Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
73. Campur tangan


__ADS_3

Diluar pagar yang menjulang tinggi, Veln masih berjalan menjauhi bangunan mewah nan megah itu. Dia masih belum berniat untuk menghubungi taxi online.


Setelah melewati seluruh bangunan besar itu, seketika kakinya terasa lemas. Pening dikepala menyerangnya dan mual melanda perutnya.


Veln segera berjongkok saat keringat dingin keluar bercucuran membasahi dahinya, entah bagaimana itu bisa terjadi? sepertinya ada banyak faktor.


Kemungkinan karena cuaca yang begitu panas dan terik, atau mungkin imbas dari perlakuan Ray? mungkin juga akibat rasa lapar dalam perutnya.


Ketika Veln sibuk mengusap pelipisnya, datang sebuah mobil dengan mengklakson dan berhenti tepat disampingnya.


" Kak V " Renand muncul dari balik kemudi.


Veln mendongakkan wajahnya, dia langsung bangkit mendapati Renand dihadapannya.


" Boy "


" Kau sedang apa kak? kau pucat sekali "


" Aku mau pulang "


" Kalau begitu ayo.. aku juga mau menemui kak Ray "


" Boy, sekarang aku tinggal diapartemen " Veln tersenyum kecut.


" Apa? " Rey tersentak kaget. " Apa kak Ray mengusir mu? kalian belum berdamai? "


" Pergilah, temui kakak mu "


" Kak V, aku akan mengantar mu "


Renand pun mengemudikan mobilnya kearah apartemen yang Veln tinggali, yang sebelumnya menggiring kakak iparnya terlebih dahulu dikursi penumpang disamping dirinya dengan sedikit memaksa.


Renand mengulurkan sebotol air mineral kearah kakak iparnya, dengan cepat Veln menyambar dan meminumnya hingga hampir kandas.


" Boy, apa kau punya sesuatu yang bisa dimakan? " Sepertinya Veln butuh energi setelah perang dinginnya bersama Ray.


" Kak V mau camilan? " Veln mengangguk, Renand pun menghentikan mobilnya sebentar untuk mengambilkan kresek yang berisi camilan dijok belakang, sisa semalam saat hangout bersama teman-temannya.


○○○


Ray meninggalkan Veln dan sekertaris Sam yang begitu terburu-buru, ternyata hanya untuk menuju kamarnya.


Dia membuka pintu kamarnya, dan dengan cepat berlari menuju kamar mandi.


Hoek hoek hoek..


Ray berusaha mengeluarkan rasa mual dalam perutnya. Hasratnya yang begitu sangat ingin memeluk Veln saat itu dia tahan dengan sekuat tenaga, harus dibayarnya dengan merasakan perut yang seolah-olah diaduk-aduk dengan brutal hingga isinya minta ditumpahkan.


Ray sampai tidak habis pikir, keinginannya untuk memeluk wanitanya yang dia tahan sekuat tenaga harus dibayar mahal dengan tubuhnya, khususnya dibagian perut yang seolah diguncang gempa berkekuatan tsunami.


" Hufttt " Ray membuang nafasnya kasar, memandang sendiri wajahnya dari pantulan cermin. Terlihat jelas disana rasa rindu yang begitu membuncah namun berselimut emosi.


Entah, akan sampai kapan Ray menyiksa dirinya sendiri dengan tetap bertahan dikeadaan yang seperti ini.


○○○


" Kak V, jelaskan padaku.. apa hubungan kalian benar-benar seperti dalam keadaan perang dunia? " Renand terus memperhatikan kakak iparnya yang sibuk mengambil nasi dan lauk-pauk diatas piring.


" Kau tidak mau makan boy? "


" Jangan mengalihkan pembicaraan kak "


" Bu Ani mau kemana? " Veln menghentikan langkah bu Ani yang sepertinya hendak pergi dari ruangan tersebut. " Gabung disini, kita makan siang bareng " Bu Ani pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi, dan memilih makan bersama dengan nonanya seperti biasa.


" Kak V " Renand terlihat kesal dan protes karena pertanyaannya tak kunjung mendapat jawaban.

__ADS_1


" Hem " Veln menjawab santai, dan tangannya menyuapkan sesendok makanan kemulut Renand secara paksa untuk menutup mulut berisik adik iparnya. Dengan cepat Renand mengunyah dan menelannya.


