
Sore hari Veln terlihat sudah mengantri ditempat dokter Adrian praktek, dokter Adrian merupakan dokter spesialis kandungan. Seperti biasa, Vel ditemani oleh bu Ani.
Sore ini setelah dirinya puas berbaring dan bermalas-malasan sepanjang hari, Veln nampak fit seperti biasanya. Tidak seperti waktu tadi pagi yang kondisinya sedikit mengkhawatirkan.
" Hik hik hik " Tiba-tiba seorang anak perempuan yang berumur sekitar tiga tahunan berlari sambil menangis dan menabrak Veln yang sedang asik menatap kolam ikan.
" Sayang, hati-hati.. cup cup cup, kamu kenapa? " Veln mengelus punggung gadis kecil itu.
" Jangan non " Bu Ani menahan Veln saat hendak menggendong gadis kecil itu. Veln mengernyit bingung. " Perempuan yang sedang hamil muda tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat-berat, termasuk menggendong seorang anak " Veln pun mengerti, dan akhirnya mengajak gadis kecil itu duduk dipangkuannya.
" Nama kamu siapa? o ya, dimana mama mu? " Tak lama seorang baby sister muncul dengan tergesa-gesa.
" Non Sasa " Dia tersenyum kearah Veln, dan Veln pun membalasnya.
" Sasa kangen Mami, hkhkhk. Sasa mau sama Mami.. huahahahaa " Sasa meluapkan tangisnya semakin kencang membuat sang baby sister kebingungan.
" Cup cup cup, memang Mami Sasa kemana? " Tanya Veln sembari menenangkan.
" Ja_ uh " Menjawab masih dengan isakannya.
Saat sedang asik menenangkan gadis kecil itu, tiba-tiba nama Veln dipanggil.
" Nyonya Veln " Ucap salah satu asisten dokter kandungan yang dia kunjungi.
" Iya " Veln tersenyum kearah suara, lalu wajahnya dipalingkan kearah Sasa " Sasa sama mbak lagi ya? tante mau dilihat dulu perutnya, ada dede bayinya atau nggak? " Sasa mengangguk, namun malah mendekap tubuh Veln erat. Sasa yang dipangku menghadap Veln, memudahkannya untuk memeluk dan mendekap tubuh perempuan ayu itu.
" Ayo non Sasa, main lagi sama Mbak " Sasa menggeleng, menolak ajakan pengasuhnya. " Aduh bagaimana ini " Pengasuh Sasa kebingungan.
" Sasa mau ikut tante masuk? " Sasa mengangguk, Veln pun masuk kedalam ruangan dokter Adrian dengan rombongan.
Dokter Adrian menyungging senyum kearah Veln, lalu menatap tajam kearah baby sister Sasa yang terlihat menunduk ketakutan. Sama halnya dengan Sasa, dia pun merasa ketakutan dan memeluk lengan Veln kuat-kuat sembari membenamkan wajahnya.
" Pak dokter, Sasa mau lihat dede bayi diperut tante. Boleh tidak? " Ujar Veln sedikit manja, Dokter Adrian terlihat terkejut melihat gadis kecil itu dekat dengan pasiennya. " Boleh ya pak dokter? " Veln menatap wajah dokter Adrian penuh harap. " Didepan anak ini menangis terus menerus, merajuk ingin ketemu Maminya " Terang Veln. " Tapi Maminya jauh katanya, dan.. " Veln tersenyum canggung " Gadis kecil ini tidak mau lepas dari saya dok " Lanjut Veln lagi.
" Maminya lagi dipulau xx, lagi sibuk ngurusin bisnisnya "
" Kok dokter tau? Mami anak ini mantan pasien dokter ya? "
" Sasa putri saya, berarti Maminya adalah istri saya " Dokter Adrian terkekeh.
__ADS_1
" Eh " Veln terkejut.
" Maaf, putri saya merepotkan anda "
" Tidak sama sekali, dok " Veln menyunggingkan senyum manisnya.
Setelah dokter Adrian menanyakan maksud dan tujuan Veln, dokter Adrian meminta Veln untuk berbaring diatas kasur. Asistennya membantu mengoleskan gel bening diperut Veln, dan dokter pun mulai beraksi, menggerak-gerakkan alatnya diperut rata Veln dengan fokus menatap layar monitor dan bibirnya bergerak-gerak memberikan penerangan kepada Veln.
Begitu pemeriksaannya selesai, dokter Adrian mencatat dan mengklip hasil pemeriksaan kandungan Veln dibuku pink alias buku kia yang merupakan buku khusus kesehatan ibu dan anak.
Usia kandungan Veln ternyata baru memasuki empat minggu, dan berdasarkan keadaan Veln yang sehat dokter Adrian memperbolehkan perempuan itu melakukan aktifitas seperti biasanya terkecuali bagian yang berat-berat. Tentu tidak lupa dokter pun menyarankan untuk Veln istirahat yang cukup dan makan yang teratur dan bergizi.
Begitu pemeriksaan selesai, ternyata putri kecil dokter Adrian masih tidak mau lepas dengan Veln, akhirnya Veln membawa Sasa dan pengasuhnya pulang keapartemennya tentu sudah dengan ijin dadynya yaitu dokter Adrian.
○○○
Malam hari sebelum Ray melakukan makan malam terlihat sibuk mengobrol didalam kamarnya bersama Om Heri.
