Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
22.Bulan Madu


__ADS_3

Dengan tenang Veln terlelap, tidur seperti anak bayi dipelukan Ray. Jari jemari Ray tak henti mengusap-usap lembut kepala Veln yang semakin membuat melelapkan tidur perempuan dalam dekapannya.


" Sam jauhkan ini dari istriku " Ray mengulur kan kantung kresek yang berada disamping istrinya.


" Apalagi botol-botol minuman ini " Kembali mengulurkan kantung kresek yang berisi beberapa botol minuman kearah Sam.


" Jauhkan barang-barang lainnya terutama benda-benda tajam dari jangkauan perempuan ini, paling tidak sampai moodnya stabil dan membaik " Ray melirikkan matanya kearah Veln sembari tersenyum penuh.


" Bisa habis aku nanti, babak belur dihajarnya " Sam dan Pak Yan terkekeh mendengarkan Ray.


" Kau lihat kan barusan, saking tidak puasnya dia sampai menendangkan kantung kresek kosong kearah ku. Untung dia lupa melemparkan sepasang sandal yang dipakainya " Ray pun tertawa mengingat kembali kelakuan istrinya, diikuti tawa kecil Sam dan Pak Yan.


" Aneh bukan, hanya karena hal kecil tiba-tiba emosinya meletup-letup tak terkendali " Ray mengernyitkan dahinya sembari memandangi Veln.


" Mungkin benar karena pengaruh Nona kurang tidur tuan " Sam membenarkan perkataan Ray yang sebelumnya.


" Apa saya perlu melaporkan tindakan kriminal yang dilakukan Nona terhadap anda tuan? yang sudah berani menganiyaya seorang presdir RV Wiratama Group " Sam sedikit meledek dan tertawa kecil diikuti Pak Yan.


" Kurang ajar kalian, rupanya kalian sudah bosan hidup ya? " Ray pun ikut larut tertawa bersama mereka berdua.


○○○


Roda mobil pun masih terus berputar, sampai pada area parkir bandara Pak Yan menghentikan dengan menginjak tuas remnya.


Kedua mata Veln terbuka secara perlahan menyesuaikan cahaya disekitarnya. Veln melepaskan diri dari dekapan suaminya sembari menguap. Matanya masih terlihat sembab karena tangis akibat tragedi yang tak terduga tadi.


" Kau sudah bangun? " Veln menganggukkan kepalanya yang masih dielus lembut oleh jari-jari tangan Ray. Kemudian menengokkan kearah samping kanannya tak menemukan sesuatu yang dicari lalu matanya menyapu kearah samping Ray tak menemukan apa pun juga.


" Ray, aku haus " Matanya menatap kearah Ray sebentar lalu tertuju ke kursi depan dimana sekertaris Sam duduk.


Lihatlah bahkan setelah tersadar dari tidurnya kini dia sudah berani memanggil ku dengan menyebut nama saja. Ray membatin dengan senyum menyeringai.


Sekertaris Sam sigap segera menyodorkan sebotol air mineral kearah Nona mudanya, Veln langsung mengambil alih dan langsung meneguk isinya dan menutup kembali botol minumannya.


Ray langsung menyaut botol air mineral yang berada digenggaman tangan Veln, dan langsung mengamankannya.


" Sam ambil ini, jauhkan dari jangkauan Nona muda mu " Ray melirik kearah Veln sembari tersenyum menyeringai.


" Bisa berdarah-darah kepala ku kalau perempuan ini dibiarkan memegang ini " Sam mengambil alih botol dari genggaman Ray.


Veln hanya bisa tersenyum malu mendapatkan sindiran dari suaminya, dan menundukkan kepala.


Mereka bertiga pun memasuki bandara untuk melakukan check in setelah mengambil koper baru yang sudah disediakan dari pelayan rumah yang setia menunggu didepan bandara.


" Ray, kita benar-benar akan melakukan penerbangan? " Sembari berjalan bergandengan menuju ruang check in.


" Hem " Ray menjawab ringan.


" Apa rumah mu berada diluar pulau ini? " Ray tak menggubris pertanyaan Veln, dia sibuk hendak mengangkat ponselnya yang sedari tadi berdering.


