Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
64. Cctv


__ADS_3

Kedua mata Veln semakin membulat, tubuhnya yang menyandar ditubuh Ray dengan kepala terbenam didada suaminya segera dia tegakkan dengan mata terus menatap layar mini dihadapannya.


" Ray, bagaimana kau bisa mendapatkan vidio itu? " Jarinya menunjuk kearah yang dimaksud, lalu pandangannya dialihkan kewajah suaminya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Ray membalas menatap kearah istrinya dengan pandangan yang datar.


" Bisa kau putar ulang? maksudku, putar kembali vidio ini dari awal " Tanpa menjawab Ray langsung menuruti perintah perempuan yang duduk tegak disampingnya dengan mata yang masih menatatap wajah perempuan ayu itu. Pikirannya seketika menangkap sesuatu, ada yang tidak beres disini.


" Ayah.. hkhkhk Ibu.. " Suara itu lolos begitu saja diiringi dengan isakan kecil dari mulut Veln dengan mata yang masih setia menatap kearah layar yang memutar sebuah vidio kecelakaan tragis dengan diakhiri beberapa foto berjalan milik korban kecelakaan.


Ray menelan ludahnya kelu, mengusap wajahnya kasar dan memalingkan pandangannya berlawanan arah dengan posisi duduk istrinya.


Veln menyeruput ingusnya dengan hidung yang hampir jatuh dan menghapus airmatanya yang sudah tak terkendali membasahi pipinya.Rasanya, saat ini dia butuh pelukan hangat Ray. Akhirnya dia langsung merapatkan diri ketubuh Ray, karena tak kunjung mendapatkan hal yang dia butuhkan saat ini.


Hem, sampai dengan detik ini Ray masih tak bergeming dan tak bertindak apapun terhadap istrinya yang terlihat begitu terpukul setelah menyaksikan vidio kecelakaan lalulintas beberapa tahun silam yang melibatkan kedua orang tuanya.


Vidio yang susah payah Ray kumpulkan, yang diambil dari beberapa cctv setempat. Tentu atas bantuan dari orang-orang yang bekerja dibawah perintahnya.


Ray masih memalingkan wajahnya menghadap kearah lain, tak memperdulikan pelukan istrinya yang terbenam dengan isakan yang tanpa suara. Hanya airmata saja yang berlinangan yang menunjukan betapa rapuhnya Veln saat ini.


Siapapun pasti akan bersedih saat mengingat kepergian orang yang kita kasihi, apalagi ini.. dipagi menjelang siang ini tiba-tiba Veln dihadapkan dengan kronologi nyata. Kejadian yang sebenarnya ditkp bagaimana dengan jelasnya Ayah dan Ibunya meregang nyawa ditempat itu.


" Tegakkan tubuhmu " Suara Ray menyentak telinga Veln yang sedang larut dalam sedih sedannya. Dia pun kembali menegakkan tubuhnya, duduk dengan menghadap kearah Ray. Tentu masih dengan airmata yang masih berderai.


Ray beranjak dan bangkit " Ikutlah denganku " Lalu langkah panjangnya mulai menapaki pintu arah keluar ruangan.


Veln yang masih syok, dengan tangis tak bersuaranya hanya bisa menurut dan mengikuti langkah suaminya sebelum tertelan pintu ruangan.


Hati perempuan itu merasakan aneh, karena dia merasakan tangisnya tak disambut hangat. Veln malah merasakan hawa panas dalam diri Ray. Tak ada sentuhan lembut untuknya, untuk sekedar menenangkan dirinya yang saat ini merasakan sedih yang mendalam.


○○○


Dikamar utama, tepatnya didalam ruangan kerja Ray. Ray menarik lengan istrinya dan mendudukan Veln dikursi yang tepat berhadapan dengan kursi kerjanya. Hanya sebuah meja kerja besar yang menjadi sekat antara kursi yang kadang Ray duduki saat dia harus lembur dan bekerja dirumah.


Ray mengambil sebuah kotak serupa dengan box gift dari salah satu rak diruang kerjanya, yang terselip diantara buku-buku, berkas, dan dokumen miliknya.


Ray meletakkan kotak tersebut dihadapan Veln diatas meja kerjanya.


" Buka " Ray memerintah dengan memposisikan tubuhnya berdiri dibelakang Veln duduk.


Dengan menurut, Veln membuka kotak tersebut dan mendapati banyak lembaran foto yang tak beraturan didalam sana. Tercecer begitu saja, tak tertata rapih.

__ADS_1


Foto-foto orang-orang yang berdarah-darah,terkapar dan terkulai tak berdaya dan beberapa kendaraan yang sudah tak jelas bentuknya atau pesok dibeberapa sisinya.


