
Suasana didalam mobil terasa sunyi seperti berada didalam kuburan, Veln melirikkan kedua matanya dengan sedikit takut-takut kearah Ray.
Terlihat Ray duduk tenang menyandarkan tubuhnya, air mukanya terlihat tenang namun tetap nampak mengerikan dibenak Veln.
Pak Yan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, perlahan meninggalkan bangunan hotel yang menjulang tinggi.
" Sekertaris Sam, kita mau kemana? " Sembari matanya dilirikkan kearah Ray. Terlihat Ray mendongakkan kepalanya dan menatap langit-langit mobil.
" Kesuatu tempat Nona " Jawaban Sam terdengar pelan namun jelas.
" Apa kita nanti bisa mampir dulu kerumah Liana? " Mendengar itu Sam menolehkan wajahnya kearah Ray yang kebetulan pandangan Ray pun tertuju kearah Sam. Melihat gelagat Ray yang tak bergeming Sam ragu untuk mengiyakan permintaan Veln.
" Nona memang ada keperluan apa hendak kerumah Nona Liana? " Sam memastikan maksud dan tujuan permintaan Nona muda barunya itu.
" Kalau untuk menanyakan barang-barang Nona seperti ponsel dan yang lainnya sudah disimpan dan dibawa pulang kerumah oleh sikembar " Mendengar itu Veln sedikit tenang karena tidak perlu harus repot-repot menelusuri barang-barangnya yang mungkin tidak begitu penting untuk sekertaris Sam apalagi buat Ray yang hanya akan menyia-nyiakan waktu mereka saja.
" O ya sudah berarti kita tidak perlu repot-repot mampir kerumah Liana " Benar apa sie yang tidak bisa dilakukan sekertaris Sam, kalau hanya mencari informasi sekecil itu mungkin bukan sesuatu yang sulit buatnya. Veln melirikkan matanya kearah Ray yang ternyata Ray pun sedang menatap lekat kearah Veln tanpa berkomentar apa pun.
Ya Tuhan tatapan orang ini membuat ku kaget, sejak kapan dia melihat ku seperti itu?seakan ingin menelan ku saja.
Dengan buru-buru Veln mengalihkan pandangannya kearah kaca jendela mobil dan mengamati lalu lalang kendaraan yang sama-sama sedang melintasi jalan raya.
Terlihat senyum senang merekah dibibirnya ketika mobil yang dia tumpangi memasuki jalanan yang dia kenal dan diparkirkan ditempat yang tidak asing dimatanya.
Nampak sebuah mobil Porsche Macan 2.0 yang berwarna hitam terparkir manis diarea parkiran yang disediakan tempat tersebut dan tak lama seluruh penumpangnya keluar satu persatu.
Wajah perempuan paling cantik diantara yang lainnya terlihat senang dan memancarkan senyum bahagia.
" Apa pusat perbelanjaan oleh-oleh ini milik juragan Seno mu itu? milik pernikahan gagal 50 juta mu? sampai kau begitu nampak senang dan bersemangat " Ray bertanya dengan sinis ke arah Veln. Sementara Veln mendongakkan kepalanya mengamati bangunan itu.
" Bukan " Dengan polosnya menjawab pertanyaan suaminya.
" Entahlah aku juga tidak tau pasti siapa pemilik pusat perbelanjaan ini " Pandangannya diarahkan kewajah Ray yang sudah bersiap melangkahkan kakinya meninggalkan area parkiran tersebut.
Sam mempersilahkan Veln untuk mengikuti langkah Ray dan dia pun mengekor begitu juga dengan Pak Yan dengan kedua tangannya menenteng bingkisan yang hendak diberikan kekeluarga Paman Veln.
" Pak Yan, sini, kemarikan biar aku bantu bawa " Veln menawarkan diri dengan menghentikan langkahnya.
" Tidak usah Nona, tidak apa-apa " Tolak Pak Yan sopan.
" Memang tidak apa-apa, sini aku bantu " Tangan Veln hendak mengambil alih salah satu jinjingan kresek yang berada ditangan Pak Yan.
