Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
43.Brother complex


__ADS_3

Satu minggu berlalu setelah kejadian sore itu, tak ada pencerahan apapun yang keluar dari mulut Ray. Namun Veln sudah tak ambil pusing lagi, dengan rasa cemburu berlebihan yang ditunjukkan Ray untuk dirinya saja sudah cukup ketika Veln menggodanya dengan berpura-pura merayu sekertaris Sam.


Satu minggu pula Veln ditinggal Ray dikediamannya dengan para pekerja dirumah ini, karena Ray saat ini sedang berada diluar kota melakukan perjalanan bisnis.


Perempuan ayu itu keluar dari zona nyamannya ketika rasa bosan melanda, dirumah ini tempat favorite utamanya adalah ruangan kamar tidur. Dia bahkan dapat mengahabiskan waktunya seharian hanya berada dikamar, dan itu ia lakukan setiap hari. Veln begitu betah berdiam diri dikamar karena selain luas, aroma kamar ini begitu dia suka.. aroma Ray, begitu khas dan menguar disana, dan perempuan itu menyukainya.


Veln berjalan keluar sembari membetulkan rambut ekor kudanya. Dia terlonjak kaget ketika ditikungan menabrak seseorang.. dan lebih kaget lagi ketika matanya menatap seseorang yang ia tabrak, sampai tubuhnya tidak bisa menahan keseimbangannya sehingga membuat Veln jatuh terduduk diatas lantai. Lama Veln terduduk diatas lantai dengan merasakan pantatnya yang ngilu akibat mencium lantai dan menatap seseorang yang berdiri didepannya dengan posisi kedua tangan dimasukkan kedalam saku celana dan menatap kearah Veln dengan sinis.


" Ray " Berucap dengan memicingkan matanya " Kenapa Kau jadi lebih muda seperti ini? Kau meninggalkan Ku hanya untuk berganti kulit? " Masih dengan tatapan herannya kearah lawan yang Dia ajak bicara.


" Cih.. bangun dan jangan menatapku seperti itu " Veln menggerakkan tubuhnya perlahan untuk beranjak bangun dengan menahan rasa linu dipantatnya.


" Ray " Veln masih menatap heran kearah yang ia panggil Ray " Kau kembali muda?kenapa bisa begini? " Memandangi dengan bingung dari ujung kaki keujung kepala berulang-ulang kali.


" Berdirilah dengan benar " Memprotes Veln yang berdiri dengan sedikit melengkungkan tubuhnya agak kebelakang karena menahan ngilu dipantatnya yang masih terasa " Berputar " Nadanya memerintah sembari menelisik tiap lekukan tubuh Veln.


Entah karena bodoh atau apa? Veln menurut saja tiap perintah yang dia dengar dari mulut laki-laki itu, berputar menunjukkan tiap lekuk tubuhnya.


" Cih.. entah apa yang membuat Kakakku sampai mau menikahimu? " Menyandarkan tubuhnya didinding dengan tangan bersidakep dan memandang remeh kearah Veln.


" Kakak? " Sedikit tercengang " Kau saudara suamiku? "


" Kau bahkan sama sekali tidak istimewa.. benar-benar begitu standar " Renand berlalu begitu saja meninggalkan Veln yang masih termenung.


Renand, lebih tepatnya Renand Taxa Wiratama adalah adik laki-laki Ray yang lahir dari rahim ibu sambung Ray. Renand begitu dekat dan nurut terhadap Ray ketimbang sama Ibunya, karena menurutnya Ray lebih bijaksana terhadapnya dibanding dengan ibunya yang suka mengekang dan memaksakan kehendak. Bahkan Renand lebih memilih in the kost dibanding tinggal satu atap dengan ibunya, atau sesekali Renand tidur dan tinggal dirumah Kakaknya. Renand begitu sangat mengidolakan Ray, selain fisiknya yang begitu mirip seperti kembar yang berbeda usia, sifat dan tingkah lakunya tidak jauh beda dengan Ray. Bahkan Renand mengikuti setiap gaya Ray, saking ngefansnya dia akan mengikuti dan menyamakan dirinya dengan Ray.


" Tunggu " Veln menghentikan langkah Renand.


" Kenapa? " Berbalik, menjawab dengan suara lantang dan berkacak pinggang dan menatap Veln tidak suka.


" Kenapa kau begitu tidak sopan sekali terhadap orang yang lebih tua? ditambah lagi kalau aku ini adalah Kakak iparmu? " Emosinya tak terpancing, Veln berbicara masih dengan suara lirihnya.