" Aku butuh jawaban " Cecar Renand.


" Makanlah dulu, biar perut mu adem tidak merasa kepanasan ketika mendengar cerita ku " Rey pun mengangguk, dan menyuapkan sendiri makanannya yang diambil dari piring Veln. Seperti dengan Ray, Veln makan sepiring berdua dengan adik iparnya.


Begitu selesai bu Ani langsung membereskan meja makan dan segera mencuci piring kotornya.


" Kenalin bu, ini Rey calon pria dewasa masa depan yang akan dielu-elukan banyak wanita " Veln menjawab raut penuh tanya bu Ani terhadap Renand dengan terkekeh.


" Haa " Renand tertawa geli. " Cukup kak, kak apa sikap ku yang waktu itu begitu memperkeruh hubungan kalian? "


" Tidak, boy " Veln menjawab dengan menyuapkan cemilan kedalam mulutnya.


" Jangan bohong kak, aku tau dia akan sangat sensitif sekali dengan semua hal yang berhubungan dengan kecelakaan papa " Renand menatap lekat kearah Veln, dan Veln menyungging senyum kearah adik iparnya " Maaf atas sikap ku yang waktu itu kak, saat itu aku benar-benar shock. Setelah dipikir-pikir, memang benar itu sudah takdir. Garis Tuhan yang memang harus terjadi " Renand terlihat sangat menyesali kejadian waktu itu.


" Terimakasih boy, akhirnya kau bisa mengerti dengan semua ini "


" Sekarang katakan separah apa hubungan mu dengan kak Ray "


Veln tersenyum miris " Bisa dibilang seperti ibu tiri dengan anak sambungnya yang tidak pernah akur atau seorang istri ketika bertemu dengan seorang pelakor " Veln terkekeh.


" Serius kak V "


" Memang sepergi itu Rey "


Bu Ani menyela obrolan mereka berdua, meminta Veln untuk meminum obatnya yang sudah bu Ani bawakan dari kamar Veln.


" Non, diminum dulu obatnya " Veln mengangguk dan segera melakukan perintah bu Ani.


" Kak V, kau sakit? "


" Itu hanya vitamin "


" O.. " Mulut Renand membulat.


" Kak V, hamil " Renand tersentak. " Apa kak Ray tau? " Veln mengangguk pelan.


" Ray tau kalau aku hamil, tapi sepertinya kakak mu masih membutuhkan banyak waktu untuk berfikir "


" Maksudnya? " Dengan terpaksa akhirnya Veln bercerita, tentu tidak disertai dengan perlakuan Ray yang kasar dan tidak mencerminkan kebaikan. Veln hanya menceritakan point pentingnya saja, bahwasannya saat ini dirinya dan Ray sedang membutuhkan masa-masa saling berintropeksi diri.


Tak puas dengan penjelasan kakak iparnya, Renand memilih berpamitan dan hendak menemui kakaknya melanjutkan tujuan utamanya sebelum bertemu Veln sekalian meminta penjelasan lebih dari Ray.


Tapi dengan membawa serta bu Ani, dengan alasan sekalian mengantar perempuan tua itu untuk membeli susu hamil terlebih dahulu buat kakak iparnya.


Tentu disepanjang perjalanan mengantar bu Ani, Renand tidak membuang kesempatan.


Dengan kedudukan yang kuat sebagai adik dari ayah janin yang dikandung Veln membuat Renand dapat dengan mudah mengorek informasi yang terjadi terhadap kakak iparnya melalui bu Ani.


○○○


" Kaaak.. " Renand sudah menjerit-jerit sedari memasuki pintu utama.


" Tuan muda Rey, tuan Ray ada diruang kerjanya " Ucap bi Ana yang langsung menghampiri ketika mendengar jeritan Renand.


Renand pun langsung melangkah lebih dalam menuju ruangan yang dimaksud, tanpa mengetuk dia langsung menerobos masuk.


Rey langsung dihadapkan dengan tubuh kakaknya yang sedang duduk bersandar lesu diatas sofa dengan memijit-mijit pelipisnya.


Sementara sekertaris Sam yang duduk dihadapan Ray, terlihat fokus sedang menjelaskan beberapa berkas kepada tuannya.


