
Ray memarkirkan mobilnya tepat didepan pintu rumahnya, secepat kilat membuka pintu mobil dan masuk menuju rumah.Kamar tidur utama itulah tujuan utamanya.
" Bi, apa V Ku sekarang sedang berada ditempat favoritnya? " Dengan reflek Ray mengajukan pertanyaan ketika melihat Bibi stela yang muncul dari arah dapur.
" Benar tuan, memang sedari sarapan tadi Nona masih belum keluar kamar "
" Sudah kuduga " Ray begitu paham dari begitu banyaknya ruangan dirumah miliknya kamar tidur miliknyalah yang jadi tempat kesukaan istrinya, lebih tepatnya sekarang menjadi kamar tidur milik mereka berdua. Ray pun bergegas naik menapaki tiap anak tangga, meninggalkan perempuan paroh baya itu yang masih dengan setia menatapi langkah menjauh majikannya dengan senyum terukir disudut bibirnya.
○○○
" V " Ray memanggil setelah dengan cepat membuka pintu kamarnya. Namun karena tak ada jawaban Ray melangkah lebih dalam menuju kasur king sizenya. Ray langsung memutar balik langkahnya saat tak menemukan Veln disana, benar saja diluar pintu kamar mandi terdengar suara gemericik air. Ternyata wanitanya sedang berada didalam sana.
Ray mengambil laptop dari dalam kamar ruang kerjanya, menjinjing membawanya menuju sofa kamar tidur. Dia meletakkan benda persegi itu diatas meja lalu menenggokkan kepalanya karena mendengar suara langkah kaki yang mendekat dibalik punggung tegapnya.
" Ray " Veln terus mendekat kearah suaminya dengan tatapan penuh keheranan yang disambut oleh senyum tampan Ray dan uluran jari tangan besarnya yang mengusap-usap lembut membenahi anak rambut Veln yang sedikit berantakan " Tidak bersiap? " Masih dengan menatap heran Ray yang sudah sesiang ini masih betah dengan costum rumahannya.
" Untuk?.. aaa, tentu aku sudah sangat siap kalau kau menginginkannya " Dengan menyapu seluruh tubuh istrinya lewat pandangan dan mengerlingkan sebelah matanya " Olah raga ranjang? " Reflek Veln menyilangkan kedua tangannya didepan dada, berusaha menutupi salah satu bagian intinya.
" Mesum.. bukan itu yang aku maksud " Ray terkekeh geli melihat raut wajah kesal Veln " Tidak bersiap untuk kerja? mencetak uang sebanyak mungkin? "
" Aku akan cetak uang sebanyak yang kau mau, tapi khusus untuk hari ini aku akan bekerja dirumah sembari menemani kamu " Ray menarik lengan Veln dan menuntunnya untuk rebahan diatas sofa, sementara dirinya yang memilih duduk dibawah lantai yang beralaskan karpet bulu dengan tangan yang bersiap untuk membuka laptopnya.
" Tidak apa Ray, aku sudah benar-benar sehat.. lakukan aktifitasmu seperti biasa " Veln memiringkan posisi tidurnya menghadap Ray, dengan wajah mendekat kearah lengan suaminya.
" Hem " Tanpa beranjak sedikit pun,malah jari telunjuknya sibuk menyalakan benda kotak tersebut.
" Kalau begitu bangun dan bersiaplah "
" Untuk? "
" Mencetak uang "
" Tidak lihat aku sedang bersiap mencetak uang? " Memutar sedikit tubuhnya kearah Veln dan menunjukkan layar laptopnya.
" Cih, menyebalkan dengan begitu bangganya menunjukan foto Yas tersayangmu " Sontak mulut mungil Veln berdecih saat melihat layar desktop laptop milik Ray, dan untuk meluapkan rasa kesalnya Veln memutar balik tubuhnya dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi gedebuk membelakangi Ray. Ray tersenyum senang melihat tingkah istrinya yang membuatnya tambah gemas, namun tak berniat untuk meladeninya.
Ray justru bersiap untuk membuka beberapa email yang masuk, dan cukup lama keseriusan dua orang itu dengan kesibukan masing-masing mengheningkan ruangan. Veln yang sibuk berusaha untuk memejamkan matanya namun tidak bisa karena rasa kesal yang mendalam ditambah dengan cueknya perlakuan Ray semakin membuatnya geram yang tertahan. Sementara Ray sibuk dengan layar laptopnya, menekuri tiap huruf dan angka didalamnya.
🤳 Ray " Sam lakukan sesuai rencana, hari ini aku serahkan sepenuhnya padamu "
🤳 Sam " "
🤳 Ray " Ok, jangan lupa isi perutmu. Maaf sudah membuatmu harus bekerja keras " Menutup panggilannya dan meletakkan ponsel hijau temaramnya diatas meja.
