
Veln menggigit gemas lengan tangan kiri bagian atas milik Ray. Dia merasa kesal karena disituasi jalanan yang menyebalkan seperti ini, Ray masih menyempatkan diri untuk menggoda dirinya dengan hal pribadi seperti itu.
" Aishhht " Ray memekik kaget. " Kamu semakin liar ya, ini pasti gara-gara terlalu lama bergelut dengan bunga-bunga. Hingga sifat alam terpendammu menyeruak "
Veln mendaratkan kecupan dipipi Ray, tanpa berniat meladeni ucapan suaminya.
" Bonus, karena sudah bersedia jadi sopir pribadiku " Veln berucap dengan menunjukkan sisi kecentilannya. " Akan aku beri bonus tambahan saat misi Bapak sudah terselesaikan " Perempuan itu mengerlingkan sebelah kelopak matanya.
Entahlah, malam ini nampaknya Veln harus dengan ikhlas dan ridho untuk menjadi wanita penggoda didepan suaminya. Hanya demi apa? Sudah tentu hanya demi agar supaya mood suaminya malam ini tetap terkendali.
Agar pria itu dapat menyelesaikan tugasnya sebagai sopir dadakan, yang kebetulan penuh dengan rintangan dan cobaan. Dari mulai harus sabar melewati kemacetan, sampai harus rela putar balik untuk mengambil jalan alternatif lain akibat adanya beberapa perbaikan galian pipa yang membuat sedikit menghambat laju jalan.
Padahal, Veln tidak meminta Ray untuk melakukan itu. Justru Ray sendiri yang menginginkan. Kalau tau jadi merepotkan begini kan lebih baik Ray ikut duduk bersamanya dikursi penumpang, dan membiarkan Pak Yan yang mengemudikan roda empatnya.
" V, tolong ponsel aku bunyi " Jemari lentik perempuan itu sigap meraih ponsel suaminya, dia pun langsung menggeser tombol hijau saat Ray mempersilahkan dirinya untuk mengangkat telfonnya. Lalu Veln mengulurkan benda pipih tersebut kearah telinga suaminya. Kini Ray sibuk bertukar suara lewat benda itu, dengan bantuan sang istri yang setia dan ikhlas membantu memegangi ponsel miliknya.
" Jam berapa? " Tanya Ray, sesaat setelah menerima panggilan.
" Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit " Jawab Veln dengan tersenyum gemas saat menyadari sebuah jam tangan mahal melingkar gagah dilengan kekar suaminya dengan sia-sia. Bagaimana tidak gemas ( gemas pengen nabok pria disampingnya ) karena sedari tadi ada saja kelakuan pria itu yang menguji kesabarannya.
" V, nggak ada minuman dingin ya? "
" Nggak ada sayang.. " Suara Veln menggalur mesra sembari mata perempuan itu melirik kearah pintu mobil yang menampakkan sebuah botol air mineral yang masih bersegel. " Nih, minum yang ada aja dulu " Perempuan itu menyerahkan sebuah botol air mineral kearah Ray yang tutupnya sempat ia buka terlebih dahulu.
Tanpa menunggu lama, Ray langsung menenggaknya hingga menghabiskan setengah botol isinya. Setelahnya pria itu menyerahkan kembali botol air mineralnya untuk diletakkan kembali ketempat semula.
" Coba deh acnya dicek V, kenapa terasa panas begini "
" Nyala kok " Veln mendinginkan suhu acnya, kemudian melirik kearah suaminya sembari menunggu kelakuan apa lagi yang akan dilakukan suaminya.
" Kipasin, V. Gerah " Perempuan ayu itu pun dengan segera melebarkan kedua telapak tangannya dan mengibas-ngibaskan tangannya kearah wajah, leher hingga tubuh Ray naik turun dengan tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. " Ini dibagian sini " Ray mendongakkan sedikit wajahnya, dan menunjukkan bagian lehernya yang membutuhkan kesejukan. " Yang kenceng dong V, pakai tenaga dalam " Protes Ray yang terdengar menjengkelkan.