🤳" Ray cabut titah mu, biarkan aku keluar dari tempat ini " Terdengar suara Denis dari sebrang sana.

__ADS_1


🤳" Bersabarlah sepupuku, nikmati saja hari mu dengan santai dikamar hotel " Diselipkan tawa kecilnya dengan maksud mengejek Denis.


🤳" Sial. Mau sampai kapan kau mengurung ku disini? " Dengan nada kesalnya Denis sedikit mengumpat.


🤳" Sampai pada waktu yang sudah ditentukan " Ray terdengar melepas tawanya lagi.


🤳" Aku menyerah Ray, mohon ampun " Denis terdengar memelas.


 


" Kapan kau akan melepaskan ku? " Lanjutnya lagi.


 


🤳" Tunggulah, aku akan melepaskan mu tengah malam nanti " Jawab Ray dengan nada puas.


🤳" Apa?!! " Denis berteriak kesal.


 


" Kau pikir aku hantu hingga melepaskan aku harus menunggu tengah malam?!!! "


 


🤳" Kau sendiri ya yang bilang, menyamakan dirimu dengan hantu. Bukan aku " Ray pun melepas tawanya kembali.


🤳" Ah.. sial. Menyesal aku berurusan dengan mu, seperti membangunkan harimau yang sedang tidur " Nada bicara Denis terdengar pasrah.


🤳" Makanya jangan pernah bermain-main dengan ku, sepupu ku sayaaang " Sementara Ray sibuk dengan ponselnya, Veln berusaha menggali informasi lewat sekertaris Sam.


○○○


Tanpa harus repot seperti calon penumpang lainnya, saat boarding tidak perlu mengantri karena ada jalur khusus untuk penumpang first class seperti Ray dan rombongannya. Bahkan untuk mengurusi yang lainnya pun Sam tidak perlu repot, karena penumpang first class memiliki asisten yang mengurusi semua hal mulai dari membawakan bagasi hingga mengantar kedalam pesawat. Itulah beberapa fasilitas untuk penumpang first class yang disediakan oleh salah satu armada yang akan ditumpangi oleh Ray dan rombongannya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam lamanya mereka akhirnya sampai dicabang hotel terbesar disalah satu pulau yang sudah terkenal dipenjuru dunia akan keindahan destinasinya.


Seperti biasa satu ruang president suite room sudah siap untuk ditempati.


Sam mengantarkan tuan dan nonanya hingga pintu kamar hotel, setelah memastikan majikannya masuk kedalam kamarnya Sam berlalu menuju kamar hotelnya. Begitu juga dua pelayan laki-laki nampak keluar dan berlalu dari kamar Ray setelah membawakan koper majikannya.


Selang beberapa menit datang dua orang perempuan karyawan hotel yang hendak membantu membukakan koper dan meletakkan isinya kedalam lemari.


" Permisi tuan, nona.. kami akan membantu meletakkan barang-barang anda ditempatnya " Dengan ramah mereka menawarkan diri.


" Terima kasih atas bantuannya, tapi biar kami sendiri saja yang melakukannya " Veln menolak bantuan yang ditawarkan dua orang pelayan tersebut dan membuat Ray menggeleng dan tersenyum bangga melihat kemandirian wanitanya.


" Baiklah nona, kalau begitu kami permisi. Kalau nona membutuhkan bantuan jangan sungkan menghubungi kami " Mereka berdua pun berlalu meninggalkan presidential suite room.


○○○


Didalam kamar Ray mendudukkan tubuhnya dengan santai diatas sofa sambil memperhatikan gerak langkah istrinya yang terlihat mendekati koper hendak merapikan pakaian kedalam lemari.

__ADS_1


Veln membuka salah satu koper yang berisi pakaian Ray, yang terlihat masih terlipat rapih memudahkannya untuk memindahkan kedalam lemari. Setelah semuanya tertata rapi didalam lemari, mata Veln tertuju pada kantung kecil yang diletakkan sedikit tersudut didalam koper dan meraihnya. Tangannya sigap membuka ret slenting kantung tersebut untuk melihat isinya namun dengan cepat Veln menutup dan mengembalikannya ketempat semula dengan agak melempar pelan.


