
Didalam kamar mandi Veln menatapi air busa dalam bathup yang wanginya menyeruak begitu harum dilubang hidungnya.. aroma yang membuat Veln ketagihan dan menenangkan, aroma khas Ray.
Sudut bibirnya menampakkan senyum yang begitu lebar yang memancarkan aura bahagia diwajahnya. Terdapat kelegaan disana.. Ray yang begitu mengabaikannya dan begitu cuek persis seperti pertama kali bertemu kini sudah kembali perhatian dan nakal.
Veln memulai ritual mandinya,sembari memikirkan bagaimana caranya menggunakan air busa yang sudah disediakan oleh suaminya.. dan memikirkan itu, sukses membuatnya senyum-senyum sendiri sepanjang membersihkan diri.
○○○
Disofa didalam kamar Ray merebahkan tubuhnya.. meluruskan otot-otot yang terasa kaku akibat perjalanan tadi. Matanya tak henti menatap akses keluar masuk antara ruang tidur dan ruang tv. Ray mengangkat salah satu pergelangan tangannya dan pandangannya tertuju pada sebuah jam tangan mahal yang melingkar disana.
Hampir satu jam lebih.. kenapa lama sekali?Perempuan.. untuk mandi saja harus menghabiskan waktu selama ini.
Ray melepaskan jam tangannya dan meletakkan diatas meja, lalu beranjak menghampiri Veln kekamar mandi. Mendapati pintu kamar mandi yang tak tertutup sempurna Ray langsung menyelonong masuk, senyumnya tercetak manis mendapati isi bathup yang sudah kosong. Sekali pun air busa yang sudah dia siapkan hanya dibuang begitu saja oleh Veln tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Ray senang dan cengengesan sendiri didalam sana dari pada tak tersentuh sama sekali hanya didiamkan saja tetap berada ditempat semula.
Ray berpindah menuju ruang ganti karena tidak menemukan Veln didalam sana.
Ray menyandarkan tubuhnya dipintu lemari dengan melipat kedua tangannya diatas dada, senyumnya kembali tercetak disudut bibirnya mendapati istrinya sedang berjongkok masih mengenakan handuk kimono didepan salah satu pintu lemari yang berjejer panjang sembari menangkubkan wajah dikedua kakinya.
" Ehem " Veln mendongakkan wajahnya kesumber suara deheman berasal.
" Ray.. "
" V.. Kau sedang melakukan apa? berjongkok seperti itu? bukannya lekas mengganti pakaian dan kembali menemani aku?! "
" Aku pusing Ray.. begitu banyak pintu dilemari mu, baru sebagian aku cek dan aku buka sampai merasa lelah, tapi belum menemukan pakaian ku " Sehabis membersihkan diri Veln langsung melipir keruang ganti, didalam sana banyak sekali pintu lemari yang membentuk leter u sehingga Veln harus sedikit bekerja keras membuka satu persatu pintu lemari tersebut. Namun, baru setengahnya Veln merasakan lelah dan lemas. Akhirnya dia memilih untuk beristirahat sebentar dengan berjongkok dan menenggelamkan wajahnya dikedua pahanya. Untung tamu bulanan sudah memasuki hari ke lima sehingga Veln tidak perlu mengkhawatirkan cairan merahnya tercecer kemana-mana.
Ray mendekati Veln, dan mengusap puncak kepala istrinya yang masih dalam posisi berjongkok. Lalu membantu Veln mencarikan pakaiannya.
" V.. pilihlah baju apa yang hendak kau kenakan? " Ray menemukan rentengan pakaian wanita yang tergantung rapih disana. Ternyata Bibi Stela menata seluruh pakaian Veln dipintu lemari yang berhadapan dengan lemari yang berisi pakaian Ray.
" Kenapa baju sevulgar ini ada didalam lemari ku? " Menunjukan salah satu gaun tidur yang agak kurang bahan dengan warna merah terang menantang kearah Ray.
" Pakai yang itu saja " Dengan menyeringai Ray menyesali penawaran pertamanya memberikan pilihan baju mana yang hendak istrinya kenakan.
" Sepertinya akan sangat cocok ditubuh sexy mu " Lanjutnya lagi.
"Jangan terlalu banyak berharap, karena permintaan mu yang satu itu tidak akan pernah terkabul " Veln mengembalikan gaun tidur tersebut ketempatnya.
