
Veln terus mendusel-duselkan wajahnya didada Ray dengan terus menerus mulutnya memberikan pernyataan malu, sementara Ray masih tetap menikmati tingkah istrinya dengan terbahak puas. Gerakan dada Ray yang menempel diwajah ayu Veln akibat tawanya semakin membuat Veln merasa ingin menghilang dari hadapan pria tampan ini.
" Hentikan tawamu Ray " Dengan suara malu-malunya dan terdengar berat akibat mulutnya yang terbenam dibagian tubuh Ray.
" Maaf sayaang " Ray mengelus tengkuk Veln dan menyandarkan dagunya dipuncak kepala istrinya. Ray mendongakkan wajah istrinya yang merona seperti salah satu warna bunga sakura yang putih dengan sedikit warna merah jambu ditepiannya, mengecup bibir Veln sekilas, membalikkan tubuh mungil perempuan ayu itu dan menyandarkan punggung Veln didada tegapnya. Tentu dengan kedua lengan Ray melingkar dibagian perut dan dada istrinya.
" V.. Kau tidak penasaran bagaimana aku bisa memiliki foto-foto itu? " Ray menyelipkan wajahnya dileher Veln dengan dagu menempel erat dipundak istrinya. Veln melerai dekapan Ray dan menarik lebih dekat kotak karton tersebut untuk diletakkan dipangkuannya, pandangannya diarahkan kewajah Ray lalu dia mengangguk pelan.
" Ceritakan bagaimana bisa kau sampai memiliki banyak foto-fotoku? : Ekspresi Veln sudah agak normal walaupun masih ada sedikit rasa malu tersirat disana, dan terkadang senyum tipis terlihat disana saat memandangi beberapa foto dirinya yang terselip diantara jari jemarinya. Ray menarik kembali tubuh Veln, mengembalikan keposisi semula ya keposisi romantis ternyaman saat ini.
Tangan besarnya terjulur dan telapaknya ikut mengebit beberapa foto yang berada ditangan istrinya, Ray dengan cekatan memisah-misahkan foto Veln menjadi beberapa bagian. Sebenarnya foto-foto itu sudah tertata rapih kedalam kelompoknya meski tanpa diselipkan kedalam album foto, karena Ray sudah menjepitnya dengan jepitan kertas tiap kelompok bagiannya namun akibat sentuhan istrinya kini tiap lembaran yang berukuran 4R tersebut berantakan tak beraturan.
" Untuk pertama kalinya aku datang kekota kelahiranmu, mengunjungi Om Aldo, Tante Susan, Denis dan Danis " Veln terlihat serius mendengarkan cerita lelaki tampan yang sedang mendekapnya dengan sesekali melirik kearah wajahnya " Biasanya merekalah yang mengunjungiku datang ke ibu kota, namun entah kenapa saat itu aku begitu sangat ingin datang kekota kecil tempat Om, Tante dan keluarganya tinggal "
" Tidak heran " Veln menyela.
" Maksudnya? " Ray mengerutkan keningnya bingung.
" Pria seangkuh, sedingin dan sombong sepertimu mana mau menginjakkan kaki kekota kecil itu " Veln tersenyum meledek.
" Masih mau diteruskan tidak? kalau tidak mau juga tidak apa-apa "
" Lanjut-lanjut " Cepat-cepat Veln menanggapi perkataan Ray.
" Kalau begitu tutup mulutmu, jangan mengeluarkan suara yang tidak enak aku dengar " Protes Ray keras dan dengan mantap Veln menutup mulut menggunakan telapak tangannya lalu mengangguk menyetujui.
" Setelah seharian berbincang-bincang melepas kangen dengan mereka, keesokannya aku memutuskan menyusuri jalanan kota itu untuk mengenali dan mencari sedikit demi sedikit dari daya tarik tempat asalmu sampai waktu yang tidak aku batasi " Ray menjeda sebentar dan mengecup telinga Veln dengan sedikit mengendus untuk mencuri aroma tubuh istrinya yang slalu membuatnya tenang " Dan siang yang hampir menjelang sore itu saat aku sibuk mengabadikan laju jalanan dengan menggunakan cameraku, ada pemandangan yang membuatku tertarik saat melihat dari layar lensaku seorang gadis manis berseragam putih abu-abu sibuk menggedong tas punggungnya dengan kedua tangan begitu repot memegang dua keranjang penuh camilan "
" Gadis manis itu pasti aku " Veln tertawa geli.
" Hem " Ray tersenyum simpul menanggapi wanitanya yang begitu percaya diri menganggap dirinya manis.
" Disebelahku pasti berdiri Nenek penjual camilan " Setelah menelusuri memorinya seketika Veln mengingat Nenek tua penjual berbagai camilan itu.
