Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
84. Terdengar Pedas Ditelinga


__ADS_3

Tujuh bulan kemudian, perut buncit Veln mulai terlihat. Rasa yang menyiksa ditubuh Ray pun semakin menghilang.


Memang seharusnya begitu bukan, rasa aneh akibat mengidam lambat laun akan menghilang seiring usia kandungan yang sudah melewati masa trimester pertama.


Ray pun kini sudah kembali aktif dengan kesibukannya. Ray tidak segan untuk melakukan perjalanan bisnis luar kotanya. Tentu tetap dengan memantau Veln dan calon buah hatinya dari kejauhan.


Bukan apa-apa itu juga Ray lakukan karena terpaksa, terpaksa untuk menghindari mulut Veln yang semakin hari semakin pedas ditelinga.


Veln memang sudah tak secuek dan semasa bodo dulu, tetapi sekalinya dia merespon ucapan Ray jawaban perempuan itu kadang selalu saja terdengar pengar ditelinga.


Awalnya Ray berusaha menerima dan mengimbanginya, namun ketika menyangkut perasaan dan kelaki-lakiannya kadang Ray tidak tahan untuk meladeninya.


Maka dari itu untuk menghindari itu semua Ray memilih membenamkan jiwa raganya kedalam tumpukan pekerjaan, dengan tetap memantau perempuan dan calon buah hatinya dari kejauhan.


Satu lagi, Ray tidak khawatir lagi ketika pulang harus berurusan dengan handle pintu yang terkunci. Karena Ray sudah menyuruh seseorang kala itu untuk mengganti handle pintu yang baru, dengan tak lupa Ray mencetak kuncinya disebuah sabun batangan yang dia beli dimini market waktu itu untuk digunakan sebagai pembuatan kunci cadangan tanpa sepengetahuan Veln atau pun bu Ani.


Dan..


Siang itu ketika Ray baru kembali dari perjalanan bisnisnya, dengan mata kepalanya Ray melihat langsung dari kejauhan dokter Adrian keluar dari rumah mungil itu. Rumah yang dihuni perempuan pujaannya dan calon buah cintanya.


Mereka malah sempat berpapasan dipersimpangan, namun dokter Adrian sama sekali tidak menyadari jikalau Ray itu adalah suami dari perempuan yang sering dia repotkan untuk dititipi gadis kecilnya.


○○○


Secepat kilat Ray melangkahkan kakinya menuju rumah, harga dirinya sebagai laki-laki benar-benar merasa terluka.


Brught..


Ray meletakkan travel bagnya dengan sedikit kasar disembarang tempat diruang makan dengan wajah masamnya.


Veln yang sedang duduk disalah satu kursi meja makan menoleh kearah Ray yang hendak menghampirinya. " Sudah pulang? " Suara lembutnya yang khas terdengar ditelinga.


" Kau masih berselingkuh dibelakang ku? " Ray mendekat berdiri menghampiri Veln, dengan bagian tubuh belakangnya disandarkan dipinggiran meja makan dan kedua tangan dilipat didada. Kedua mata Veln membola mendengar ucapan Ray.


Veln meraih gelas kosong dan menuangnya dengan air putih, lalu menyodorkan kearah Ray. " Minumlah, lalu segeralah mandi dan beristirahat. Sepertinya kau lelah "


Ray menyaut gelasnya dari tangan Veln dan segera meminumnya hingga kandas.


Cet tak.. Ray menaruh gelasnya diatas meja sedikit kasar, membuat Veln yang sedang fokus dengan ponselnya melayani pembeli online shopenya mendelik kaget.


Bisnis online shope yang dijalankan Veln cukup lancar dan banyak peminatnya, hingga kadang dirinya merasa kewalahan meladeni para konsumennya.


" V, Sudah aku peringatkan jangan pernah lagi bertemu dengan ayah gadis kecil itu "


" Dokter Adrian? " Veln masih santai menanggapi Ray yang terlihat menggebu-gebu karena emosi. " Mana bisa, justru dua minggu sekali bahkan aku harus menemuinya untuk check up "


Ray sudah tau jikalau dokter Adrian merupakan dokter kandungan yang dipercayakan Veln untuk memeriksakan tumbuh kembang janin yang ada dalam perutnya. Karena itu pula salah satu alasan Ray malas untuk menemani Veln ketika harus check up memeriksakan kehamilannya.


