
Sudah hampir satu minggu sejak malam itu, Renand tidak pernah lagi datang menemui atau mengganggu Nina baik secara langsung atau lewat sambungan telfon selular.
Di Baby Florist pun selama itu juga Renand tak menampakkan dirinya, baik sekedar hanya untuk mampir atau menjemput keponakan tersayangnya. Hal itu sukses membuat Fenina merasa ada yang mengganjal dihatinya.
Namun, Fenina tidak bisa berbuat apa pun. Meski hanya sekedar untuk menghubungi Renand, perempuan itu tidak memiliki keberanian. Nina sadar, siapalah dirinya? Perempuan itu hanya bisa pasrah, mungkin ucapannya yang mengandung emosi waktu itu dianggap serius oleh pria itu. Saat ini, Nina hanya dapat berfikir positif.. Jika memang berjodoh, Renandnya tidak akan lari kemana.
" Nin, nanti malam ada acara nggak? " Suara lembut milik Veln, sedikit mengagetkan Nina yang sedang melamun.
" Eh, tidak ada Mbak "
" Bagus deh kalau gitu, saya mau ngajak kamu makan malam " Ucap Veln kemudian dengan tak lupa diakhiri dengan senyum. " Itung-itung bonus buat kamu, karena seminggu ini sudah bekerja keras. Maaf ya sudah membuat kamu harus bekerja lebih ektra dari biasanya " Ucap Veln kemudian sembari diakhiri tawa kecil bentuk ketidak enakannya.
Memang seminggu ini, Nina harus bekerja dengan menggunakan tenaga dalamnya, akibat kondisi toko bunga yang begitu ramai pengunjung dan banyaknya pesanan rangkaian bunga. Ditambah lagi dengan absennya Heni, yang terpaksa sementara waktu harus pulang kampung untuk menjaga ibunya yang sedang sakit.
" Tidak apa, Mbak. Memang itu kan sudah tugas saya "
" Makasih ya Nin, atas pengertiannya. Hari ini, saya ada rencana buat menutup toko lebih awal "
" Loh. Kenapa, Mbak? "
" Karena kita butuh relaksasi.. Saya mau ngajak kamu nyalon "
Dengan semangat, dua perempuan itu bersiap-siap hendak menutup toko. Rasa lelah dalam setiap otot tubuh rupanya membuat mereka sudah tidak sabaran untuk memanjakan diri ditempat yang semestinya.
•••
Pukul tujuh malam, Veln terlihat berdiri tepat didepan pintu rumah Nina dengan Ray yang berdiri berada dibelakangnya sembari menggendong Ley putra tersayangnya.
" Mbak " Ucap Nina sedikit terkejut tatkala membuka pintu yang belum lama diketuk menampakkan sosok majikannya.
Terang saja Nina sedikit terkaget, Fenina yang diperintahkan Veln untuk menunggu pesan yang berisi alamat rumah pemilik toko bunga itu justru malah mendapat kejutan dengan dijemput langsung oleh sang majikan.
Matanya semakin membola saat menangkap sosok Ray yang berdiri dibelakang majikannya, laki-laki yang ketampanannya setara Renand atau lebih tepatnya bak pinang dibelah dua ini sukses membuat Nina sedikit tidak fokus.
" Hallo, Tante cantik " Ucap Ley yang tak kalah tampan dari dua pria dewasa yang dikenalnya, benar-benar tiga pria kembar yang berbeda generasi dengan pesonanya masing-masing. Mereka hampir saling menyerupai.
Kata-kata Ley barusan penuh kejujuran, karena memang malam ini Nina nampak berbeda. Dia sedikit berdandan, dengan gaun yang dikenakannya saat ini yang merupakan hadiah dari Veln semakin menambah aura kecantikannya.
" Eh, hallo juga sayang " Jawab Nina ketika tersadar dari keterkejutannya.
" Siapa, Nin? " Terdengar suara Dudi dari dalam ruangan.
" Malam, Om " Ucap Ray sopan dan hormat yang semakin menampakkan kharismanya, saat mendapati Dudi menghampiri kearah pintu. Ray pun menjabat tangan pria tua itu. Setelahnya dilanjut dengan Ley mencium punggung tangan Dudi. Sementara dengan Veln.. Perempuan itu tak lupa menyunggingkan senyum ramahnya.
