
Veln duduk tenang didalam mobil yang melaju membelah jalanan dengan kecepatan sedang menuju rumah yang dikemudikan oleh pak Yan. Ya pak Yanlah yang menjemput mereka dibandara, tapi hati dan pikiran Veln berlarian kemana-mana. Banyak hal yang dipikirkannya saat ini, dan ada satu hal yang membuatnya semangat yaitu akan dapat bertemu Nenek Lusiana. Nenek yang memberikan kesan baik dan ramah saat pertama mereka bertemu.
Setidaknya setelah sampai dikediaman Ray, aku memiliki teman mengobrol disana.. jadi sekalipun didiamkan oleh tuan muda ini aku tidak akan bingung harus melakukan apa.
Veln membatin dengan tersenyum sendiri, membuat Ray yang sedari tadi memperhatikan menggeleng-gelengkan kepala dan membuat senyum tipis diujung bibirnya.
○○○
Sampai pada sebuah gerbang yang tinggi besar, Pak Yan membelokkan kendaraan roda empat yang dikendarainya. Melewati pepohonan yang begitu rindang dan diselingi taman-taman yang nyaman dipandang mata. Sepanjang perjalanan tadi Veln hanya diam tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Tidaklah sulit untuk seorang Veln mengunci mulutnya karena pada dasarnya dia itu pendiam dan pemalu, jadi pertanyaan-pertanyaan yang cerewet yang biasa dilemparkan untuk Ray sebagai bentuk rasa penasarannya tak terdengar sama sekali sedari angkat kaki dari presidential suite room hotel
Veln masih sibuk mangagumi pelataran rumah Ray yang seluas lapangan bola. Ah tidak, mungkin lebih luas dari itu.. Bahkan untuk masuk dari gerbang depan menuju rumah saja mungkin akan membuat kaki-kakinya pegal jika dilakukan tanpa menggunakan kendaraan.
Pak Yan membantu membukakan pintu mobil untuk Ray agar bisa keluar, sementara Veln dibantu oleh sekertaris Sam dibukakan pintu mobilnya. Veln mengekori Ray dari belakang sembari matanya tak henti-hentinya dibikin takjub.. bangunan rumah ini terlihat besar, kokoh, megah dan mewah. Bahkan dipintu utama terlihat para pelayan yang sedang berjejer seperti sedang menyambut kedatangan tuannya.
Sebenarnya didalam benaknya sekarang dia benar-benar mengagumi kediaman Ray dari semenjak awal memasuki pintu gerbang, namun ekspresinya masih bisa Veln kendalikan untuk tidak katro dan ndeso.
Sampai pada akhirnya Veln tidak menyadari langkah Ray yang terhenti dan berbalik..
Bruuugh..
Veln menabrak dada bidang Ray, yang membuatnya terkaget sendiri. Untung kakinya masih bisa bertumpu dengan benar diatas lantai.
" Berjalanlah dengan benar dan gunakan matamu untuk melihat " Suara Ray begitu dingin terdengar ditelinga.
" Maaf.." Hanya itu yang bisa diucapkan Veln.
" Sam, pulanglah. Kau pasti lelah. Beristirahatlah, untuk hari ini kita santai dulu " Ray memerintah dengan mengganti sepatunya dengan sandal yang tentu saja dibantu oleh seorang pelayan laki-laki yang sudah cukup paroh baya dan dua orang pelayan wanita yang masih sangat muda. Tanpa pembangkangan Sam pun undur diri pulang meninggalkan tempat yang masih asing dimata Veln.
" Silakan Nona " Seorang pelayan wanita dan usianya pun sudah cukup paroh baya dengan Lala dan Lili mempersilakan Veln untuk mengganti sepatunya dengan sandal.
Veln pun mengganti alas kakinya dengan sandal rumahan yang sudah disediakan oleh mereka dengan mata menatap punggung tegap Ray yang berjalan masuk meninggalkan Veln.
" Terima kasih " Ucap Veln lembut dengan menyunggingkan sedikit senyum diwajahnya.
Ray terlihat berjalan berbalik dan berhenti diambang pintu.
" Dia Bibi Stela, kepala pelayan perempuan dirumah ini. Bibi stela yang akan mengurusi semua keperluan dan kebutuhan mu dirumah ini " Veln mengulum senyum kearah Bibi Stela setelah kepergian Ray.
" Selamat datang dirumah ini Nona " Sambut Bibi stela dengan senyum ramahnya.
" Ini Pak Dima, kepala pelayan laki-laki yang khusus menyiapkan keperluan dan kebutuhan tuan muda " Bibi menunjuk seorang laki-laki paroh baya yang berdiri disebelahnya, lalu kembali memperkenalkan satu persatu setiap orang yang berada disitu.