Veln terkejut dengan isi yang ada didalam kantung tersebut, yang tak lain adalah beberapa pakaian dalam suaminya.


Matanya dilirikkan kearah Ray, dengan tersenyum malu dan pipi bersemu merah.


Bagaimana bisa orang itu mempercayakan barang-barangnya disentuh oleh mereka ( kedua pelayan wanita ), dasar tidak tau malu. Veln bergumam kecil sembari masih menatap kearah Ray.


" Kau kenapa? senyum-senyum tidak jelas " Ray menangkap keanehan lagi dalam diri istrinya.


" Tidak ada " Sembari memalingkan wajahnya kearah koper yang satunya dan bersiap untuk membukanya.


" Sudah tidak sabar ya untuk menikmati lekuk tubuh ku? " Goda Ray yang membuat Veln merasa merinding seketika.


" Bersabarlah sedikit, aku masih sedikit lelah. Beri aku waktu untuk mengumpulkan energi terlebih dahulu " Dengan senyum menyeringainya Ray mengintimidasi istrinya.


" Stop.. jangan bicara lagi, biarkan aku membereskan ini semua dengan tenang kalau tidak.. " Ucapan Veln menggantung.


" Kalau tidak apa? " Ray dibuat penasaran.


" Aku bisa-bisa tergoda oleh mu " Tawa kecilnya keluar dari mulut Veln dengan begitu saja. Membuat Ray hendak mendekati istrinya karena merasa begitu gemas.


" Stop.. Aku bilang stop, berhenti " Teriak Veln yang mendapati Ray hendak mendekat kearahnya.


" Berhenti " Dengan begitu terkesiap Veln melemparkan sandal hotel satu persatu kearah Ray, untung Ray sigap dapat menangkisnya.


" Kau ini, seperti hendak diperkosa saja " Sembari memunguti sandal yang tergeletak dilantai.


" Pakai kembali sandal mu, akhirnya kedua sandal mu melayang juga ke arah ku " Sembari mengulurkan sepasang sandal itu kearah istrinya. Veln hanya bisa tersenyum malu.


" Habisnya, kenapa kau slalu membuat jantung ku berdebar-debar " Dengan nada polosnya sembari mengambil alih sandal dari kedua tangan Ray.


" Apa kau begitu terpesonanya kepada ku?sampai kau tidak bisa mengontrol dirimu sendiri? " Dengan cepat Ray menangkap kedua lengan Veln dan menarik kearahnya.


" Ray lepaskan.. rasanya jantung ku seperti hendak meledak " Dengan nafas yang tak beraturan Veln memberontak kecil.


" Mu-mungkin karena aku belum terbiasa, beri aku sedikit waktu " Terlihat Ray senyum menyeringai.


" Kalau begitu mulailah membiasakan diri dari sekarang " Sembari tangan Ray meraba tengkuk leher istrinya. Veln menggeliat kecil merasakan geli sembari memejamkan kedua matanya, membuat Ray semakin tidak bisa menahan diri. Dengan kilatan mata yang sudah siap menerkam, Ray hendak ******* bibir ranum Veln.


"vAmpun.. beri aku waktu untuk bernafas dengan benar sebentar " Veln memohon dengan kedua matanya yang sudah terbuka dan menatap sendu kearah suaminya, menggigit bibir bawahnya berusaha menenangkan diri. Dengan berat hati Ray melepaskan istrinya.


" Pindahlah, kau menghalangi ku untuk mengambil baju ganti " Tangan Ray menarik pelan memindahkan tubuh Veln.


" Pletak " Ray menjitak kening Veln pelan, yang sepertinya masih belum tersadar dari situasi yang barusan terjadi.


" Au " Veln sedikit mendesis.


" Sepertinya otak mu itu harus dicuci, biar bisa sedikit lebih berfikir jernih " Sembari mengusap bekas jitakan kening istrinya.


" Memangnya apa yang kau pikirkan tadi?pasti berfikiran mesum. Padahal aku hanya ingin mengambil baju ganti yang terhalang oleh mu " Lanjut Ray.

__ADS_1


" Aku mau mandi " Sembari berlalu meninggalkan Veln menuju kamar mandi yang sebelumnya mengambil baju ganti terlebih dahulu.


Bersambung..


__ADS_2