" Malam, Pak Ryu. Mari-mari masuk. Ada apakah gerangan sampai Pak Ryu menyempatkan singgah kegubug saya "
" Mengantarkan istri saya, Om. Em, panggil saya Ray saja, Om. Ini kan diluar jam kerja "
__ADS_1
" Eh, iya Pak Ryu. Eh, maksud saya, Nak Ray "
" Yah, kenalin ini majikan, Nina. Pemilik toko bunga tempat Nina bekerja " Nina seolah paham dengan tatapan Ayahnya yang penuh tanya akan ucapan Ray barusan.
Dudi sudah tau jika Ray bosnya merupakan saudara dari Renand, namun yang pria tua itu baru tau ternyata istri dari pengusaha muda itu merupakan majikan dari putrinya.
Akhirnya mereka pun menyempatkan diri sebentar untuk berbincang, hingga dirasa cukup Ray dan Veln pun pamit undur diri dengan membawa serta Nina bersama mereka.
•••
Dikursi belakang terdengar suara canggung dari Fenina saat diajak mengobrol, terlihat jelas ada rasa tidak nyaman dan grogi dalam diri Nina. Mungkin karena pengaruh adanya sosok Ray yang serupa Renand, hanya saja pria yang satu ini terlihat lebih dewasa dan berkharisma.
" Kamu kenapa, Nin? Grogi ya ngeliat duplikat dari Renand? " Veln menoleh kearah Nina, tujuannya hanya satu untuk menggoda perempuan itu. Nina yang sudah merasa grogi sedari tadi semakin dibuat salah tingkah oleh ucapan Veln ditambah lagi melihat Ray yang terlihat tak seramah Renand, super duper sangat jutek dan cuek. " Saya juga tidak habis fikir, produk yang dihasilkan dari keturunan Wiratama yang berjenis kelamin laki-laki pasti wujudnya hampir menyerupai. Seperti Ley, jagoanku bisa plek sama persis seperti Om dan Papinya " Veln mengucapkan itu sembari melirik Ray, tawa kecilnya terdengar manakala mendapat tatapan tajam dari suaminya.
" Untung bentuknya bagus ya, Mbak. Jadi, kita nggak perlu was-was buat nerima produk turunan mereka yang wujudnya sama semua " Astaga. Nina langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, saat menyadari ucapannya keceplosan tak terkendali.
" Ehem " Suara deheman Ray semakin membuat Fenina membungkam mulutnya rapat-rapat. Sementara Veln yang menjadi dalang dibalik pembicaraan tadi malah asik mengeluarkan tawa puasnya.
" Mami kenapa tertawa? " Ley yang sedari tadi duduk anteng disamping Nina dengan mainan legonya merasa tertarik saat mendengar suara tawa Ibunya.
" Tidak apa sayang, Ley belum selesai menyusun legonya? "
" Belum, Mami. Sebentar lagi "
Sejenak suasana didalam mobil tak bersuara. Ditambah lagi mulut Nina yang semakin diam terkunci, rupanya perempuan itu lebih berhati-hati. Dia tidak mau sampai salah ucap lagi seperti barusan.
" Aduuuuuh, bagusnya " Puji Nina dengan sungguh.
" Terimakasih, Tante " Ucap Veln mewakilkan putranya.
Sementara Ley terlihat tersenyum senang karena berhasil menyelesaikan mainan hasil karyanya.
" Tante, bisa nyanyi nggak? "
" Nggak " Nina menggoyangkan telapak tangannya. " Memang Ley bisa? "
" Bisa, tapi enaknya kita bernyanyi bersama-sama biar seru "
" Semuanya? "
Bocah itu menganggukkan kepalanya " Terkecuali Papi, karena Papi sedang menyetir " Hampir saja Nina berteriak histeris, kapan lagi telinganya mendapat kesempatan untuk mendengar suara calon kakak iparnya bernyanyi namun akhirnya harus kecewa.
Secara untuk berbicara saja sedari tadi terkesan irit dan hemat, tak seperti Renand yang terlihat sedikit ramah dan bersahabat.
Untung saja sikap dan sifat sikecil Ley berada ditengah-tengahnya. Antara dingin dan jutek Papinya, ramah dan bersahabat seperti Om gantengnya. Setidaknya itulah persepsi yang dilihat menurut pandangan mata Fenina saat ini mengenai pria keturunan dari Wiratama.
" Baiklah. Karena tante tidak bisa bernyanyi, bagaimana kalau tante yang jadi penonton dan pendengar sembari bertepuk tangan "
__ADS_1
" Ok " Ley menunjuk jempolnya kearah Nina " Mami, Mami sudah siap " Veln yang merasa terpanggil menolehkan kepalanya kebelakang dan mengangguk merasa siap.