" Kau ingat? " Veln mengangguk mengiyakan " Nenek tua dengan menggendong bakulnya yang penuh semangat, dan aku fikir dari pemandangan yang terlihat kau seperti seorang cucu yang sedang menunjukkan baktinya dengan membantu Neneknya berjualan sepulang sekolah " Ray tersenyum lebar dengan memandangi istrinya yang serius mendengarkan tiap kata yang terucap dari mulutnya dengan sesekali menyelipkan senyum dan tawa gelinya.
__ADS_1
" Dijam yang sama Nenek yang sering aku sapa dengan Nenek camilan akan melewati jalan itu dan menyebrangi lampu merah untuk menuju tempat pangkalannya berjualan "
" Kau tidak mengenalnya? "
" Tidak. Aku hanya membantu membawakan keranjangnya untuk menyebrang, tanpa pernah membeli sekalipun barang dagangannya karena itu aku terlalu malu untuk menanyakan namanya. Aku pasti akan bertemu Nenek itu Ray setiap kali habis melakukan kerja kelompok dirumah Liyana, karena jalur yang dilalui Nenek penjual camilan itu merupakan jalur yang sama yang dilewati angkot yang biasa aku tumpangi "
" Tidak mau beli tapi kalau dikasih gratis pasti kamu terima dengan senang hati kan? " Ray tersenyum meledek.
" Aku terlihat seperti kotak amal ya? dengan setia menunggui sedekah dari seseorang? " Veln terkekeh membayangkan diri.
" Tidak sayaang " Dengan mengelus-elus lembut kepala istrinya.
" Sebenarnya setiap kali aku membantunya Nenek itu pasti memberiku satu kantong camilan, bahkan aku dipersilahkan untuk memilih sesuai keinginanku, tapi aku selalu menolaknya.. Aku bilang tidak apa-apa Nek, aku ikhlas. Nanti Nenek bisa rugi kalau memberiku ini " Veln menghela nafas sebentar dengan menikmati punggung jari telunjuk Ray yang mengelus-elus pipinya entah sejak kapan " Dan jawaban Nenek itu membuat aku tersentak, Nenek bilang kerugian dalam berdagang tidak akan membuatnya mati.Tuhan sudah menentukan Rejeki dari masing-masing umatnya, dan ini tidak sebanding dengan nyawa yang telah terselamatkan yang membuatnya masih tetap hidup. Memang nyawa pun Tuhan yang tentukan, namun yang harus kita lihat adalah sebuah kebaikannya yang terlihat kecil namun dapat berdampak sangat luar biasa karena dapat menghindari kejadian yang tidak diinginkan seperti tabrakan akibat situa yang renta ini mungkin saja akan menyebrang dengan teledor jika tanpa ada yang mendampinginya "
" Kau dan Nenek itu sama-sama perempuan yang hebat dan tangguh " Puji Ray ikhlas.
" Kau tau Ray, setiap hari Nenek itu akan menungguiku.. karena setidaknya dalam sebulan paling sedikit empat kali aku lewati jalan itu, Um karena aku dan Liyana begitu dekat jadi aku sering mampir kerumahnya "
" Aku tau, karena aku beberapa kali mengambil gambarmu didaerah itu "
" Kau pasti terpesona pada pandangan pertama terhadapku, iya kaaaan? " Penuh percaya diri Veln mengatakannya " Siang malam kau pasti memelototi foto-fotoku " Imbuhnya lagi dengan terkekeh geli.
" Benarkah? kenapa aku sedikit terluka mendengarnya? " Tubuh Veln sedikit melemas membuat Ray tersenyum tipis.
" Kau juga harus tau V.. setelah kunjungan pertamaku kekotamu, entah mengapa aku jadi ketagihan setiap kali liburan aku pasti datang kesana dan kembali mengunjungi jalan yang sama untuk menyaksikan kejadian yang sama juga. Dan ini.. ini lah foto-foto bagian pertama dan kedua yang aku putuskan untuk mencetaknya " Ray menunjukan beberapa foto hasil jepretannya yang berada ditangan Veln " Sampai aku menyadari ternyata semakin diliat wajahmu semakin manis, teduh dan mempesona " Veln menunjukan satu jempol tangannya dan mengerlingkan sebelah mata kearah Ray menyetujui ucapan pujian suaminya.
" Cium dong " Tanpa canggung Veln mengecup bibir suaminya yang kemudian diakhiri dengan senyum mengembangnya.
" Kalau aku tau sejak dulu aku diperhatikan pria setampan dan setajir dirimu, tanpa ragu dan dengan senang hati aku akan segera menghampiri dan menempel erat kearahmu " Veln tertawa kecil atas pengakuan konyolnya.
" Matre ya kamu " Veln hanya menanggapinya dengan tawa menyeruak.
" Benar-benar tidak dipercaya kau yang setampan ini ternyata seorang pengagum rahasiaku, tapi sayang gerakanmu begitu lamban Ray sampai aku hampir diambil juragan Seno " Veln terkekeh geli mengingat kejadian terdahulu dalam hidupnya.
