
Keesokan harinya Veln terlihat sudah lebih baik, pagi ini bahkan dia mandi membersihkan diri seperti biasanya. Dia benar-benar sudah merasa fit, sehat dan bersemangat seperti sedia kala.
" Tetaplah diam disini, kita sarapan dikamar " Suara Ray menghentikan pergerakan Veln yang hendak menuju pintu keluar.
" Kenapa tidak sarapan dibawah saja? Adikmu pasti menginginkan sarapan bersama kita "
" Kau masih pemulihan, masih butuh banyak istirahat.. tidak boleh terlalu capek dulu "
" Aku benar-benar sudah sehat Ray, kau tidak lihat aku sudah begitu fit dan energik begini. Lagi pula tidakkah kau merasa iba melihat Renand yang terlihat kesepian dan butuh perhatian " Memang dari pertemuan pertama dengan Renand, Veln merasakan ada yang tidak beres dari anak itu. Renand seperti berusaha mencari kebersamaan dan arti dari sebuah keluarga itu seperti apa?
" Ok, kita sarapan dibawah.. tapi ada syaratnya " Ray tersenyum menyeringai.
" Apa? " Suaranya langsung ketus.
" Cium dulu " Dengan tersenyum menggoda.
" Ogah.. noh cium aja tembok " Veln langsung beranjak meninggalkan Ray.
" Kalau tidak mau kita sarapan dikamar " Veln langsung menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Ray. Veln mendenguskan wajahnya kearah wajah Ray dengan sedikit berjinjit dan tentu dengan sangat senang hati Ray mulai menyatukan bibirnya dengan bibir Veln, menahan tengkuk istrinya hingga terciptalah morning kiss yang begitu lama dan hot.
" Dasar bad boy.. pandai dalam mengambil kesempatan " Veln menyundulkan kepalanya kedada bidang Ray.
" Ini tidak seberapa sayang.. Kau tau pembangkanganmu itu bisa menimbulkan kerugian besar untukku " Veln membulatkan matanya " Ya,dengan keras kepalanya kau memaksa untuk sarapan dibawah. Kalau kau kelelahan lagi dan suhu tubuhmu kembali meningkat sudah jelas disini aku yang dirugikan karena harus menahan keinginan adik kecilku " Ray terkekeh sendiri atas pernyataan vulgarnya.
" Ya ampun Ray.. pernyataanmu itu membuat ku ingin secepatnya menerjangmu " Veln tersenyum manis " Tapi bo.. ong " Secepat kilat Veln beranjak pergi sebelum sesuatu yang lain terjadi. Dan disana, disudut bibir Ray terlihat senyum menggelitik tercetak.
○○○
" Pagi Rey " Ray menepuk pundak adik kesayangannya yang sedang duduk memunggungi dirinya diatas kursi meja makan.
" Kak " Rey menyapa balik Kakaknya " Pagi Kakak ipar " Lanjutnya lagi menyapa Veln yang muncul dari balik tubuh Kakak yang sangat diidolakannya. Veln membalas sapaan adik kecilnya dengan senyuman semanis mungkin.
" Sudah insaf? " Veln mendelik bergantian kearah Ray dan adik kecilnya. Merasakan aneh atas ucapan suaminya, sementara yang diberikan pertanyaan hanya nyengir kuda tanpa menjawab.
" Aku akan mengantarmu sebagai hadiah, karena tidak membolos lagi " Renand mengangguk mantap, senang sudah pasti jangan ditanya lagi. Senyum Renand mengembang dengan balutan seragam sekolah menengah atasnya.
Kini mereka tengah asik menikmati sarapan paginya dengan hikmat, sampai bersih tak tersisa namun disela akhir Veln merasa tidak ikhlas untuk melepas mangkok bubur kosong dihadapannya.
__ADS_1
" Kenapa? masih mau nambah? " Terlihat jelas raut wajah Veln yang masih begitu kelaparan oleh Ray. Dengan cepat Veln menganggukkan kepalanya.
Tak berselang lama bubur kloter kedua pun datang dan sudah mendarat tepat dihadapan Veln. Tanpa ragu perempuan ayu itu menyendok dan memasukkannya kedalam mulut. Ray dan Renand yang telah menyelesaikan sarapannya kini hanya sibuk memperhatikan tiap sendok bubur yang melesat cepat kemulut mungil seseorang yang paling cantik sendiri diantara mereka.
" Kak, kau tidak takut gemuk makan sebanyak itu? " Pertanyaan Renand seolah menampar keras mulut Veln.
" Tidak " Veln menggeleng tegas, kenyataannya Veln tidak akan takut gemuk meski makan banyak. Beruntunglah karena sebagai perempuan dia benar-benar memiliki point lebih, ya point yang banyak didamba kaum hawa dimuka bumi ini yaitu berat badan yang tetap stabil meski memasukan banyak pasokan makanan. Tiba-tiba terbesit pikiran jahil dalam benaknya.