" Ya gimana? Bukan cuma kamu aja yang gerah.. Aku, Ley dan Nina juga sebenarnya merasa kepanasan disini. Iya kan Nin? "
" Eh, iya mbak " Nina sedikit kaget saat namanya dibawa kedalam drama perjalanan mereka.
" Ley juga " Bocah itu ikut menyahut, lalu mulutnya kembali berdendang.
__ADS_1
Kening Ray berkerut seolah protes dengan pernyataan mereka " Masa sie? Ac nyala kok, kenceng lagi! " Sembari tangan pria itu menjulurkan telapaknya kearah mesin pendingin untuk mengecek daya kinerjanya. " Dingin, kenapa kalian bisa merasa kepanasan? "
" Au.. Mungkin ada hawa iblis yang lagi ngomporin kita. Kamu juga kenapa coba? Sedari tadi ribut panas dan gerah? "
" Siapa yang kamu bilang iblis? " Ray mendelik tajam. " Kamu tidak merasakan V, gimana sulitnya aku menyetir.. Dikondisi seperti ini butuh kesabaran ektra untuk mengemudikan ini " Ray menepuk-nepuk kemudi mobilnya.
" Yang merasa aja, kalau tidak merasa tidak usah sewot begitu. Kamu juga Ray.. " Sebentar Veln menyempatkan diri untuk menghela dan menghembuskan nafasnya panjang. " Nggak merasakan gimana harus sabarnya aku buat ngadepin kamu, bahkan harus ektra lebih sabar dari saat ngadepin Ley yang sedang merajuk " Dengan memasang tampang lelah dan memelasnya, Veln menunjukkan protesnya dengan sempurna.
" Sekejam itu kah aku V? Sampai membuatmu terlihat begitu teraniyaya? " Dengan renyahnya diujung perkataannya Ray mengeluarkan tawanya.
Lalu dengan gerakan pelan dan penuh sayang, Ray merengkuh tubuh istrinya untuk disandarkan ketubuhnya. Kemudian pria itu menciumi seluruh permukaan wajah hingga puncak kepala wanitanya.
Cup cup cup..
" Maaf ya.. Habisnya, aku bete banget. Masa sedari tadi jalanan gini terus, terpaksa deh aku ngerjain kamu cari hiburan " Veln mencebikkan kesal bibirnya, membuat Ray kembali terkekeh.
Nina yang merupakan salah satu saksi dari keromantisan hingga kebobrokan pasangan tersebut hanya bisa cengegesan dengan menahan rasa malu.
Dia juga berusaha menghilangkan hawa panas ditubuhnya, yang mungkin lebih panas dari yang dirasakan Ray sedari tadi ketika harus dengan terpaksa melihat kemesraan mereka. Dengan cara ikut bergabung bernyanyi kembali bersama Ley dan menaikkan sedikit volume suaranya untuk menghilangkan pandangan matanya agar tidak fokus menatap kearah depan. Lagu yang Ley nyanyikan pun rupanya sudah beralih kejudul lain.
*Naik-naik kepuncak gunung
Kiri kanan kulihat saja
Banyak pohon cemara*
•••
Akhirnya mereka sampai juga dikediaman rumah utama Wiratama, setelah menempuh perjalanan yang dirasa begitu sangat lama oleh Veln.
Sikecil Ley langsung berlari menuju arah Mami Rosa, yang saat ini terlihat berdiri bersama Rosi dan Sam menyambut kedatangan keluarga kecil Ray begitu keluar dari dalam mobil.
" Neneeeeek " Lengkingan khasnya mengiringi langkahnya menuju arah Mami Rosa.
Ley mencium punggung tangan Mami Rosa lalu memeluknya, setelahnya giliran perempuan baya itu yang menuangkan rasa rindunya dengan menciumi seluruh permukaan wajah kecil bocah itu dengan sedikit berjongkok.
Rosi yang sedari tadi mengantri ingin mengguwes-guwes bocah itu langsung menyerobot tubuh Ley dengan sedikit tertawa.
__ADS_1
" Ley tidak kangen dengan Tante Rosi? " Bocah itu mengangguk dengan tersenyum. " Kalau gitu cium dong " Dengan bertubi-tubi Ley menciumi seluruh wajah Rosi, saat sang pemilik wajah menyodorkannya kearah anak itu.