" Ayo lah V.." Senyum jail dan nakalnya terpampang diwajah tampan Ray.
" Aku tidak akan menerkam mu " Lanjut Ray dengan terkekeh sendiri.
Veln tak terlalu meladeni Ray, dia sibuk membuka lemari yang bentuknya penuh dengan tumpukan laci. Dan benar saja seperti yang dipikirkannya, didalam sana penuh terisi pakaian dalam wanita yang tertata rapi.
" Keluar lah.. Aku mau mengenakan pakaian "
" Aku bantu "
" Kau ini "
__ADS_1
" Apa? "
" Nakal " Ray tertawa renyah dikatain nakal.
" Aku akan berbalik, kau bisa mengenakannya saat aku membelakangi mu " Ray berbalik badan dengan trus memikirkan cara menjahili Veln.
" Tutup matamu, jangan mengintip " Veln buru-buru mengenakan pakaian dalamnya dan cepat mengenakan kembali handuk kimononya.
Diwaktu yang tepat Ray kembali membalikkan tubuhnya kearah Veln.
" Sudah selesai? cepat sekali. Ah.. Aku benar-benar merasa kecewa didalam sini " Menunjuk otak mesumnya dengan jari telunjuknya.
" Kita tidak akan kemana-mana kan? " Melirikan pandangannya kearah Ray.
" Karena sampai dengan besok pagi kita habiskan waktu didalam kamar, aku akan langsung mengenakan pakaian tidur saja " Lanjutnya lagi. Sementara mendengar itu senyum full langsung mengebang dibibir Ray.
" Aku bantu pakaikan gaun tidur mu " Veln memukul gemas bahu Ray.
" Memang apa yang kau pikirkan? Aku tidak akan mengenakan gaun tidur itu " Dengan tangan sibuk memilah-milah baju tidur didalam lemari dan pilihannya jatuh pada stelan baju tidur bergambar panda dengan celana dibawah lutut dan kaos berlengan pendek.
" Karena kau membangkang, sebagai gantinya aku akan membantu memakaikan baju mu " Ray menyaut bagian atasan dan bersiap-siap membuka handuk kimono yang dikenakan Veln, namun perempuan itu cepat menahannya.
" Baiklah.. tapi ada syarat yang harus kau patuhi, lakukan dengan menutup mata mu "
" Mana bisa?!! "
"Jangan "
" Kalau begitu tutup mata Mu "
" Mengintip juga tidak boleh? "
" Tidak boleh.."
" Kalau nyasar kau harus tanggung jawab "
" Tidak akan nyasar, aku akan menuntun mu "
" Hahahaa " Setelah tawanya menyeruak tanpa menunggu lama Ray melemparkan handuk kimono yang melekat ditubuh Veln dan membantu menggantikannya dengan baju pilihan istrinya. Adegan tersebut diiringi dengan pipi Veln yang bersemu merah dan senyum yang tak henti dari keduanya dan tentu saja diselipi dengan adegan-adegan gerakan nakal dari jari-jari Ray.
Begitu stelan bergambar panda melekat ditubuh Veln, Ray membuka matanya dengan tatapan nakal. Membuat Veln menekan ludah dan mengatubkan kedua bibirnya.
" Maaf V..Aku sudah tidak tahan lagi " Ray mengangkat dagu Veln, mengarahkan wajah Veln tepat dihadapan wajahnya lalu beralih menuju tengkuk leher dan menariknya.. tanpa menunggu lama Ray langsung melahap habis kedua bibir Veln. Dilakukan dengan sangat lembut dan begitu lama hingga membuat Veln sedikit kesulitan menghirup oxigen. Untung Ray langsung menghentikan gerakannya.
"vKau nakal sekali.. menggoda ku dan membangunkan gairah ku " Ray memiringkan kepalanya dengan senyum menyeringai dan berlalu meninggalkan istrinya dari ruangan tersebut dengan terburu-buru takut terjadi hal-hal yang diinginkan.
○○○
Veln menghampiri Ray yang duduk diatas sofa dengan menggosok-gosokan rambutnya yang masih setengah basah dengan handuk. Ray menarik sebelah tangan Veln, mendudukkan istrinya dibawah lantai yang beralaskan karpet dengan bulu-bulu halus dan mengambil alih handuk yang digunakan Veln untuk mengeringkan rambutnya. Ray menggantikan Veln mengeringkan rambutnya dengan sekali-kali menciumi puncak kepala istrinya.
