Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
56. Satpol PP


__ADS_3

Esok paginya mereka berdua sudah siap dengan baju olah raganya, Ray memutuskan untuk jogging membawa serta istrinya.


Veln nampak antusias dan sumringah dengan setelan olah raga dan sepatu kets yang dia kenakan.


Dia membuntuti Ray menuruni tiap anak tangga, dan..


Veln mendongakkan wajah dengan mengerutkan keningnya.


" Kenapa? " Ray menyadari raut wajah bingung istrinya.


" Kita jogging disini? " Veln memastikan.


" Hem, tapi sebelumnya kita lakukan stretching dulu "


" Tidak ada pilihan tempat lain? " Mulutnya protes secara tidak langsung.


" Kenapa harus cari tempat lain, ini cukup luas untuk kita berlari "


" Ck, bikin down aja. Udah rapih dan kece begini taunya cuma dibawa ketaman belakang " Sungut Veln kecewa.


" Ini_ni akibat perbuatan Rey, kamu jadi nglunjak dan binal. Bawaannya jadi pengen keluyuran melulu "


" Aku kan butuh pemandangan baru, butuh cuci mata juga. Kamu enak tiap hari kerja, nah aku udah kaya binatang peliharaan dikandang melulu "


Ray melangkah berbalik arah tak menghiraukan perkataan istrinya, dan berhenti tepat dipintu belakang yang terbuka " Bi, tolong bawakan aku air " bersuara sedikit berteriak.


Veln yang sudah tak bersemangat, memilih masuk menerobos dan melewati Ray. Ray langsung mengejar dan menarik pergelangan tangan istrinya.


" Mau keatas, mau tiduran. Aku udah nggak berselera buat jogging " Mengerti dengan maksud Ray menjegal pergelangan tangannya.


Ray hendak membuka mulutnya namun dia tahan saat Bibi Stela datang bersama Lili dengan membawa nampan berisi botol air mineral.


Ray langsung menyambar botol air mineral dari nampan tersebut dan memberikan kepada istrinya sebelum Bibi dan Lili mempersilakannya.


" Aku tidak haus "


" Air itu bukan untuk diminum "


" Lalu "


" Untuk cuci mata, bukankah kau butuh untuk mencuci mata mu? aku juga akan meminta Sam membeli lukisan. Untuk kau bisa menikmati pemandangan baru " Sengaja Ray melakukan itu karena merasa tidak habis pikir terhadap wanita ini, bisa-bisanya dia berkata mempercantik diri untuk keluar rumah dan menginginkan bertemu dengan orang-orang baru.


Karena kesal merasa dipermainkan Veln menghentakkan kakinya kelantai, dan berlalu pergi meninggalkan yang lainnya.Namun sebelumnnya menyempatkan diri menyerahkan kembali terlebih dahulu botol air mineral ketangan Lili.


" Mau kemana? " Sedikit agak berteriak namun tidak dengan nada marah sama sekali, hanya bertujuan agar Veln mendengarnya.


Veln pun otomatis membalikkan tubuhnya dan memutar kedua bola matanya malas " Olah raga ran-jang " Mengerlingkan matanya dan beranjak pergi.


Ray membulatkan matanya, lalu beradu pandang dengan Lili dan Bibi. Dan pada akhirnya dia tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, begitu juga dengan Bibi dan Lili tak kuasa menahan senyumnya menyaksikan tingkah sang majikan.


" Terlalu banyak bergaul dengan Renand, membuat otaknya yang gesrek semakin tak terkendali " Gumam Ray. Ray pun pergi menyusul langkah Veln, meninggalkan senyum yang masih terukir disudut bibir kedua pelayan rumahnya.


Ray menghentikan langkah Veln ditengah-tengah anakan tangga.


" Tunggu disini " Veln menatap Ray masih dengan wajah kesal.


" Kita jogging diluar, ditaman kota " Lanjut Ray kemudian, senyum manis Veln pun langsung mengembang.