Veln digiring masuk oleh Bibi Stela sementara para pelayan lainnya dibubarkan kecuali sikembar yang masih mengikuti Veln dan Bibi Stela, matanya hampir terbelalak menatap pemandangan didalam rumah yang begitu mewah bak istana dalam dongeng namun untung masih bisa dikondisikan ekspresinya.
" Bibi, kenapa nenek atau yang lainnya tidak menyambut kedatangan ku? " Tanya Veln dengan begitu menunggu jawaban dari perempuan paro baya tersebut.
" Maksudnya Nyonya besar? " Bibi Stela mempertegas pertanyaan Veln.
" Hemm.. Nenek Lusiana " Veln mengangguk membenarkan dan memandang sendu kearah Bibi Stela.
" Nyonya besar tidak tinggal disini Nona, tapi tinggal dirumah utama " Bibi Stela menjawab dengan telaten dan sopan.
__ADS_1
" Dulu yang tinggal dirumah ini hanya tuan muda Ray saja, tapi sekarang bertambah satu penghuni yaitu Nona " Veln sedikit terkejut mendengar jawaban dari Bibi Stela.. rumah sebesar ini yang muat satu rw hanya dihuni oleh satu orang?!!
○○○
Seekor kucing ras anggora berwarna putih keabu-abuan tiba-tiba muncul dan menghampiri Veln.
" Ini sweety, peliharaan tuan muda " Bibi Stela seolah memahami sorot mata Veln yang penuh tanya.
Sweety mengitari Veln dan berhenti disalah satu kaki Veln, dia mengelus-eluskan bulu-bulu halus lebatnya dikaki Veln yang membuat Veln berjongkok dan mengusap kepala sweety lembut.
Ternyata tuan muda ini memiliki jiwa pri kebinatangan juga rupanya.
Veln membatin dengan tersenyum sendiri.
Kini sweety dalam dekapan Veln manja, namun tak berapa lama dia meloncat dan pergi meninggalkan ruangan itu.
" Bi, aku akan kekamar.. dan terimakasih atas penyambutannya " Veln pamit dan bergegas menaiki tangga.
Sebenarnya Bibi Stela menawarkan diri untuk mengantar Veln menuju kamar, namun karena tidak mau merepotkan Veln menolaknya. Alhasil setelah sampai dilantai dua Veln kebingungan.. Dia sibuk menekuri tiap lorong yang berjejer pintu ruangan, bingung harus lurus atau berbelok. Berputar-putar tidak karuan.
Ah.. kenapa aku tadi menolak tawaran Bibi Stela untuk diantar masuk kekamar Ray. Kalau begini kan aku jadi pusing dan bingung harus masuk keruangan yang mana? tidak mungkinkan kalau harus membuka satu persatu pintu yang ada dilantai dua ini. Atau aku berteriak saja? agar Ray keluar dari kamarnya? salah dia juga kenapa meninggalkan ku begitu saja.
Veln sudah terlihat menyerah mencari kamar Ray, akhirnya dia berniat untuk kembali kebawah meminta bantuan. Namun dari jarak yang tidak terlalu jauh terlihat dua pelayan menghampirinya.
" Nona ada yang bisa kami bantu? " Tanya salah satu pelayan yang melihat Veln sedikit kebingungan.
" Hem, bisa kalian tunjukan dimana kamar tuan muda Ray? " Dengan sedikit malu Veln bertanya, dalam keadaan ini dia merasa seperti dipaksa menikah karena perjodohan, lalu dibawa pulang dan ditelantarkan begitu saja oleh suaminya yang sama sekali tidak menginginkan kehadirannya.
○○○
Begitu pintu kamar terbuka yang pertama kali terlihat ruang televisi dengan sofa-sofa panjang disana, langkah Veln memasuki ruang itu lebih dalam lagi mendapati sebelah kanannya terdapat ruangan lebih besar dua kalilipat dari ruangan televisi tadi.. didalamnya terdapat satu bed ukuran king size dan sofa dihadapannya, jika dideskripsikan lebih detail kamar Ray hampir menyerupai ruangan presidential suite room hotel.
Veln menghampiri Ray yang sedang berdiri begitu cool dan keren dibawah jendela besar didekat sofa.
" Sudah puas mengagumi keindahan rumah ku? " Suara khas Ray terdengar tanpa berpaling dari pandangannya menatap arah luar dari jendela.
Veln mensejajari Ray, mengikuti arah pandang Ray.. menikmati pemandangan luar dari balik kaca tebal yang terpampang dihadapannya. Veln memajukan langkahnya kedepan untuk memuaskan penglihatannya mendapati bentangan taman yang terlihat indah dari tempatnya berdiri.
