
" Beristirahatlah. Jangan kemana-mana, tetap diam disini. Aku tinggal sebentar ada urusan " Ucap Ray terdengar lembut namun tegas dan mengubah posisinya menjadi berdiri sembari memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.
" Bernafaslah, kau bisa mati kehabisan oksigen karena menahannya " Veln hanya manggut-manggut tak menyauti perkataan Ray, Ray pun berlalu meninggalkan Veln menuju arah pintu keluar.
Veln langsung duduk sedikit terkulai sembari mengatur nafasnya, yang dibuat tak beraturan karena tingkah Ray. Namun rasa penasarannya terlintas dipikiran tentang keberadaan Danis dihari bersejarahnya itu. Danis seorang laki-laki tampan yang baik hati dan tidak sombong yang dia kenal dari semenjak SMU dan pernah mengutarakan isi hati sampai berkali-kali terhadapnya yang tidak pernah Veln hiraukan karena kala itu Veln berfikir mungkin bukan waktu yang tepat untuk memulai menjalin hubungan dengan seorang lawan jenis.
" Tunggu, boss " Langkah Ray tertahan.
" Kau mengenal Danis? "
" Hem, kenapa? " Ray menjawab pertanyaan Veln dari kejauhan.
" Tidak apa-apa " Mendengar jawaban Veln, Ray hendak membalikkan langkahnya menuju kearah Veln.
" Apa dia mantanmu " Ray bertanya sedikit menggoda sembari berniat menghapiri Veln.
" Bukan " Sembari menggelengkan kepalanya pelan.
" Stop.. stop. Berhenti menggodaku, selesaikanlah urusanmu terlebih dahulu " Veln menghentikan langkah Ray dengan menjulurkan lengan dan melebarkan telapak tangannya. Sekali lagi Ray dibuat senyum-senyum oleh Veln.
" Dia sepupuku, adiknya Denis. Anak dari Om Aldo dan Tante Susan " Ray menjawab pertanyaan Veln dengan rinci dan pergi berlalu benar-benar meninggalkan Veln dengan tersenyum.
○○○
Selang beberapa menit terdengar suara pintu diketuk, dan terlihat sekertaris Sam masuk.
" Maaf Nona, saya mengganggu sebentar " Dengan menganggukkan kepalanya sopan terlebih dahulu.
" Sekertaris Sam. Tidak mengganggu sama sekali, ada apa? " Masih dengan posisi semula duduk diatas sofa.
" Saya membawa dua pelayan untuk membantu Nona membersihkan diri, dan teman-teman Nona yang akan menemani anda sementara " Mendengar ucapan sekertaris Sam, mata Veln tertuju kearah pintu masuk dan tak lama terlihat dua orang pelayan dan para bridesmaid masuk setelah mendapat intruksi dari sekertaris Sam.
Liana dan yang lainnya langsung menghampiri kearah Veln sembari tersenyum sumringah.
" Ku kira kalian sudah pulang " Cahaya mata Veln yang sempat redup karena kantuk kini mulai bersinar kembali melihat para bridesmaid abal-abal datang menyerbunya.
" Kami tidak diperbolehkan untuk pulang " Ucap mega sembari diikuti anggukan Yana dan Mila.
" Katanya kita harus menyelesaikan tugas terakhir dulu sebagai bridesmaid " Mbak Susan memberikan penjelasan.
" Yup, mungkin termasuk mengganggu malam pertamamu dengan si tampan mapan itu " Liana menimpali sembari diiringi gelak tawa oleh yang lainnya. Veln pun ikut tertawa dibuatnya.
" Ehem " Suara dehem sekertaris Sam menghentikan obrolan mereka.
" Nona perkenalkan ini dua pelayan yang akan membantu anda membersihkan diri " Ucapan sekertaris Sam sukses membuat para bridesmaid itu berdecak kagum dan mulutnya membentuk kata WOW.
" Perkenalkan Nona, saya Lala "
" Dan saya Lili " Mata Veln bergantian menatap kedua perempuan muda itu dengan senyum.
