Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
89. Ibu Kota


__ADS_3

Keesokan harinya, tiga jam kemudian Ray yang pergi meninggalkan Florist Sa kini kembali dengan sopir dan kendaraan roda empat yang biasa digunakan untuk keperluan fasilitas hotel miliknya.


" V, kalian sudah siap? " Begitu Ray masuk keruang depan rumah yang ditinggali anak dan istrinya, dan mendapati mereka berdua nampak rapih dan sudah bersiap.


" Iya " Entahlah, hanya kata itu yang menurut Veln pas digunakan sebagai jawaban atas pertanyaan Ray.


" Ayo boy " Ray merentangkan tangannya, memberi kode pada putranya untuk bersiap digendong. Dalam hitungan menit tubuh mungil itu sudah berada didekapan Ayahnya. " Kita pulang sama-sama " Sebelah tangan Ray yang menganggur menyambar travel bag diatas lantai milik istrinya. " Emm.. maksud ku, kita sama-sama menuju ibu kota " Dengan ekor mata melirik kearah Veln.


Ada sedikit rasa tidak enak dihati perempuan satu anak itu. " Maaf, aku lupa memberitahukan mu " Veln mengekor mengikuti Ray menuju keluar rumah.


" Tidak apa, lagi pula tanpa kau memberitahukan pun akan ada seseorang yang mewakilkannya memberi tau semua aktifitas mu padaku "


" Kau memata-matai ku? "


" Bukan aku yang mematai mu, tapi Sam "


" Mengakulah Ray, sungguh aku tidak akan marah "


" Mana bisa aku mengakui perbuatan yang tidak aku lakukan " Protes Ray tanpa merasa bersalah.


" Ok. Sepertinya saking sayang dan tambah cintanya sama aku, sekertaris Sam sampai rela dan bersedia mengawasi ku "


" Tidak ada yang bisa menandingi besaran rasa sayang dan cintaku padamu " Protes Ray lagi yang hanya ditanggapi senyum dan gelengan kepala perempuan itu.


" Papi juga ikut Ley dan Mami untuk melihat adik bayi? " Celoteh Ley yang terlihat nyaman dalam gendongan Ray. Hari ini memang Veln hendak melakukan penerbangan keibu kota, seperti yang Ley katakan.. mereka hendak menengok adik bayi dari Sasa, alias anak kedua dari dokter Adrian dan Imelda.


" Bukan ikut, justru Papi sekalian membawa pulang kalian kerumah " Jawab Ray enteng yang langsung mendapat lirikan dari Veln.


" Pulang? " Terlihat wajah gemas membingungkan bocah laki-laki tersebut.


" Hemm, kerumah Papi " Ray melirik Veln dan mengembangkan senyum menyeringainya.


Ray memberikan travel bag istrinya ke sang sopir, lalu Ray berbalik menghadap Riris dan tiga orang pegawai Florist Sa yang sudah sedari tadi berkumpul dihalaman.


" Tolong jaga tempat ini dengan baik, sampai pemilik yang lama kembali " Ucap Ray. " Dan untuk Riris nanti ada penawaran baru, tunggu sampai pemilik tempat ini kembali "


Lalu mereka pun saling melambaikan tangan seolah sedang memberikan salam perpisahan.


" Ray, kau merencanakan sesuatu? " Saat ini mereka sudah berada didalam mobil, duduk bersisian dengan Ley berada dipangkuan Ayahnya.


" Hemm, aku sudah tidak sabar dan tidak tahan lagi menunggu mulut mu untuk meminta sendiri dibawa pulang kerumah oleh ku " Ray menggeser tubuhnya lebih dekat kearah Veln, Ray memelorotkan sedikit pantatnya.. lalu dia menyandarkan diri dibahu Veln dan lebih mengeratkan pangkuan Ley. " Maka dari itu aku berinisiatif dan lebih memilih bergerak cepat.. tidak apalah kalau aku harus menurunkan gengsi ku sedikit demi dapat membawa kalian pulang "


Veln menoleh kearah Ray, tak lupa senyum hangatnya dia sunggingkan diujung bibir " Selesaikan pekerjaan mu, jangan hanya karena kami kau meninggalkan semua urusan mu. Aku janji, dengan membawa Ley.. aku akan dengan senang hati menyerahkan diri dan mendatangi rumah mu " Senyum bahagia Ray mengembang sempurna dengan mata menatap kearah tangannya sendiri yang sedang mengelus kepala putranya yang sedang sibuk memainkan robot-robotan miliknya.


" Sebenarnya aku sudah harus kembali dua hari yang lalu, tapi saat aku mendengar hari ini kau mau melakukan penerbangan keibu kota jadi aku putuskan untuk pulang bersama kalian "


" Darimana kau? emm, bukan.. Sam, darimana sekertaris Sam tau kalau aku dan Ley hendak menuju ibu kota? " Veln menatap takjub atas keberhasilan tangan kanan suaminya dalam segala hal, terkecuali dalam menemukan tempat persembunyiannya selama tiga tahun ini.