" Ini benar rumah mu? aku belum sempat mengagumi keindahan rumahmu.. sedari tadi aku sibuk mencari kamar ini " Veln menolehkan wajahnya.
" Salah mu sendiri kenapa tidak ikut mengekor dibelakang ku, lagi pula kenapa tidak meminta Bibi Stela mengantarkan mu " Ray berbalik dan mendudukkan diri diatas sofa.
Bibi Stela terlihat masuk dengan dua orang pelayan wanita lainnya setelah terdengar suara pintu diketuk.
Salah satu pelayan terlihat meletakkan dua gelas kosong dan satu cangkir teko yang berisi penuh air putih.
" Tuan muda, apa ada yang anda dan Nona butuhkan? " Suara Bibi Stela begitu keibuan.
" Tidak ada Bi, siang ini mungkin kami akan menghabiskan waktu dikamar sampai besok pagi " Veln langsung mendelik kearah Ray yang terlihat sedang menslonjorkan kaki panjangnya diatas meja.
" Kalau begitu kami permisi tuan muda.. Nona jangan sungkan kalau butuh sesuatu mintalah bantuan pada kami " Setelah mendapatkan anggukan dari Nona muda barunya Bibi Stela dan yang lainnya pun undur diri untuk kembali kebawah.
__ADS_1
" Ray dimana letak kamar mandinya? " Veln bertanya sembari ngeloyor mencari ruangan tersebut.
Veln berjalan kembali menuju ruangan tv dan memasuki ruangan yang berbatasan dengan ruangan tersebut, tak lama Veln memutar balik karena ruangan yang bersebelahan dengan ruang tv nampak seperti ruang kerja bukan ruangan yang dia cari.
Veln pun kembali memasuki ruangan lain yang pintunya bersebelahan dengan pintu ruangan kerja dan ternyata benar pintu terakhir yang Veln masuki tadi merupakan pintu akses menuju ruang kamar mandi dan ruang ganti.
Sungguh luar biasa tuan muda ini.. kediamannya saja sudah sukses membuat ku merasa dikerjai.
Der..
Tubuh Veln hampir terjengkang ketika berbalik karena menabrak tubuh Ray yang sudah tepat berdiri dibelakangnya entah sudah sejak kapan? Untung tangan Ray sigap meraih pinggang Veln dan menahannya.
" Ray, kau mengagetkan ku. Lepas, aku mau mandi " Veln menggeliatkan sebelah pinggangnya. Dengan segera Ray melepaskan tangannya dari tubuh istrinya. Namun karena posisi Veln masih sembarang membuatnya terjatuh kelantai.
" Au " Veln kembali dibuat meringis kesakitan oleh Ray, membuat Ray senyum-senyum dengan berkacak pinggang menatapi Veln.
Ray berjongkok melengkungkan setengah tubuhnya, wajahnya dihadapkan kewajah istrinya.. tangannya mengacak lembut puncak kepala Veln.
" Kenapa kau ceroboh sekali? " Sigap Ray mengangkat istrinya dan membawa perempuan yang terlihat masih meringis menahan sakit itu kedalam kamar mandi.
Ray mendudukkan istrinya pelan dipinggiran bathup. Menyiapkan air dan menuangkan liquid bubble foam.. setelah dirasa siap Ray mendekati Veln yang matanya sibuk memperhatikan dirinya.
Kedua tangannya hendak melucuti pakaian Veln, namun tertahan oleh jari-jari Veln.
" Mau apa? " Mendongakkan wajahnya kearah Ray.
" Melepaskan pakaian mu, bukan kah kau bilang tadi mau mandi? memang apa yang kau pikirkan? " Senyum menyeringainya muncul disudut bibirnya.
Veln memalingkan pandangnya dengan tersenyum malu.
" Aku bisa melepasnya sendiri, kau keluarlah " Beranjak bangun dan menuntun Ray untuk keluar dari kamar mandi.
" Kau mengusirku? "
" Hem.. iya "
" Tapi, aku mau melihat mu mandi " Tawa Ray keluar dengan renyah.
" Berhenti menggoda ku, pergilah. Lagi pula untuk apa kau menyiapkan ini semua? tidak bermaksud untuk menyuruh ku berendamkan? " Melirik bathup yang sudah penuh dengan busa dan kembali menatap Ray.
" Tentu saja aku siapkan untuk mu, memang untuk siapa lagi.. bukankah kau yang hendak mandi "
" Mana boleh berendam, aku kan.."
" Memang siapa yang melarang mu berendam? " Ray memotong pembicaraan Veln.
" Tamu bulanan "
" Pokoknya tidak mau tau.. pakai air busa yang sudah aku siapkan dengan penuh cinta ini " Senyum menyeringainya muncul lagi disudut bibirnya dan berlalu keluar dari kamar mandi.
Bersambung..
__ADS_1