" Kalian kembar? " Veln takjub melihat Lala dan Lili yang begitu sama hampir tak bisa dibedakan.
" Benar Nona " Mereka menjawab serempak sembari menganggukan kepalanya.
" Baiklah Nona, saya tinggal dulu. Saya akan kembali satu jam kedepan untuk memastikan anda beristirahat. Permisi " Sekertaris Sam undur diri meninggalkan mereka.
○○○
" Nona bagaimana kalau kita bersua foto kembali dikamar mewah ini " Liana sedikit meledek temannya memanggil Veln dengan sebutan Nona.
" Benar Nona, mumpung kami masih terlihat cantik tak kalah dari Nona " Timpal Mila. Veln hanya senyum-senyum tersipu malu melihat tingkah mereka yang meledeknya. Mereka pun akhirnya sibuk bergonta ganti gaya dan tempat, mata fokus Veln didepan kamera terhenti ketika melihat Lala dan Lili yang masih setia menunggu sembari berdiri.
" Lala, Lili.. ayo kemari, kita berfoto bersama-sama " Ajak Veln ramah. Dengan senyum malu-malu sikembar menggelengkan kepalanya.
" Tidak apa-apa, ayo sini " Ajak Veln lagi. Sikembar tetap menolak dengan halus. Akhirnya Liana dan Yana menghampiri mereka, dan menarik paksa Lala dan Lili untuk ikut berpose bersama mereka. Hasil fotonya mungkin sekarang sudah memenuhi isi sebagian galeri ponsel mereka.
Dikamar tepatnya diatas tempat tidur Yana, Mega dan Mila masih sibuk berpose tiduran sembari terdengar perdebatan-perdebatan kecil mengenai angle foto.
__ADS_1
" Ih yang bener dong Yan. Cari angle yang bagus dong, yang seperti benar-benar terlihat bangun tidur. Yang natural " Protes Mega.
" Ya sudah kamu tidur dulu saja, kapan lagi bisa ngrasain kasur kelas hotel bintang lima, nah nanti pas bangun baru aku fotoin " Ucap Yana sembari cekikikan.
" Yuk Mil, kita pose berdua dulu sementara Mega ngrasain empuknya nie kasur " Mila pun menurut saja tanpa protes.
Sementara Veln sedang sibuk menghapus make up nya dan melepas dandanan yang lainnya dibantu oleh Mbak Susan, Liana dan sikembar.
" Nona Veln, kalau boleh tau setajir apa laki-laki yang sekarang jadi suamimu " Liana mulai kepo.
"Tanya saja sama Mbak Susan, Mbak Susan lebih tau dari aku " Jawab Veln ngasal. Mbak Susan dan Liana menaikkan kedua alisnya dan saling pandang kebingungan.
" Kok ke saya? " Masih dengan rasa bingungnya.
" Mbak Susan kan tantenya jadi pasti lebih tau " Jawab Veln sambil tersenyum.
" Maksudnya? " Susan dan Liana kompak meminta penjelasan.
" Iya, tante boss kita sama namanya kayak Mbak Susan, namanya Tante Susan " Veln menjelaskan dengan rinci. Mendengar samar obrolan Veln.. Mega,Yana,dan Mila langsung mendekat.
" Apa?benarkah " Serentak Mila, Mega dan Yana memastikan. Veln yang wajahnya masih dipoles-poles dengan kapas pembersih menganggukan kepalanya.
" Ya ampun Mba Susan maafin aku ya, yang suka ngledekin Mbak Susan " Ucap Yana sembari menangkupkan kedua telapak tangannya.
" Aku juga ya Mbak, maafin karena udah berani jodoh-jodohin Mbak Susan dengan Bang Dika " Mila ikut-ikutan meminta maaf.
" Aku juga Mbak, minta maaf " Mega juga tidak kalah sembari memeluk Mbak Susan dari belakang yang sedang sibuk menghapus make up Veln.