" Katakan, diantara salah satu dari foto tersebut apakah benar foto kedua orang tua mu? " Ray memutar kursi yang diduduki Veln dan dihadapkan kearahnya. Dia sedikit membungkuk dengan kedua telapak tangan bersandar disandaran kursi yang Veln duduki. Menatap tajam kearah perempuan dihadapannya dengan menahan nafasnya berat.


" Be_nar " Veln menjawab dengan tangan sedikit bergetar menunjukkan foto ayah dan ibunya dengan keadaan tubuh yang menyedihkan dan berdarah-darah dihadapan Ray. Bahkan airmatanya yang sempat menyurut kembali berderai pelan.


Ray berbalik memunggungi Veln, Membuang nafasnya kasar dengan berkacak pinggang dan mendongakkan wajahnya menatap langit-langit ruangan.


Tiba-tiba terdengar berat suara isakan dari bibir Veln, suara yang sedari tadi dia tahan akhirnya pecah juga. Entah karena saking sedihnya melihat langsung kejadian yang sudah membuatnya menjadi yatim piatu dari vidio cctv dan jepretan foto atau karena sikap Ray yang kini tiba-tiba terasa seolah sedikit aneh. Mungkin juga, bisa jadi karena keduanya.


" Diamlah, simpan airmatamu untuk lain waktu " Ray berbalik arah dan memeluk Veln dengan erat.


Veln semakin tersedu, merasakan kembali mendapatkan kehangatan dari Ray yang sudah sejak tadi dia harapkan.


Dirasa cukup, Ray melerai dekapannya dan berdiri tegak dihadapan Veln. Namun tidak dengan perempuan itu, Veln masih menginginkan pelukan hangat itu. Akhirnya tanpa meminta persetujuan suaminya, Veln mendekap pinggang Ray dan membenamkan kepalanya diperut Ray. Menangis dengan tanpa kontrol, membuat airmatanya yang keluar begitu deras membasahi pakaian yang Ray kenakan.


" Lepas " Ray melepas dekapan Veln sedikit kasar, membuat Veln sedikit kaget dan menatap Ray dengan penuh tanya. " Tenangkan dirimu sendiri. Aku akan pergi kekantor, ada hal penting yang harus aku urus " Langkah panjangnya mengarah kepintu, membukanya dengan kasar dan bluuuuuug, menutup pintu kayu itu dengan keras sehingga mengeluarkan bunyi berdebum.


Veln masih tertegun dengan posisi duduknya, merasa dibuat bingung setengah mati oleh sikap Ray yang terlihat marah tanpa mengerti penyebabnya walaupun disela-sela sikap membingungkannya masih bisa sedikit bersikap lembut terhadapnya.


○○○


Dan benar saja, Veln mendapati Ray disana yang sedang sibuk mengancingkan baju kemeja kerjanya dengan cepat dan cekatan.


Satu lagi yang membuat Veln semakin yakin ada yang tidak beres dengan suaminya tatkala melihat baju kotor bekas pakainya dibiarkan saja tercecer tak beraturan dilantai ruang ganti. Ini benar-benar bukan tipe suaminya sekali, yang terbiasa rapih dan bersih.


" Ray " Veln menatap bingung suaminya.


Ray menoleh kearah istrinya dengan tangan sibuk menarik sebuah dasi dan melingkarkan dileher, dan berjalan menuju kearah Veln.


" Kenapa? hah? " Ray menjawab dingin dengan senyum sinisnya. " Kau membutuhkan pelukan hangatku? " Ray melempar dasi yang belum sempat dia simpul kesembarang arah, dan menarik kasar pinggang Veln.


Sebelah tangannya mencengkeram tengkuk Veln, menahannya agar bibirnya dapat leluasa menciumi seluruh wajah istrinya dengan.. tentu tidak dengan lembut dan penuh romantis, namun dengan kasar dan brutal.


Ray menyesap bibir Veln dan menggigitnya hingga berdarah, menyelusupkan lidahnya kasar kedalam mulut Veln, menautkannya dengan lidah istrinya dan tanpa diduga dengan gerakan cepat Ray menggigit lidah Veln sedikit keras lalu melepasnya dan mendorong kasar tubuh perempuan itu.


Dengan sedikit terhuyung dan kaget atas perlakuan Ray Veln mengimbangi tubuhnya agar tak terjatuh kelantai.


Veln mendongak kearah Ray, dan mendapati kilatan mata dengan sorot aneh. Sorot gairah namun penuh kebencian yang mendalam.


