
Kedua tangan Ray sibuk memasukan dua kantung belanjaan kedalam mobil, lalu membantu membukakan pintu mobil untuk istrinya agar bisa masuk kedalam.
Tak lama kemudian Ray sudah fokus menyetir menjalankan kendaraannya perlahan meninggalkan pusat perbelanjaan tersebut.
Begitu juga dengan Veln yang fokus menatap jalanan dari balik kaca jendela mobil, beberapa menit didalam mobil nampak hening hanya terdengar suara mesin mobil yang terdengar begitu halus.Tak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka, sesekali mata Ray melirik kearah Veln memperhatikan setiap gerakan istrinya yang masih sibuk memandangi suasana luar dari dalam mobil.
" Kau marah pada ku? " Ray memecah suasana senyap didalam sana. Veln hanya menggelengkan kepalanya sembari memandang kearah Ray dengan wajah datar.
" Lalu, kenapa kau mendiamkan ku? " Masih fokus dengan menyetirnya sembari sesekali pandangannya ditujukan kearah istrinya.
" Aku tidak mendiamkan mu " Perkataan Veln terdengar meyakinkan.
" Benarkah? " Ray meyakinkan.
" Hem " Menjawab ringan dengan dibarengi anggukan kepalanya.
" Tadi itu, aku hanya tidak suka dan tidak mau kalau kau nantinya terlalu banyak mengkonsumsi makan-makanan yang seperti itu " Veln mendengarkan dengan seksama kata-kata Ray.
" Hem, aku mengerti. Aku hanya jaga-jaga saja agar tidak kelaparan seperti waktu itu karena ditinggal oleh mu " Ray mengusap rambut Veln lembut.
" Kalau merasa lapar, kan bisa meminta bantuan room service " Tangan Ray beralih menyentuh pipi lembut Veln.
" Waktu itu aku tidak kepikiran kesitu, lagi pula saat itu aku merasa tidak memegang apa pun. Bahkan sampai sekarang aku masih belum melihat dompet ku " Sembari menepis tangan Ray pelan karena merasa geli.
" Tidak usah khawatir barang-barang mu sekarang pasti sudah berada dirumah dengan aman " Senyum manis Veln tersungging mendengar perkataan Ray.
○○○
Ray menghentikan laju mobilnya tepat didepan lobby hotel, beberapa karyawan hotel terlihat menghampiri hendak membantu. Seorang mengambil alih kunci mobil yang akan memarkirkan kendaraan roda empat tersebut ketempat semestinya, dan yang lainnya hendak membantu membawakan kantung kresek belanjaan untuk dimasukan ke dalam namun Ray menolaknya lebih memilih untuk membawanya sendiri dan menyuruh mereka untuk kembali mengerjakan tugasnya.
" Ray, apa kita salah satu tamu hotel yang mendapatkan perlakuan istimewa ditempat ini? karena sepertinya aku merasakan fasilitas luar biasa dari tempat ini begitu juga saat kita menginap dihotel sebelumnya. Aku tidak habis pikir bahkan ketika melihat kantung belanjaan mereka langsung sigap hendak membantu membawakannya " Ray hanya melirik dan tersenyum tipis kearah Veln.
" Mungkin ini salah satu pelayanan khusus yang diberikan pada pasangan pengantin baru seperti kita ya? " Karena tidak mendengar jawaban dari Ray, Veln berasumsi sendiri.
" Sudah ku bilang, jangan berfikir terlalu keras " Pintu lift pun terbuka, Ray menggiring tubuh istrinya untuk keluar dari ruangan itu.
Baru saja melangkahkan kakinya sebentar, tiba-tiba muncul seorang wanita datang dengan raut wajah yang begitu marah dan kesal melangkahkan kakinya dengan sedikit berlari dan terburu-buru tanpa memperdulikan keberadaan Ray dan Veln masuk menuju pintu lift hingga menyenggol sedikit tubuh Veln. Karena goncangan yang tak terduga Veln agak sedikit hendak terjungkal kelantai, untung tangan Ray sigap menahan tubuh istrinya.
" Kau tidak apa-apa? " Perkataan Ray terdengar sedikit cemas.