" Sayang, kau mau sesuatu? Aku akan meminta Bibi membawakan kopi untukku " Tak ada jawaban " V.. Kau tertidur? " Bertanya dengan terus jari jemarinya bergerak diatas keyboard menyelesaikan pekerjaannya.
Ray memutar setengah tubuhnya menghadap Veln " V.. Kau benar-benar tertidur ya? " Menjulurkan telapaknya dan membelai rambut panjang istrinya. Veln menepis kasar tangan Ray yang sibuk menyelipkan mahkotanya dibalik ketelinga.
__ADS_1
" Aissss.. masih ngambek? " Dengan sengaja Ray malah melingkarkan lengannya ketubuh
Veln.
" Lepas, aku sedang tidak ingin disentuh-sentuh olehmu " Veln mengurai pelukan lengan Ray.
" Tapi aku menginginkannya sayaang " Dengan senyum usilnya dan kembali melingkarkan lengannya ketubuh Veln yang masih membelakanginya.
Veln melepas kasar tangan Ray untuk yang kedua kalinya dan mengubah posisinya menjadi telentang.
" Stop.. jangan sentuh-sentuh " Menghentikan pergerakan Ray yang hendak melingkarkan kembali lengannya " Masih tidak mengerti juga, saat ini aku itu sedang benar-benar marah, geram dan kesal " Sedikit naik intonasinya, sementara Ray malah sibuk senyum-senyum meladeninya.
" Malah senyum-senyum, tidak lihat hati aku lagi benar-benar memanas "
" Mau aku turunkan suhu ac nya hem? biar hati kamu mendingin? " Menjulurkan jari telunjuknya dan membelai pipi Veln.
Veln menyingkirkan jari Ray, dan mengusap kasar pipinya seolah membersihkan dari bekas sentuhan suaminya.
" Kau tau Ray hal apa yang saat ini sedang ingin aku lakukan? " Melirik kearah meja " Membanting laptopmu " Dengan menatap tajam mata Ray.
" Kenapa jadi sensi lagi? kemaren-kemaren bukankah sudah mulai terbiasa "
" Benar, sepertinya aku harus secepatnya menghancurkan laptopmu " Dengan gerakan secepat kilat Veln bangkit dan segera menyambar benda yang berada diatas meja itu namun gagal karena ternyata gerakan Ray lebih cepat untuk menghalanginya.
" Lepas " Veln meronta-ronta.
"cDasar brengsek.. lepaaaaas, lepppp hpmmmmmmt " Ray membungkam mulut Veln dengan bibirnya.
" Emm.. emmm.. emm " Awalnya meronta dan berusaha melepaskan tautannya, namun akhirnya lebih memilih pasrah karena sekali lagi hanya sia-sia yang didapat. Dan tanpa diduga ciuman Ray semakin dalam yang membuat Veln membalas dan menikmati pada akhirnya.
Ray tersenyum memandang wajah Veln yang bersandar dipahanya menatap datar kearah wajahnya.
" Sudah tenang, hem? " Veln menggelengkan kepalanya.
" Sakit.. disini " Menunjuk dadanya dengan raut wajah yang berubah seolah seperti korban penindasan. Ray mencium lembut kening Veln, dan menuntunnya untuk duduk. Saat ini posisi Veln duduk disamping Ray diatas lantai persis seperti suaminya. Tentu dengan lengan kekar Ray yang melingkar dipundaknya.
" Sudah siap menerima kenyataan, hem? " Veln hanya melirik sebentar kearah Ray tanpa berniat menjawab " Ok, saatnya kita luruskan permasalahan ini " Mendengar itu Veln langsung membenarkan posisinya lebih bersemangat, yang tadinya nampak duduk terkulai kini lebih tegak dan mantap. Seperti hendak mendapat angin surga, Veln terlihat antusias sekarang. Kenyataan apapun akan dia hadapi nanti, yang terpenting sekarang adalah dia harus benar-benar tau dahulu siapa sebenarnya sosok dalam foto tersebut yang berdiri memunggungi dengan begitu pedenya dan berhasil mengoyak menimbulkan rasa perih didalam hatinya.
" Perhatikan baik-baik foto gadis itu " Ray memundurkan posisi duduknya, mendekap istrinya dari belakang dan menyandarkan dagunya disalah satu bahu Veln. Veln mendelik tak suka kearah suaminya, masa ia harus terus-terusan memelototi foto saingannya! sungguh dia tidak sudi.
" Tahan emosimu dulu, lakukan perintahku sayaang " Ray mengecup singkat leher jenjang Veln. Kembali kedua mata perempuan ayu itu menatapi layar laptop suaminya, namun tak didapat maksud dari perintah suaminya.
