
Ray dan Veln kini sudah berada dihalaman rumah Nenek Lusiana. Mereka segera masuk kedalam dan kebetulan Mami Rosa yang menyambutnya.
" Ray " Lirih terdengar sapaan Mami Rosa yang terlihat canggung.
Veln melepaskan diri dari genggaman tangan Ray dan mendekat kearah Mami Rosa. Veln mencium punggung tangan perempuan itu, yang disambut usapan lembut dirambut kepalanya.
Tak lama munculah Rosi, menghampiri kakak iparnya.
" Kak V " Mereka cipika-cipiki menunjukan seolah-olah mereka sudah kenal dekat dan akrab. Lalu Rosi menyapa kakaknya, lebih tepatnya kakak tirinya yang sedari tadi hanya berdiri dihadapan mereka dengan tatapan acuh dan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celana.
" Kak Ray " Rosi tersenyum manis yang hanya mendapat balasan kedipan malas dari Ray. Namun, Rosi mengerti dan tidak ambil pusing. " Boleh aku pinjam kak V sebentar? aku akan ajak kak V kekamar ku, nanti malam aku mau menghadiri pesta ulang tahun teman ku, dan aku mau meminta bantuan kak V untuk memilihkan baju apa yang cocok untuk aku kenakan nanti " Ujar Rosi panjang lebar, Ray hanya mengangguk mengiyakan tanpa mengeluarkan suara. Rosi pun langsung menarik kakak iparnya masuk lebih dalam lagi menuju kamarnya.
" Nak, " Mami Rosa kembali bersuara menghapus keheningan diruangan tersebut sepeninggal Veln dan Rosi. " Maaf, waktu itu Mami tidak ikut hadir diacara pernikahan mu " Mami Rosa berbasa-basi, padahal sebenarnya tidak perlu untuknya meminta maaf karena memang dia tidak diundang dan tidak diharapkan juga kedatangannya oleh Ray.
" Tidak apa " Sorot Ray begitu datar dan tidak ramah.
" Mami menyukai istri mu, dia perempuan yang manis " Ujar Rosa dengan menautkan kedua telapaknya dan meremas-remas jari-jemarinya. Rosa akan selalu mendadak panas dingin saat bertemu Ray.
" Terimakasih " Ray melangkah lebih dekat kearah Ibu sambungnya " Nampaknya, kau hidup dengan baik saat ini " Menelisik wanita dihadapannya yang terlihat sehat dan bugar. " Apa putramu, memperlakukan mu dengan manis? " Tanpa menunggu jawaban, kemudian Ray melangkah meninggalkan Mami Rosa.
" Te_ terimakasih Ray, semua ini berkat kebaikan mu " Ray menghentikan sejenak langkahnya, mendengarkan ucapan Rosa. Kemudian berlalu begitu saja meninggal Ibu sambungnya.
○○○
" Nenek, aku kangen nenek " Veln menghentikan arah tujuannya begitu juga dengan Rosi saat melihat perempuan tua itu sedang asik duduk diruang tengah. Tanpa canggung, Veln menghambur kepelukan Lusiana dan sudah tentu perempuan baya itu menyambutnya dengan senang hati.
" Gadis nakal " Menepuk pundak cucu menantunya yang berada dalam pelukannya pelan. " Bagus, kau masih ingat dengan perempuan renta ini " Mereka pun terkekeh.
" Sering-seringlah kak V kesini, mengusir sepi saat kak Ray terlalu sibuk dengan pekerjaannya " Ujar Rosi menyambung yang mendapat anggukan dari dua orang yang masih belum melerai pelukannya.
" Mami setuju " Rosa menyambung, lalu duduk dan bergabung.
Ray pun datang dengan botol air mineral ditangannya, dan meletakkan begitu saja diatas meja.
__ADS_1
" Jangan menempel seperti itu. Kau bau, penuh debu dan keringat " Ray menarik tubuh Veln dari dekapan Neneknya. Veln nyengir kuda kearah Lusiana dan mengecek aroma tubuhnya dengan mendenguskan hidung dikedua lengannya bergantian.
