh buatan Rosi.


" V, menangislah jika memang kau ingin menangis. Jangan ditahan " Yas mengelus sayang punggung Veln yang sedang menikmati teh nya. " Aku akan meminjamkan pundakku untuk mu " Lanjut Yas kemudian " Veln hanya menanggapi dengan senyum tipisnya, dan melihat senyum Veln membuat Renand membulirkan air matanya semakin merasa tak tega. Namun segera dia seka dengan cepat sebelum orang lain menyadari.


" Tidak apa sayang, ekspresikan sedih mu dengan cara apa pun " Ujar tante Susan dengan membereskan anak rambut dikepala Veln.

__ADS_1


" Ayo menangis saja V, luapkan sedih mu " Yas terlihat gemas dengan ekspresi Veln yang seolah menyembunyikan sedihnya.


" Diamlah, mulut mu berisik sekali. Veln tidak secengeng dirimu " Danis gatal ingin berceloteh.


" Tante, putra mu benar-benar menyebalkan "


" Lihatlah bisa mu hanya mengadu "


" Huh " Yas melengos menunjukan kekesalannya.


" Danis jaga sikap mu " Ujar tante Susan terhadap putranya. " O ya nak Yas dan Rosi, nanti malam jangan tidur dihotel lagi. Sebaiknya tidur dirumah tante aja " Ajak tante Susan ramah.


Yas melirik kearah Danis dan berkata " Terimakasih, tante baik sekali. Tapi maaf Yas tidak bisa, karena Yas tidak mau malam ini nyawa Yas berakhir ditangan anak tante yang kejam itu "


" Kamu " Danis harus menahan emosinya saat papanya, Om Aldo dan kakaknya Denis muncul. Mereka habis menemani beberapa tetangga yang singgah saat usai acara pemakaman.


Begitu juga dengan tim Manja Coffe, mereka pun ikut gabung berkumpul diruang tengah, sehabis membantu membereskan bagian depan rumah dan halaman.


○○○


Malam hari setelah acara pengiriman doa, Mba Del dan Virina mengajak Veln untuk mengobrol.


Selain menceritakan almarhumah yang menderita penyakit mag akut? Delina dan juga Virina meminta maaf atas segala yang pernah mereka lakukan selama ini.


Mereka pun mengatakan bahwa sampai dengan saat ini uang bulanan dari Ray masih mengalir dengan lancar, hebat bukan. Mereka mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikan Veln dan Ray.


" Mbak, sampai dengan saat ini aku minta mba Del dan Virina mulai lah untuk belajar mandiri " Tanpa ragu dan marah mba Del dan Virina mendengarkan perkataan Veln, mereka pun sadar kalau Ray suatu saat nanti bisa saja tiba-tiba menghentikan jatah uang bulanan mereka. Karena sejatinya memang kendali atas kucuran dana yang tiap bulan mereka dapat dengan lancar ada pada diri Ray sepenuhnya. Karena itu, Veln harus cepat dan bergerak mengantisipasi keluarganya sebelum keluarganya mendapatkan imbas dari perlakuan Ray.


" Mba Del mengerti V.. untuk kedepannya mba Del berniat untuk berjualan "


" Aku juga akan mencoba mencari pekerjaan V " Celetuk Virina yang terlihat sudah mulai dekat dengan Mas Rega tersayangnya.


Setelah puas mengobrol mereka memasuki kamar masing-masing.


Malam ini, beruntung sekali Veln ditemani Liyana yang sengaja menginap. Sementara yang lainnya tidur dikamar hotel.


Sebenarnya Rosi dan Yas meminta untuk ikut serta menginap dirumah kecil milik ayah dari Virina, karena mereka ingin menemani Veln melewati masa sedih ini. Namun Veln melarangnya, karena Veln merasa tidak tega jika harus melihat mereka tidur ditempat yang seperti ini. Tempat yang sangat jauh berbeda dengan yang biasa mereka tinggali.


Tok tok tok..


Suara pintu diketuk, dan Liyana membantu untuk membukanya.


Tak lama dari balik pintu kamar Veln masuklah tiga perempuan. Yas, Rosi, dan satunya sudah tentu Liyana.


" Halo kak " Ucap Rosi.


" V, kami memutuskan untuk menginap disini " Terang Yas.


Veln sedikit terkejut dengan keputusan mereka, namun ada sedikit rasa senang atas sikap baik dan perhatian yang ditunjukan mereka terhadap dirinya.


Yas dan Rosi memutuskan untuk kembali dan menginap dirumah paman Veln dengan diantar Sam.


" Tapi, kalian tidak akan nyaman tidur disini " Veln khawatir dengan kenyamanan mereka berdua.


Namun karena mereka kekeh pada keputusannya, akhirnya mereka pun dibiarkan oleh Veln untuk tidur dikamarnya. Dengan gelaran tikar dan karpet seadanya, mereka tidur berbagi tempat. Mereka rela dan siap ketika terbangun nanti harus merasakan sakit diseluruh badannya.