" Dari jadwal boking hotel mu "


Mulut perempuan itu membulat melongo. " Bagaimana menurut mu Ray? apa aku harus menuntut mereka? mungkin aku akan mendapatkan banyak uang dari hotel tempat ku menginap, aku akan meminta ganti rugi yang banyak karena mereka sudah berani membocorkan informasi tentang pelanggannya " Dengan wajah meyakinkan seolah perempuan itu benar-benar akan menuntutnya.

__ADS_1


" Papi, tau tidak kenapa robot yang ini tidak bisa bergerak sendiri? " Tiba-tiba Ley mencela obrolan mereka.


" Mungkin, karena robot mu sudah mati.. jangan lakukan itu V " Ray sigap langsung menjawab pertanyaan anak dan istrinya dengan mengangkat kepalanya dari bahu Veln.


" Mati? jadi.. "


" Harus dikubur didalam tanah boy " Jawab Ray asal namun masih masuk diakal.


" Kenapa tidak boleh? kemenangan begitu terlihat didepan mata "


" Itu akan sangat mema_ "


" Seperti pohon? dia akan tumbuh? " Ley menoleh kearah Ray memotong ucapan Papinya untuk memastikan, dan tanpa pikir panjang Ray langsung menganggukkan kepalanya.


" Sangat apa? aku akan tetap melakukannya.. aku tidak mau melepaskan lembaran uang itu begitu saja " Sepertinya perempuan itu sedang menguji kesabaran suaminya.


" Yey, Papi.. berarti Ley akan memiliki pohon robot-robotan? "


" Diamlah dulu boy " Ray membekap mulut mungil putranya, dan spontan membuat mulut Ley itu tak dapat mengeluarkan suara. " Akan sangat memalukan jika kau sampai melakukan itu " Veln terkekeh melihat kepanikan Ray yang tak beralasan, karena sesungguhnya perempuan itu tidak ada niatan sama sekali untuk melakukan hal itu.


Sementara Ray, pikirannya sudah melayang jauh.. kalau V nya sampai benar-benar mengajukan tuntutan ini akan sangat benar-benar memalukan. Bisa dibayangkan diberbagai head line media masa akan terpampang berita tentang seorang istri yang menggugat hotel milik suaminya sendiri.


Karena sangat kebetulan dengan sengaja Veln memilih RV hotel sebagai tempatnya menginap saat diibu kota, mengikuti kebiasaan Ray yang selalu membawanya ketempat itu saat harus bermalam dihotel. Tentu tanpa dirinya sadari tentang siapa pemilik dari hotel tersebut.


" Hmmmmp hmmmp hmmp " Ley meronta dengan suara yang tertahan akibat telapak tangan Papinya.


" Lepas Ray, kau menyakiti Ley " Veln menepis telapak tangan besar milik Ray dari mulut putranya.


" Maafkan Papi, boy " Ray membalik tubuh putranya, dan menciumi wajah imut anak itu.


" Memang benar seperti itu adanya sayaang " Veln tersenyum menyeringai kearah Ray, seolah memberitahu bahwa perempuan itu tidak akan ikut bertanggung jawab atas pernyataan asal yang dilakulan Ray terhadap putranya.


" Tapi, Papi bilang dia tidak bisa bergerak karena robot ini mati dan harus dikubur? apa orang-orang yang lebih gede dari Ley seperti Mami dan Papi memang sangat suka berbohong? "


" Maaf boy, Papi memang salah.. tapi Papi tidak berbohong, tadi Papi hanya asal menjawab saja " Ray mencium puncak kepala putranya yang masih terlihat bingung diraut wajahnya. " Yang dikatakan Mami mu juga benar. Jadi tidak ada yang berbohong disini, karena memang berbohong itu tidak boleh " Terang Ray yang membuat bocah itu menganggukan kepalanya meski masih dalam kebingungan.


" Ray, kuharap kau harus lebih berhati-hati saat berbicara dengan Ley "


" Kau sendiri? apa itu? dengan teganya mengatakan pada jagoanku kalau aku bekerja dimatahari? menggelikan sekali "


" I_ itu.. demi untuk menenangkan Ley yang terus-terusan menanyakan Papinya, jadi terpaksa aku melakukan beberapa kebohongan " Veln menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Itu bukan alasan, yang benar itu ketika seorang anak merindukan Ayahnya seharusnya yang kau lakukan mempertemukan kami "


" Memang seharusnya begitu, tapi aku takut.. "


" Takut aku memarahimu, hem? " Ray mendenguskan wajahnya kearah Veln. " Karena kau sudah berani menculik putraku? " Veln tersenyum, mengedipkan matanya dan mengangguk membenarkan.. membuat Ray memandang gemas kearahnya. " Untung saja aku begitu cinta mati terhadap mu, sehingga kau bisa selamat " Veln tertawa, merasa geli dengan pernyataan cinta suaminya.


