
Kini kedua orang itu tengah sibuk dengan sarapannya, seperti biasa mereka melakukannya dengan saling menyuapi.. tidak, untuk kali ini justru bisa dibilang Ray yang menyuapi Veln karena perempuan ayu itu lebih banyak mendapatkan suapan dari Ray dibanding menyuapkan makanan kemulut suaminya.
" V.. Aku tinggal sebentar. Ada rapat penting yang harus aku hadiri dan beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan, aku akan kembali secepatnya setelah semuanya beres " Mengenakan dasinya dengan berjalan menuju kearah Veln yang sedang duduk santai diatas sofa yang menghadap kearah tempat tidur mereka.
" Hem " Dengan senyum merekahnya Veln hanya menjawab singkat.
" Apa ada yang kau inginkan? menitip sesuatu? misalnya ingin makanan atau yang lainnya? "
" Tidak ada " Dengan menggeleng pelan.
Ray mengusap pucuk kepala istrinya dan mengecup hangat kening Veln " Maaf ya sudah membuatmu lelah " Mendapati raut majah istrinya yang terlihat sedikit pucat dan terlihat lemas " Istirahatlah disini, jangan berkeliaran sampai kau merasa fit. Kalau butuh sesuatu minta tolong saja pada Bibi lewat sambungan telefon, aku juga membeli oleh-oleh untukmu "
" Hem " Veln mengangguk kembali " Lagi pula mana berani aku berkeliaran dengan membawa banyak tatto bertebaran dimana-mana " Ray tersenyum geli menanggapi perkataan istrinya.
" Sekali lagi maaf sayaang " Mengecup bibir Veln beberapa kali.
" Mm.. tapi lain kali aku juga mau dibikinin tatto lagi sama kamu " Veln tersenyum menyeringai.
"Jangan menggoda ku V.. " Tanpa aba-aba Veln pun membalas dengan mengecup bibir Ray berkali-kali dan meniupkan aroma nafasnya lembut ditelinga Ray dan secepat kilat bangkit meninggalkan Ray menuju kamar mandi.
" Semakin nakal ya kamu " Lanjut Ray lagi.
" Kamu yang ajarin sayaaaaaang.. " Goda Veln yang sudah tak terlihat wujudnya, namun terdengar jelas suara seksinya yang diakhiri kekehan kecil. Ray pun dibuat tersenyum dengan tingkah istrinya.
○○○
Satu jam sudah sejak kepergian Ray, Veln masih terlihat bermalas-malasan tiduran diatas sofa, kini posisinya berubah menjadi terlentang dengan mata yang menatap langit-langit kamar.
Seketika Veln teringat akan Pamannya, ya hampir dua minggu dia tidak berkomunikasi dengan Paman Rian. Terakhir kali mengobrol dengan Paman Rian saat berada disuatu pulau saat suaminya dan dirinya melakukan perjalanan bisnis yang diselingi bulan madu, itu pun lewat sambungan telfon.
Dan seketika itu juga Veln tersadar akan benda pipih miliknya dan barang-barang penting lainnya yang tanpa sadar sedikit terlupakan. Mungkin akibat saking terbiasanya berjauhan dengan benda terpenting bahkan ternomor wahid untuk semua umat manusia dibumi ini semenjak menjadi nyonya Ray, Veln sama sekali belum menyentuh ponsel miliknya.
Veln langsung mengangkat gagang telfon dan menyambungkannya kelantai bawah untuk menanyakan ponsel dan barang-barang lainnya ke Lala atau Lili alias sikembar, salah satu pelayan rumah ini.
Tak butuh waktu lama Veln sudah mendapatkan ponselnya yang berada didalam nakas samping tempat tidurnya dengan posisi batre yang tak terpasang. Tangannya cepat meletakkan batre ditempat yang semestinya dan langsung mengisi dayanya dengan mencolokkan kesambungan listrik. Lalu Veln berjalan masuk menuju walk in closet mengambil tas yang tersimpan rapih didalam lemari dan mengecek isinya. Bibirnya menyunggingkan senyum saat memegang dompet miliknya yang isinya hampir tak pernah terlihat penuh, ada rasa syukur mendalam ketika mengingat masa sulitnya dahulu yang kini berubah drastis hampir tiga ratus enam puluh derajat. Bukan hanya dari segi ekonomi, mungkin dari segi manapun jelas kondisi hidupnya meningkat lebih baik ditambah lagi bonus yang luar biasa yaitu perhatian dan kasih sayang Ray yang selalu membuat hidupnya lebih berwarna.
🤳 Veln " Paman sakit? " Veln terdengar khawatir ketika mendengar suara Pamannya yang agak berat dan serak. Saat ini dia sedang melakukan panggilan dengan ponselnya.