" Kamu sehat, tidak kurang satu apapun " Ucap Om Heri. " Mungkin hanya kelelahan, butuh istirahat lebih banyak "
" Aku juga berfikir begitu, mungkin hanya sedikit kelelahan. Tapi Om, tolong berikan resep untukku. Untuk mengusir rasa mual diperutku dan pening dikepala yang kadang tiba-tiba datang "
" Ya, saya akan memberikan resep obat sakit kepala dan mual sekaligus vitamin untuk mu "
Sesudahnya, Ray tidak langsung naik menuju kamarnya. Ray menuju meja makan, hendak melakukan makan malam.
Dan diatas meja makan begitu kacau tak beraturan, semua makanan dari makanan pembuka hingga penutup tertata bersamaan. Sesuai dengan perintah majikannya.
Tepat sekali, semua makanan yang terhidang merupakan makanan kesukaan Veln. Ray memakan dan meminumnya juga tanpa aturan, terkadang dia menyentuh makanan penutupnya lalu tak lama meminum coklat hangatnya, kemudian dia menyuap makanan pembuka dan meminum jus nanasnya, setelah itu dia menyendok makanan utamanya lalu meminum air putih berlanjut terus menerus tak beraturan hingga makan malamnya habis.
Begitu selesai Ray langsung menuju kamarnya. Baru juga membuka pintu kamarnya, kembali ada yang tidak beres dalam perutnya. Ray segera berlari menuju wastafel..
Hoek hoek hoek.
Kepalanya pening dan berdenyut pusing.
" Arrrrrrrrg " Ray menggeram frustasi merasakan tubuhnya yang aneh tak terkendali.
Ray mengganti baju dengan piyamanya, lalu mendekat kearah meja rias dan menyaut salah satu botol parfum yang biasa Veln kenakan. Dengan reflek, Ray menyemprotkan ke baju tidurnya. Memejamkan matanya, menghirup kuat-kuat aromanya dan tersenyum saat bayangan wajah Veln melintas dibenaknya.
__ADS_1
○○○
Begitu Sasa pulang dijemput dadynya, Veln nampak melamun dengan duduk diatas kursi meja makanya.
" Kenapa non? " Bu Ani menghampiri saat mendapati majikannya yang sedang galau.
" Bu " Lirih suara Veln.
" Iya non " Bu Ani mendekat dan mengelus rambut Veln, bu Ani mengerti ada sesuatu yang terjadi dengan majikannya.
" Bagaimana ini " Veln memeluk bu Ani yang berdiri disampingnya? dia membenamkan wajahnya ditubuh perempuan paruh baya itu. " Saya, beneran hamil " Suara Veln terdengar jelas meski wajahnya masih terbenam.
" Iya, ibu tau "
" Tapi ayah dari bayi ini_ " Veln menjeda, memberi kesempatan untuknya menelan ludah. " Dia tidak tau, kalau diperut saya sedang tumbuh buah hatinya " Veln kuat dan tidak menangis sama sekali, dia hanya menunjukan kepedihan dan kesedihannya dengan memeluk lebih erat perempuan tua dihadapannya.
" Memang bu Ani tidak tau apa yang terjadi dengan nona, tapi_ ayah dari bayi ini berhak tau. Dia berhak untuk mengetahui bahwa ada janin yang tumbuh diperut nona "
Veln mendongak, menatap sendu kearah bu Ani.
" Soal menerima atau tidaknya itu urusan belakangan, yang terpenting ayah dari janin yang ada diperut nona harus tau dulu " Bu Ani menghela nafasnya. " Kalau pun nanti dia menolak, akan sangat mudah nanti untuk nona menguasainya ketika dia lahir dan tumbuh besar nanti. Dan setidaknya nona tidak akan disalahkan kelak oleh anak nona ketika dia besar nanti saat mengetahui kebenarannya. Karena bu Ani yakin, anak yang lahir dari perut nona nanti akan terus-menerus menanyakan siapa ayahnya. Hingga besar nanti, dia pasti akan mencari tau sendiri. Dan bu Ani tidak ingin pengorbanan nona membesarkan anak nona sia-sia ketika anak nona yang sudah besar nanti mengetahui kenyataan bahwa dirinya sengaja dijauhkan dengan ayahnya. Jangan sampai anak nona berfikiran seperti itu kelak " Ujar bu Ani panjang lebar.
" Bu Ani benar "
" Beritahukan ayahnya non, dan jika dia menolak berarti sepenuhnya janin yang ada diperut nona itu sah milik nona hingga dia besar nanti, setelah itu bila perlu pergilah sejauh mungkin dengan membawa serta anak nona. Buat ayahnya hidup dengan membawa penyesalan sampai akhir hayatnya " Bu Ani terlihat geram menggebu-gebu, bagaimana pun sebagai perempuan bu Ani bisa merasakan apa yang dirasakan majikannya saat ini.
" Emm, akan saya lakukan. Saya juga tidak mau nanti dituduh oleh anak saya karena memisahkannya dari ayahnya. Kalau laki-laki itu menolak buah hatinya, maka saya akan membuat anaknya mengerti bahwa ayahnya lah yang menolak kehadirannya bukan saya yang memisahkannya " Veln bersemangat, seolah mendapatkan tambahan tenaga dalam dari super hero baik hati.
" Kalau begitu minum obat dan vitamin dulu non, lalu istirahat. Biar non dan janin non tambah kuat " Veln mengangguk, bu Ani pun melangkah menuju kamar majikannya untuk mengambilkan obat yang sudah diresepkan oleh dokter Adrian.
Veln langsung meminumnya, setelahnya langsung masuk menuju kamarnya. Dia hendak tidur, meski rasa lemas, mual dan pusingnya menghilang dan tak dirasakannya lagi tapi nyatanya saat ini matanya sudah meminta untuk diistirahatkan. Mungkin Veln lelah, akibat menemani Sasa bermain tadi.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..