" Karena aku tidak mood untuk berbicara denganmu " Menunjukkan jari telunjuknya kearah Veln " Kenapa Kakakku begitu bodoh hingga menjadikanmu sebagai pendamping hidupnya, membuatku emosi saja berbicara denganmu.. satu lagi awas kau, jangan pernah mempengaruhi dan mencuci otak Kakakku "


" Kau tanya kenapa? Adik kecil aku akan menjawab setiap pertanyaanmu.. mungkin Kakakmu bisa melihat apa yang tidak dapat kau lihat dari aku, dan kau mencela Kakakmu dengan mengatakannya bodoh?! bukankah sama saja dengan mencela diri sendiri karena kau kan Adiknya.."


" Kau.."


" Untuk masalah mempengaruhi atau mencuci otaknya itu tergantung sikapmu nanti kepadaku "


" Ka_"


" Satu lagi jika kau tidak suka bicara dengan ku, kau bisa berbicara dengan tembok untuk melepaskan kekesalanmu " Menepuk-nepuk pelan salah satu tembok ruangan " Baiklah, sampai ketemu lagi adik iparku tersayang.. bye " Veln berlalu dengan tersenyum puas. Sementara Renand terlihat begitu kesal hingga mengacak-acak rambutnya sampai berantakan tak jelas.

__ADS_1


○○○


" Bi " Sapa Veln lembut ketika melihat Bibi Stela yang sibuk menata makanan diatas meja.


" Kebetulan Non, makan siang sudah siap.. mau makan disini atau dikamar? "


" Disini saja Bi.. emm, sepertinya aku akan makan siang bersama dengan adik Ray "


" Tentu Non, Bibi akan meminta tolong pada mereka untuk memanggil tuan muda Renand "


Jadi adik kecilku bernama Renand !


Bibi Stela pun meminta tolong pada salah satu pelayan dibawah asuhannya untuk memanggil tuan muda keduanya turun.


" Bi, mereka mirip sekali ya.. seperti kembar "


" Benar sekali Non, bahkan sikap, gaya dan tingkah lakunya pun hampir mirip.. lebih tepatnya tuan muda Rey mengcopy semua tentang Kakaknya "


" Hmm.. mereka sama-sama judes kalau sama orang baru "


" Tapi begitu penyayang ketika sudah saling mengenal dan merasa cocok "


" Sekaligus agak somplak " Veln terkekeh disusul tawa kecil Bibi Stela.


○○○


Renand yang duduk bersebrangan dengan Veln melahap habis makanan kesukaannya tanpa sisa.


" Bi, seperti Biasa ini mantap.. Bi Ana memang the best " Ucap Rey dengan mengacungkan kedua jempol tangannya.


Seketika otak Veln bekerja dengan maksimal " Terimakasih " Mengerlingkan matanya kearah Bibi Stela " Kalau kau menyesalinya, kau bisa memuntahkan isi dalam perutmu " Mendengar perkataan Kakak iparnya membuat Rey urung untuk melangkah pergi dari tempat itu. Rey menatap tajam kearah Veln seolah meminta penjelasan.


" Menu makan siang yang baru kau habiskan dengan lahap itu hasil masakanku " Veln tersenyum menyeringai. Rey sedikit terbelalak kaget, dia merutuki kata-kata pujian yang keluar dari mulutnya barusan.


" E_em " Seolah membereskan kerongkongannya yang menelan sesuatu yang asing sembari berfikir merangkai kata yang pas untuk dilemparkan kearah pendamping hidup Kakaknya " Good.. Aku menemukan satu kelebihan yang dilihat oleh Kakakku darimu, aku tunggu potensi yang lainnya semoga tidak mengecewakan " Rey beranjak pergi dari tempat itu,tentu dengan gaya cool dan kerennya.. memasukkan kedua tangannya kesaku celana dan berjalan bak model yang sedang mengikuti fashion show.


Veln membuang nafas lega, menatap kearah Bibi Stela dengan malu.


" Maaf ya Bi, aku sudah mengklaim hasil masakanmu " Veln tersenyum tersipu " Emmm.. kalo tidak salah dengar Rey memanggil Bibi Stela dengan sebutan Bi Ana " Sedikit berfikir " Wah.. nama Bibi keren juga ya Anna Stela? " Veln menunjukkan jempolnya kearah perempuan tua itu.


Bibi Stela terkekeh " Bukan Anna Stela Non, tapi Hannaya " Terang Bibi.


" Hannaya Stela? "

__ADS_1


" Hannaya saja " Veln mengernyitkan dahinya, bingung.


" Lalu kenapa bisa dipanggil Stela? "


" Itu panggilan khusus dari tuan muda Ray " Bibi tersenyum simpul.