" Kak bisa kau jelaskan kepadaku, apa yang terjadi dengan kalian? "


" Apa maksud mu? "

__ADS_1


" Aku sudah tau semuanya kak "


" Jadi perempuan itu mengadu kepada mu? "


" Tidak, aku yang mencari tau sendiri saat bertemu dengan kak V aku melihat ada yang tidak beres dengannya "


" Memang dia itu sama tidak beresnya dengan kedua orang itu " Melihat gelagat yang tidak baik, Sam langsung membereskan berkas-berkas penting itu untuk segera diamankan.


" Cukup kak, saat aku mendengar kenyataan yang sebenarnya untuk pertama kalinya aku memang merasa begitu shok. Tapi, benar apa yang dikatakan kak V. Dalam hal ini tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, karena ini takdir yang sudah digariskan Tuhan " Ray bangkit dan berkacak pinggang.


" Jadi sekarang kau berpihak kepadanya? " Terdengar nada ketidak sukaan Ray dilontarkan untuk Renand.


" Kak jangan bilang kau masih disibukkan mengingat kecelakaan papa dengan berselimut ego dan kebencian "


" Perempuan itu berhak menerima kebencian dan perlakuan dari ego ku "


" Otak mu benar-benar harus direparasi kak, agar jalan fikiran mu kembali lurus "


" Jangan mengajari ku, aku tau apa yang harus aku lakukan "


" Kak V hamil, dia mengandung keponakan ku dan kakak membuangnya untuk tinggal diapartemen. Apa itu yang kau sebut tidak perlu diajari? "


" Dia bisa mengurus calon bayi dan dirinya sendiri "


Buuuught.


Renand geram dan meninju Ray dengan spontan, perkataan kakaknya semakin lama semakin membuat jengkel ditelinga.


Sam terkesiap namun tak sedikit pun ada keinginan untuk melerai emosi Renand yang menggebu.


Sam malah menganggap tinjuan yang dilakukan Renand terhadap Ray merupakan suatu bentuk perwakilan dari dirinya atas kekesalan terhadap tuannya yang sudah bertingkah sangat keterlaluan terhadap nonanya.


Ray tersenyum menyeringai ketika mendapatkan bogem mentah dari Rey, membuat Rey semakin geram dibuatnya ketika melihat wajah menyebalkan kakaknya.


Akhirnya Rey pun melayangkan kembali tinjuannya berkali-kali untuk melepaskan rasa kesalnya, hingga membuat Ray terhuyung dan jatuh.


Bugh bugh bugh..


" Aku tidak menyangka, memiliki kakak sebanci ini "


Cuih..


Renand meludah sebal " Aku pastikan, kau akan menyesalinya kak sudah berani berbuat sampai sejauh ini. Mintalah maaf kepada kak V, sebelum semuanya terlambat " Renand berlalu pergi dengan masih membawa rasa marah diubun-ubun. Rencananya untuk memberitahukan kakaknya soal bea siswa luar negri yang didapatnya pupus sudah, terlupakan begitu saja.


Begitu pun dengan Sam, dia juga memilih pergi dengan dalih tidak mau terlambat untuk pertemuan penting mewakili tuannya.


Malas sekali untuk Sam jika harus membantu dan mengobati luka-luka Ray. Biar Ray merasakan semuanya sendiri, siapa tau dengan begitu fikirannya dapat kembali lurus.


Ray yang terluka diujung bibir dan pelipisnya masih setia terlentang menikmati dinginnya lantai ruang kerjanya. Rasa perih berdenyut ditubuhnya yang terluka. Bukan dia tak bisa untuk melawan adik kecilnya, hanya saja Ray memang tak berniat membalas tiap tinjuan Renand. Karena dalam fikirannya berharap pukulan Renand dapat membantunya untuk memerangi perasaan berat, perasaan yang membuatnya menjadi seperti orang gila yang kejam dan tega jika berhubungan dengan wanitanya.


○○○


Setelah selesai makan malam, Veln yang hendak kembali kekamarnya mendengar bel pintunya berbunyi.


Veln mengira kalau bukan sekertaris Sam pasti adik kecilnya, Renand yang datang.


Namun alangkah terkejutnya perempuan ayu itu ketika mendapati siapa yang bertamu dan mengunjungi apartemennya malam ini.


" ... "


.


.


.

__ADS_1


🤣😙


__ADS_2