Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
80. Usaha


__ADS_3

Didalam kamar yang terlihat sangat sempit dan kurang layak dimata Ray, kamar yang sangat jauh dengan yang biasa dirinya tempati. Bahkan besar kamar yang ditempati pelayan rumahnya masih lebih luas dari ruangan ini, Veln mendudukkan tubuhnya disofa single yang berada disudut ruangan kamar ini.


Ray yang masih berdiri dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celana dan bersandar dikusen pintu, tak henti pandangannya mengarah lekat keperempuan ayu itu dengan sesekali menelusuri tiap sudut kamar Veln.


Setelah dirasa puas dirinya menatapi perempuan yang selalu memenuhi otak dan fikirannya, Ray melangkah lebih dekat kearah Veln.


🤳 Ray " Pak Dim, tolong antarkan baju ganti untuk saya kealamat ini ... " Ray mendekati Veln dengan bertukar suara dan memberi perintah lewat telfon selulernya, setelah itu dia lemparkan ponselnya begitu saja diatas kasur.


Ray duduk dibawah lantai tepat dihadapan kaki Veln. Dia benamkam wajahnya dikedua paha istrinya, dengan kedua tangan dia lingkarkan dan diselusupkan dipinggang perempuan ayu itu.


" Maaf V.. aku mengaku salah, aku menyesal " Ray semakin mengeratkan lengannya yang melingkar dipinggang Veln.


" Aku juga.. meminta maaf terhadap almarhum ayah dan ibu mu " Ray memejamkan matanya, sepertinya dia benar-benar sangat menyesali perbuatannya.


" Aku akan meminta pengampunan langsung kepada mereka ketika bertemu disurga nanti " Suaranya semakin lirih dan parau, terdengar ada ketulusan disana.


Namun sepertinya Ray terlambat menyadari kesalahannya, dia tidak akan semudah itu mendapatkan pengampunan dari perempuan dihadapannya. Bagaimana pun Veln hanya manusia biasa, bukan Tuhan yang dapat dengan mudah mengampuni umatnya.


Veln sudah terlanjur memutuskan untuk menutup pintu hatinya, bahkan sepertinya sudah final. Dia tidak akan memberikan kesempatan lagi, tidak kedua apalagi ketiga.


Veln merasa dirinya sudah banyak memberi waktu kepada Ray, namun salahnya karena tidak memanfaatkan peluang dengan baik.


Ray pada saat itu justru sibuk dengan fikiran yang membelok dan egonya. Sudah cukup kesabaran dan penderitaannya terbuang percuma kala menanti Ray sadar, menunggu laki-laki itu untuk kembali dengan fikiran lurusnya.


Mulut Veln seperti terkunci, tak ada tanggapan sama sekali atas permohonan pengampunan yang dilakukan Ray. Bahkan sedari tadi perempuan ayu itu membuang pandangannya dari arah Ray.


Veln tidak akan melawan, memberontak, apalagi menghajar Ray. Dia tidak mau membuang tenaganya hanya untuk pria dihadapannya.


Veln lebih memikirkan janin dalam kandungannya, dia tidak ingin stres hanya karena kelakuan ayah biologis dari calon bayinya.


" V " Ray mendongakkan wajahnya kearah wajah Veln dengan dagu yang masih menempel dipaha perempuan ayu itu, terlihat buliran bening membasahi pipinya.


Ray menangis meski dengan jarang-jarang dia meneteskan air mata. Veln menatap balik kearah Ray dengan pandangan biasa, justru sorot matanya terlihat seakan dia tidak peduli dengan keberadaan laki-laki dihadapannya.


" Tolong, jangan seperti ini " Ray menelan ludahnya kelu dan kembali membenamkan wajahnya disana. " Setidaknya lakukan sesuatu, hajar aku.. pukul, caci dan maki aku " Ray berharap dirinya hancur dan sehancur-hancurnya malam ini, dia sudah rela dan siap untuk menerima luapan emosi dari perempuannya demi permohonan maaf atas perbuatannya.


" Buuu, bu Aniiii " Bu Ani yang mendengar panggilan majikannya langsung masuk membuka pintu kamar Veln, yang sebelumnya mengetuk dulu beberapa kali sebagai pemberitahuan.


" Iya non, ada apa? "


" Saya lelah dan mengantuk, saya mau istirahat " Ucap Veln dengan intonasi datar terhadap bu Ani yang salah sasaran.


Saking apanya coba? jelas saking karena malasnya Veln untuk berbicara dengan Ray.