" Bukan lamban tapi datang diwaktu yang tepat " Ray mencuri satu kecupan dipipi mulus istrinya.
__ADS_1
" Lalu.. emm " Veln sedikit ragu untuk mengatakan itu " Bagaimana dengan Nona Yas? Kau bisa menjelaskannya sekalian? " Ray mengangguk dan tersenyum lebar mendapati ada sedikit kecemburuan pada wanitanya saat menelisik tentang Yas.
Ray pun menceritakan bagaimana awal pertemuannya denga perempuan yang seumuran dengan wanita yang ada dihadapannya sampai bisa sedekat itu dengan terang dan rinci, sesekali Veln mengangguk dan telapak tangannya menjulur kepipi Ray untuk mengelusnya, menyalurkan rasa hangat yang mampu meredam rasa pedih Ray saat harus mengingat kembali masa-masa kehilangan Ibu tercintanya.
" Maaf Ray, karena aku, kau harus mengingat ulang masa-masa terberatmu " Ray tersenyum simpul dan membenamkan wajahnya diceruk leher istrinya.
" Karena Yas, aku sedikit bergerak lamban mengejarmu.. dengan begitu tiba-tiba dan seenak udelnya Yas memintaku untuk menikahinya, karena cintanya harus kandas sebelum berkembang. Pria yang dia kejar sedari taman kanak-kanak menolaknya mentah-mentah " Lanjut Ray kemudian. Veln membulatkan matanya, merasa tidak percaya pada sebagian ucapan suaminya. Yang benar saja.. masa iya Yas yang masih sekecil itu sudah terobsesi dengan lawan jenisnya?bahkan mengartikan apa itu cinta pun mungkin dia masih belum paham.
" Memang benar, sedari kecil Yas itu sudah begitu centil dan nakal. Isi otaknya tidak sesuai dengan wajah cantiknya, dia payah sama seperti dirimu V..." Ray terkekeh menyadari ucapannya.
" Tidak masalah aku dibilang payah karena tidak mengenali fotoku sendiri, tapi untuk mendengarmu memuji-muji perempuan lain perih.. Ray "
" Disini? " Ray menunjuk dada Veln dan mengelusnya seolah menghilangkan rasa perih yang dilontarkan istrinya.
" Bukan disitu.. tapi disini " Veln menunjuk bibir ranumnya dengan menggoda.
" Nakal.. memang kalian berdua sama-sama payah, centil dan nakal " Seketika Ray mencecap bibir lembut dan manis istrinya.
" Lanjutkan Ray.. Aku tau ceritamu belum berakhir " Veln membuka suara saat mulut Ray melepaskan tautannya.
" Yas benar-benar frustasi saat cinta sejatinya tak bersambut. Dia memilih menyerah dan berbalik kearahku, memintaku untuk menikahinya. Namun Om Ben menolakku saat aku meminta putrinya. Ternyata sudah sejak dulu Om Ben memiliki rencana untuk menjodohkan Yas dengan putra temannya "
" Karena itu kalian tidak jadi menikah? "
" Lebih tepatnya karena pria yang dijodohkan dengannya ternyata pria yang sama, pria yang sudah sejak dalam kandungan dia kejar-kejar " Ray menertawai leluconnya sendiri " Akhirnya rencanaku yang sempat tertunda untuk menjeratmu, aku lanjutkan "
" Sedikit kecewa ternyata aku hanya dijadikan opsi kedua olehmu " Veln berakting, berpura-pura sedih.
" Maaf ya sayaang.. tapi aku janji, aku akan menjadikanmu untuk yang terakhir " Ray mengeratkan pelukannya " Kau tau, aku harus sedikit bekerja keras untuk mendapatkanmu "
" Bukan bekerja keras, hanya harus sedikit bersabar untuk mendapatkan info dari sekertaris Sam. Mengakulah.. karena aku yakin disini sekertaris Sam lah yang paling bercucuran keringat mencari informasi mengenai aku " Ray tertawa mendengarkan ketidak terimaan istrinya.
" Tidak semelelahkan itu sampai Sam bercucuran keringat untuk mencari V.. Ku "
" Ray, kau harus memberi sekertaris Sam dari sekedar bonus.. Aku bisa merasakan kesulitannya mencari seseorang hanya bermodalkan wajah dari dalam foto "
__ADS_1
" Tidak sesulit itu sayaang.. ternyata istriku memang payah, logo sekolah yang menempel dibaju seragammu sangat mempermudah untuk mendapatkan informasi tentangmu " Veln terkekeh geli menyadari kebloonannya " Dan sungguh diluar dugaan.. Kau menyerahkan diri dihadapanku. Moment interview itu, dengan berbagai kecerobohanmu mempermudahku untuk menjeratmu. Sehingga aku tidak perlu merendahkan harga diriku untuk mendapatkanmu.. Sayaang "
Bersambung..