
Diacara pemakaman, Mami Rosa dan Rosi masih terus mengeluarkan air matanya. Begitu juga dengan Veln, perempuan ayu itu terlihat begitu terpukul atas keperguan Nenek Lusiana. Dia sibuk menahan tangisnya agar tidak bersuara, namun sungguh Veln tak dapat menghentikan laju air matanya yang trus meluncur membasahi pipi. Wajah cantiknya terlihat jelas memerah akibat tangisannya, beruntung kedua mata sembabnya tak terekspos karena tertutup kaca mata hitam yang dikenakannya.
Ray memeluk pundak istrinya dengan erat, menyandarkan kepala Veln didadanya. Tangan Ray tak henti-hentinya mengusap-usap ujung pundak Veln. Sebenarnya Ray tidak habis pikir dengan istrinya, bagaimana bisa? disini sepertinya Veln lah orang pertama yang paling merasa terpukul dengan kepergian Neneknya. Sementara Veln hanyalah bersetatus sebagai cucu menantu. Namun yang Ray pahami, mungkin karena sifat perasanyalah yang membuat Veln sampai sedalam ini ikut menangisi Neneknya. Dan satu lagi mungkin pula karena Veln merasa menemukan sosok Nenek sekaligus Ibu dalam diri Neneknya. Meski tidak dipungkiri lagi, jelas dalam peristiwa ini Ray lah yang paling terpukul disini. Sepeninggal Neneknya, Ray kini benar-benar merasa sebatang kara. Dan harus menggantikan peran Neneknya yaitu menjadi pelindung sekaligus pemegang kendali dan pemberi keputusan dalam keluarga Wiratama selanjutnya. Karena itulah, Ray harus terlihat tegar dihadapan semuanya. Agar mereka pun dengan sendirinya ikut menjadi kuat, terkecuali untuk tiga perempuan itu. Mungkin untuk sementara biarlah mereka untuk termehek-mehek sejenak.
Mata seluruh yang hadir dipemakaman tersebut fokus menatap tiap gumpalan tanah berjatuhan menutupi jenajah Lusiana. Setelahnya seluruh keluarga menaburkan bunga diatas pusaranya, dan panjatan doa-doa pengampunan keluar dari mulut-mulut mereka yang tak bersuara.
" Kita pulang " Ray mengangkat dagu Veln, mendongakkan kearah wajahnya. Tanpa protes Veln pun mengangguk setuju.
Mereka pun meninggalkan pusara Lusiana yang masih basah dan dipenuhi bunga-bunga segar.
○○○
Dirumah besar itu, beberapa kerabat jauh dan kolega-kolega bisnis Ray masih berdatangan untuk menyalami dan mengucapkan bela sungkawa dengan Veln yang masih setia mendampingi. Bunga-bunga ucapan bertuliskan turut berduka cita pun nyaris memenuhi pekarangam rumah yang dulu ditinggali oleh Nenek Lusiana.
Sampai dimana suasananya sudah agak sedikit lengang, Ray membawa Veln yang berada dalam dekapannya menuju ruang tengah. Meninggalkan tatapan penuh tanya baik dari orang-orang yang ikut menghadiri acara pemakaman atau yang menyusul datang kerumah besar itu untuk mengucapkan duka citanya. Ya mereka merasa penasaran akan perempuan yang selalu berada disamping bahkan didekapan seorang Ryu Saka Wiratama.
Istri??? mana mungkin, karena tidak pernah terdengar keturunan pertama Wiratama menikah. Setidaknya itulah salah satu suara hati yang mewakili beberapa orang yang melihat keintiman Ray dan Veln.
○○○
Ray mendudukkan Veln disalah satu sofa yang berada diruang tengah rumah besar itu. Ray pun ikut mendudukkan tubuhnya disamping Veln, karena melihat mata sendu itu yang sepertinya tidak ingin ditinggalkan olehnya.
Disana juga terlihat Mami Rosa dan Rosi yang sedang duduk lebih dulu, terkulai lemas seperti tak bertenaga.
" Ray, sebaiknya kau istirahat dikamar. Ajak serta istrimu, sepertinya Veln membutuhkan istirahat " Ucap Tante Susan yang barusan datang dengan membawa dua gelas teh hangat untuk Rosa dan Rosi. Tante Susan menatap iba kearah Veln yang terlihat lemas tak bertenaga sama persis dengan Mami Rosa dan Rosi, dan mata yang sembab dan sayu akibat kurang tidur.
