
Tiga hari berlalu dan pagi ini merupakan pagi yang keempat mereka berada dipulau ini.
Seperti biasa setelah mereka melakukan sarapan sebelum Ray sibuk dengan aktivitasnya, Ray dan Veln duduk diatas sofa sembari menonton layar televisi.
" V.. Kau mau jalan-jalan kemana? waktu yang tersisa aku putuskan untuk memanjakan mu " Dengan tangannya yang sibuk memencet tombol remot televisi mencari-cari channel yang cocok untuk ditonton, ekspresi Veln terlihat sedikit kaget namun merasakan senang bukan kepalang. Pasalnya selama tiga hari itu sepanjang waktu dia ditinggal suaminya untuk bekerja didalam kamar hotel tersebut tanpa berani keluar dan memang Ray pun tidak mengijinkannya pergi kemanapun sendirian tanpa didampingi dirinya.
" Pantai " Dengan begitu bersemangat Veln menjawabnya.
" Tidak-tidak " Veln meralat jawabannya.
" Tunggu, memangnya kau sudah menyelesaikan urusan mu? " Dengan sedikit mendenguskan wajahnya kearah Ray.
" Hem, pekerjaan ky disini dapat diselesaikan lebih cepat dari perkiraan " Ray menghadapkan duduknya kearah Veln dengan tangan yang menyender ke sandaran sofa dan menopang sebelah kepalanya.
" Kalau begitu lebih baik kita pulang kerumah saja " Dengan membayangkan bagaimana nanti betapa sibuknya dia akan menggali sedapatnya semua tentang Ray lewat orang-orang rumah ketika sudah berada dikediaman Ray. Tidak bisa dipungkiri Veln memang merasa haus akan berita mengenai Ray, siapa dan bagaimana Ray? Veln belum benar-benar mengenalnya. Dan satu lagi mungkin dia juga merasa akan mendapatkan sedikit pencerahan tentang Yas perempuan yang waktu itu bertemu dilorong jalan kamar hotel. Sebenarnya pernah ada niatan untuk bertanya kesekertaris Sam, namun diurungkannya karena Veln paham betul bagaimana Sam sangat menjaga sekali privacy tuannya.
" Baiklah, kita kepantai sekarang. Besok baru kita pulang " Ray bangun dari duduknya dan mengajak istrinya untuk bangun.
" Tidak usah, kita disini saja nonton tv atau tidur-tiduran " Veln enggan mengikuti ajakan Ray untuk bangun.
" Lagi pula kepantai juga percuma, tidak leluasa buat ku bermain disana karena sedang kedatangan tamu bulanan " Sambung Veln lagi.
" Tidak perlu harus bermain air, kita cukup menikmatinya dari kejauhan. Memang kau tidak bosan trus-trusan berada didalam sini? " Ray menatap heran kearah istrinya.
" Tidak, apalagi ditemani oleh mu " Veln malah merebahkan tubuhnya sembari tersenyum menggoda.
" Kita keluar sekarang, terserah kemana saja. Bisa gila aku kalau terus-terusan berduaan dengan nu didalam sini " Ray melangkahkan kakinya.
" Bagaimanapun aku ini laki-laki normal, seharian bersama mu nanti bisa membuat ku emosi tanpa sebab " Menghentikan langkahnya sebentar dan meneruskannya kembali menuju keluar.
" Ayolah.. " Paksa Ray dari kejauhan yang mendapati Veln masih juga tidak bergerak dari tempatnya.
" V.. " Ray memanggil istrinya masih dari kejauhan.
" Tidak mau " Sebenarnya setiap mengingat tamu yang datang setiap bulan itu membuatnya malas untuk ngapa-ngapain apalagi melakukan aktivitas diluar ruangan.
__ADS_1
Ray mendekati istrinya dengan kedua tangan mendarat dipinggangnya, Veln terlihat serius menatap layar televisi sembari rebahan diatas sofa dengan kepala agak dimiringkan kearah televisi.