🤳 Paman Rian " Tidak apa-apa Nak, cuma sedikit flu dan batuk " Tia-tiba ketika mereka berdua asik mengobrol melepas kangen terdengar suara Virina dan Mbak Del mensabotase secara beruntun, karena saat ini Paman Rian memang sedang berada dirumah.
🤳 Virina " Hay sepupuku, bagaimana kalau kita ganti dengan menggunakan panggilan vidio? Aku penasaran dengan penampakan rumah tinggal milik si ganteng tajirmu "
🤳 Mbak Del " Keponakanku jangan dengarkan putriku, o ya hee.. jangan lupa jatah uang bulanan ya, jangan sampai telat aku harus membeli produk perawatan kulit "
🤳 Virina " Sepupuku, katakan apa tempat tinggalmu sebagus kediaman juragan Seno? "
🤳 Mbak Del " Kalau bisa untuk bulan ini minta tambahan ya, aku mau traktir-traktir temen-temen rumpi, hee "
🤳 Virina " Kalau aku nanti sah jadi istri Mas Rega, aku akan tinggal dirumah mereka.. level kita nanti akan sejajar "
tiba-tiba.. plak, terdengar bunyi suara Virina yang ditampol oleh ibunya.
" Pepet dulu dengan benar putra juragan Seno, baru boleh berkhayal menikah dan jadi istrinya Rega "
" Ibu.. sakit, kalau itu sudah pasti tanpa Ibu suruh pun aku akan dengan sekuat tenaga menempeli dengan erat Mas Regaku "
🤳 Virina " Veln, saudara perempuanku satu-satunya dan yang paling cantik setelah Aku.. ditempatmu masihkah tersedia stok laki-laki ganteng dan tajir seperti suamimu? sisakan satu untukku, untuk jaga-jaga siapa tau Mas Regaku tetap kekeh pada pendiriannya untuk tidak mau menerima aku sebagai istrinya "
" Dasar anak bodoh, nyari laki-laki tajir saja tidak bisa " Terdengar nada mengumpat dari mulut Delina.
" Sudah-sudah kemarikan ponselnya, kalian berdua ini dari dulu tidak pernah berubah " Terdengar suara Paman Rian melerai obrolan tak penting mereka berdua.
__ADS_1
🤳 Paman Rian " Nak jangan dengarkan, maaf selalu membuatmu pusing dengan tingkah pola mereka. Sebaiknya kita sudahi saja sebelum mereka tambah menggema " Rian terkekeh begitu juga dengan Veln yang ikut tertawa.
🤳 Veln " Iya Paman, Paman jangan lupa minum obat. Tetap diamlah dirumah sampai benar-benar fit baru boleh kembali merantau "
🤳 Paman Rian " Kamu juga Nak, jaga kesehatan dan jangan pernah membantah perintah suamimu. Salam untuk Nak Ray "
Akhirnya mereka memutuskan untuk menghentikan panggilan akibat banyaknya gangguan yang bermunculan dari Ibu dan anak itu.
Belum lama terputus, ponsel Veln berbunyi. Begitu menatap layar dan melihat nama yang tertera disana sudah sukses membuat matanya berbinar dan tanpa ragu dia menyentuh tombol hijau untuk mengangkat panggilan vidio.
🤳 " Haaaaayyyy " Jompak dengan begitu semangat Liana dengan beberapa tim manja coffe menyapa Veln dan melampaikan tangan.Veln tersenyum sumringah melihat mereka.
🤳 Liana " Hey kau kemana saja? Aku hampir gila memikirkanmu.. Kau menghilang begitu saja setelah menjadi seorang istri? "
🤳 Mega " Pasti sibuk ya? sibuk bikin dede bayi " Tawa mega menyeruak yang diikuti yang lainnya termasuk Veln juga ikut terkekeh merasa lucu.
🤳 Mba Susan " Buatkan aku keponakan yang lucu ya "
" Mbak Susan, kenapa nggak buat sendiri aja dengan bang Dika.. bukankah sebentar lagi mau nyusul Veln kepelaminan? " Mila mencela yang terlihat dan terdengar jelas oleh Veln dari balik layar ponselnya.
🤳 Veln " Wah selamat Mbak Susan, undang aku ya kalau kalian nikah "
🤳 Mba Susan " Siiip, tunggu kabar baik dari aku ya "
🤳 Veln " Ok, akhir tahun ini kah? "
🤳 Tim manja coffe selain Mbak Susan " Yups " Menjawab serentak bersamaan.
🤳 Mba Susan " Tidak secepat itu sayang, jangan dengar mereka. Masih tahap saling mengenal lebih dekat "
🤳 Yana " Masih wangi-wanginya.. kayak bunga yang baru mekar " Timpal Yana sedikit menggoda.