Tante Susan sekeluarga saat ini memang sedang berada dirumah utama Wiratama. Begitu Denis membaca pesan yang dikirim Veln secara tidak sengaja, mereka memutuskan untuk datang keibu kota. Apalagi setelah Denis membaca pesan itu, dia langsung menghubungi Ray berkali-kali namun tak ada jawaban. Sampai diseperempat perjalalan, dia dihubungi balik oleh Ray dan mendengar kabar menyedihkan itu.
" V, masuklah kekamar. Kau butuh tidur " Perintah Ray yang dibalas tatapan memelasnya, tidak ingin ditinggal dan jauh dari Ray. " Aku akan kembali kedepan, menemani Renand, Om Aldo, Denis dan Danis " Tentu Sam dan Om Ben juga masih berada disana, ikut mewakili menemui tamu-tamu yang masih berdatangan. Veln pun hanya bisa pasrah membiarkan Ray kembali keruangan depan. Ditambah lagi Veln pun merasa tidak tega jika harus membiarkan Renand berdiri diruang depan itu tanpa kakaknya.
" Ayo Nak, Tante temenin " Ujar tante Susan.
" Rosi juga, Rosi akan temani kak V dikamar. Tapi Rosi mau anter Mami dulu kekamarnya " Suara Rosi masih sedikit serak akibat hampir setengah hari ini menangis. " Ayo Mi, Mami istirahat dikamar " Lanjut Rosi kemudian.
" Mami mau ikut menemani Veln juga " Ujar Rosa.
" Kita istirahat sama-sama dikamar " Sambung Tante Susan. Tante Susan yang notabennya adalah adik dari ibunda Ray tidak sama sekali merasa benci atau canggung terhadap Rosa.
Mereka pun bersama-sama menuju kamar yang biasa ditempati Ray ketika masih tinggal dirumah utama Wiratama.
__ADS_1
Didalam kamar, tepatnya dikamar lama milik Ray, Veln merebahkan tubuhnya dengan Tante Susan duduk disamping ranjang dengan kepala disandarkan kesandaran tempat tidur. Begitu juga dengan Mami Rosa, posisinya sama persis seperti apa yang dilakukan Tante Susan disamping ranjang sebelahnya. Sementara Rosi pun ikut menidurkan sembarang tubuhnya diranjang itu. Mereka berbincang-bincang sebentar, sampai kemudian masing-masing dari tiap mata mereka terpejam lelap dalam satu ranjang saling ringkuk meringkuk memberi tempat.
○○○
Keesokan harinya, mereka berkumpul duduk diruang tamu dengan sesekali masih menyalami beberapa tamu yang datang untuk menunjukan bela sungkawanya.
Dan begitu menjelang siang, rumah utama Wiratama kedatangan tamu spesial. Seorang perempuan cantik dengan tubuh seksi dan tinggi semampainya.
Sontak membuat mereka yang berada diruangan itu langsung menatap perempuan yang sedang berjalan dengan anggun mendekat kearah mereka.
" Kak Stela " Gumam Rosi yang didengar jelas oleh Veln.
" Ray, aku turut berduka cita atas kepergian Nenek mu " Ucap perempuan cantik itu. Dialah Stela, perempuan yang satu kampus dengan Ray saat kuliah.
" Terimakasih Ella " Ray menjawab singkat.
Stela berkeliling menyalami semua orang yang berada diruangan tersebut, dia mengajak cipika-cipiki dengan mereka tapi tidak dengan yang berlawanan jenis.
" Ren, kau semakin besar sekarang " Stela mengacak rambut Renand ketika tepat berada dihadapannya. Ren merupakan panggilan kesayangan Stela untuk adik kecil Ray.
" Tentu saja kak, karena aku tumbuh dan diasuh dengan benar oleh kak Ray " Jawab Renand sekenanya. Lalu Stela beralih kearah Rosi yang duduk bersebelahan dengan Mami Rosa.
" Rosi merasa tersanjung kak " Rosi mengulum senyum.
" Mami, bagaimana kabar mu? " Stela beralih ke Mami Rosa.
" Seperti yang kamu lihat, Mami baik Ella " Ucap Mami Rosa. " Kau sendirian? " Stela mengangguk, membenarkan ucapan Mami Rosa.