" Kau tidak mau berbelanja? beli pernak-pernik atau oleh-oleh misalnya? " Veln hanya menggelengkan kepalanya dengan pandangan tak berpaling sedikit pun dari layar televisi membuat Ray sedikit kesal.
Dengan senyum jailnya Ray meraih remot tv dan mematikannya, spontan membuat pandangan Veln beralih kearah suaminya yang sedari tadi sedang fokus menonton tv.
" Kau ini usil sekali " Dengan nada datar seperti tidak merasakan kesal atas perbuatan suaminya.
Dan bukannya bangkit dari tidurnya, Veln malah memejamkan matanya seperti hendak akan tidur kembali tanpa memperdulikan ajakan Ray. Reflek Ray mendekatkan wajahnya kearah wajah Veln yang terlihat menggoda, dan langsung ******* bibir Veln yang terlihat menantang dengan lembut dan dalam membuat Veln membelalakkan matanya sedikit terkejut. Nafas Veln sedikit tersengal karena ciuman Ray yang begitu tiba-tiba dan lama, membuatnya tidak bisa mengimbanginya. Ray melepaskan lumatannya ketika mendapati Veln yang sedang sedikit gelagapan kekurangan oksigen karena serangannya.
" Aku menyerah, kita keluar sekarang. Akan lebih menyedihkan kalau kita meneruskan ini " Dengan malas Veln bangun dari tidurannya dan menggandeng tangan suaminya. Terlihat senyum kemenangan dari sudut bibir Ray dengan tangan mengacak sebentar rambut istrinya.
○○○
Ray dan Veln terlihat berjalan bergandengan dibibir pantai menikmati udara pantai yang berhembus dengan begitu sepoinya, menghirup khas aroma laut dan menatap ombak yang berkejar-kejaran yang sukses membuat mata dan fikiran sedikit fresh dibuatnya. Apalagi pengunjungnya belum terlihat ramai, sehingga membuat lebih leluasa untuk menikmatinya.
" Ray, tidakkah kita terlalu kejam terhadap sekertaris Sam? " Veln menengokkan kepalanya kebelakang kearah sekertaris Sam yang sedang berdiri tak jauh dari tempat mereka.
" Tidak. Bahkan aku dan kau tidak melakukan penindasan terhadap Sam, bagaimana bisa dibilang kejam? " Dengan santainya kata-kata itu keluar dari mulut Ray.
" Dia terlihat seperti jomblo abadi yang sedang memperhatikan sepasang kekasih bergandengan tangan, dan itu pasti membuat rasanya sakit untuk melihatnya " Sambung Veln penuh drama.
" Tidak usah memikirkan Sam, kalau pun matanya sakit melihat kita bermesraan dia bisa memejamkan matanya " Kata-kata Ray seolah tidak terganggu sedikit pun dengan keberadaan Sam.
" Lagian kenapa juga Sam diikut sertakan? aku yang melihatnya saja merasa kasihan, apalagi dia yang merasakannya.. pasti teramat pedih " Kata-kata penuh drama kedua.
" Aku mengikut sertakan Sam, untuk agar dia bisa berkenalan dengan perempuan diluaran sini. Tapi dia malah memilih mengikuti kita, mungkin Sam sedang belajar dari keahlian ku memperlakukan wanita " Veln melemparkan pandang kesembarang arah dan menghela nafas panjang mendengar penuturan Ray.
" Boss, sebenarnya dari mana asalnya sampai kau begitu sepercaya diri ini? " Dengan tidak habis pikir suaminya bisa sepede itu.
" Tentu saja dari anugrah yang sudah Tuhan berikan.. dan kecerdasan ku memanfaatkannya " Kali ini senyum yang terlihat sombong itu keluar dari ujung bibirnya.
Tiba-tiba datang seorang perempuan hamil mendekati mereka dengan senyum bahagia yang diikuti seorang laki-laki dibelakangnya.
" Permisi tuan " Ucap laki-laki itu kepada Ray dengan diikuti senyum perempuan hamil tersebut.