" Cepat beri tahu aku, jangan membuatku mati penasaran " Veln terlihat sudah tidak sabaran.
" Benar, kau tidak mengenalinya? "
Veln menggeleng " Dia mantanmu kan? " Ray mengangguk tak menyangkal membuat ada rasa sakit didalam dadanya " Perempuan ini pasti Yas! " Ray menggeleng pelan membuat Veln nampak bingung namun semakin bertanya-tanya.
__ADS_1
" Perhatikan dengan seksama, masa kau tidak mengenalinya? " Veln sedikit berfikir keras.
" Dia salah satu tim Manja coffe ? " Otaknya mentok dikedai kopi tersebut, karena yang ada dibenaknya sekarang sedari awal pertemuan hanya tempat itu yang terhubung antara dirinya dan Ray.
" Hem " Ray membenarkan membuat Veln semakin tercengang. Sekelebat beberapa nama tim Manja coffe berseliweran dikepalanya satu persatu seperti guru yang sedang mengabsen.
" Kepalaku mendadak pusing dan pening, bisa kau beri tahu saja langsung? " Tak ada jawaban Ray hanya melempar senyum tipisnya membuat kepalanya semakin berdenyut " Em, kenapa kau malah menikahiku? bukan menikahinya? " Veln memijit pelipisnya merasa frustasi.
" Kau sedang mengerjaiku kan? " Veln sedikit memutar tubuhnya, matanya menatap tajam kearah suaminya. Setelah diingat dengan jelas, Veln mantap merasa dikerjai oleh Ray. Mana mungkin gadis itu adalah foto dari salah satu kenalannya yang singkat namun meninggalkan banyak cerita, karena para mantan bridesmaidnya itu tidak ada sama sekali yang bersikap aneh saat pernikahannya, saat seorang Ray mengikatnya dalam sebuah pernikahan.
Ray memutar kembali tubuh Veln menghadap layar " Kau benar-benar tidak mengenalinya? " Veln menggeleng lemas tak bersemangat, merasa sebal karena masih belum mendapatkan maksud dari suaminya " Velnku benar-benar payah " Ray beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Veln yang masih berkutat dengan fikirannya.
○○○
Ray kembali dengan membawa kotak karton berwarna coklat dengan ukuran setinggi dan selebar dua kali lipat kotak sepatu.
Penutupnya bertuliskan huruf L O V dan E yang begitu besar-besar dengan logo hati warna-warni berukuran variasi bertebaran dimana-mana.
Ray menjulurkannya kearah Veln, dan disambut baik kotak karton tersebut.
" Buka " Ray mendudukkan tubuhnya tepat disisi istrinya, yang sebelumnya meraih ponselnya terlebih dahulu dan bersiap menghubungi seseorang. Sementara Ray sibuk bertukar suara dengan ponselnya Veln mulai membuka kotak karton tersebut, menuruti sesuai perintah pria tampan disisinya.
Spontan mata Veln membulat, dengan mulut ternganga membentuk huruf O.. namun tetap ekspresinya terlihat menggemaskan seperti ekspresi kartun winnie the pooh saat sedang melongo. Jari-jarinya sibuk mengebit lembar demi lembar foto berukuran 4R tersebut dengan sesekali melirik kearah Ray yang masih sibuk dan serius dengan ponselnya.
" Apa kau sudah merasa lega sekarang? " Dengan melemparkan ponselnya kearah belakang dan mendarat gagah diatas sofa. Veln sedikit terperanjat mendengar suara Ray, namun kemudian menjitaki sendiri kepalanya dengan pelan membuat tawa Ray keluar menyeruak.
" Hahahaa " Veln menangkubkan kedua telapak tangannya menutup sempurna wajah cantiknya " Kau kenapa sayaaang " Terdengar suara Ray yang menggoda membuat Veln serasa ingin menyembunyikan wajahnya dilautan dolar.
Ray menarik tubuh istrinya lebih dekat kearahnya, dan menenggelamkan wajah ayu wanitanya didada bidang miliknya yang bergoyang karena tawanya kembali lepas.
" Aku malu.. Aku benar-benar malu " Veln mendusel-duselkan wajahnya, Ray kembali terkekeh.
" Aku pikir, aku yang akan malu setengah mati karena selama ini telah menjadi penguntit.. tapi berkat istriku yang kurang peka dan agak oon ini membuatku terselamatkan " Ray mengelus rambut Veln dan mengecup puncaknya.
" Aaaaaah.. kenapa aku sampai tidak menyadarinya " Sesal Veln yang wajahnya masih terbenam disana.
○○○
Hallo para reader..
Coment dunk..
Like juga..
Votenya..
N rate jangan lupa 😙
__ADS_1