" Tidak apa-apa " Veln menjawab dengan membetulkan posisi berdirinya. Terlihat dari jarak yang tak begitu jauh seorang pria berlari kearah mereka yang sepertinya hendak mengejar perempuan tadi, namun langkahnya terhenti sebentar ketika berada dihadapan mereka.
__ADS_1
" Nona maafkan atas keteledoran pacar saya barusan " Dengan menyesal pria itu meminta maaf kearah Veln. Pria tersebut melihat pacarnya yang lari terburu-buru dan sempat menyenggol Veln dari kejauhan.
" Tidak apa-apa " Veln menjawab datar.
" Apa dia istri anda " Sembari matanya menatap kearah Ray, Ray pun mengangguk tegas membenarkan.
" Perkenalkan, saya Dimas " Dimas mengulurkan tangannya yang disambut baik oleh Ray.
" Maaf terjadi sesuatu dengan kami, sehingga membuat pacar ku marah dan tanpa sengaja menabrak wanita mu " Dengan penuh penyesalan Dimas meminta maaf atas kesalahan pacarnya yang tidak disengaja karena dalam keadaan marah.
" Tidak apa-apa, kami bisa memakluminya " Dimas merasa lega dengan apa yang dikatakan Ray, lalu dia pun berpamitan untuk mengejar pacarnya. Ray dan Veln pun kembali melangkahkan kakinya menuju kamar hotel yang mereka tempati.
" Sepertinya mereka sedang bertengkar? " Seraya menatap wajah suaminya.
" Entah lah " Sepertinya Ray tidak tertarik dengan kedua orang tadi, tidak terlalu menanggapi perkataan Veln.
" Terlihat jelas wajah merah padam perempuan yang barusan menabrak ku, kira-kira apa yang dilakukan laki-laki itu hingga sampai membuat pacarnya sebegitu marahnya? " Veln sibuk memikirkan yang bukan urusannya.
" Berhentilah membicarakan hal-hal yang bukan urusan mu, sebelum aku menutup mulut mu dengan mulut ku " Tanpa berpikir panjang Veln langsung mengunci mulutnya dan mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat.
○○○
Lagi langkah mereka terhenti ketika melihat seorang perempuan terduduk dilantai dengan menyembunyikan isak tangis dibalik telapak tangannya. Mata mereka sejenak saling pandang seolah hendak mencari tau apa yang sedang terjadi.
" Kak Ray " Ketika pandangan perempuan itu beralih kearah Ray, dia langsung beranjak menuju Ray dan memeluknya erat sembari melanjutkan tangisnya. Seketika Veln merasa bingung dengan yang sedang terjadi sekarang.
" Yas, kau kenapa? " Ray terlihat mengelus lembut kepala perempuan itu seperti yang biasa dia lakukan terhadap Veln, dan membuat wanita dalam dekapan Ray semakin mengisakkan tangis dan mengeratkan pelukannya. Tanpa bisa berkutik akhirnya Ray meminta Veln untuk masuk terlebih dulu kekamar.
" Kau masuklah duluan nanti aku menyusul " Perintah Ray sembari mengulurkan kantung kresek belanjaan kearah Veln.
" Masuklah " Ray mengulangi perkataannya karena terlihat Veln sepertinya enggan meninggalkan mereka berdua. Dengan sangat terpaksa melihat mata Ray yang sudah hampir membulat Veln pun meninggalkan mereka berdua.
" Katakan kau kenapa? bukankah kau kemari untuk melakukan bulan madu? " Ray bertanya kembali kepada perempuan yang masih terisak dalam pelukannya. Yas pun menganggukkan kepalanya pelan.
" Kak Ray " Masih dengan tangisnya.
" Dia meninggalkan aku, dan lebih memilih mengejar pacarnya " Isaknya kembali mengeras menunjukkan betapa sakit dan kecewa perasaannya saat ini.
" Maksud mu? " Masih dengan memberikan belaian lembut dirambut perempuan itu.
" Seperti yang kau dengar kak Ray.. diam-diam dia mengikut sertakan pacarnya dalam acara bulan madu ini " Ucap Yas dengan derai air mata yang sukses membasahi pakaian yang dikenakan Ray.