" Wah boy, kamu menang banyak malam ini. Sam gerakanmu kalah cepat dari putraku, lihat dia begitu menikmati keindahan wajah Rosi " Dengan gamblang dan cengengesan Ray melontarkan ucapannya.
" Ray " Veln memelototkan bola matanya " Itu mulut minta ditabok ya? " Veln merasa tidak terima dengan ucapan Ray yang terdengar kurang pantas dihadapan putranya.
" Ditaboknya dikamar ya " Ray mengerling genit kearah istrinya.
Mami Rosa dan Rosi cengengesan melihat kelakuan Ray. Berbeda dengan Fenina, perempuan itu dibuat semakin menegang dan mati kutu oleh pasangan tersebut. Ditambah lagi dengan keberadaam orang-orang baru dan ditempat baru pula, semakin membuat perempuan itu kikuk setengah hidup. Dengan sekertaris Sam, dia yang kaku lebih memilih mengangkat Ley dalam gendongan dan mengajak anak itu untuk bertos ria untuk melerai rasa canggung akibat ucapan yang dilontarkan bosnya.
Siapa juga yang tidak menginginkan segera untuk menikmati keindahan Rosi tunangannya, namun apa daya untuk sementara Sam harus sedikit menahan diri dikarenakan sampai dengan saat ini Rosi masih belum siap untuk menuju kejenjang pernikahan. Tidak ingin memaksa, akhirnya Sam memutuskan untuk memberi Rosi sedikit waktu.
•••
Sebelum mereka memasuki rumah, Veln terlebih dahulu mengenalkan Fenina yang berdiri kikuk kekeluarga besar Wiratama.
" Mi, kenalin.. Ini loh Nina " Veln memegang pundak Nina, dan memperkenalkan perempuan itu ke Mami Rosa. " Nin, ini Mami. Ibu mertua saya " Veln mengenalkan balik Mami Rosa keperempuan yang paling muda diantara mereka.
Deg.. Mendengar kata mertua, sepontan membuat jantung gadis muda itu semakin berdetak tak karuan. Sudah dipastikan, kalau perempuan yang dipanggil Mami ini adalah Ibu mertua dari majikannya, berarti otomatis perempuan ini merupakan calon Ibu mertuanya?! Itu pun jika dirinya berjodoh denga Renand. Perlu dicatat.
" Malam, Tante " Sapa Nina dengan tersenyum, lalu tak lupa mencium punggung tangan perempuan yang paling senior diantara mereka. Fenina berusaha untuk membuat dirinya tetap tenang dan wajar.
" Jadi ini yang bernama Fenina? Cantik " Puji Mami Rosa dengan tersenyum dan telapak tangan wanita itu menangkub wajah ayu Nina.
" Hallo, Nin " Suara ramah Rosi terdengar menyapa. Sementara Fenina terlihat semakin menegang dengan raut wajah penuh tanya.
Bagaimana tidak, namanya sudah cukup dikenal oleh penghuni rumah ini. Padahal kedatangannya ketempat ini merupakan kunjungan perdananya. Namun jika didengar dari cara mereka menyapa dan menyebut namanya, seolah menunjukkan jika mereka sudah sering mendengar dan mengucapkan sebaris kata yang bertuliskan Nina.
Mungkinkah Renand yang sudah mengupas habis tentang dirinya? atau mungkin mereka hanya mendapat ulasan sepintas tentang tamu yang akan datang malam ini dari pemilik toko bunga tempatnya bekerja?
" Hallo, Mbak " Nina nampak berusaha bersikap tenang, meski terlihat jelas kegugupan disana. Nina membalas pelukan yang diberikan Rosi, yang diakhiri dengan cipika-cipiki khas ala-ala para wanita.
Begitu perkenalan dirasa cukup, mereka pun masuk dan langsung menuju ruang makan. Mereka memutuskan untuk langsung melakukan makan malam, karena memang jam sudah menunjukkan waktu makan malam. Bahkan hampir lewat mungkin, dikarenakan keterlambatan atas kedatangan keluarga kecil Ray dan adanya sedikit obrolan diteras depan.
.
.
__ADS_1
.
Hi.. Baca novel kedua author ya Menggoda. Tks😙.