Tak lama Ray kembali dengan membawa dua buah topi. Ray memakaikan satu topi dikepala istrinya, sementara yang satunya dia kenakan sendiri diatas kepalanya.


" Terimakasih " Veln memeluk manja tubuh suaminya.


" Cium dong " Goda Ray.


" Jangan nglunjak " Veln memelototkan matanya.


Mereka pun beranjak keluar menuju mobil dengan berjalan saling merapatkan tubuhnya.


○○○


" Huft huft huft " Baru juga tiga putaran nafas Veln sudah terdengar ngos-ngosan. Veln mengangkat tangannya tanda menyerah ketika Ray yang sudah beberapa langkah berada didepannya membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


" Tunggu disitu, aku mau nambah beberapa putaran lagi " Menunjuk bangku panjang yang berada tak jauh dari tempat mereka. " Jangan lupa beli air minum, biar nggak dehidrasi "


" Aku nggak bawa uang " Jawab Veln polos, Ray pun merogoh celana trainingnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang lalu memberikannya kepada Veln.


Sementara Ray menambah putarannya, Veln nampak menghampiri pedagang asongan dan membeli dua botol air mineral. Lalu menuruti perintah Ray, menunggunya duduk dibangku panjang dengan menenggak minumannya.


Dua puluh menit berlalu Ray menghampiri Veln dengan membawa dua mangkok bubur ayam ditangannya.


" Makan dulu, habis ini kita jemput Renand " Veln mengangguk mengiyakan dengan mengambil alih mangkok bubur ayam dari tangan Ray dan menikmatinya dengan lahap.


○○○


Kini mereka berdua sudah berada didalam mobil, dengan tujuan kearah rumah Nenek Lusiana.


" Dengar V, ini peringatan untuk mu. Kalau kau terus-terusan menebar senyum seperti yang kamu lakukan ditaman tadi, aku jamin ini jadi yang terakhir buat kamu keluar rumah "


" Maksudnya aku harus diam? merengut? manyun? atau marah-marah ketika mereka tersenyum kearah ku? " Protes Veln, sedikit tidak terima. Yang benar saja, tolong cemburunya ditaro ditempatnya.


" No, bukan itu maksudnya " Veln memajukan wajahnya kearah Ray meminta pencerahan. " Kamu boleh balik tersenyum, tapi untuk sesama wanita " Lanjut Ray kemudian.


" Trus kalau terhadap laki-laki, aku harus memukulnya? "


" Kamu bukan preman sayaaang " Ray menjulurkan tangannya dan mengelus pipi mulus istrinya. " Cukup tunjukkan jari manis mu kearah mereka " Lanjutnya lagi kemudian.


" Seperti ini " Veln mempraktikan apa yang diucapkan Ray.


" Good, girls " Ray mengacungkan jempolnya, namun tiba-tiba.. " Astaga, V mana cincin kawin mu? " Ray sepertinya harus benar-benar ekstra sabar hari ini, apalagi ketika menyadari tak menemukan cincin pernikahan mereka dijari manis Veln.


" Sepertinya ada dilemari yang sama, si kembar pasti meletakkan ditempat yang sama dengan tas dan dompet aku "


" Sudah sejak kapan cincin itu tidak melingkar dijari manis mu? " Ray mengusap wajahnya kasar untuk menghilangkan rasa kesalnya.


" Semenjak dikamar hotel itu, begitu aku membersihkan make up pengantin dan mandi setelahnya aku tak menemukan barang-barang ku yang katanya dibawa serta sikembar kerumah mu. Termasuk cincinnya karena aku melepasnya saat hendak mandi " Ray mendelik tajam. " Dan maaf, aku lupa mengenakannya kembali " Dengan penuh khilaf dan penyesalan Veln memohon maaf.


" Lagi pula tanpa aku menunjukan cincin itu, orang-orang ditaman pun sudah paham dan mengerti.. secara kau kan selalu nempel dan berada disamping ku, seolah-olah memberi tau pada semua orang bahwa aku ini milik mu " Lanjutnya dan terkekeh dengan ucapannya sendiri.


