Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
Part 4


__ADS_3

Sejenak suasana didalam mobil mendadak sunyi dan senyap. Renand yang fokus dengan kemudinya, dengan Nina yang asik menatapi jalanan dari balik kaca jendela mobil membuat keadaan semakin terasa tenang.


" Kamu ambil cuti? " Nina menoleh mendengar pertanyaan Renand. " Cuti kuliah? " Renand memperjelas maksud pertanyaannya yang sempat membuat bingung Nina.


" Oh.. Iya "


" Kenapa? "


" Aku belum bisa bayar uang semester berikutnya " Fenina tidak habis fikir, sampai urusan kuliahnya saja pria ini begitu tau dan peduli. " Kamu memata-matai aku? "


" Sedikit " Renand tersenyum kikuk.


" Aku tidak habis fikir, seorang Rey yang cakep dan ganteng begini sampai bisa tertarik dan terobsesi sama aku? " Nina menatap dalam kearah Renand.


Renand yang dikatai cakep dan ganteng oleh Nina, langsung salah tingkah. " Ngeliatinnya biasa aja, tidak usah sampai sebegitunya " Renand menyugar rambutnya, seolah sedang menunjukkan kegantengannya. " Harusnya kamu sujud syukur, karena pria setampan aku mau menggilai perempuan aneh seperti kamu "


" Itu sih bukan karena aku aneh, tapi karena aku layak digilai olehmu.. Secara, kurang apa coba? Udah cantik, baik, pintar, seksi lagi " Lalu perempuan itu pun terkekeh, merasa geli dengan ucapannya sendiri.


" Cih, pe de kelas akut " Renand seakan protes atas penafsiran Nina tentang dirinya sendiri. " Kau bisa membatalkan pengajuan cuti kuliahmu.. Kau mengertikan maksud dari ucapanku kan? "


" Tolong, bisa kan untuk tidak terlalu dalam ikut campur dalam masalah pribadi aku? " Nina tidak mau membebankan hidupnya kepada orang lain, terutama terhadap Renand.


Apalagi untuk urusan yang berbau materi, dia ingin mencoba mandiri tidak ingin bergantung pada siapa pun. Terutama Renand, Nina tidak ingin sampai imagenya hancur didepan pria yang disayanginya, terkhusus lagi didepan keluarga besar Renand nanti. Karena sakit bukan kepayang saat seseorang dikatai matre??? Padahal kenyataannya matre dengan realistis dalam hidupkan beda tipis.


" Bisa.. Tapi melambai lah kearahku, jika kau merasa sudah tidak sanggup dan ingin menyerah "


" Emm " Fenina mengangguk pelan, nyatanya Renand yang sedikit pemaksa ternyata punya sisi bijaksana dan manis juga. Mungkin karena caranya yang salah dalam memperlakukan sitampan satu ini, sehingga membuat Renand yang simple berubah jadi ribet. Kali ini dan seterusnya perempuan ini mantap akan lebih bersikap manis dihadapan lelakinya.


•••


Fenina langsung mendelik sinis dan tajam kearah Renand, matanya membulat dengan wajah penuh kesal.


Rasanya ingin dia menarik kembali ucapannya yang barusan, jangan harap dirinya akan bersikap lebih manis. Saat ini justru perempuan ini ingin sekali menghajar Renand dengan sekuat tenaga, meski pun itu hanya mimpi. Karena tenaganya tidak akan mungkin sebanding untuk melakukan itu.


" Ayo turun " Ajak Renand, tanpa merasa bersalah dirinya langsung keluar membuka pintu mobil. " Ayo " Ajak Renand lagi dengan menyembulkan kepalanya dari balik pintu mobil kemudi, karena melihat Nina yang masih tak bergeming dari tempatnya.


Tak kunjung ada pergerakan dari Nina, Renand langsung ambil langkah memutar dan membuka pintu mobil penumpang yang diduduki Nina.


" Ayo, Nin. Turun " Nina mlengos, memalingkan pandang kearah lain. " Jangan memancing sayaaang " Kontan perut Nina merasa mual dan ingin muntah mendengar gombalan Renand.


Nina terlihat menghembuskan nafasnya panjang, perempuan itu mencoba untuk tidak terpancing dengan tingkah seenak jidat pria yang sedang mendenguskan sedikit tubuh dan wajah kearahnya.


" Gimana aku bisa nurut dan bersikap manis padamu? Tadi bilangnya mau ngajak aku kencan, ujung-ujungnya ngacak ribut lagi " Fenina berdecak kesal.


