
Disebuah ruangan lantai teratas gedung perkantoran, terlihat Ray duduk dikursi kebesarannya dengan kedua kaki dinaikkan diatas meja dan menggoyang-goyangkan telapaknya yang dibalut sepatu pantofel hitam.
" Kau masih bisa berdiri tegak dan tersenyum kepadaku? hah?! " Dingin suara itu terdengar namun tidak sama sekali membuat Sam takut atau merinding sekalipun.
" Ahhh.. wanita itu benar-benar " Menurunkan kedua kakinya dan beranjak berdiri tegak dengan berkacak pinggang " Membuatku panas dan cemburu sekalipun itu terhadapmu Sam " Lagi Sam hanya bisa dibuat tersenyum dan menggelengkan kepalanya dari semenjak menjejakkan kaki digedung ini, sampai melakukan aktifitas yang padat seperti biasanya.. meeting, memeriksa laporan keuangan atau berkas-berkas kerjasama dan yang lainnya. Karena terlihat jelas air muka Ray yang sudah tidak sabar untuk menunggu saat ini.. saat dimana dia bisa bicara bebas dengan Sam tanpa harus dikejar pekerjaan yang sama sekali tidak dapat berkompromi dengan keinginannya.
" Anda tidak perlu khawatir tuan, saya tidak seberani itu "
" Bagus. Itu yang aku suka darimu Sam, kau bukan tipe-tipe pengkhianat " Mengalihkan kedua tangannya bersidakep diatas dada bidangnya dengan terkekeh kecil.
" Lalu apa yang V ku bisikkan saat itu kepadamu? "
" Nona meminta maaf karena sudah memfitnahku, dan mengajakku untuk bekerjasama dengannya menutupi terhadap anda tentang kebenaran aku pernah melamarnya atau tidak waktu itu " Mata Ray sedikit menajam.
" Lalu "
" Tentu saja itu tidak benar tuan " Ray melangkah maju mendekati sekertaris Sam dan menepuk bahunya pelan.
" Bagus Sam " Tertawa puas " Ikuti permainannya, aku mau lihat sampai sejauh mana dia bisa membuatku cemburu " Tawanya menyeruak kembali " Tapi awas kau jika berani macam-macam dan memanfaatkan kepolosannya " Ucap Ray kembali dengan wajah seriusnya.
○○○
Akhirnya Veln menyelesaikan packingan terakhirnya, memasukan semua biskuit jahe buatannya kedalam toples.
Dia pun menyimpan setengah lusin toples dan memasukkannya kedalam dus untuk dibawa pulang.
" Nenek, aku bawakan teh hangat dan biskuit jahe untukmu " Veln menghampiri Lusiana yang sedang berada diruang tengah.
" Terimakasih Nak " Ucap Lusiana lembut
" Nek, kau tinggal sendiri dirumah besar ini? " Tidak ada foto keluarga atau apa pun disini sama halnya dengan dirumah Ray yang dapat digunakan sebagai petunjuk seberapa banyaknya anggota keluarga mereka.
" Ibu sambung Ray dan putrinya tinggal disini bersamaku, tapi mereka sedang keluar kota. Mungkin lain waktu kalian harus saling memperkenalkan diri " Lusiana menyeruput tehnya dan kembali menikmati biskuit jahe buatan cucu menantunya.
" Ini sangat enak sayang " Menunjuk biskuit jahe yang setengahnya sudah berada didalam mulutnya.
Hening sebentar..
" Yakinlah terhadap cucuku, meski dia masih belum mau terbuka terhadapmu.. Nenek yakin suatu saat diwaktu yang menurutnya sudah tepat, Ray akan menceritakan semua tentang dirinya kepadamu " Veln tersenyum lebar seolah memberitahukan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan hal itu, dan menunggu sampai Ray benar-benar siap terbuka terhadapnya.
○○○
Langkah panjang dari kaki seorang Ray terdengar menghentak lantai kuat, membuat kedua mata wanita berbeda generasi itu langsung menatap kearahnya.
" Nek " Mencium punggung tangan Lusiana lembut dan berjalan cepat kesampingnya langsung berdiri menghadap ketubuh istrinya, meraih tengkuk Veln dan mengecupnya dileher jenjang perempuan ayu itu yang membuat Veln melenguh tertahan. Rambut Veln yang panjang kini sedang tergulung rapih diatas kepala memperlihatkan leher putih dan mulusnya, membangkitkan sedikit gairah pria tampan didepannya.
" Astaga, kau ini anak nakal, mesum sekali? " Terdengar khas suara perempuan tua yang duduk disamping Veln, namun tak digubris oleh Ray.
" Nenek.. " Melirik sebentar kearah Lusiana " Kau apakan wanitaku sampai berkeringat begini? " Telapak tangan besarnya menyeka buliran keringat yang berada dikening istrinya.