" Nona kalau kau masih ingin bertemu dengan Paman mu sebaiknya jangan menghambat perjalanan " Protes Ray dengan suara tegasnya.
" Cepatlah.. kecuali kalau kau memang tidak ingin bertemu dengan keluarga mu. Jangan sampai hanya gara-gara kau, kita bisa ketinggalan penerbangan " Lanjut Ray.
" Ayo Pak Yan berikan pada ku, cepat " Paksa Veln, sedangkan Pak Yan hanya tersenyum sama sekali tidak menghiraukan perkataan Veln.
" Nona sebaiknya anda cepat menyusul langkah tuan Ray, sebelum tuan Ray marah " Sam memperingatkan.
Akhirnya Veln pun menuruti saran sekertaris Sam untuk segera menuruti menyusul langkah kaki Ray yang sudah hampir menjauh. Langkahnya mengsejajari berdiri tepat disamping Ray. Tiba-tiba terlintas dipikiran Veln tentang kata-kata Ray.
" Boss, maksudnya apa dengan kata penerbangan? " Menengokkan kepalanya kearah Ray yang berjalan lurus tanpa menghiraukan perkataan Veln.
" Memang dimana rumah mu sebenarnya? " Menengokkan kembali kepalanya sembari mengimbangi langkah kaki Ray yang begitu panjang dan sedikit cepat.
" Aneh sekalikan, aku bahkan tidak tau dari mana kau berasal " Sedikit berlari mengejar langkah Ray.
" Boss, bisa kah kau sedikit pelankan cara berjalan mu. Apa ini cara mu meluapkan emosi? " Setelah dirasa percuma seperti berbicara dengan tembok, Veln secepat kilat menutup mulutnya rapat-rapat.
__ADS_1
○○○
Dari kejauhan pintu depan rumah Paman Rian yang sedang tertutup rapat sudah terlihat. Setelah berada tepat didepan pintu Ray menarik tangan Veln yang berjalan mendekat kearahnya dan melingkarkan lengannya kebahu Veln.
Tak lama pintu berwarna hijau itu terbuka yang sebelumnya terdengar bunyi ketukan.
" Hah.. siganteng tajirrrrrr " Virina terpukau dengan kedatangan Ray. Dengan sigap Ray memundurkan posisinya kebelakang Veln dan memeluk istrinya dari belakang.
" Apa Paman ada dirumah? " Virina tidak menggubris pertanyaan Veln.
" Apa kalian sedang pamer kemesraan? " Dengan tatapan tidak sukanya memandang Veln yang sedang didekap Ray dari ujung keujung.
" Kau merasa iri? "
" Tentu saja, kalau itu tidak usah kau tanyakan lagi " Dengan nada kesal dan cemburu menjawab pertanyaan Veln.
" Kalau begitu, kau bisa peluk tiang listrik untuk sementara waktu " Mendengar ucapan Veln yang begitu mengejek ditelinga membuat Virina hendak meninjukan tangannya kearah sepupunya, untung saja dengan sigap Ray segera menarik tubuh Veln kearah belakang.
" Panggilkan Bapak mu " Dengan sedikit menahan amarah karena melihat istrinya yang hendak diganggu.
Tak Lama Paman dan Mbak Del pun nampak keluar dari ruangan yang sebelumnya diberitahukan oleh Virina atas kedatangam Veln dan Ray. Kedua pengantin baru itu pun mencium punggung tangan Paman Rian secara bergantian dan segera mendudukan diri disofa saling berdampingan atas perintah Paman Rian. Terlihat Pak Yan meletakkan beberapa bingkisan diatas meja, dan memilih keluar kembali menunggui majikannya diteras menemani sekertaris Sam.
" Seharusnya kalian tidak perlu repot-repot begini " Paman Rian merasa sedikit tidak enak atas bingkisan yang dibawa Veln dan Ray.
" Iya benar, kita kan keluarga jadi tidak perlu seperti itu " Mbak Del menimpali dengan wajah senang melihat bingkisan yang tergeletak diatas meja.