" Satu dua tiga.. Naik kereta api.. " Veln memberi aba-aba dengan menepuk-nepukkan tangannya persis seperti yang dilakukan Fenina. Lalu dengan percaya diri perempuan itu memulai mengambil suara.
" Tut tut tut.. Siapa hendak turut " Tak berselang lama Ley yang dibelakang ikut menyambung dengan semangat, begitu juga dengan Fenina. Nina terpaksa ikut bernyanyi meski dengan suara pelan saat menyadari ada sedikit kegaduhan dikursi jok depan.
" Aduh, kenapa mulut aku dibekap? " Protes Veln saat berhasil menyingkirkan telapak tangan Ray dari permukaan mulutnya.
" Berisik, bisa tidak bernyanyi dengan tanpa mengeluarkan suara fals " Setelah sibuk mengendalikan suara istrinya pria itu kembali fokus pada kemudinya. " Lagi pula, berhenti meracuni putraku dengan setumpuk ucapan dustamu " Ray melirikan matanya kearah Veln. " Naik kereta api kepalamu? Jelas-jelas saat ini kita sedang menaiki mobil.. Kemarikan, mulutmu itu sepertinya harus dikasih penawar agar racunnya tak menyebar keotak Ley " Lalu tanpa dosa pria itu terbahak kaku, membayangkan wajah kesal istrinya. Yang mungkin akan semakin kesal dan dongkol saat dirinya benar-benar mencium bibir istrinya, sebagai upaya pemberian obat penawar.
" Hadeuuuuuuuuuh, kumat nih. Akibat terlupa minum obat " Nampaknya Veln harus mulai waspada, sikap dan sifat Ray yang berubah-ubah seperti bunglon sudah mulai tercium.
Mungkin pengaruh dari jalanan yang sedari tadi macet tak terkendali. Veln harus bersiap saat menghadapi suaminya yang kadang tiba-tiba dingin, jutek dan cuek. Lalu sebentar kemudian berubah jahil, habis itu tamatlah sudah jika sifat pemarahnya sudah mendominasi. Ray akan terlihat benar-benar sangat menyebalkan.
" Kamu harusnya tau diri "
" Aku sudah cukup tau diri, dengan suara seenak ini cukup layak untuk mengikuti ajang pencarian bakat "
" Cih, kamu terlalu percaya diri. Suara kamu memang merdu.. "
" Akhirnya mengakui " Potong Veln cepat, saat Ray belum menyelesaikan kalimatnya.
" Dengarkan dulu.. merdu jika digunakan untuk.. " Ray mengkode istrinya untuk lebih mendekat kearahnya " Mendesah " Ucapnya lagi kemudian dengan pelan dan mesrah saat bagian wajah istrinya sudah benar-benar berada dijarak terintim dengan wajahnya.
Ray benar-benar leluasa menggoda istrinya meski sedang mengemudi, karena kebetulan sedari tadi roda empatnya harus cukup bersabar untuk sesaat jalan ditempat.
Fenina yang dikursi belakang tiba-tiba mengeraskan suaranya, Ley pun demikian otomatis mengikuti apa yang dilakukan wanita yang duduk berdampingan dengan dirinya.
*Bolehlah naik dengan percuma
Ayo temanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama*
Nina sengaja melakukan itu, akibat hawa panas yang tiba-tiba dirasakan tubuhnya. Nampaknya ac mobil harus bekerja lebih keras lagi, karena pandangan matanya yang sedari tadi menangkap adegan dua orang didepannya yang terlihat mesra meski sedang dalam keadaan beradu mulut sukses membuat Fenina merasa hareudang.
Sesekali Fenina mesem-mesem melihat keintiman dua orang didepannya, dengan tetap menyuarakan lirik lagu mengikuti Ley.
Bahkan sisi romantis yang ditunjukan duplikat Renand terhadap majikannya mampu membuat Nina menjadi baper. Nina tidak menyangka seseorang yang terlihat dingin, kaku, jutek dan cuek bisa bertingkah sesweet itu terhadap perempuan yang disayanginya.
Sebaliknya, Nina pun mengacungi jempol terhadap perempuan pemilik Baby Florist itu. Karena majikannya mampu mengimbangi akan setiap perubahan sikap yang ditunjukkan lelakinya. Dari keuwuannya hingga ketingkat paling menyebalkan, majikannya mampu merespon dengan baik setiap perlakuan suaminya.
.
.
.
__ADS_1
Hi.. Mohon maklum, slow up ya. Baca juga novel kedua author Menggoda. Tks.😙