Cemburu buta Ray masih terlihat membesar terhadap dokter Adrian. Apalagi Veln bersih kukuh untuk tetap menggunakan jasa dokter Adrian, walaupun Ray sudah sering meminta berulang kali untuk Veln agar mencari dokter kandungan lain untuk memeriksakan keadaan dirinya dan calon buah hatinya.


Sebenarnya Veln sudah menjelaskan berulang-ulang kali terhadap Ray, jika dokter Adrian dengan dirinya hanyalah sebatas hubungan dokter dengan pasiennya. Tidak lebih dari itu, namun Ray tetap tidak menyukainya dikarenakan asumsinya sendiri pada kejadian makan siang waktu itu.


○○○


Siang itu ketika Ray hendak makan siang disebuah restaurant bersama dengan Tomi sahabatnya, secara tidak sengaja Ray pun perpapasan dengan dokter Adrian yang hendak pergi dari tempat itu bersama dengan rekan kerjanya.


Kabar baiknya ternyata Tomi mengenal dokter Adrian, sehingga mereka sempat bertegur sapa dan mengobrol sebentar diarea luar tempat itu. Tanpa Ray, Ray memilih untuk masuk lebih dulu karena mendapatkan panggilan alam yang minta secepatnya untuk dikeluarkan.


" Tom, kau mengenal dokter tadi? dia dokter kan? " Ray membuka suara saat mereka sedang asik menikmati makan siang mereka.


" Iya. Dia dokter Adrian, dokter spesialis kandungan "


" Hem. Dia memiliki seorang putri yang manis bukan? "

__ADS_1


" O ya? bagaimana kau bisa tau? kau juga mengenalnya? lalu kenapa kau tidak ikut menyapanya tadi " Tomi sedikit merasa aneh terhadap sahabatnya ini.


Tomi memang mengenal dengan dokter Adrian, tapi hanya sekedar tau. Itu pun gegara dua tahun yang lalu dia sering mengantarkan adik perempuannya Mitha untuk periksa kandungan.


Karena Mitha memutuskan untuk menjadi single parent setelah mengetahui suaminya berselingkuh dibelakangnya, jadi mau tidak mau Tomi sebagai kakaknya harus mau untuk menggantikan beberapa tugas yang seharusnya dilakukan oleh mantan suaminya.


" Karena istri ku juga mempercayakan kandungannya terhadap dokter Adrian itu, dan dengan putrinya.. gadis kecil itu selalu saja menempeli Veln ku, itu membuat ku enggan untuk mengenalnya lebih dalam karena sudah menjadikan perempuan ku sebagai baby sister putrinya " Sedikit ada nada sebal disana.


" Wah, mungkin karena putrinya mereka masih mempertahankan pernikahannya yang sudah seperti perang dunia "


" Maksud mu? "


" Begitulah, aku dengar pernikahan mereka kurang begitu harmonis " Setidaknya hanya itu yang Tomi tau tentang dokter Adrian.


Deg..


Lagi-lagi Ray merasakan ada ancaman disana.


" Tunggu.. apa tadi kau bilang? ISTRI? Kau sudah menikah? " Tomi terkesiap tatkala menyadari satu kata yang diucapkan sahabatnya, Tomi menajamkan matanya untuk meminta jawaban.


" Hem "


" Kapan? "


" Hampir satu tahun lebih "


" Kenapa tidak mengundang ku? bahkan aku tidak mendengar kabar mengenai seorang Ryu Saka Wiratama menikah? "


Ray pun akhirnya menceritakan pernikahannya yang sederhana, yang hanya dihadiri keluarga dan saudara dekat saja itu pun atas permintaan Velnnya.


Tomi pun tidak pernah tau saat upacara pemakaman Nenek Lusiana, tentang Veln yang selalu menempeli Ray. Karena saat itu dirinya berada diluar kota sehingga tidak dapat memberi ucapan duka citanya secara langsung.