Dan dengan begitu lama mereka menghabiskan waktu dengan menggunakan panggilan vidio untuk saling melepas kangen, tak lupa Veln pun menjelaskan mengenai hal yang membuat waktu itu dia tidak bisa dihubungi alias tidak bisa saling berinteraksi lewat benda pipih yang berada ditangannya.
○○○
Secepat kilat Ray membuka pintu kamar tidurnya, dan matanya langsung fokus mencari seseorang yang wajahnya sedari tadi berkelebatan dibenaknya.
Ray cengengesan sambil menggelengkan kepalanya, mendapati istrinya yang sedang bergulung dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya yang tak tersisa. Dan pada akhirnya Ray memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu baru setelah itu mungkin akan ikut bergulung dibawah selimut bersama istrinya dengan tak lupa tentunya sembari sali ng berpelukan.
Ray menyibak selimut hingga sebatas dada yang menutupi seluruh tubuh istrinya perlahan, lalu dengan cepat tubuhnya ikut merapat diatas sana. Mendekatkan diri dan segera memeluk erat wanita ayu yang sedang terbaring disampingnya. Seketika Ray tersentak kaget, punggung tangannya dijulurkan kearah kening dan leher Veln.
" V.. Kamu demam? suhu tubuh kamu panas " Ray sontak panik mendapati panas tubuh Veln yang rasanya melebihi seperti seseorang yang dimadu tiga. Ray langsung mengompres kening Veln setelah seorang pelayan membawakannya atas perintah Ray sebelumnya.
" Pak Dim, bisa tolong hubungi Om Heri untuk secapatnya datang kesini " Ray memerintah Pak Dim yang setia berdiri berdampingan dengan Bibi Stela memperhatikan majikannya yang sibuk bergelut dengan handuk kecil ditangannya untuk menghubungi dokter pribadi keluarganya.
" Baik tuan " Tanpa memakan banyak waktu, Pak Dim langsung menjalankan perintah majikannya.
" Bi, dari jam berapa V demam seperti ini? " Ray bertanya tanpa melirik kearah perempuan paroh baya itu. Ray sibuk mengompres dan mengelus pipi pucat Veln.
" Maaf tuan, Bibi kurang tau " Ada sedikit rasa bersalah menjawab pertanyaan tuannya " Karena Bibi tidak berani mengganggu Nona ketika terakhir kali Nona bilang hari ini sama sekali tidak mau diganggu karena ingin istirahat dengan tenang. Bahkan untuk jam makan siang pun Nona sudah wanti-wanti untuk tidak melakukan apapun sampai Nona memberi perintah "
" V Ku kelelahan.. Aku benar-benar mengerjainya semalaman " Mendengar itu Bibi Stela hanya bisa saling pandang dan tersenyum dengan Pak Dim yang telah selesai mengemban tugasnya.
" Pak Dim, tolong beritahu Renand untuk makan siang duluan. Tadi aku janji untuk makan siang bersama, tapi sepertinya keadaannya tidak memungkinkan " Ray menghentikan langkah Pak Dim yang hendak turun kebawah untuk menunggu kedatangan Om Heri.
" Baik tuan " Ucap Pak Dim lalu meneruskan langkahnya kembali.
" V.. Kau bisa mendengarku? " Lirih suara Ray sembari mengelus-elus lembut pipi Veln " Maaf ya sayaang " Ray mengambil kompres dan mengecup kening Veln.
" Kenapa begitu panas sekali " Terlihat sedikit aura wajah panik dari seorang Ray. Sementara Veln masih setia dalam tidurnya. Veln sama sekali tidak terganggu dengan perlakuan Ray dan suara berisik dikamar.
__ADS_1
" Tenanglah tuan, Bibi yakin Nona bukan orang yang lemah. Buktinya Nona sama sekali tidak rewel dan merepotkan kami meski sedang dalam kondisi kurang enak badan "
" Bibi benar, dia itu kuat, cantik, baik, mandiri dan sedikit penurut.. kebanyakan ngebantahnya dan agak gesrek " Ucap Ray sedikit terkekeh yang membuat Bibi tersenyum.
○○○
Setelah beberapa menit Pak Dim kembali dengan membawa serta Om heri yang mengekor dibelakangnya. Ray beranjak bangun dari tempat tidur dan membiarkan Om heri mendekat kearah istrinya.
" Om kira kau akan terus menyembunyikan istrimu.. mungkin akan seperti itu, kalau saja istrimu tidak dalam kondisi sakit " Bukannya langsung memeriksa keadaan Veln, Om Heri malah sibuk mengamati Veln dengan seksama " Perempuan yang cantik, kenapa kau malah menyembunyikannya " Melirik kearah Ray sekilas dan kembali mengamati Veln.