○○○

__ADS_1


Tiga hari berlalu, Veln pun kembali menuju ibu kota dengan terpaksa. Sebenarnya tidak ingin, namun dia tidak mau menjadi beban lagi dikehidupan mba Del dan Virina.


Dia juga tidak yakin dengan Renand dan yang lainnya, mereka pasti akan turut campur dan menentang jika dirinya memutuskan hal itu.


Memutuskan untuk tak kembali dan lebih memilih menetap dikota kelahirannya.


Begitu sampai dikota yang memberikan kenangan manis sekaligus kenangan terpahitnya, Veln memutuskan untuk beristirahat. Sampai ketika menjelang sore, Veln memutuskan untuk memeriksakan kandungannya kembali dengan mengunjungi doktet Adrian lagi.


Disana Veln meyakinkan apakah dirinya memang benar-benar hamil atau tidak? karena belakangan rasa pusing dan mual tanda-tanda ngidamnya mendadak hilang tak dirasakannya lagi.


Sampai pada gilirannya, dia pun masuk dan mulai diperiksa oleh dokter Adrian.


○○○


Dikediaman Ray beberapa hari yang lalu, sehabis tragedi adu jotos itu kondisi tubuh yang dirasa Ray semakin tidak karuan. Aneh dan membingungkan.


Apalagi saat pagi hari, Ray seperti mengalami gejala morning sickness seperti yang biasa sebagian ibu hamil rasakan saat kehamilannya baru memasuki trisemester pertama.


Ray sampai harus ditanjapkan jarum impus dilengannya, karena tidak dapat makan dengan baik akibat pusing dan mual yang dia rasakan.


Selain yang mengandung coklat, dia menolak makanan lainnya. Karena untuk menyentuhnya saja dia sama sekali tidak berselera dan mendadak membuatnya merasa enek dan mual-mual.


○○○


Setelah kondisi kandungannya dipastikan baik-baik saja, Veln tidak langsung pulang karena ada sesuatu yang harus dia beli terlebih dahulu. Itu pun setelah dia puas mengobrol dengan Sasa yang kebetulan ada disana dan sekalian berkenalan dengan ibunya.


Mami Sasa terlihat baik dan friendly, Imelda juga terlihat terbuka terhadap siapa saja. Terbukti dari curhatannya yang diutarakan terhadap Veln atas dilemanya antara Sasa dan bisnisnya yang kadang menimbulkan pertengkaran kecil dengan dokter Adrian akibat keegoisannya.


Veln nampak berjalan ditepian jejeran pertokoan dengan sibuk merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya yang terus berdering tanpa henti.


Braaak..


Karena tidak fokus dengan jalanan, Veln menabrak seseorang hingga menumpahkan sebagian isi tasnya yang terbuka dan terjatuh kebawah.


" Maaf " Veln memohon maaf dan langsung berjongkok untuk memunguti beberapa barang-barangnya yang berserakan diubin pinggiran jalan raya.


Namun saat menyadari orang yang dia tabrak masih terlihat berdiri dihadapannya, Veln langsung mendongak dengan ramah dan mengulang untuk mengucap kata maaf kembali. " Maaf, saya benar-benar tidak sengaja "


Dan senyumnya yang mengembang indah mendadak layu, Veln secepat kilat menarik lengkungan dibibirnya. Perempuan itu pun dengan cekatan kembali memunguti barang-barangnya.Dimasukkan begitu saja kedalam tas, lalu bangkit dengan mengangkat ponselnya yang kembali berdering.


Meninggalkan begitu saja seseorang yang dia tabrak dengan cueknya dan tanpa beban, melupakan tujuannya untuk mampir ketoko kue kemudian lebih memilih untuk cepat berlalu dari tempat itu.


Ray yang masih terpaku ditempatnya, dengan menatapi kepergian Veln dengan taxi yang perempuan itu cegat masih tak bergeming.


Ray yang ditabrak Veln secara tidak sengaja, merasakan sesuatu yang luar biasa saat menyadari perempuan yang tanpa sengaja menabraknya adalah sosok seorang Veln.


Kali ini bahkan mulut pedasnya tak berani terlontar, saat bertemu kembali dengan Veln yang tanpa direncanakan.


Ray malah merasakan sesuatu yang berbeda dibenaknya. Bukan emosi seperti biasanya, bukan pula kebencian yang dia rasakan dan ingin segera diluapkan saat melihat perempuan itu. Namun sesuatu yang lain, sesuatu yang terus mengganggu hati dan pikirannya.


Hingga taxi yang ditumpangi wanitanya menghilang dari jalanan pun, matanya masih terfokus pada arah kepergian roda empat yang dinaiki Veln tersebut.


.


.


.

__ADS_1


Hi.. tunggu part selanjutnya ya, semoga novel ku dapat menghibur kalian. Terimakasih atas segalanya.😙


__ADS_2