" Ck, kenapa dia seenaknya menggonta-ganti nama orang? apa Ray membuatkan tumpengan ketika memberikan panggilan khusus itu pada Bibi? "


Bibi tersenyum lebar " Tidak Non " Dan menggelengkan kepalanya tatkala mengingat awal cerita nama Stela yang disematkan oleh sang majikan terhadap dirinya.


" Kalau begitu aku akan mengikuti Rey, memanggil Bibi dengan sebutan Bi Ana " Bibi Stela mengangguk tanda setuju.


" Non, jangan dimasukin hati ya sikap ketus tuan muda Rey barusan " Veln tersenyum dan mengangguk " Justru dengan tuan Rey bersikap begitu secara tidak langsung mengakui dan menerima kedatangan Nona, kecuali kalau dia tidak suka dan menolak kedatangan orang lain tuan muda Rey akan bersikap masa bodo dan tidak akan sudi berbicara dengan orang tersebut "


" Em.. Aku mengerti Bi, Kakaknya saja seperti itu jadi wajar kalau Adiknya bersikap seperti ini " Veln dan Bibi terkekeh.


Lama mereka mengobrol, dan tentu kesempatan ini Veln gunakan untuk sedikit mengorek tentang Ray dan keluarganya, meskipun hanya sedikit informasi yang didapat karena Bibi tidak terlalu banyak membuka mulutnya jika menurutnya sudah diluar kapasitasnya. Bibi seolah berkata akan lebih baik kalau setiap pertanyaan dijawab langsung oleh majikannya. Tapi lumayan mulut irit Bi Ana cukup membantu sedikit untuk mengenali keluarga Wiratama.


○○○


" Kau benar-benar penyayang binatang? " Rupanya Renand sengaja menunggu dan menghadang Kakak iparnya dilantai dua dilorong menuju kamar Kakaknya, yang tentu ditempati oleh perempuan yang sedari tadi sengaja ingin dia ajak ribut " Perlakukanlah selembut mungkin kucing dalam gendonganmu, sebelum dia binasa ditanganmu " Rey melirik sinis.


Sebal dan kesal tentu satu paket dalam benak Veln, bagaimana bisa Adik kecil dihadapannya bersikap begitu sangat kurang ajar terhadapnya.


Binasa ditanganku?!! dia pikir aku ini pembunuh apa!!!


" Aku tidak tau apa yang salah dengan dirimu Adik kecil, meluap-luapkan amarah tanpa alasan yang jelas.. sepertinya kau membutuhkan banyak istirahat untuk membenarkan sistem kerja dalam otakmu " Masih dengan nada sabarnya " Daripada kita berdebat sesuatu yang tidak jelas, bagaimana kalau kita berteman? " Veln mengulurkan telapak tangannya kearah Rey.


Renand terlihat sedikit berfikir..


" Ok, akan aku coba " Rey mengepalkan telapak tangan kanannya dan meninjunya sangat pelan kearah telapak tangan Kakak iparnya " Awas kalau kau sama cerewetnya dengan perempuan itu, meracuni dan mempengaruhi Kak Ray dalam hal mendidikku " Veln hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Adik iparnya, setelah menikmati senyum manis Kakak iparnya Rey bergegas pergi begitu pun Veln terlihat hendak melangkah masuk menuju kamar tidurnya.


" Tunggu Kakak ipar " Langkah Veln terhenti mendengar ucapan Rey, berbalik kearah Adik dari suaminya dan mendapati senyum menyeringai tercetak disudut bibir Renand " Aku kasih tau satu hal " Agak memajukan wajahnya dan melakukan gerakan seperti berbisik dari kejauhan " Kucing peliharaan Kak Ray yang sedang Kau gendong manis itu adalah.. kucing pemberian Stela, mantan kekasih Kak Ray " Veln sedikit terkejut yang membuat Renand tersenyum puas dan berlalu pergi.


Reflek Veln melepaskan pelukannya terhadap hewan berkakaki empat tersebut, yang spontan membuat binatang itu meloncat turun dari gendongan Veln dan pergi menjauh.


Untung aku memiliki sifat pri kebinatangan, dan kau lebih memilih menjauhi ku sweety.. kalau tidak (berfikiran yang macam-macam), aku akan menjualmu. Kata itu yang lebih tepat dan manusiawi untuk diucapkan.


Hallo..


Sebenarnya part selanjutnya sudah memasuki kecerita tentang pergulatan Ray dan V diatas ranjang dan moment-moment romantis antara Ray dan V, tapi author masih mikir-mikir karena bertepatan dengan bulan ramadhan.


Jadi mending dilanjutin sesuai rencana awal atau lebih baik melebarkan kecerita yang lainnya dulu???!!!🤔🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2