Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
70. Keanehan


__ADS_3

Bu Ani langsung menghampiri majikannya yang sudah terkulai tak berdaya diatas lantai.


Bu Ani mulai panik setengah mati saat menepuk-nepuk pelan pipi putih mulus nona mudanya namun tak kunjung mendapatkan respon.


" Non, non " Bu Ani kebingungan, tidak berdaya untuk memindahkan nonanya kesofa apalagi kedalam kamar tidurnya. Akhirnya bu Ani mengambil tindakan kedua, cepat berlari menuju kamarnya untuk mengambil minyak angin atau apapun yang dapat membuat majikannya sadar.


Bu Ani kembali menuju tempat dimana Veln pingsan tak sadarkan diri. Bu ani membaui ujung hidung Veln dengan minyak kayu putih, berharap aroma minyak kayu putih tersebut dapat merangsang mata majikannya agar terbuka.


Perlahan, Veln mengerjapkan mata dan membukanya.


" Syukurlah, akhirnya non sadar " Veln terlihat lemas dan tak bergairah, wajah yang berubah pucat dengan matanya yang sayu membuat bu Ani iba melihat majikannya. " Mari non, ibu bantu " Bu Ani mengulurkan tangannya, membantu Veln untuk bangun.


" Saya mau rebahan disitu bu " Dengan berjalan dipapah bu Ani, Veln menunjuk sofa panjang untuk dirinya beristirahat.


" Non kayaknya sakit deh? "


" Nggak tau bu. Tiba-tiba aja kepala aku pening, perutnya agak mual-mual sama bawaannya kok kaya lemes gitu. Mungkin masuk angin " Veln merebahkan tubuhnya diatas sofa, dengan mencari posisi ternyaman.


" Apa tidak sebaiknya nona periksa ke dokter aja? "


" Bu Ani khawatir ya, takut saya pingsan lagi? "


Bu Ani mengangguk membenarkan, bu Ani tidak mau kejadian barusan sampai terulang lagi. Apalagi disini nona mudanya hanya tinggal berdua saja dengan dirinya, karena itu untuk memastikan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bu Ani menyarankan untuk membawa nonanya kedokter.


" Nanti anter ya bu, tapi nunggu pening dikepala saya agak mendingan "


" Iya non, saya buatin teh anget ya? "


" Boleh, udah makan banyak tapi kok bawaannya lemes aja ya? roti kandas, nasi goreng abis, sekarang teh manis mau diembat juga " Veln terkekeh sendiri mengingat nafsu makannya yang berlebih.


Bu Ani hanya menyungging senyum mendengar gumaman majikannya.


○○○


Ray bangun dan bergegas menuju kamar mandi.


Hoek hoek hoek..


Ray berusaha mengeluarkan rasa mual yang melanda perutnya secara tiba-tiba. Ray harus cukup puas ketika hanya mampu mengeluarkan sedikit cairan kekuningan dari mulutnya.


Dia merasa bingung dengan keadaan tubuhnya pagi ini. Ray memijat pelipisnya dengan jari untuk menghilangkan rasa pening dikepala.


Setelah dirasa baikan, dia mencuci wajahnya dan segera turun untuk memenuhi keinginannya yang sedari semalam sudah dia tahan-tahan.


" Bi " Bi Ana sedikit terperanjat kaget, mendapati tuannya yang turun sepagi ini masih dengan menggunakan piyamanya dan langsung menuju meja makan.


" Kayaknya aku masuk angin " Ray menghempaskan tubuhnya disalah satu kursi meja makan.


" Mau bibi buatkan teh jahe anget? " Tawar bi Ana sopan.


" Tidak, aku mau coklat anget sama cake coklat yang biasa V makan "


Bi Ana pun segera mempersiapkan keinginan tuan mudanya.


Ray duduk santai dengan bersandar dipunggung kursi, setia menunggu orderannya dihidangkan dengan sesekali menahan muntah karena rasa mual diperutnya.


Hoek hoek hoek..


Ray menyeka keringat dingin dikeningnya dengan memperhatikan seorang pelayan yang menaruh secangkir coklat hangat dan cake coklat yang dibuat semalam.


Ray meminum, minumannya dan tangannya bersiap menyuapkan cake coklat kemulutnya dengan menggunakan garpu.


" Lumayan " Dengan merasai kue yang berada didalam mulutnya, bi Ana yang sedikit was-was akhirnya merasa lega karena kue yang harus dibuat dengan lembur sesuai dengan ekspektasi majikannya. " Pantas, V begitu menyukai semua yang mengandung coklat " Bi Ana tersenyum " Tapi sejujurnya lebih enak cake coklat yang biasa V makan " Dengan tanpa sadar V, V dan V selalu dielu-elukan bibir Ray.


○○○


Veln sudah rapih dengan pakaiannya, begitu juga dengan bu Ani. Mereka bersiap untuk pergi kedokter. Veln yang masih sedikit pucat dan lemas berjalan pelan dengan dituntun bu Ani.