" Kak, kau sudah menikah? " Tiba-tiba Rosi melempar pertanyaan yang terdengar sensitif ditelinga. Veln yang sedari tadi duduk dan belum mendapat giliran cipika-cipiki dengan Stela sedang harap-harap cemas menunggu jawaban perempuan yang baru pertama kali ditemuinya. Mendengar nama Stela saja dia sudah langsung ingat perkataan Renand waktu itu, dialah mantan pacar Ray dan seseorang yang memberikan seekor kucing angora sebagai kenang-kenangan untuk Ray suaminya. Dan itu sukses membuat Veln merasa panas dingin tak karuan.
" Bagaimana aku bisa menikah Rosi, sementara hatiku masih nyangkut dengan seseorang "
Gleg.. jawaban yang diberikan Stela semakin membuat Veln tidak karuan, apalagi matanya mendapati Ray yang sedang tersenyum tipis kearah Stela.
Ku mohon, jauhkan pelakor dari kehidupan rumah tangga kami, rumah tangga saudara kami, rumah tangga tetangga kami, dan seluruh rumah tangga yang ada dimuka bumi ini. Amin.
Veln membatin dengan tatapan matanya tak henti memperhatikan kearah Ray dan perempuan yang dipanggil Ella itu.
Mata Renand juga tak kalah sibuknya, memperhatikan ekspresi kakak iparnya yang terlihat panas dingin atas kedatangan perempuan yang pernah memberikan anak kucing kepada Ray, kakaknya.
__ADS_1
" O iya Ray " Stela beralih menghadap Ray. " Aku, aku membawa serta anak kita "
Jreeeeeeeeng.
Semua orang diruangan itu terbelalak kaget. Veln spontan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya dengan mulut menganga dan perasaan kecewa.
" Benarkah? " Tegas Ray dengan nada datar khasnya.
" Dia tumbuh dengan baik dan sehat " Ucap Stela dengan ekspresi bahagia. " Aku akan membawanya masuk, sekarang dia sedang bersama sopir ku didalam mobil " Dengan tanpa beban Stela melangkah pergi meninggalkan pikiran kacau ditiap benak orang-orang diruangan itu.
Ray melirik kearah Veln, dan sedikit terkejut melihat istrinya.
" V, kau menangis? " Terang saja kini air mata Veln berlinangan membasahi pipinya, menutupi wajah putih mulusnya yang merah padam karena menahan amarah dan rasa kecewa yang mendalam. Siapa yang akan kuat mendengar berita yang memilukan ini? apalagi ketika melihat Ray yang terlihat begitu tenang dan tak merasa bersalah sama sekali membuat Veln tergugu tak kuat menahan tangisnya.
" Kak Ray, tidak kusangka ternyata kau sebrengsek itu " Ray marah dan bangkit dari duduknya, mengepalkan kedua tangannya dan bersiap melayangkan tinju kearah Ray kakaknya.
" Tahan boy, jangan keburu emosi kita lihat dulu fakta yang sebenar-benarnya " Denis menahan Renand untuk tidak menuruti emosinya.
" Jangan halangi aku kak, pria brengsek itu sudah sepantasnya mendapatkan bogem mentah " Emosi Renand menggebu-gebu, bagaimana bisa kakak pedoman hidupnya bisa berbuat sebanci itu.
Denis menghalau Renand sekuat tenaga dan menjauhkannya dari jangkauan Ray, yang terus memberontak ingin menghajar kakaknya.
" Lepasin aku, kak Denis. Biarkan aku menghajar habis kakak ku " Berontak Renand " Lepas kak " Denis terus memegang erat tubuh Renand yang semakin memberontak. Dan keadaan itu semakin membuat semakin menegangkan. Sementara pusat sumber masalah masih bisa duduk tenang dengan dengan wajah datar dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Renand yang dianggapnya berlebihan.
Belum juga Renand terkendali tiba-tiba Danis berseru dan melangkah maju.
" Biar aku yang menghajar kak Ray yang brengsek itu " Namun langkahnya sedikit tertahan tatkala tangannya ditarik oleh Yas.
Yasmin saat ini memang sedang berada dikediaman Wiratama. Tarikan perempuan itu tak berpengaruh apa pun, Danis langsung menepisnya membuat Yas jatuh tersungkur.
" Hentikan " Ucap Tante Susan.
" Stop " Ujar Mami Rosa.
*Bersambung..
Jangan lupa like, coment, vote, n ratenya ya..
Salam sehat selalu 😙*
__ADS_1