Sehingga hanya untuk membuat Ray mengerti dengan keadaan dirinya, Veln lebih memilih memanggil bu Ani dan mengutarakan maksudnya lewat perempuan baya itu.


Ray yang mengerti langsung mengangkat wajahnya, melepas dekapan tangannya, segera bangkit berdiri dan mundur beberapa langkah memberi Veln ruang untuk bergerak.


Begitu terbebas dari tubuh Ray, Veln langsung bangkit dan menuju kasurnya.

__ADS_1


Veln merebahkan tubuhnya dengan perlahan dan tidak lupa sekaligus menendang ponsel milik Ray dengan sengaja kesembarang arah yang memang posisinya sangat pas sekali tepat berada diujung kaki Veln.


Bletaaaaaak..


Ponsel dengan warna hijau temaram itu terjun bebas diatas lantai, ponsel yang merupakan saksi bisu proses awal penyatuan mereka.


Bu Ani hanya bisa diam menyaksikan mereka yang sepertinya sedang berada disituasi perang dingin.


Bu Ani cukup mengerti dengan perasaan yang sedang dirasakan nonanya, dan bu Ani pun paham dengan tuannya yang berada diposisi yang tidak mengenakkan.


Namun satu hal yang bu Ani pahami, nampak jelas dimata pemuda dihadapannya yang membawa beribu-ribu permohonan maaf dan penyesalan mendalamnya.


Melihat itu, gerakan pelampiasan yang dilakukan wanitanya membuat Ray tersenyum dan menjentikkan jari telunjuk dihidung mancungnya.


" Tidak apa-apa bu, saya tidak akan mengganggu nona majikan mu. Tidurlah, istirahatkan tubuh ibu " Bu Ani pun mengangguk dan segera pergi menuju kamarnya.


Sementara Ray menggantikan posisi Veln, duduk disofa single dengan arah mata terus menatapi tubuh Veln yang meringkuk diatas kasur.


Dengan seperti ini saja dapat berdekatan dengan V nya sudah membuat Ray senang, tenang dan nyaman. Ray merasa sesuatu yang mengganjal dalam dirinya selama ini seolah menghilang seketika.


Hingga dua jam lamanya terdengar suara pintu diketuk. Ray keluar bersamaan dengan bu Ani juga ikut keluar dari kamarnya.


" Biar saya saja bu. Itu pasti pak Dim, pelayan rumah yang saya suruh untuk membawakan baju ganti dari rumah " Bu Ani pun tersenyum dan kembali masuk menuju kamarnya.


Ray segera membuka pintu dan mendapati pak Dim dengan sebuah paper bag ditangan. Ray mengambil alih paper bag tersebut dengan memperhatikan wajah bingung pak Dim.


" Terimakasih pak. Emmm ini kediaman V, untuk sementara mungkin saya akan sering berada dirumah ini " Rasa penasaran pak Dim akhirnya terjawab, dan karena tugasnya sudah terselesaikan pak Dim pun pamit undur diri untuk pulang kembali menuju rumah.


" Tok tok tok " Ray mengetuk pintu kamar bu Ani. " Bu, saya mau mandi saya butuh handuk " Ucap Ray saat bu Ani muncul dari balik pintu kamarnya. Jiwa tuan muda Ray seketika muncul, entahlah tiba-tiba dia merasa bingung saat tak mendapati handuk didalam paper bagnya.


" Nanti ibu ambilkan "


" Kalau begitu saya tunggu dikamar mandi " Ray pun berlalu meninggalkan bu Ani menuju kamar mandi yang letaknya berdekatan dengan ruang dapur. Sementara bu Ani menghampiri kamar Veln.


" Non " Bu Ani mengetuk pintu kamar Veln sembari memanggil-manggil majikannya.


" Masuk aja bu "


Bu Ani pun segera masuk. " Mau ambil handuk non, tuan mau mandi katanya " Veln yang nampak berbaring dengan posisi pewenya menyungging senyum kearah bu Ani. " Non, baik-baik saja kan? " Veln mengangguk. " Ibu tau, non pasti bisa melewati situasi ini " Veln menunjukkan jempol tangannya, memberi tahukan bahwa dirinya memang baik-baik saja.


Dan kenyataannya memang seperti itu. Sepertinya Veln akan sangat lihai dalam menghadapi tuan muda itu dikondisi yang tidak lagi sama seperti dulu.


Setelahnya bu Ani pergi menghampiri Ray kekamar mandi dengan membawa sebuah handuk ditangan.


Ray nampak bingung berdiri tepat dipintu kamar mandi. Otaknya seolah sedang memikirkan sesuatu.