" Aku nggak ngajak kamu ribut, aku kan cuma ngajak kamu turun "


" Rey, kamu sadar tidak? Dengan mendatangi rumah ini, berarti kamu itu sedang menyerahkan diri kekandang singa "


" Jangan berlebihan, aku sudah bilang untuk malam ini cukup nurut dan bersikaplah manis. Ayo turun "

__ADS_1


" Tolong Rey, jangan sekarang. Setidaknya tunggu waktu yang tepat "


" Ini sudah yang paling tepat, ayo "


" Tidak mau " Nina menolak tegas membuat Renand harus sedikit memaksa.


" Cepat " Renand menarik lengan Nina secara paksa, membuat Nina terkesiap dan waspada. Perempuan itu segera meraih handle pegangan tangan alias assist grip dibagian atas kepalanya.


" Lepas " Ronta Nina dengan sedikit memberontak.


" Astaga, kamu batu juga ternyata "


" Justru, kamu lebih batu dari aku "


" Cukup, ayo jangan sampai aku berbuat kasar sama kamu " Renand menarik lengan Nina, dan mencoba melepas genggaman jemari perempuan itu yang masih menyangkut dihandle pegangan tangan.


Buuuuuughhtt..


" Akh.. " Renand meringis saat Nina merasa terancam dengan reflek menendang tubuhnya. " Kamu " Renand mendelik sengit.


" Maaf " Ucap Nina penuh penyesalan dengan mengeratkan kembali telapak tangannya dihandle pegangan tangan sebagai pertahanan.


" Elus dong " Pinta Renand manja. Tanpa penolakan, Nina langsung mengelus bagian pinggang tubuh Renand yang bekas dia tendang dengan sebelah tangannya yang bebas.


" Kamu, nggak capek membungkuk terus seperti itu? " Sebenarnya Nina merasa kasihan pada pria didepannya yang sedari tadi berdiri dengan posisi kurang benar hanya untuk merayu dirinya agar mau turun dari dalam mobil.


" Aku kan sudah bilang, tidak mau. Jadi jangan memaksa! "


" Memangnya kamu tidak kangen dengan mereka? Tidak rindu " Pertanyaan Renand membuat wajah Nina sedikit berubah muram.


Rindu dan kangen jangan ditanya, semua itu sudah menumpuk dan menggunung didadanya. Namun disisi lain lebih baik untuk sementara perempuan itu melindungi pundi-pundi keuangan Renand.


Fenina tidak mau dicap negatife oleh pria yang disayanginya, apalagi oleh keluarganya. Untuk saat ini yang dipikirkannya hanya nama baik dirinya dan keluarganya jangan sampai terlihat buruk dimata Renand dan keluarga besarnya. Karena sesungguhnya, dari hati terdalamnya perempuan itu sangat ingin dan berminat untuk dijadikan istri oleh laki-laki itu. Itu pun jika memang pria itu menginginkannya.


" Tidak " Dusta Nina, yang terlihat kentara.


" Yakin? " Renand lebih mendenguskan tubuhnya kearah perempuan itu.


" Em " Nina mengangguk mantap, mencoba menutupi kebohongannya.


" Berhentilah berdusta, kau itu sungguh tidak pandai berbohong " Ucapan Renand membuat wajah Fenina memerah menahan malu.


" Tolong Rey, jangan sekarang " Kembali, Nina memohon dengan penuh memelas. " Inikah yang kau bilang kencan? Yang jauh dari suasana romantis? Kali ini kita sama.. Sama-sama saling berbohong "


" Yakin? Kau menginginkan kencan romantis? " Renand mendekatkan wajahnya dengan senyum menyeringai kearah Nina, membuat tubuh perempuan itu sedikit menegang.


Reflek, Nina melepaskan tangannya yang sedari tadi bertahan melekat erat diassist grip dan memundurkan tubuhnya karena merasa terancam dengan gerakan Renand.


Fenina semakin waspada, kedua telapaknya kompak menahan dada Renand yang semakin ingin merapat kearahnya.

__ADS_1


Dan hal itu langsung dimanfaatkan dengan baik oleh Renand. Pria itu langsung menangkup kedua pergelangan tangan Fenina, dengan gerakan sedikit memaksa Renand menarik tubuh Nina dari dalam mobil dan dengan cepat menutup pintu mobil dengan menendangnya. Nina yang lengah, akhirnya kalah. Tubuhnya kini sempurna berada diluar mobil.