Sesampainya ditempat praktek dokter umum, Veln dan bu Ani harus rela sedikit mengantri menunggu giliran untuk diperiksa setelah sebelumnya melakukan pendaftaran.


Selang berapa lama namanya dipanggil, Veln pun masuk diikuti oleh bu Ani.


Atas perintah dokter, Veln merebahkan tubuhnya dan segera diperiksa oleh dokter perempuan itu.

__ADS_1


Dokter perempuan itu memberikan beberapa pertanyaan umum, seperti menanyakan keluhan apa yang sedang dirasakan Veln. Dan pertanyaan ibu dokter tersebut berakhir dengan menanyakan apakah dirinya sudah menikah atau belum, dan kapan terakhir kali mendapatkan tamu bulanan.


" Selamat bu, sepertinya ibu hamil " Ibu dokter tersebut mengucapkan ucapan selamat dengan wajah bahagia, sementara Veln yang mendengar itu matanya membola tanpa ekspresi.


Begitu tersadar Veln mendongakkan wajahnya kearah bu Ani, seolah meminta kekuatan dari perempuan paroh baya itu. Bu Ani tersenyum, dan beruntunglah senyum bu Ani dapat sedikit menenangkan hati Veln.


" Sudah berapa bulan usia kandungan saya dok? " Suara Veln terdengar lirih. Dokter wanita itu pun memperkirakan usia kandungan Veln yang berpatokan dari terakhir kali Veln mendapatkan tamu bulanan.


" Untuk lebih jelasnya, sebaiknya bu Veln secepatnya memeriksakan diri kedokter spesialis kandungan " Dokter umum itu memberikan saran terbaiknya.


Veln pun mengangguk setuju, setelah semuanya selesai mereka pun pulang menuju apartemen.


" Bu, nanti sore antar saya ya kedokter kandungan " Bu Ani mengangguk. " Saya mau tiduran, lemes banget rasanya "


Veln pun segera masuk kedalam kamarnya, dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Tak terasa bulir air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Entah itu tangis bahagia atau duka, rasa-rasanya Veln sendiri pun bingung menghadapi hidupnya yang rumit.


Dia mengelus perutnya yang masih rata dengan tangannya, mencoba mencari kekuatan dari dalam perutnya yang akan menjelma menjadi sesosok bayi mungil.


Setidaknya untuk sementara Veln tidak perlu melakukan tindakan apapun, sampai benar-benar dipastikan akan ada sebuah nyawa didalam perutnya.


○○○


Siang hari terlihat Ray duduk dikursi belakang mobil dengan memangku laptopnya. Dengan Sam yang fokus pada kemudinya. Mereka baru saja melakukan pertemuan dengan kliennya, dan hendak kembali menuju kantor.


Hoek.. tiba-tiba perutnya mual, membuat perhatian Sam kearah jalanan teralihkan.


" Anda sepertinya kurang sehat tuan? "


" Hanya masuk angin " Ray memejamkan matanya dan memijit ringan pelipisnya.


Untung saja saat rapat tadi anda baik-baik saja.


Sam membatin, merasa bersyukur. Kemudian kembali fokus dengan jalanan.


" Sam, hentikan mobilnya didepan sana " Perintah Ray dengan memutar kepalanya kearah belakang kaca mobil, seolah melihat sesuatu yang sedang diinginkan.


Sam pun memarkirkan roda empat yang dikendarainya diparkiran sebuah cafe, sesuai perintah tuannya.


" Anda mau ngopi didalam? atau dibungkus dibawa kekantor tuan? " Sam fikir, tuan mudanya sedang menginginkan ngopi-ngopi ganteng.


Sam sedikit tidak percaya " Maaf tuan "


" Belikan aku rujak buah yang disana "


" Baik tuan " Setelah memastikan pendengarannya Sam pun segera melaksanakan tugasnya.


" Tunggu " Ray menghentikan langkah Sam dengan merendahkan kaca jendela mobilnya. " Saya juga mau jajanan yang menggunakan tusuk, yang V biasa makan. Entah apa namanya? saya lupa. Belikan itu juga " Sam mengangguk saja biar cepat, tanpa Ray tau dengan Sam yang kebingungan dan merasa aneh terhadap dirinya.


Ray nampak cengengesan tidak jelas saat mendapati Sam yang berjalan mendekatinya dengan menenteng dua kantong kresek kecil.


Ray langsung membuka kotak rujak buahnya dan langsung memasukkan beberapa suap kedalam mulutnya. Ya ampun, rasanya benar-benar seperti menemukan air saat merasa haus ketika berada digurun pasir.


Ray langsung membuka kresek hitam yang satunya, dan berdecak kesal.


" Ck, apa ini " Sam yang sudah bersiap melajukan mobilnya terpaksa menahannya.