" Paman sebenarnya maksud kedatangan kami kesini berniat untuk berpamitan " Ucapan Ray langsung kepointnya.
" Ray akan membawa serta Veln pulang kerumah " Dengan menyelipkan jari-jari tangannya ke jari-jari tangan Veln dan menggenggamnya.
" Nanti, Paman bisa mengunjungi keponakan Paman yang lucu ini kapan saja Paman mau " Sembari mengacak-acak lembut rambut Veln yang membuat Virina dan Mbak Del menelan ludah memikirkan betapa beruntungnya Veln mendapatkan seorang suami yang sayang, tampan dan tajir pula.
" Sebenarnya kami berharap Paman dan yang lainnya dapat ikut mengantar kami pulang, sayangnya kalian tidak bisa "
" Kami mohon maaf ya Nak Ray karena tidak dapat mengantar kalian pulang kerumah " Sesal Paman Rian.
" Paman nitip Veln, jaga keponakan ku dengan baik. Kalau Veln sedikit nakal Nak Ray boleh menghukumnya untuk memberi sedikit pelajaran "
" Dengan senang hati Paman " Terlihat senyum menyeringai diujung bibir Ray.
Tanpa berlama-lama Ray pun undur diri dengan kembali mencium punggung tangan Paman Rian bergantian.
" Kami pulang dulu Paman " Ucap Veln lirih yang ditatap sedikit sedih oleh Paman Rian karena harus rela melepas kepergian keponakannya.
" O iya Nak sebaiknya kalian tidak usah mengirimi kami uang, kami pasti akan meminta dengan senang hati kalau kami membutuhkannya " Kata-kata suaminya membuat Mbak Del kesal begitu juga dengan Virina.
" Tidak apa-apa Paman. Selama kami ada, kami akan mengirimi uang jajan " Ucapan Ray terdengar seperti angin surga untuk Ibu dan anak itu. Bayangkan transferan yang belum lama mereka terima yang sebesar 10 juta itu yang hanya dianggap sebagai uang jajan oleh Ray, namun begitu sangat berharga dan banyak untuk si penerimanya.
○○○
Ray dan Veln pun angkat kaki setelah berpamitan, mereka pun tak lupa menyempatkan diri berkunjung kepusara kedua orang tua Veln. Dan setelah itu langsung menuju mobil untuk melakukan perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dua setengah jam lamanya.
" Lepas " Ray menggoyang-goyangkan lengannya.
" Kau tidak dengar ya, ayo lepaskan " Bukannya melepaskan Veln malah mengeratkan gandengannya kelengan Ray.
" Tidak mau "
" Aku bilang lepaskan " Masih dengan suara yang belum begitu kesal terdengar.
__ADS_1
" Tidak mau " Veln justru lebih mengeratkan lagi gandengannya dan menyandarkan kepalanya kelengan Ray. Mendongakkan wajahnya menatap wajah Ray dan tersenyum menggoda.
" Cih, Kau ini tidak tau malu sekali beraninya dekat-dekat dan menempel pada ku " Salah satu jari-jari tangan Veln mengkode sekertaris Sam dan Pak Yan untuk berjalan mendahului mereka.
" Kenapa harus malu, aku kan istri mu " Bela Veln dengan tidak tau malunya.
" Nona apa kepala mu sedikit tidak waras? Kau menganggap dirimu itu sebagai istri ku sementara kau sendiri tidak menganggap ku sebagai suami mu? " Ray menempelkan telapak tangannya kekening Veln, untuk memastikan kalau perempuan satu ini sedang tidak mengalami demam sehingga berhalusinasi yang tidak-tidak.
" Maaf.. maaf, maaf " Kembali Veln mendongakkan wajahnya dan melempar senyum dan mengajak Ray untuk segera mengejar langkah kaki sekertaris Sam dan Pak Yan.
Hampir memasuki area parkiran mata Veln tergoda dengan sajian dagangan gerobak yang dia lewati, dua potong roti sandwich yang dia makan tadi pagi menjelang siang itu ternyata hanya sementara bisa mereda rasa laparnya.