" Ini tuan, handuknya " Ray menoleh dan tersenyum mendapati warna handuk milik Veln, pink polos dengan ujung bermotif gambar kartun. Lalu dia sampirkan dilehernya.


" Bu dikamar mandi tidak ada shower? maksud saya, saya butuh air hangat "

__ADS_1


" Tunggu sebentar tuan, Ibu masakin "


" Tidak usah bu. Ibu tidur saja " Ray pun bergegas menuju dapur yang tak jauh dari kamar mandi, dia cukup mengerti hanya dengan mendengar kata masak yang keluar dari mulut bu Ani.


Ray mengambil panci yang tergantung disana, yang langsung tertangkap matanya saat langkahnya mengarah kedapur. Ray mengisinya dengan air setelah itu dia letakkan diatas kompor dan bersiap untuk memasaknya. Dia menyalakan kompornya dengan menggunakan api yang cukup besar.


Sembari menunggu airnya mendidih, Ray menyandarkan tubuhnya disisi meja makan dengan mata terus mengawasi panci yang setia nangkring diatas sana.


Selang beberapa menit terdengar bunyi air yang meletup-letup tanda sudah masak. Ray pun segera mematikan kompornya dan kembali menuju kamar mandi untuk mengambil ember.


" Loh, ibu masih disini? " Ray kaget saat mendapati bu Ani masih berada diruangan tersebut, memperhatikan dengan seksama yang sedang dikerjakan Ray.


" Iya tuan " Bu Ani tidak setega itu untuk meninggalkan tuan mudanya, apalagi terlihat jelas kekikukan saat Ray mengerjakan sesuatu yang dibutuhkannya.


" Jangan khawatir bu, saya akan hati-hati " Ray meyakinkan bu Ani. " Kalau pun rumah ini sampai terbakar, itu berarti saya sengaja untuk membuat V kembali pulang kerumah " Ray terkekeh dan dibalas senyum oleh bu Ani. " Tidurlah bu, saya janji tidak akan terjadi sesuatu dirumah ini. Saya pastikan semua aman dan baik-baik saja "


" Baik tuan. Jangan sungkan, panggil ibu jika membutuhkan sesuatu atau pun bantuan " Bu Ani pun kembali menuju kamarnya.


Ray pun melanjutkan aktifitasnya, dengan begitu lama Ray menyesuaikan suhu air yang dia inginkan. Dengan perlahan dan sedikit demi sedikit Ray mencampurkan air panasnya dengan air dingin.


Setelah cukup lama, akhirnya Ray menemukan air hangat yang menurutnya sudah pas. Sudah sesuai dengan air shower yang biasa dirinya gunakan.


Ray pun memulai acara membersihkan dirinya, dengan sangat tidak leluasanya Ray mandi menyiramkan tubuhnya dengan air.


Ukuran kamar mandi yang menurutnya terlalu kecil membuatnya harus mengayunkan gayungnya dengan hati-hati.


Takut airnya nyiprat kemana-mana, dan berbahaya jika sampai membasahi baju ganti dan handuknya yang tergantung ditembok samping pintu kamar mandi.


Kedua telapaknya pun tanpa alas kaki, tidak ada sandal rumahan yang Ray bisa gunakan. Dan memang sepertinya V sengaja tidak menyediakan sandal khusus yang digunakan untuk didalam rumah.


Ray meraih botol shampo yang berjejer rapih dengan peralatan mandi lainnya, dia menuang dan segera mengaplikasikan kerambutnya.


Setelah semua ritual mandinya dia lakukan, Ray mencium aroma tubuhnya sendiri dengan mengangkat salah satu lengannya dan diarahkan keujung hidung.


Senyum Ray melengkung tatkala tubuhnya dipenuhi aroma wangi perempuan, aroma yang dia dapatkan dari peralatan mandi Veln yang Ray gunakan.


Ray terkekeh merasa geli sendiri, namun Ray menyukainya. Menyukai aroma wangi dari peralatan mandi yang biasa Veln gunakan.


Sebelum Ray memutuskan untuk keluar dari kamar mandi, ada satu hal yang harus Ray lakukan yaitu menggosok giginya.


Kegiatan ini membuat Ray kebingungan, Ray tidak dapat membedakan mana sikat gigi milik Veln dan yang biasa digunakan bu Ani?


Pada akhirnya, lewat instingnya Ray memutuskan mengambil sikat gigi yang berwarna pink. Ray yakin benda satu inilah yang digunakan Veln untuk membersihkan gigi dan mulutnya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2