" Hahahaa " Tawa mengerikan dari mulut Ray membuat Veln spontan memundurkan langkahnya, berusaha menjauh dari suaminya. Takut, sudah tentu. Keadaan ini membuat Veln merasa bingung, sekaligus merinding setengah mati.

__ADS_1


Sungguh untuk yang pertama kalinya, Veln merasa berhadapan dengan orang lain. Bukan dengan suaminya, padahal dengan jelas dan nyata Ray lah yang sebenar-benarnya berada diruangan tersebut saat ini bersamanya.


Ray berjalan cepat dan menarik tangan istrinya. Veln hanya bisa diam dengan terus mengamati suaminya yang bertingkah seperti seorang laki-laki yang hendak memperkosa dirinya.


Ray menyusupkan tangannya dibalik pakaian yang Veln kenakan, dan memainkan sebelah dada milik perempuan itu yang kini berdiri tepat dihadapannya.


" Kenapa ka_u jadi seperti in_i " Dengan terbata dan berusaha menghentikan aksi telapak tangan suaminya Veln berkata. Veln merusaha menghentikan tangan suaminya yang bergerak kasar menyentuh dada miliknya dengan memegang tangan Ray dari luar pakaian yang dia kenakan.


" Bukankah itu yang kau inginkan? " Ray menjawab dingin, dengan mengeluarkan telapak tangannya dari balik pakaian Veln.


Tanpa sadar buliran bening kembali turun dari ujung mata Veln, dan anehnya itu justru membuat Ray semakin tersulut emosi.


Airmata Veln malah membuat Ray semakin merasa enek, semakin meningkatkan amarahnya menjadi berkali-kali lipat. Karena Ray tidak suka melihat keadaan yang seolah bahwa Veln lah yang kini sedang merasa paling tertindas dan terluka diantara mereka.


Dengan wajah penuh emosi, Ray merobek pakaian bagian atas yang Veln kenakan.


" Tidak, jangan " Berontak Veln saat Ray menarik paksa bagian tengah pakaian dalam yang menutupi dua gunung kembarnya yang saat ini dikenakannya, hingga membuat pengaitnya terbuka sempurna. Ray menjambak rambut panjang Veln, dan membuat wajah perempuan itu mendongak sempurna dihadapan wajahnya. " Ku mohon Ray, jangan seperti ini " Memohon dengan penuh harapan dengan sorot mata ketidak berdayaannya.


" Kuharap, kau dapat menikmatinya girl "


" Jangan seperti ini Ra_ hpmmmmmm "


Dengan senyum menyeringainya, Ray kembali menciumi seluruh tubuh Veln dengan tanpa kelembutan.Ray melepas seluruh pakaian Veln dan dirinya dengan kasar. Ray menuntun tubuh Veln untuk berbaring dibawah lantai dengan emosi. Menyentuh


dua bagian vital istrinya dengan brutal dan menghentak-hentakkan pinggulnya keras tanpa ampun.


○○○


Ray bangkit dengan peluh yang begitu jelas membasahi tubuhnya, berjalan menuju lemari pakaiannya. Bersiap mengenakan baju yang biasa dia kenakan untuk pergi kekantor beserta atribut-atribut pelengkapnya.


Sudah jelas tentu dengan tanpa mandi terlebih dahulu. Setelah dirasa cukup dengan penampilannya, Ray berlalu pergi meninggalkan Veln dengan tanpa dosa dan perasaan bersalah sama sekali.


Meninggalkan perempuan ayu yang masih setia meringkuk dibawah lantai dengan tanpa busana sehelai pun.


Hanya airmata yang menemaninya, masih setia menetes dan mengalir dari ujung kelopaknya.


Tangis yang tanpa suara kini mulai pecah kembali tatkala mengingat perlakuan Ray yang begitu mengejutkannnya. Gairah yang seolah terselimuti setan membuat Veln benar-benar syok, bahkan lebih membuatnya syok dari vidio kecelakaan kedua orang tuanya yang dia tonton untuk pertama kalinya setelah sudah beberapa tahun yang lalu terjadi.


Entah mengapa kali ini, Veln merasa dilecehkan. Padahal jelas-jelas yang habis menyentuh dan membelai tubuhnya adalah seorang Ray, suaminya sendiri. Suami yang pengertian, begitu sangat mencintainya, menyayangi dan memanjakannya. Namun tidak untuk hari ini, untuk saat ini.. saat dimana seolah muncul kepribadian yang lain dari seorang Ray. Muncul gejolak amarah yang sudah sejak lama dia tahan, dan kini dia muntahkan.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2