__ADS_1
" Wangi.. Aku suka aroma tubuh mu " Ray menyandarkan dagunya dibahu Veln, dan mengusel-usel wajahnya ditengkuk istrinya. Gerakan kecil yang dilakukan Ray membuat Veln sedikit gemetar.
" Rilex V.. tidak usah grogi " Ray mendapati tubuh istrinya yang menegang.
" Aku tidak akan melakukannya.. sampai kau siap, lagi pula kau kan sedang datang bulan jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun " Bisik Ray ditelinga Veln begitu lembut. Namun, bukannya merasa tenang Veln malah semakin menegang karena merasakan nafas Ray yang keluar masuk begitu jelas ditengkuk lehernya.
" Hahahaa.." Ray melepaskan diri dari bahu istrinya diiringi tawa kecil yang terdengar renyah ditelinga.
Veln mendongakkan wajahnya yang polos itu kearah belakang, menatap jelas Ray yang sudah duduk santai dengan bersandar diatas sofa. Senyum nakal Ray tercetak disudut bibirnya, membuat mata Veln yang sedang asyik menikmati ketampanan Ray berkedip menghentikan sejenak menikmati keindahan Tuhan.
Veln membenarkan kembali posisi wajahnya, menatap lurus kearah kasur king size yang berjarak dua meteran dari tempatnya duduk.
Sepertinya Veln merasakan ada yang tidak beres dengan mata dan detak jantungnya. Entah mengapa dia merasakan detak jantungnya terasa begitu cepat dan pandangannya menangkap gambar Ray yang begitu tampan dan jelas, meskipun matanya sekarang sedang menatap lurus kearah kepala ranjang tidurnya. Dia menjitak ujung keningnya sendiri pelan, membuat Ray tersenyum lebar melihat apa yang dilakukan istrinya.
" V.." Suara Ray begitu menggoda.
" Hemm " Mendongakkan kembali kearah Ray.
" Apa yang sedang kau fikirkan? "
" Kenakalan mu "
" Kau tergoda? " Dengan senyum menyeringainya.
" Hemm " Masih dengan wajah datarnya. Ray terkekeh mendengarkan jawaban istrinya.
" V.. apa kau nyaman dengan ju? " Jari-jarinya membelai lembut sebelah pipi Veln dengan mudahnya karena posisi wajahnya yang masih mendongak keatas.
" Hemm " Dengan menyandarkan kepalanya yang sudah pegal dipaha Ray.
" Kau tidak merasa tertekan kan dijadikan pendamping hidup oleh laki-laki tampan seperti ku " Ray mulai menyombongkan dirinya.
" Sedikit " Merasa memberikan jawaban yang sedikit memancing emosi Ray, Veln menggigiti bibir bawahnya menyesali perkataannya yang keluar begitu saja dari mulutnya.
Pletak..
Bunyi sentilan jari Ray dikening istrinya, membuat Veln terjingkat kaget dan beranjak dari duduknya.
Veln memutar tubuhnya menghadap Ray, dan melakukan gerakan yang tak terduga. Mencium pipi Ray berkali-kali dengan meminta maaf..
Cup cup cup " Maaf "
Tindakan Veln yang sedikit berani membuat dirinya kini sudah berada dipangkuan Ray. Ray ******* kembali bibir merah Veln dengan lembut dan tanpa penolakan.. sampai begitu lama lalu beralih menciumi kedua pipi istrinya sebentar dan berpindah ketelinga, Ray menggigit kecil diarea sana membuat mulut Veln terpaksa mendesis kecil merasakan sedikit sakit atas ulah suaminya.
Ray menghentikan aksinya, mengangkat dan merebahkan istrinya diatas sofa, dia pun ikut berbaring disana sembari memeluk tubuh Veln dengan begitu eratnya. Otak dan tubuhnya bersusah payah menahan sesuatu didalam sana.
Sebagai laki-laki normal ini sangat wajar, namun bagaimana lagi Ray tidak mau memaksakan diri.. menunggu sampai Veln benar-benar siap ditambah lagi kedatangan tamu bulanan yang tidak diwaktu yang tepat. Lengkap sudah, hanya bisa menahan diri dan membuang nafas panjang dengan memeluk erat tubuh istrinya.
Bersambung..
__ADS_1