" Aku habis menyiksa cucu menantuku " Ray mendelik cepat meminta penjelasan " Mengecek seberapa tahan bantingnya perempuanmu, mengingat kalau dia ini sekarang menjadi seorang istri dari seorang anak nakal yang sangat sulit untuk dipahami kemauannya dan keras seperti batu kali " Lusiana terkekeh yang diikuti oleh tawa Veln.
" Ck.. entah sudah berapa banyak racun yang Nenek tumpahkan kedalam otak perempuanku hari ini " Ray menarik lengan istrinya pelan mengisyaratkan agar terbangun dari duduknya.
" Kita pulang sekarang " Ajak Ray yang diangguki oleh Veln.
" Nenek, kita pulang dulu ya " Lembut suara berpamitan dari mulut Veln.
__ADS_1
" Aku akan sering-sering main kesini.. boleh ya? " Lanjutnya lagi.
" Tentu sayang "
" Tidak boleh, aku tidak mengijinkannya " Sela Ray melarang keras. Lusiana terkekeh sementara Veln terlihat menebar aura kesalnya.
"Jangan khawatir cucu menantuku, kalau anak nakal ini melarang kita untuk bertemu, aku tidak akan segan-segan menculikmu dari rumahnya " Ray tersenyum tipis menyaksikan Lusiana dan Veln yang terlihat tertawa lepas menunjukkan kedekatan mereka.
○○○
Mereka berdua pun berlalu meninggalkan rumah Lusiana, tentu tidak lupa dengan membawa satu kardus kue kering buatan Veln.
Diruangan depan Veln mengambil alih dus yang berada ditangan Ray dan menyerahkannya kebibi Stela.
" Bibi, ambil ini.. Aku sengaja membuatkan ini untuk kalian, sisakan satu toples untuk kami "
" Baik Nona " Bibi Stela mengambil alih dus berisi biskuit tersebut dan menyerahkannya kepelayan yang lebih muda untuk disimpan didapur. Namun tiba-tiba Ray menyerobot dusnya.
" Apa ini? "
" Biskuit jahe buatanku "
" Bibi kalau kalian menginginkan biskuit jahe ini, beli sendiri ya.. karena ini buatan istriku jadi khusus harus aku yang menghabiskannya " Dengan tanpa dosa Ray berlalu menuju tangga dengan membawa enam toples biskuit jahe yang berada didalam dus tersebut. Veln, bibi dan pelayan lainnya saling pandang lalu tersenyum.. Veln menggeleng-gelengkan kepalanya melihat apa yang dilakukan suaminya.
○○○
" Berikan.. kenapa kau serakah sekali " Menadahkan kedua tangannya kearah Ray yang sibuk mengeluarkan toples-toples biskuit dari dalam dus dan diletakkan keatas meja ruang televisi kamarnya.
" Aku sanggup menghabiskan semuanya "
" Ray "
" Ini lezat " Melirik kearah istrinya dan sibuk menyuapkan biskuit jahe kearah mulutnya, lagi lagi dan lagi.. sampai hampir menghabiskan seperempat isinya.
" Kau boleh habiskan satu toples itu.. sisanya untuk mereka ya, lain kali aku buatkan lagi nanti spesial untukmu " Bujuk Veln.
" Ok, tapi ada syaratnya " Ray menarik Veln dan mendudukkan istrinya diatas pangkuannya yang membuat Veln terkesiap dan tersenyum malu kearahnya.
"Jangan mesum, tahan. Tunggu sampai tuntas. Cepat sebutkan syaratnya? "
" Suapi.. Aku mau kau menyuapi biskuit buatanmu kemulutku " Senyum menyeringainya tercetak diujung bibirnya.
" Dasar.. seperti bayi saja harus disuapi " Ray tertawa kecil dengan menikmati suapan dari tangan istrinya.
" V.. apa yang kalian bicarakan seharian tadi? " Menarik tubuh Veln, memeluknya dan merapatkan punggung istrinya kedada bidangnya.
" Banyak hal " Menengokkan kepalanya dan mendongak kearah wajah suaminya.
" Pasti seharian ini kau begitu bekerja keras "
" Hem.. ini semua demi biskuit jahe kesukaanmu "
" Bukan itu "
" Lalu "
" Bekerja keras menyelidiki aku dan mencari tau tentang Yas " Ray mengecup daun telinga Veln " Benarkan? " Dan berbisik pelan disana lalu menurunkan istrinya dari pangkuannya dan beranjak berdiri dengan terkekeh seolah sedang memperolok Veln.
__ADS_1
" Ck " Veln berdecak kesal " Kau benar Ray, bahkan dengan mudahnya Nenek menceritakan semua tentangmu dan yang berhubungan denganmu, termasuk foto gadis itu " Dusta Veln yang membuat Ray semakin terkekeh.
"Jadi kau sudah tau semuanya? "
" Hem " Mengangguk tegas dengan penuh percaya diri tentu dengan kedustaannya.