" Lepas.. Aku bilang lepas " Nina berusaha melawan saat tubuhnya ditarik paksa untuk memasuki pelataran rumahnya sendiri, perempuan itu meronta dengan suara setengah berbisik. Nina tidak ingin sampai ketahuan oleh Ayahnya, bahwa dirinya sekarang telah menghantarkan diri dengan membawa target empuk " Lepas.. akh, sakiiit " Perempuan itu mengaduh saat tangan Renand lebih kuat menarik dan mencengkeram pergelangan tangannya.


Fenina terlihat seperti korban penculikan yang dipaksa masuk keruang persembunyiaan. Raut wajah marah bercampur kesal menguar, karena tidak dapat melawan sosok pria yang berada dihadapannya.


Begitu berada tepat didepan pintu, Nina yang semakin panik dan frustasi segera memutar otak. Tiba-tiba terbersit ide liar untuk menggagalkan keinginan Renand untuk dapat memasuki rumah tersebut. Dengan terpaksa, perempuan itu mengandalkan taringnya. Digigitnya kuat-kuat lengan kokoh Renand.


Tak terduga, pria itu justru mengabaikan kelakuan Fenina. Renand justru tetap pada tujuan awalnya.


Tok tok tok..


Gagal sudah, Fenina menghembuskan nafas kecewa setelah melepaskan mangsanya. Perempuan ini tidak habis pikir terhadap pria dihadapannya, bisa-bisanya Renand menghantarkan diri seperti ikan yang dengan sengaja menghampiri sang pemancing agar menangkapnya.


Ceklek..


Terlihat seorang gadis belia membukakan pintu, dialah Revina adik perempuan Nina.


" Kak, akhirnya.. Kami udah lama nunggu loh " Senyum polos penuh bahagia menyambut kedatangan kakaknya tersungging disudut bibir gadis belia itu. " Masuk, Kak " Vina langsung menarik kakaknya masuk kedalam, dan langsung memeluknya erat. " Vina kanget banget sama Kak Nina "


" Kakak juga kangen berat sama kamu " Nina membalas pelukan erat Vina, lalu selanjutnya mereka saling melerai. " Kenapa kamu nangis dek? " Nina mengusap bulir air mata diujung kelopak adik perempuannya.


" Vina.. Vina kangen suasana hangat keluarga kita yang seperti dulu " Ucapan Vina sukses membuat kelopak mata Nina berkaca-kaca.


Walau bagaimana pun dia juga sama, sama-sama merindukan suasana dulu. Suasana saat Ayah sambungnya belum berubah seperti sekarang.


Tidak apa untuk Nina tinggal bersama Ayah sambungnya, asal Ayah sambungnya kembali seperti dulu. Seperti layaknya seorang bapak yang dapat dijadikan panutan oleh putra-putrinya. Dalam keadaan kondisi ekonomi seperti apapun Nina mau, asal pria tua itu mau berubah. Apalagi dengan adanya keberadaan Revina, yang seharusnya mampu menjadi penguat hubungan kekeluargaan mereka.


" Maafin Kakak ya dek " Vina mengangguk, gadis belia itu pun sebenarnya sangat bingung memikirksn kondisi keluarganya. Dia tidak tau harus menyalahkan siapa? yang jelas dengan kondisi yang seperti ini, membuatnya ikut tertekan dalam menjalani hidupnya.


Mereka berdua terlarut dalam suasana sendu cukup lama, sampai pada akhirnya Vina menyadari keberadaan orang lain yang masih setia berdiri dengan bersandar dikusen pintu sembari memperhatikan mereka berdua.


" Eh, maaf.. Vina, nggak ada maksud buat nyuekin Kak Rey " Vina tersenyum canggung, merasa tidak enak karena sudah mengabaikan calon kakak iparnya.


" Kamu kenal dia? " Nina menatap dua orang itu bergantian penuh tanya.


" Em " Vina mengangguk. " Pacar, Kak Nina kan? " Dengan mantap dan percaya diri Vina mengucapkannya.


" Iya.. Tapi itu dua belas jam yang lalu. Karena Kakak mau minta putus dari dia, sekarang kita sudah mantan " Dengan sengit Nina melontarkan ucapan yang seharusnya sukses membuat Renand marah. " Males banget harus pacaran sama orang yang pemaksa dan bertindak seenak jidat sendiri " Setelah puas dengan ocehannya, Nina bersiap untuk melangkahkan diri masuk lebih dalam keruangan rumahnya. Meninggalkan dua orang yang lainnya.


.


.


.


Hi.. Maaf ya slow up. Luasin tingkat kesabaran reader buat nunggu up selanjutnya.😙


Jangan lupa, baca juga novel kedua author dengan judul Menggoda. Tks.

__ADS_1


__ADS_2