" Diam, sudah salah masih berani banyak bicara " Ray takut tidak bisa menahan amarahnya, jika terus-terusan mendengar ocehan Veln yang tak menampakkan rasa bersalahnya. Bagaimana bisa dirinya juga sampai tidak menyadari dijari manis istrinya tak melingkar cincin pernikahannya. Namun satu yang dia maklumi, benar mungkin Veln lupa mengenakan cincinnya kembali yang terbawa oleh sikembar karena saat itu Veln harus ikut serta bulan madu yang diselingi perjalanan bisnis bersamanya.


" Maaf " Lirih suara Veln terdengar.


Suara terakhir Ray sukses membuat senyap suasana didalam mobil.


○○○


" Ray, aku pengen beli itu " Veln menunjuk salah satu dagangan gerobag yang dilintasi mobil mereka. Setelah lama sunyi akhirnya Veln membuka mulutnya, meminta dibelikan salah satu jajanan pinggir jalan yang terlihat menggoda matanya.


Ray nampak tak memperdulikan, dia tetap fokus mengemudikan mobilnya membuat Veln menghembuskan nafasnya panjang-panjang. Akhirnya Veln hanya bisa memutarkan kepalanya, menyaksikan jajanan yang dia inginkan semakin menjauh dari kaca mobil belakang.


" Tunggu disini, aku akan belikan " Ray menghentikan mobilnya disalah satu mini market terdekat dan memarkirkannya disana.


" Ikut " Veln langsung keluar mendahului Ray. " Kenapa tidak langsung berhenti? malah parkir disini? " Lanjutnya kemudian.


" Karena itu biar aku yang belikan, biar kamu nggak usah capek-capek jalan "


" Nggak pa-pa, kuat kok kalo cuma jalan dari sini kesana " Menunjuk tempat jejeran para pedagang dari kejauhan. " Um, kenapa musti parkir disitu? " Menunjuk mini market yang hendak mereka tinggalkan.


" Biar aman sayang, biar mobil kita nggak kena derek petugas Dishub " Terang Ray sembari melangkahkan kakinya dan merangkul pundak istrinya. Veln pun manggut-manggut merasa puas dengan jawaban Ray.


Begitu sampai tepat didepan gerobak rujak buah yang Veln inginkan, dia langsung memesannya. Sementara Ray sedikit menjauh ketika mendengar ponselnya berbunyi, hendak mengangkat dan bertukar suara dengan seseorang diseberang sana.


" Campur Neng? " Tanya bapak penjual rujak buah tersebut.


" Iya pak " Jawab Veln singkat.


Begitu pesanan Veln siap dan akan dimasukkan kedalam kantong kresek, tiba- tiba..


Razia.. razia.. razia.. terdengar teriakan orang-orang mengumandangkan kata razia dari ujung sana.


" Bapak, harus kabur neng. Bapak nggak mau sampai ketangkep " Ucap si pedagang rujak buah tersebut, panik.


Keadaan yang tadinya aman kini mendadak kisruh dan gaduh, terlihat jelas para pedagang kaki lima panik tingkat dua puluh tujuh.

__ADS_1


Dan beberapa ada yang kurang beruntung, karena sebelum melarikan diri mereka keburu tertangkap basah oleh petugas.Akhirnya mereka hanya bisa meraung-raung meminta untuk dibebaskan barang dagangannya ada pula yang hanya pasrah menatapi gerobagnya diangkut kedalam mobil pick up.


Lariiiii lariiiii lariiiii.. teriakan demi teriakan menggema dimana-mana.


Dan yang membuat Ray tidak habis pikir ternyata Veln, istrinya pun ikut lari mengekori pedagang buah tadi. Konyol bukan? Ray langsung mematikan sambungan telfonnya saat tiba-tiba kondisi yang tadinya aman menjadi riuh dan gaduh ditambah lagi melihat Veln ikut berlari mengekori penjual rujak buah. Tanpa berfikir lama Ray pun langsung menyusul istrinya, tentu dengan langkah seribunya.