" Nona, kau mau makan itu? " Melihat Veln yang sedari tadi menatap gerobak berwarna biru dan terlihat menelan air liurnya.
" Hem, apa kau juga mau boss? " Sembari menganggukkan kepalanya, Veln berbalik memberikan tawaran kepada Ray.
Tanpa menjawab Ray menarik tangan Veln menuju penjual ketoprak yang mangkal tak jauh dari area parkir pusat perbelanjaan oleh-oleh, meminta Sam dan juga Pak Yan untuk mengikuti mereka.
" Bikin empat porsi ya Pak " Veln langsung order tanpa menanyakan terlebih dahulu kepada yang lainnya.
" Buatkan tiga porsi saja Pak " Ray meralat orderan istrinya yang membuat Veln mengerutkan dahinya.
" Kenapa? "
" Lebih romantis makan sepiring berdua " Veln tak ambil pusing, mungkin Ray tidak terbiasa dengan makanan jalanan seperti ini.
" Dua porsi saja Pak " Sekertaris Sam pun ikut-ikutan meralat orderan yang sudah dipesan.
" Maaf Nona. Saya tidak bisa menemani anda makan, karena perut saya masih terasa kenyang " Terang Sam kepada Nona mudanya.
" Tidak apa-apa sekertaris Sam " Veln memaklumi.
" Pak Yan biar kita berdua saja yang makan, ok " Pak Yan pun hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Mereka pun duduk dikursi panjang yang disediakan oleh penjual ketoprak tersebut sembari menunggu orderannya selesai dibuat. Ray terlihat mengambil satu kursi plastik yang berada disebelah kirinya dan memindahkan tepat dihadapannya, menyuruh Veln untuk pindah duduk dikursi tersebut.
" Pindah lah, duduk disini " Menunjuk kursi plastik yang posisinya tepat berada didepannya. Veln pun menurut saja tanpa membantah namun matanya menyiratkan sebuah pertanyaan.
" Aku tidak suka kau berbagi tempat duduk dengan orang lain " Kata-kata Ray seolah memberi jawaban yang direspon dengan senyum oleh Pak Yan, sementara sekertaris Sam terlihat sibuk dengan ponselnya.
Ya ampun, tuan muda ini.
Selang berapa lama makanan yang dipesan pun datang, Pak Yan langsung memakannya dengan lahap.
Sementara Veln masih sibuk mengaduk-aduk isi dalam piring untuk meratakan bumbu kacangnya. Veln menyendok dan mengulurkan makanannya kearah Ray.
" Boss " Sembari menyodorkan sesendok makanan kearah mulut Ray.
" Makanlah " Veln memasukkan sendok kedalam mulutnya karena Ray menolak suapan yang disodorkan kearahnya.
Sesuap demi sesuap Veln menikmati makanan dalam piringnya, sambil sesekali menyodorkan kembali kearah mulut Ray yang akhirnya Ray pun ikut memakannya juga dengan disuapi oleh Veln. Pak Yan terlihat selesai dengan piringnya dan sekertaris Sam nampak berdiri menuju pusat perbelanjaan oleh-oleh. Sedangkan Veln masih sibuk mengunyah makanannya dengan sesekali menyuapkan kearah Ray, namun Ray menolaknya karena merasa sudah kenyang.
" Habiskan, tidak usah terburu-buru " Sembari membereskan anakan rambut Veln yang tersapu kesana kemari terkena angin. Dan ibu jari Ray sesekali mengusap ujung bibir Veln yang belepotan terkena saos kacang.
" Ya ampun " Spontan terperanjak dari duduknya Veln hendak meletakkan piring ketoprak yang masih tersisa isinya.
" Boss, bagaimana dengan penerbangannya? " Dengan nada khawatir mengacaukan jadwal yang sudah ditentukan.
" Habiskan saja makanannya, tidak usah khawatir. Sam akan mengurus segalanya " Sembari menarik lengan Veln lembut memintanya untuk duduk kembali.
__ADS_1
Akhirnya Veln pun kembali menikmati piringnya dan menghabiskan isi didalamnya.
Bersambung..