" Bagus lah, tadinya aku berniat memberitahukan semuanya tapi dengan begitu berarti aku tidak usah repot-repot lagi bercerita panjang lebar kepadamu " Ray memungut satu keping biskuit dan memasukkan kedalam mulutnya lagi sembari melirik menggoda kearah istrinya. Raut wajah Veln nampak seperti seseorang yang sudah bekerja keras namun tidak mendapatkan bonus, dongkol setengah mati.
" Cerita saja, aku mau mendengar dari versi mu " Rajuk Veln penuh harap.
" Hahaaha " Ray malah tertawa puas.
" Aku mau mandi, da da istriku.. muuuuuach " Lanjutnya lagi dengan memperagakan ciuman jauhnya kearah wanitanya.
" Ray.. Kau sedang mempermainkanku? " Ray tersenyum mengejek dan melenggang menuju kamar mandi.
Brakkk..
Veln mengikuti Ray dan membuka paksa pintu kamar mandi yang belum sempat terkunci.
" Ray "
" Kenapa? Kau mau ikut mandi bersamaku? " Membuka kancing bajunya dengan santai, membuat Veln meneguk salivanya melihat dada bidang Ray yang masih tertutup sebagian oleh kemeja yang dikenakannya. Ray mengeluarkan senyum tersembunyinya mendapati Veln yang menatapnya dengan sedikit bergairah.
" Aku mau mendengar langsung dari mulutmu, setelah ini, setelah_" Ray mendekati Veln, menarik pinggangnya membuat Veln terkesiap dan tak dapat meneruskan kata-katanya.
" Angkat kedua tanganmu "
" Mau apa? " Dengan bodohnya menurut saja mengangkat kedua tangannya menuju keatas. Ray melepas rengkuhannya dari pinggang Veln dan kedua tangannya beralih menuju kedua ujung sisi kaos yang dikenakan wanitanya, menariknya kearah atas, melakukan persis seperti membantu seseorang melepas pakaian.
" Stop " Menurunkan kedua tangannya dan menahan lengan Ray untuk menghentikan pergerakannya. Ray melipat kedua tangannya dengan tersenyum simpul.
" Kalau tidak mau tanggung jawab jangan menggodaku "
" Ck, siapa yang menggoda siapa.. kita bicarakan nanti, setelah kau selesai membersihkan diri " Veln melenggang pergi meninggalkan Ray dikamar mandi.
Selang beberapa detik..
" Ingat Ray, aku mau mendengar dari versimu.. kalau kau tidak mau menjelaskannya, aku akan merayu sekertaris Sam " Dengan tiba-tiba Veln menyembulkan wajah ayunya dibalik pintu kamar mandi yang hanya dibuka sedikit olehnya, dan kembali berlalu meninggalkan bunyi suara pintu yang tertutup.
" Kau semakin centil ya " Veln terjingkat, kaget, mendapati Ray yang tiba-tiba sudah berada dibelakangnya " Sudah berani mengancam pula " Berkacak pinggang dengan kancing kemeja yang sudah seluruhnya terbuka, menampakkan sebagian dada bidang dan perut kotak-kotaknya yang sukses membuat Veln meneguk salivanya dan menyapu seluruh bibirnya dengan menjulurkan lidah.
" Aku serius " Berusaha menstabilkan otak mesumnya " Kalau kau sampai mengecewakan, aku akan menggoda sekertarismu dan menyuapinya dengan biskuit spesial buatanku " Menunjukkan salah satu toples biskuit buatannya dengan menyembulkan senyum menggodanya.
" Apa ini? kenapa ada yang berbentuk love begini? " Mengambil toples biskuit jahe yang berbeda bentuk dari yang lainnya.
" Aku buatkan khusus untukmu, tapi kalau kau tidak mau membuka mulut terpaksa akan aku berikan kesekertaris Sam " Ray merebut toples biskuitnya, nembuka kemasannya dan langsung melahap biskuit yang berbentuk hati tersebut. Setelah puas Ray langsung membopong Veln ala bridal yang sedang tersenyum simpul kearahnya. Dan kelakuan Ray malah membuat Veln tertawa.. Ray melempar istrinya diatas kasur king sizenya yang menimbulkan sedikit goncangan.
" Aaaa " Menjerit kecil akibat tubuhnya yang terhempas diatas kasur, namun masih bisa terkekeh kecil.
" Tunggu pembalasanku " Berkacak pinggang dengan berdiri tegak dihadapan Veln yang sedang tiduran terlentang diatas kasur tidurnya.
" Kita lanjut nanti Ray.. Kau bersihkan dulu tubuhmu, sementara aku akan turun memberikan biskuitnya ke bibi Stela untuk dibagikan keorang rumah "
" Diam, tetap seperti itu " Ray meraih gagang telfon rumah dan menyambungkan keruang dapur, meminta salah satu dari pelayannya untuk mengambil dan membagikan biskuit buatan istrinya. Setelahnya, bukannya menuju kamar mandi Ray malah ikut tiduran disamping Veln. Tentu dengan memeluk, mengusap-usap perut rata istrinya dan menciumi tengkuk leher Veln.
Bersambung..
__ADS_1