" Kenapa kalian jadi pada minta maaf begini " Mbak Susan lebih-lebih dibuat bingung oleh tingkah mereka bertiga.
" Pokoknya Mbak Susan jangan ngomporin ke boss ya buat memberhentikan aku " Ucap Mila, Yana dan Mega pun ikut mengiyakan.
" Memang Mbak Susan punya pengaruh apa sampai bisa memberhentikan kalian? " Liana dibuat penasaran juga oleh mereka.
" Bukannya barusan sudah jelas kalau Mbak Susan Tante dari Pak boss " Terang Yana. Liana langsung mentoyor kepala mereka satu persatu dengan pelan. Dan spontan ruangan itu menjadi gaduh karena bunyi tawa begitu juga dengan sikembar yang ikut terpingkal atas kesalah pahaman dari pendengaran mereka bertiga.
" Ooo "
" Ya, kalian kualat. Bukannya bantuin Nona boss malah sibuk sendiri " Protes Liana sembari sibuk membantu Veln. Tiga serangkai itu hanya senyum-senyum malu.
" Dari pada sibuk senyum-senyum, mending kalian yang mau sama Mas Denis buru deh rayu dan baik-baikin Mbak Susan " Ledek Veln.
" Termasuk kamu Na " Mata Veln melirik kearah Liana.
" Secara Mbak Susan selain Tantenya si boss, dia itu juga Mama dari Mas Denis tau " Veln menggoda cewek-cewek Manja Coffe.
" Maksudnya mereka sepupuan? Tuan Ray dan boss Denis? " Liana menyauti.
" Hem " Veln menjawab singkat sembari manggut-manggut. Tiba-tiba Liana dan tiga serangkai itu langsung berebut bersimpuh dipangkuan Veln menggeser posisi Mbak Susan yang sedang serius membantu menghapus make up Veln, begitu pula dengan Lala dan Lili ikut tersingkir dari jangkauan Nona mudanya.
" Iparku, bantu aku untuk mendapatkan Pak boss " Sembari mendongakkan kepalanya menatap Veln Liana memohon.
" Aku juga mau " Mila menimpali.
" Pokoknya kami semua mau, bantu kami Nona. Tenang saja kita pasti akan bersaing secara adil, benarkan say? " Ucap Yana sembari melirikkan matanya kearah rival-rivalnya. Yang lain pun ikut mengiyakan. Veln tersenyum lucu melihat tingkah mereka.
" Na, kamu pasti kaget.. ternyata Danis temen kita itu adik dari Mas Denis " Spontan mata Liana membulat.
" Pantes mereka agak mirip, itu juga yang bikin aku penasaran kenapa sampai ada Danis diacara tadi pagi "
" Jadi cowok yang seumuran kita itu namanya Danis? Veln, aku dijadiin sama dia juga nggak pa-pa " Mila dan Yana ikut mengiyakan perkataan Mega.
" Ok, fix. Berarti Pak Boss buat aku, karena kalian akan sibuk memperebutkan Danis " Liana tersenyum menang,merasa saingannya berkurang banyak.
Sementara Veln cuma bisa senyum-senyum lucu dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka.
Mbak Susan kembali keposisinya serius membantu Veln menghilangkan seluruh make up diwajahnya.
__ADS_1
" Mbak, aku dukung Mila yang mau jodohin mbak Susan sama Bang Dika " Susan hanya senyum-senyum saja mendengar perkataan Veln.
" Aku juga dukung "
" Aku juga "
" Kalian ini, tapi saya sie nggak nolak itu pun kalau dianya mau. Hahahaa " Mbak Susan tertawa memaksa.
" Bang Dika pasti mau Mbak, dia selalu bersemangat kalau ngobrolin Mbak Susan tiap kali aku nebeng pulang sama dia " Kata-kata Veln seolah memberi angin segar buat Susan.
" Ah kamu, bisa saja " Susan merasa malu.
" Cie cie.." Goda yang lain.
" Bener Mbak, kalau memang Mbak Susan suka sama Bang Dika malah bagus. Karena Bang Dika juga bener-bener suka sama Mbak Susan " Veln meyakinkan.