○○○


" Ok, tapi aku tidak bisa terima kalau pria itu masih saja mondar-mandir dirumah ini. Rumah yang kau beli dengan menggunakan uang ku " Lagi-lagi kata-kata Ray tanpa sadar melukai hati perempuan disampingnya.


" Dokter Adrian kemari hanya bermaksud menjemput Sasa, tapi Sasa dan pengasuhnya sudah pulang lebih dulu. Mereka tidak diberitahu oleh dokter Adrian, kalau dia hendak menjemputnya " Veln masih bisa menahan diri, berusaha untuk tidak menyerap kata-kata yang tidak enak didengar ditelinga.


" Mau sampai kapan gadis kecil itu menempel terus-menerus padamu? kau itu bukan baby sisternya "


Veln bangkit dari duduknya, tak ingin meladeni protes dari suaminya. Ray yang melihat itu langsung mencekal lengan perempuannya.


" Aku mau kekamar mandi " Akhirnya Ray pun pasrah dan melepas Veln pergi.


Tak berselang lama, Veln kembali dengan membawa handuk dan menyerahkannya kepada Ray yang masih berdiri ditempat semula.


" Mandilah. Sepertinya otak dan tubuh mu perlu penyegaran " Ray mengusap wajahnya lalu mengambil alih handuk dari tangan Veln dan melingkarkan dilehernya.


" Sayang, Papa mandi dulu nanti kita ngobrol lagi " Ray mengelus perut buncit Veln, dan sangat menggembirakan untuk Ray ternyata bayi yang masih berada dalam perut Veln meresponnya dengan menendang-nendang beberapa kali tepat diarea telapak tangan Ray berada. " V, obrolan kita masih belum selesai dan ingat jangan pernah membawa masuk pria kedalam rumah yang kau beli dengan uang ku " Ray berlalu menuju kamar mandi tanpa tau perasaan perempuan itu kini benar-benar merasa tersakiti dan terinjak-injak harga dirinya.


○○○


Veln yang sedang asik berbincang-bincang dengan bu Ani harus rela terganggu dengan kehadiran Ray yang terlihat sudah nampak segar.


" Bu, bisa tinggalkan kami? Saya perlu mengobrol dengan V "


" Baik tuan " Bu Ani pun mengerti dan segera pergi dari ruangan tersebut.


Veln mendongakkan wajahnya tepat menghadap Ray " Uuuuh gantengnya " Perempuan itu menggoda atau entah hanya berusaha menggombali Ray dengan ekspresi menggemaskan dari wajahnya. " Lihatlah sayang, kau harus bangga memiliki Mami yang cantik dan Papa yang mempesona " Veln mengelus sayang perut besarnya.


Sementara Ray, hanya tersenyum tipis, tak terlalu tertarik dengan Rayuan perempuan dihadapannya.


" Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan, walaupun aku cukup tersanjung dengan ucapan mu setelah sekian lama " Ya, setelah sekian lamanya Ray tidak pernah lagi mendengar kata-kata manis dari mulut Veln. " Tapi ada yang lebih penting dari ini, yang harus segera dibahas dan dibicarakan " Wajah Ray terlihat serius dan tak ramah.

__ADS_1


" Ray, aku capek. Kau juga pasti lelah kan? "


" Memang, tapi untuk yang satu ini aku sudah menyiapkan energi tambahan "


Veln melingkarkan tangannya dipinggang Ray yang sedang berdiri tepat disampingnya, dia menyandarkan kepalanya dibagian perut Ray. Veln berharap perlakuannya dapat menghangatkan emosi Ray karena cemburunya.


" Ku mohon jangan memulai, aku sedang tidak ingin berdebat " Lirih suara Veln terdengar sedang melakukan permohonan.


" Aku tidak mengajak mu berdebat, aku hanya ingin bicara dengan mu. Aku hanya ingin memperjelas hubungan istriku dengan dokter kandungan dan putrinya " Nada kesal Ray terdengar diujung ucapannya.