" Maaf Nenek, aku mengotori tubuh mu. Kau juga Rosi, Mami juga.. ups, kalian semua. Maaf " Sesal Veln dengan mata mengedar pandang keseluruh nama yang dia absen. Dan tawa kecil dari bibir mereka pun terdengar, dengan minus suara Ray.
" Nek, dimana bocah tengil itu? "
" Renand ada dikamarnya " Bukan Nenek yang menjawab, tapi Mami Rosa. " Tunggulah, Mami akan meminta bibi untuk memanggilnya " Begitu Rosa hendak mengangkat pantatnya, matanya mendapati langkah pelayan yang kebetulan lewat. Akhirnya Mami Rosa memanggil pelayan tersebut dan memintanya untuk memanggilkan Renand.
Sementara menunggu adik kecilnya, Ray menarik tangan Veln untuk duduk disofa panjang lainnya, tentu masih dalam satu ruangan.
" Ayo kak V, kita kekamarku sebentar " Rosi mengingat tujuan awalnya, yaitu membawa kakak iparnya untuk masuk kekamarnya dan memilihkan gaun yang cocok untuk dikenakannya diacara pesta ulang taun temannya. Namun Mami Rosa menghentikannya, dengan menarik Rosi untuk ikut duduk disampingnya tatkala mendapati tangan Ray yang menarik tubuh Veln untuk bersandar dilengannya yang terlentang diatas sandaran sofa. Seolah mengisyaratkan untuk Veln tetap ditempat.
Sebentar mereka mengobrol-ngobrol ringan sementara menunggu Renand turun, tentu dengan Ray yang hanya setia menjadi pendengar dan itu sukses membuat kecanggungan Mami Rosa terlihat saat mengeluarkan suaranya. Karena meskipun acuh, nyatanya telinga Ray tetap terbuka menerima gelombang suara. Terlihat dari raut wajahnya yang berubah agak malas saat Rosa mengeluarkan kata-kata.
○○○
Renand muncul dengan semangat empat lima, dan tersenyum manis kearah Veln. Akhirnya, dia dapat kembali pulang kerumah kakak tersayangnya.
" Ayo kak " Renand sudah tidak sabaran untuk angkat kaki dari rumah itu.
Namun nampaknya Ray sebelas dua belas dengan adiknya, tidak ingin berlama-lama berada diruangan itu. Membuat sorot mata Lusiana dan Rosa menatap kecewa saat melihat gerakan Ray yang hendak beranjak dari duduknya.
" Aduuuh, seluruh tubuhku terasa sakit. Kepalaku pusing dan pening " Veln memahami keinginan Nenek dan Mami Rosa, akhirnya dia menahan Ray dan Renand dengan cara seperti itu. Dia menyandarkan kepalanya dipundak Ray dan menenggelamkan wajahnya dileher suaminya. " Pijit pelipis aku ya, sebentar " Veln mendongakkan wajahnya kearah Ray, dengan kepala masih menempel ditubuh suaminya. Lusiana dan Rosa yang paham dan mengerti tersenyum mengembang.
" Kak, mungkin itu pengaruh dari kehamilannya " Renand yang polos membuka suara, dan makna ucapannya sukses membuat seluruh yang ada disitu kaget bercampur senang.
" Hamil !!! " Ucap Nenek Lusiana, Mami Rosa dan Rosi bersamaan dengan binar bahagia.
" Akhirnya, perkembang biakan dari keluarga Wiratama kembali produktif " Ujar Lusiana dengan terkekeh geli.
" Kalian sudah mengeceknya? " Mami Rosa antusias.
" Kalau pun sudah, tidak apa kalau kita cek ulang. Aku akan keapotik membelikan testpack untuk kak V " Rosi tidak kalah antusias.
__ADS_1
" Tenangkan diri kalian, jangan terlalu berharap. Kita belum memastikan apakah V hamil atau tidak. Akan kami cek nanti, kalau pun hasilnya negatif.. Aku akan terus berjuang sampai membuatnya hamil " Pernyataan blak-blakan Ray yang direspon tawa oleh yang lainnya membuat Veln tersenyum malu dipelukan suaminya.
" Astaga, kak. Tidak liat ada yang masih dibawah umur " Protes Renand.