" Pak, paaaaak tunggu pak " Teriakan Veln, mencoba menghentikan tukang rujak itu. Tentu panggilannya tak dihiraukan sama sekali, karena tukang rujak buah itu masih terus saja ngibrit berlari dengan mendorong gerobagnya.


" Paaaaaak " Huft huft huft.. terdengar nafas ngos-ngosan Veln dengan terus berlari mengejar bapak penjual rujak tersebut.


" Paaaaa "


Greeeb


Larinya terhenti begitu Ray menarik pergelangan tangannya.


" Ray, ayo kita susul tukang rujak itu " Dengan nafas yang masih tak beraturan.


" Biarin aja, kenapa musti disusul? "


" Aku belum sempat membayar rujak buahnya " Dengan mengusap keringat yang bercucuran didahi dan wajahnya. Ray memperhatikan dengan seksama kedua tangan Veln.


" Mana rujaknya? "


" Masih ditukang jualannya "


" Ya ampun, trus ngapain kamu ikut lari? "


" Kan belum bayar "


" Gimana mau bayar? dagangannya aja masih ditukangnya kan? akad jual belinya belum sah "


" Iya juga sie "


" Ayo balik ke mobil " Veln menghentikan langkahnya ketika menyadari mereka berada dipertigaan gang.


" Kemana? kekanan atau kekiri? " Veln menatap bingung kearah Ray, tidak paham jalan mana yang harus diambil untuk kembali kemobil.


" Mana ku tau, aku tidak memperhatikan jalan.. barusan aku hanya fokus mengikuti mu dari belakang "


" Ck, maaf Ray.. ayo, kekanan atau kiri? " Rengek Veln yang tak mendapat jawaban, Ray hanya mengangkat bahunya tak memberi petunjuk jalan.


Karena lelah, akhirnya Veln lebih memilih berjongkok dengan mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal.


" Capek? aku gendong ya? " Tawar Ray mesra.


" Tidak usah, aku masih kuat kok "


○○○


Pada akhirnya Ray mengalah dan memberi petunjuk jalan untuk kembali kemobilnya.


Ray masuk kedalam dengan membawa kresek berisi beberapa minuman, tidak disangka ternyata mereka harus menempuh perjalanan cukup lama untuk kembali keparkiran mini market.


Ray meminta Veln untuk masuk terlebih dahulu kedalam mobil, sementara dirinya masuk kedalam mini market tersebut sebentar untuk membeli minuman dan beberapa camilan.


Ray menyodorkan botol minuman kearah Veln, yang sudah dia buka tutupnya.


Gleg gleg gleg..


Bunyi suara minum Veln terdengar, dan setelah itu tak terdengar suara lagi dari dalam mobil. Cukup lama. Sampai pada akhirnya Ray membuka mulutnya.


" Kenapa? " Ray merasakan ada yang tidak beres dengan istrinya, sedari kejadian itu cerewetnya tak nampak dan menghilang seperti terbawa angin.


" Ray, menurut pemikiran otak cerdas mu dari kajadian barusan sebenarnya siapa yang salah? "


" Mungkin tidak ada yang salah dengan mereka, yang satu hanya menjalankan tugas.. sementara yang satunya sedang mencoba peruntungannya. Hanya kondisinya saja yang tidak mendukung "


" Lalu menurut mu harus bagaimana? " Ray mengelus pipi Veln, mencoba menenangkan hatinya yang sedikit mudah tersentuh.


" Entahlah, mungkin dari pihak terkait harus benar-benar menyediakan wadah atau tempat yang aman untuk mereka mencari peruntungan. Tentu tetap harus dengan kesadaran manusianya juga "

__ADS_1


Hati Veln benar-benar terenyuh menyaksikan untuk yang pertama kalinya keriuhan dan kegaduhan yang sampai sekarang tak pernah ditemukan solusinya.


Bersambung..


__ADS_2