Veln melepaskan diri dari tubuh Ray, dia menatap lekat kedua bola mata Ray yang menatap tajam kearahnya.


" Aku mengerti, secepatnya aku akan membicarakan semua tentang keberatan mu kepada dokter Adrian. Termasuk mengenai Sasa " Veln memulas senyum tipis untuk suaminya. " Maaf, karena sudah membuat ayah dari calon bayi ku tersiksa jiwa raganya karena pria lain " Veln terkekeh, namun tak membuat Ray mengubah ekspresinya.


" Bagus, akhirnya kau mengerti juga " Ray menyilangkan lengan didadanya sementara Veln segera mengatupkan kembali bibirnya, karena masih melihat respon Ray yang terlihat dingin. " Tapi masalahnya tidak sesederhana itu, kau harus mendapatkan hukuman setimpal karena sudah berani membawa masuk pria lain mana sepaket pula dengan putrinya kedalam rumah ini. Bahkan rumah yang kau beli dengan cara menguras banyak uang ku "


Huuuuffffft...


" Cukup " Veln mengangkat tangannya. " Tidak perlu kau terus-menerus mengulang untuk memperingatkan aku "


Sepertinya kesabaran pendengaran Veln mulai menipis.


" Ini memang salah ku karena tidak bisa hidup tanpa mu, tidak.. lebih tepatnya tanpa uang mu "


" Tidak, bukan seperti itu maksud ku V "


" Jika kau merasa begitu tidak ikhlasnya melihatku menikmati milik mu, tunggulah.. beri aku waktu, dan pada saatnya aku akan kembalikan semua milik mu. Terkecuali yang sudah masuk kedalam perut dan sudah melebur didalam kamar mandi, aku tidak bisa mengembalikan itu "


Perangkap yang digunakan Ray, yang dimaksudkan untuk membawa perempuan itu kembali pulang kerumahnya ternyata malah menimbulkan masalah baru.


" V.. "


" Sudahlah, aku cukup mengerti dengan semua ucapan mu " Veln beranjak dari duduknya dengan perlahan. " Lagi pula aku melakukan genjatan senjata bukan karena aku sudah memaafkan mu. Aku melakukan itu hanya untuk menghindari stres dimasa kehamilan, karena aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan janin ku " Ray menahan pergelangan tangan Veln, ketika mendapati pergerakan perempuan itu yang hendak meninggalkannya.


" Sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu "


" Aku bukan anak kecil, aku perempuan dewasa yang cukup mengerti dengan maksud pembicaraan mu "


" Aku hanya berusaha untuk mencari celah agar dapat membawa mu kembali pulang "


" Bahkan mulai detik ini kalau saja aku mampu, aku tidak akan menggunakan milik mu sedikit pun " Ucapan perempuan itu terdengar dengan penuh penekanan, matanya yang indah pun tak berhenti menatap tajam kearah Ray.


" Aku salah, aku minta ma.. " Veln menepis tangan Ray yang hendak mendekapnya. " V "


Rasa capek dan lelah yang sama-sama sedang mereka rasakan rupanya membuat situasi menjadi tak terkendali.


Veln melangkah pergi dengan membawa perut besarnya, diikuti oleh Ray dibelakang.


Perempuan itu masuk menuju kamarnya dan ketika hendak menutup pintunya Ray dengam cekatan menahannya.


Veln menoleh kebelakang dan berkata " Ijinkan untuk sementara waktu, aku menikmati milik mu " Veln mendorong pelan tubuh Ray, lalu segera dia menutup rapat pintu kamarnya.


Ray hanya bisa mendesah memejamkan matanya, menyesali atas segala ucapan bodohnya.


Rencana, maksud dan tujuannya ternyata sangat direspon berlebihan oleh perempuan hamil itu.


Mungkin ini akan sangat membuatnya rugi besar dalam jalinan hubungan barunya bersama V. Hubungan yang berlahan mulai jernih, mendadak kembali keruh akibat tertumpahan tanah lumpur.


.


.


.

__ADS_1


Eng ing eng.. maaf, agak sedikit slow up date ya.. 😘


__ADS_2