" Kau kan sudah matang sebelum berkembang " Dan kembali sukses, kata-kata Ray membuat suara tawa bergema diruangan tersebut.
Ya setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya terdengar lagi tawa canda dirumah itu. Meskipun belum sepenuhnya hati mereka saling memaafkan atas kesalahan dimasa lalu, bukan mereka tapi hati Ray dan Rey lebih tepatnya hati Ryu Saka Wiratama.
" Kau akan mendapat akibatnya V, karena sudah lancang dan berani menahan ku disini " Bisik Ray mesra ditelinga istrinya, disela-sela canda dan tawa mereka dengan jari-jarinya sibuk memijit-mijit pelipis istrinya. Veln hanya mengangguk pasrah, siap dan menerima akibatnya.
○○○
Begitu sampai Renand nampak antusias menaiki tangga menuju kamarnya, begitu juga dengan Ray dan Veln tak sabar ingin secepatnya masuk kedalam kamarnya.
" Kita mandi yuk " Menarik pergelangan tangan Veln, untuk membawanya kekamar mandi.
" Kau duluan "
" No, aku dan kamu " Mengerti maksud Ray, pipi Veln langsung bersemu merah.
Bersiaplah.. tanggung akibatnya.
Ray langsung memanggul Veln dengan tawa mengudara, menepuk pantat istrinya gemas dan langsung membawa lari kekamar mandi.
Ray bertolak pinggang dengan mata menatap menelusuri tiap lekuk tubuh istrinya, yang sudah dia turun kan tepat dibawah shower dari gendongannya.
Veln menggigiti jari telunjuknya, sembari mengumpulkan energi karena hendak dilahap habis suaminya. Dan sialnya, kelakuan perempuan satu ini semakin membuat gairah Ray menanjak.
Ray menggelengkan kepala, tidak habis pikir terhadap perempuan satu ini. Masih terbungkus utuh dengan stelan trainingnya saja sudah berhasil memporak-porandakan pikiran liarnya.
Ray mendekat, meraih pinggang dan tengkuk istrinya.. ******* perlahan bibir sexy itu, menyingkirkan telunjuk yang tadi menghalanginya. Ciumannya semakin lama dan dalam, sampai ketika Veln terlihat gelagapan Ray berpindah tempat menuruni leher menjilat dan mencecapnya. Ray mendorong pelan tubuh Veln menempel tembok, dengan tangan menurunkan retsleting kaos training Veln. Sebelah tangan Ray kini sudah menyelusup kebagian dada Veln yang menonjol dengan bibir yang masih asik mencumbu dan bergerak semakin kebawah mensejajari jari tangannya yang kini sudah mulai meremas-remas bagian itu.
Veln melenguh menikmati setiap sentuhan bibir dan jari-jemari Ray, tangan Veln mencengkeram rambut Ray dan memijit-mijit kepalanya tanpa sadar. Ditambah lagi Ray yang menyingkap baju atasan dan branya, mencengkeram dua gunung kembarnya dengan tak lepas bibirnya memberi kecupan semakin kebawah menuju perut, pusar dan bagian tubuh lainnya. Sampai pada tingkat gairah tertingginya.. mereka kini sudah tak berlapis benang sehelai pun. Ray menciumi seluruh tubuh Veln dari wajah sampai kaki, dan naik lagi menuju wajahnya. Tangan kekarnya menuntun satu kaki Veln untuk melingkar dipinggangnya, membuat Veln pun reflek mengalungkan tangannya dileher Ray untuk menyeimbangkan tubuhnya. Kemudian jari Ray menyempatkan diri untuk menyalakan shower, air pun tepat berjatuhan ditubuh mereka yang telah melekat sempurna. Hentakan demi hentakan mengiringi penyatuan kedua manusia itu, yang awalnya perlahan kini semakin cepat dan kuat. Membuat yang seharusnya terlepas, kini benar-benar bebas ditandai dengan getaran ditubuh mereka berdua.
__ADS_1
*Ahaaaaay.. matur thank you ya buat coment, like, rate n Votenya.
Readers teruskan ya lakukan itu, jangan pernah bosen. Karena semua yang kalian lakukan itu membuat author senang dan bersemangat 😙*