" Wah bakal ada yang cepet-cepet nyusul kepelaminan nih " Goda Liana.
" Nabung dulu lah.. memang Veln, yang beruntung mendapatkan pangeran berkuda putih "
" Benar sampai lupa, tadikan aku lagi membahas segimana tajirnya kekayaan yang dimiliki si tampan mapanmu itu? " Mata Liana langsung menatap lekat kearah Veln.
" Mana ku tau. Nanti ya kalau aku sudah selesai menghitung seluruh kekayaan suami ku, aku laporin ke kamu " Veln menjawab santai.
" Lagi pula bagaimana bisa kalian sampai berfikiran kalau si boss itu tajir? "
" Ya ampun kamu masih nggak bisa lihat betapa tingginya kelas ekonomi si tampan mapan itu? " Yang lain ikut manggut-manggut mendengar mulut Liana berbicara.
" Dari mulai tempat resepsi, coba tanpa pesta tapi dekorasinya wah. Kamar hotel ini, bukankah diperuntukkan buat orang-orang tertentu yang kelas ekonominya menengah keatas saja tidak seperti kita-kita "
" Betul " Sambung Yana.
" Dan lihat lah mereka berdua, keberadaannya sudah jelas membuktikan segimana tajirnya pangeran mu, nona " Sembari menunjuk kearah sikembar.
" Yup " Mega menimpali diikuti anggukan dari Mila.
" Hem. Yang Mbak Susan pikir pelayan-pelayan seperti Lala dan Lili cuma ada didrama-drama korea saja, ternyata ada didunia nyata. Seperti saat ini, mungkin karena selain kamu cantik, kamu juga baik dan rendah hati makanya Tuhan memberikan kado terindah " Veln cuma bisa tersenyum mendengar perkataan mereka.
Mungkin orang itu, sitampan mapan itu memiliki banyak uang. Tapi setajir apa dia, aku sendiri juga tidak tau. Bahkan dia memiliki pekerjaan atau tidak juga aku tidak tau. Yang aku tau cuma satu, setidaknya dia memiliki Manja Coffe sebagai sumber penghasilan yang benar-benar terlihat sekarang.
Kemudian mata Liana langsung sigap menatap sikembar.
" Lala atau Lili.. ayo ceritakan setajir apa majikan kalian? " Lala dan Lili hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban apa pun. Membuat Liana dan yang lainnya tambah penasaran.
" Hoaaam " Mulut Veln menguap lebar.
" Aku ngantuk sekali, mungkin efek dari semalam karena tidak bisa tidur " Ucap Veln sembari trus menguap.
" Eit jangan cari-cari alasan untuk menghindar ya " Liana terus mendesak.
" Sudahlah, sebaiknya kita juga pulang sebelum diusir oleh pria yang mengantar kita tadi " Ajak Mbak Susan kepada yang lainnya.
" Jangan khawatir Na, kalau aku sudah tau setajir apa sitampan mapan itu aku akan lapor sama kamu " Ledek Veln sembari tersenyum.
" Lala.. Lili kalian juga boleh kembali ketempat kalian, aku mau mandi mungkin agak sedikit lama trus habis itu mungkin mau langsung tidur, beristirahat mau meluruskan badan " Ucap Veln sembari tersenyum kearah mereka berdua.
" Dan buat kalian, aku ucapin terimakasih banyak ya "
Mereka pun saling berpelukan secara bergantian dan meninggalkan Veln yang masih ditemani Lala dan Lili yang masih sibuk membereskan baju pengantin yang dikenakan Veln, sementara sekarang Veln berganti mengenakan handuk kimono dan berlalu menuju kamar mandi.
○○○
Buat para readernya jangan lupa like dan comentnya ya.. biar autor lebih bersemangat buat menuliskan cerita selanjutnya.
Yang udah sempetin like dan coment, autor ucapin banyak-banyak terimakasih.😊
Bersambung..
__ADS_1