__ADS_1
" Dimas.. laki-laki itu suami mu? " Ray langsung menebak dengan benar kalau laki-laki yang barusan berbincang dengannya adalah suami Yas, dan berarti perempuan yang menabrak Veln adalah kekasihnya.
" Benar.. Kak Ray mengenalnya? " Yas mendongakkan wajahnya tanpa melepaskan pelukannya.
" Tanpa sengaja tadi berpapasan didekat lift " Yas menenggelamkan kembali wajahnya didada Ray.
" Kak Ray bantu aku untuk keluar dari tempat ini, aku mau pulang " Terdengar Yas begitu memohon.
" Tentu, jau tidak usah khawatir. Aku akan membantu mu " Ray membawa Yas menuju lift dengan tangan kanan merogoh ponsel dalam saku celananya.
○○○
Didalam Veln terlihat meletakkan kantung belanjaannya diatas meja makan yang terletak tidak jauh dari dapur mini.
Dia mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi meja makan sembari pikirannya berlarian kemana-mana, banyak sekali pertanyaan yang sekarang berada dalam benaknya membuat Veln menjadi risau dan tak tenang.
Setengah jam sudah berlalu, Ray masih juga belum kembali. Veln masih sibuk mondar-mandir menunggu kedatangan Ray sembari memutari kursi ruang tamu, sesekali ketika merasa lelah dia mendudukkan tubuhnya sebentar.
Entah sudah ke yang berapa kalinya, dia membuka pintu keluar berharap mendapati Ray berjalan menuju arah pulang namun lagi-lagi tidak sesuai dengan harapannya. Jangankan batang hidungnya, bahkan aromanya pun tidak tercium.
Setelah satu jam berlalu, akhirnya Ray datang.
" Ray.. " Veln langsung terbangun dari duduknya dan Ray terlihat mendekati istrinya.
" Kau belum mandi? " Mendapati Veln masih mengenakan pakaian yang sama. Veln menganggukkan kepalanya membenarkan.
" Bagaimana dengan nona yang tadi? apa yang sebenarnya terjadi dengannya? kau mengenalnya? " Veln membrondong beberapa pertanyaan kearahnya.
" Tidak usah memikirkan orang lain, lebih baik kau segera bersihkan diri lalu beristirahat Perintah Ray sedikit membuat Veln tidak suka.
" Mungkin, dia, perempuan yang kau panggil Yas itu orang lain bagi ku tapi tidak buat mu. Sepertinya kalian sudah saling mengenal? " Ray hanya tersenyum tipis tak berniat meladeni pertanyaan Veln. Melihat reaksi suaminya, Veln terlihat sedikit kesal dan berlalu menuju meja makan untuk merapikan barang belanjaannya yang dia beli dari supermarket tadi.
Sementara Veln sibuk dengan satu kantung kreseknya, Ray pergi berlalu menuju kamar dan mengambil pakaian. Ray hendak mengganti bajunya dikamar mandi.
Veln melangkahkan kakinya menuju kamar, mendapati Ray menggunakan pakaian yang berbeda dari sebelumnya sedang memegang remot tv. Sepertinya Ray hendak menonton tv. Veln mendekat dan duduk disampingnya.
" Benar tidak ada yang ingin kau ceritakan kepada ku? " Ray hanya melirikkan matanya sebentar kearah Veln dan kembali menatap layar tv.
" Sedikit pun tidak ada yang ingin kau katakan " Sekali lagi tidak ada respon dari suaminya, masih fokus menatap layar televisi sembari membetulkan duduknya mencari posisi yang ternyaman.
Pria ini.. Dia pasti sedang kambuh karena belum meminum obatnya. Menutup rapat-rapat mulutnya tak bersuara, ketika ditanya tidak merespon. Sungguh menyebalkan.
__ADS_1
" Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa berbicara dengan tembok " Merasa diabaikan, akhirnya Veln pun beranjak dari duduknya mendekat menuju lemari untuk mengambil baju ganti hendak membersihkan diri.
Bersambung..