" Berhenti memandangi istriku Om, bahaya.. nanti Om bisa tertarik terhadapnya, bisa terjadi perang dunia ke tiga nanti dalam rumah tangga Om. Lagi pula aku mengundang Om kesini bukan untuk memelototi wanitaku " Terdengar tawa kecil dari mulut Om heri.
" Aku hanya penasaran perempuan seperti apa yang sudah menjerat hatimu dan sampai tidak mengundangku diacara terpenting kalian " Om Heri meraih lengan Veln dan mulai mengecek denyut nadinya. Veln membuka matanya malas saat merasakan sentuhan asing ditangannya, namun kembali dia memejamkan mata sayunya yang sebelumnya sempat saling bersitatap dengan kedua bola mata milik Ray.
" Sekarang terjawabkan rasa penasaran Om "
" Hem, tapi aku tetap masih merasa tidak terima terhadapmu anak muda. Kalau bukan Nenekmu yang memberitahukan tentang pernikahanmu, mungkin sampai dengan hari ini aku tidak tau kalau kau sudah melepas keperjakaanmu " Om Heri kembali terkekeh diiringi Pak Dim dan Bibi ikut tersenyum. Om Heri kembali fokus memeriksa detak jantung dan pernapasan Veln dengan alat miliknya.
" Om bisa protes nanti, yntuk saat ini tolong periksa wanitaku dengan benar "
" Kau pikir aku sedang bermain-main "
" Hahahaa.. maksudku periksa wanitaku dengan serius, tidak dengan mata pecicilan seperti itu " Ledek Ray yang membuat Om Heri ikut tertawa.
Om Heri terlihat sibuk menuliskan resep diatas kertas.
" Istrinu cuma kelelahan, hanya butuh istirahat yang cukup dan minum vitamin " Om Heri menyodorkan resep obat kearah Ray "Jangan terlalu berat menyiksa perempuan secantik ini "
" Ahh.. Om "
" Dan satu lagi aku kasih resep yang menguntungkan buatmu, kau bisa membantunya menurunkan panas tubuhnya "
"..." Om Heri berbisik kearah Ray dan membuat mata Ray berbinar penuh muslihat.
" Untuk yang satu ini, aku kasih dua jempol buat Om "
" Kalau begitu aku permisi dulu " Menepuk pundak Ray dan berlalu diikuti oleh Bibi dan Pak Dim dengan tangan kanan erat memegang kertas resep yang sebelumnya diberikan oleh Ray kepadanya.
○○○
" V " Ray memanggil-manggil pelan istrinya, namun tak ada respon dari Veln.
" V " Veln hanya menggeliat masih tak merespon panggilan Ray.
" V.. bisa kau buka matamu sebentar? " Dengan tak berselera Veln membuka matanya yang langsung bersitatap dengan mata Ray namun tak lama kembali dia memejamkan matanya.
" Aku akan meminta Bibi membuatkan bubur, kau harus makan terlebih dahulu sebelum nantinya meminum obat " Lagi Veln menggeliat hanya untuk mengganti posisi tidurnya tanpa merespon perkataan Ray.
" Aku belum lapar.. Aku masih mau tidur " Dengan terpaksa akhirnya Veln mengeluarkan suaranya tanpa membuka kelopak matanya, karena merasakan wajah Ray yang mendengus kearah wajahnya seolah menunggu jawaban.
" V " Bersusah payah Veln membuka matanya dan mendapati senyum manis Ray. Lama mata sayunya menatap kearah wajah Ray, menunggui tiap kata yang akan keluar dari mulut Ray. Namun karena hanya senyum yang didapat Veln kembali menutup matanya.
" V " Baru juga beberapa detik matanya terpejam kembali terdengar suara dari mulut Ray, akhirnya mau tidak mau Veln pun berusaha memelototkan matanya kembali kearah Ray. Dan kembali hanya mendapatkan seulas senyum dari sudut bibir Ray.
Plakkkk.. Veln menepak jidat Ray yang mendengus kearahnya, karena kesal sedari tadi Ray mengganggu tidurnya hanya untuk menggodanya dengan ulasan senyum.
" Aaa.. ya ampun, rupanya kau masih cukup punya tenaga untuk menganiyaya aku "
" Berhentilah menggangguku Ray.. Aku masih mau tidur, Aku lelah " Tanpa salah Veln kembali melanjutkan tidurnya.
" Ok, ok.. maaf sayang " Ray mengecup puncak kepala istrinya dan dengan segera menutup mulutnya rapat-rapat.
__ADS_1
Bersambung..