" Emm, katakan rencana apa yang sudah kau buat untuk keberlangsungan Florist Sa? " Veln menatap Ray yang kembali menyandarkan kepalanya dibahu miliknya. " Lalu bagaimana dengan nasib Riris? "


" Dokter Adrian dan istrinya sepakat akan pindah kesini? "

__ADS_1


" Benarkah? apa tidak masalah untuk dokter Adrian? "


" Tidak, dokter Adrian menyadari akan keegoisannya, yang dengan tanpa berunding terlebih dahulu dengan Maminya Sasa langsung memilih menetap diibu kota setelah menikahi istrinya. Dan beruntung tiga tahun yang lalu mereka bertemu bidadariku, membuat istri dari dokter Adrian memiliki kesempatan untuk membuktikan pada suaminya.. bahwa dirinya begitu sangat menyayangi keluarga kecilnya. Dari situ akhirnya dokter Adrian pun mengerti dan menyadari.. bukan karena Mami Sasa yang tidak becus menjadi ibu rumah tangga tapi juga karena kurangnya pengertian dan komunikasi diantara mereka "


" Lalu bagaimana nasib Riris? "


" Aku berencana membawanya, tapi pengasuh Ley menolak, dia tidak mau kalau harus berjauhan dengan keluarganya. Akhirnya istri dokter Adrian yang akan mengambil alih Riris untuk membantunya mengasuh Sasa dan adiknya "


" Mbak Ris tidak ikut pulang kerumah Papi? " Cletuk Ley, merasa tertarik saat mendengar nama pengasuhnya.


" Iya sayang "


" Kenapa? "


" Karena Mbak Ris harus menjaga adik bayi kak Sasa nantinya " Terang Veln lembut.


" O.. tapi kalau Mami sibuk nanti Ley ditemani siapa? "


" Kan ada Papi, boy "


" Kalau Papi sibuk? " Cletuk Veln dengan sengaja seolah mengingatkan Ray ketika diibu kota nanti bukannya Ray lah yang akan menjadi orang tersibuk nomor satu. Berbeda dengan dirinya yang akan jadi pengangguran saat kembali pulang kerumah suaminya, kegiatan merangkai bunga pun hanya akan menjadi kenangan.


" Ayo mikir V, bantu aku untuk menjawab pertanyaan mu " Ray seolah terdesak akan tatapan putranya yang meminta jawaban, karena dirinya sadar sesadar-sadarnya saat sudah mulai bergelut dengan pekerjaannya mungkin akan sangat sulit dapat menghabiskan banyak waktu dengan putranya dan itu membuat mulut Veln mengeluarkan tawa kecilnya.


" Rumah Papi ramai.. Ley juga bisa bermain dengan Nenek, Tante Rosi, dan Om Rey saat mereka berkunjung "


" Benarkah? " Mata Ley berbinar senang seperti sedang membayangkan betapa ramainya saat berkumpul dengan orang-orang yang disebutkan Maminya.


○○○


Beberapa jam kemudian Ray keluar dari bandara ibu kota bersama keluarga kecilnya dan terlihat disambut oleh sekertaris Sam. Seperti biasa sekertaris Sam menganggukkan kepalanya sopan.


" Senang bisa bertemu kembali dengan anda, Nyonya " Veln melempar senyum manisnya untuk sekertaris Sam.


" Ayo Sam, secepatnya kita harus mengantarkan Nyonya mu ketempatnya.. karena putraku terlihat kelelahan "


" Kita menuju hotel? atau rumah? " Sam tidak ingin bingung sendiri mengartikan arti dari ucapan tuannya, jadi lebih baik memastikannya langsung.


" Tanyakan sendiri pada Nyonya mu, biar V ku yang menentukan.. aku tidak mau membuat Ibu dari anakku merasa terpaksa " Ray berlalu begitu saja menuju mobil meninggalkan Sam dan Veln dengan Ley yang masih dalam gendongannya.


" Aku serahkan tujuan ku padamu, sekertaris Sam " Veln pun ikut berlalu, segera menyusul Ray dan putranya meninggalkan sekertaris Sam dengan terkekeh. Merasa sedikit puas dapat mengerjai sekertaris suaminya.


Sekertaris Sam tertegun sejenak, menimbang-nimbang tempat tujuan mana yang terbaik yang harus dirinya datangi bersama mereka, yang seperti dengan sengaja membuatnya berada dalam situasi yang dilema.


.


.


.


.

__ADS_1


Hallo.. Mohon doa terbaiknya dari para readers, daerah tempat tinggal author lagi berduka.. tetangga jauh author lagi benar-benar diuji, mereka diperkirakan terpapar covid-19.


Berdoa dan saling mendoakan, semoga yang terbaik yang didapat dari kejadian ini, amin.


__ADS_2