__ADS_1
" Bisa kah anda berfoto dengan istri saya?sepertinya bayi perempuan dalam kandungannya begitu terpesona terhadap anda " Laki-laki itu bicara dengan tawa yang dibuat-buat sedikit merasakan malu.
Memang sedari pertama istrinya melihat Ray dipantai ini, pandangannya tidak mau lepas dari wajah Ray. Bahkan mereka berjalan mengikuti kemanapun Ray pergi sampai dirasa inilah waktu yang tepat dan memberanikan diri mengutarakan maksudnya yang disambut baik oleh Ray dan Veln. Dengan senyum merekah istrinya karena keinginan untuk berfoto dengan Ray terlaksana, akhirnya mereka pun undur diri dan pergi.
" Kenapa kau menatap ku seperti itu? " Pertanyaan Ray membuat Veln memalingkan penglihatannya kearah lain.
" Tidak usah merasa heran, bahkan bayi perempuan yang masih dikandungan pun bisa merasakan aura ketampanan dan pesona ku " Mulai lagi Ray menyombongkan diri membuat Veln memutarkan kedua bola matanya.
" Kurasa bukan seperti itu Ray. Sepertinya mereka merasa aneh terhadap kalian berdua yang salah costum, tidakkah kalian merasa aneh kepantai dengan pakaian formil begini?apalagi sekertaris Sam memakai kemeja lengkap dengan jasnya seperti hendak melakukan pertemuan penting saja " Sembari tangannya menunjuk kearah sekertaris Sam.
" Ok, berarti kau juga harus mengganti dress mu dengan bikini agar lebih pas dengan tempat yang kita kunjungi seperti mereka-mereka itu? " Menunjuk kearah beberapa orang yang sedang menggunakan bikini. Spontan Veln sedikit tersentak namun pikiran jailnya mencul dikepalanya.
" Baiklah, sepertinya kita harus keoutlet yang menyediakan barang-barang yang kita butuhkan " Dengan semangat Veln menarik tangan Ray menuju outlet terdekat disekitar pantai yang diikuti sekertaris Sam.
Dengan senyum jahatnya Ray memilihkan bikini terseksi untuk istrinya.
" Pakai yang ini " Menyodorkan satu stel bikini yang masih tertata rapi diatas gantungan.
" Benar ya, kau yang menginginkannya " Tanpa terlihat ragu Veln mengambil stelan bikini tersebut dan masuk menuju ruang ganti. Melihat itu Sam dibuat bingung oleh kelakuan tuan dan Nonanya.
Ah.. sial perempuan ini ternyata nakal juga.
Ray bergumam sembari tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Sementara didalam ruang ganti Veln sedang berdiri dengan kedua tangannya memeluk bikini sembari sibuk berhitung.
" Satu.. dua.. tiga.. " Tepat dihitungan ketiga terdengar suara ketukan pintu ruang ganti. Veln pun membuka dan melongokkan kepalanya, Ray yang tepat berdiri disana langsung membuka lebih lebar pintu tersebut dan menarik keluar istrinya. Ray mengambil bikini yang dipegang Veln dan menggantungnya kembali disembarang tempat dan mengajak Veln berlalu dari tempat tersebut tentunya dengan diikuti oleh sekertaris Sam.
" Aku mengaku kalah " Dengan nada rendah serendah-rendahnya. Veln tertawa kecil karena merasa puas.
" Kau senang sekarang? bagaimana kalau aku mengijinkan mu memakainya? dan membuat mengekplor seluruh tubuh mu? " Ray seolah memberikan penekanan.
" Aku akan memohon ampun, dan meminta menggantikan sekertaris Sam untuk memakainya " Reflek tawa mereka pecah dengan melirik kearah Sam sembari membayangkannya. Sam yang merasa dirugikan dengan hal ini tidak dapat protes hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, menarik dan membuang nafas panjang.
Kembali mereka menuju pantai, dan menyusuri tepiannya dengan mata menikmati deburan ombak dan lalu lalang pengunjung lainnya. Mungkin sampai mereka merasa bosan baru mereka akan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Bersambung..