" Itu sempol tuan, ada tusuknya sesuai permintaan tuan "


" Bukan ini yang aku maksud, ayo belikan lagi.. "


" Baik tuan " Sam pun mematikan kembali mesin mobilnya. " Maaf tuan bisa lebih jelas spesifikasinya? saya merasa agak kesulitan untuk hal yang satu ini "


" Tentu, ada tusuknya dan yang biasa V makan. V juga biasa makan ini juga, tapi kali ini aku lebih menginginkan yang satunya. Ayolah Sam sejak kapan kau menjadi kurang pandai seperti ini, urusan segampang ini kenapa kau jadi lemot begini? "


" Baik tuan, sekarang saya sudah mengerti " Sam hanya bisa mengelus dadanya, mendapati kelakuan aneh tuannya sedari tadi pagi.


Ayolah tuan, anda pikir saya dukun? paranormal? atau sejenisnya?! dengan clue yang sepelit itu sungguh membuat pusing kepalaku. Apa itu yang ada tusuknya dan biasa nona muda makan?!!


Sam membatin, menggeleng-gelengkan kepalanya sembari berjalan menuju tukang gerobak yang berjejer disana.


Sementara menunggu Sam, Ray memakan rujaknya dan mencicipi sempol yang tadinya dia letakkan begitu saja.


" Enak juga, pantas perempuan itu begitu menggemari jajanan beginian "

__ADS_1


Begitu sempol dan rujak buahnya kandas, Sam kembali dengan beberapa kresek hitam kecil ditangannya.


" Silakan tuan " Sam mengulurkan jajanan dari pintu mobil yang kacanya terbuka.


" Kau tetap disitu, sampai aku memastikan kau sudah mendapatkan jajanan yang saya mau " Ray menghentikan langkah Sam yang hendak menuju kemudi.


" Baik tuan "


" Apa ini? " Ray mengernyit.


" Itu darlung tuan, alias dadar gulung " Dengan menahan senyum melihat tingkah aneh tuannya, Sam menjawab pertanyaan Ray.


" Enak, rasanya seperti telur " Ya ampun, Sam sedikit ingin memukul kepala bosnya yang sepertinya sedang eror. Jelas namanya DADAR gulung, tidak heranlah kalau rasanya seperti telur.


" V juga biasa membeli ini, saat kita berjalan-jalan ditaman kota " Sam tersenyum dan mengangguk memberi tanda bahwa dirinya merespon ucapan tuannya.


" Ini baso? "


" Iya tuan baso bakar "


" Apa-apaan ini? kenapa kau membeli sosis yang ditusuk begini? kau pikir aku tidak tau apa ini namanya? " Ray terlihat kesal.


" Maaf tuan " Ray pun membuka kantong kresek yang lainnya.


" Ini apa? coba jelaskan? " Ray terlihat geram.


" Itu sate tuan "


" Saya tau, saya kan tidak bilang ingin dibelikan sate, baso tusuk dan sosis. Dari semua yang kamu beli sebanyak ini tidak ada makanan yang saya inginkan " Ray menghembuskan nafasnya kesal. " Saya mau yang seperti biasa V makan " Tegas Ray. " Ayo lah Sam, carikan lagi "


" Maaf tuan, semua jajanan dengan menggunakan tusuk yang berjejer disana sudah saya borong semua "


" Benarkah? "


" Benar tuan "


" Kalau begitu terpaksa kita harus ke jalan xx "


" Maaf, untuk apa tuan? "


" Untuk membeli jajanan yang saya inginkan, karena waktu itu V juga sering membelinya disana "


Sam pun langsung tancap gas menuju jalan yang dimaksud tuannya, sementara Ray sibuk mencicipi jajanan yang Sam beli barusan.


" Benar ini tuan? " Sam menunjuk dari dalam mobil sebuah gerobak berwarna merah setelah sampai menuju jalan yang dimaksud.


" Iya, benar " Sam pun turun dan segera membeli makanan yang dimaksud tuannya.


" Ck " Sam berdecak kesal. " Pasti salah lagi. Tuhan, kapan misi ini berakhir " Keluh Sam dalam hati saat mendapati makanan yang menurutnya seperti bukan sesuai keinginan tuannya. Karena makanan tersebut tidak tersaji dengan menggunakan tusukan.


Sam pun kembali menuju mobil, duduk dibelakang kemudinya dan sedikit memutar badan untuk menyerahkan satu kantong kresek kecil ketangan tuannya.


" Sepertinya kita harus mencari kembali jajanan yang anda maksud "


" Kenapa? " Ray melongokkan wajahnya kedalam kantong kresek, matanya berbinar diiringi senyumnya yang mengembang. Menusuk bola bulat itu dan memasukkan kedalam mulutnya. " Kau mau mencobanya Sam ini enak sekali " Ray menyuapkan satu kemulut Sam yang masih dalam posisi menengok. " Apa namanya tadi? "


" Olos tuan "


" Hem olos, ini yang sedari tadi membuat kepala ku pening " Sam semakin tidak mengerti lagi dengan tingkah bosnya. " Kau mau lagi? " Tawar Ray.


" Boleh " Sepertinya lidah Sam pun merasakan enak terhadap camilan tersebut.


" Beli sendiri sana, aku tidak mau berbagi lagi dengan mu "


Jiahahahaaaa.. Sam geleng kepala, tapi setidaknya hatinya merasa tenang karena misinya telah terselesaikan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2