" Memang kalau aku menjadi gemuk masalah untukmu " Matanya menatap lurus kearah Renand.
" Tidak " Menunjukkan dua jempolnya dengan senyuman takjub. Bagaimana bisa ada seorang perempuan yang sama sekali tidak mengkhawatirkan berat badannya.
" Bagaimana denganmu Ray? "
" Tidak masalah " Jawaban Ray yang tanpa beban malah membuat kedua mata Renand dan Veln bersitatap merasa heran.
" Benar tidak masalah untukmu Kak? ketika Kak V menjadi gemuk dan tidak seksi lagi? " Renand langsung cepat-cepat memastikan.
" Hem.. itu perkara mudah boy, kalau V berubah menjadi gemuk tinggal buka ****** udaranya saja maka akan kembali kebentuk semula "
Veln mengedarkan pandangannya keseluruh orang-orang yang berada diruangan tersebut, tentu dengan tatapan tajamnya. Kesal sudah pasti mendengar lelucon suaminya, yang menyamakan dirinya dengan balon atau ban sepeda yang jika terlalu banyak terisi udara akan terlihat menggembung dan cukup membuka pentilnya ketika ingin menormalkan bentuknya.
Secepatnya ingin bangkit, namun urung karena menatapi mangkok bubur yang masih tersisa.. tidak tega jika harus mengabaikan dan meninggalkan begitu saja kelezatan bubur yang hanya sisa sedikit, akhirnya memilih bertahan menghabiskan sendok demi sendok dengan wajah yang sulit untuk diartikan.
" Ehem" Ray berdehem untuk memulihkan suasana yang diiringi Renand dengan nyengir kuda dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Menyadari berasal dari dirinyalah awal mula permasalahan yang terjadi.
Veln bangkit dengan arogan setelah menghabiskan porsi sarapan bagian keduanya, membuat semua yang berada disitu terkaget dengan gerakannya.
" Karena ada yang menyinggung perasaanku, aku jadi malas untuk ikut mengantarmu " Matanya tajam lurus menatap Renand dan segera pergi berlalu.
" Aku hanya bercanda sayang, jangan diambil hati " Sebentar langkah Veln terhenti dan berbalik menghadap Ray " Sekali pun kau gendut, aku tetep sayaang.. karena aku jatuh cinta bukan dengan fisikmu " Setelah mendengarkan kata penghiburan dari mulut Ray, Veln melanjutkan ngambeknya. Sengaja ingin membuat Ray gelisah dan merasa bersalah dan memang didalam lubuk hatinya yang terdalam pun tidak berminat untuk ikut mengantarkan adik kecilnya.
" Cih. Percaya diri sekali, siapa juga yang mau mengajakmu " Ray tertawa puas setelah Veln benar-benar menghilang dari ruangan tersebut.
" Kau terlalu kejam Kak " Menyesali perbuatannya dan perilaku Kakaknya.
" Kita jalan " Ray menatap jam tangannya dan bangkit, bersiap mengantar adik kesayangannya.
__ADS_1
○○○
Beruntung sekali perjalanan pagi itu agak sedikit lancar, sehingga tidak sampai menguras emosi dan rasa kesal dalam diri Ray yang tengah fokus mengemudikan kendaraan roda empatnya.
" Kau sudah bertemu dengan ibu mu, boy? " Renand menggeleng kuat " Pulanglah dan temui dia, bagaimana pun dia perempuan yang melahirkanmu " Rey mengangguk malas.
" Kak, kau sendiri kapan akan berdamai dengan Ibu? " Melirik tajam kearah adik kecilnya sedikit tak suka atas pertanyaan yang dilontarkan Renand " Tepatnya memaafkan Ibuku? " Menatap lekat Kakaknya yang sedang fokus menatapi jalanan.
" Aku mengerti Kak, kau tidak perlu menjawabnya " Diam sejenak hanya terdengar deru mesin mobil ditelinga " Dengan kau sudah mau merawat dan menganggapku sebagai adikmu saja itu sudah cukup " Menghela nafas panjang " Dan sepertinya aku akan lebih sering pulang kerumahmu, dibandingkan kekosan. Karena sepertinya aku sudah mulai jatuh cinta kepada Kakak ipar, aku ingin lebih dekat lagi dengannya. Istrimu benar-benar sangat menggemaskan " Renand nyengir kuda saat mendapat plototan dari Ray.
" Sebagai pria muda apa kau benar-benar sudah tidak laku lagi? sampai kau begitu kurang ajar menggoda wanitaku " Ray mentoyor kepala Renand dengan tidak sungguh-sungguh yang hanya ditanggapi tawa geli oleh Renand " Carilah perempuan yang benar, kalau bisa yang setara dengan V ku " Dengan perasaan bangga menyebutkan nama wanitanya.
" Ah.. Aku tidak berselera, aku takut mendapatkan perempuan yang tidak benar karena perbuatan Ibu dulu " Suara Rey tiba-tiba melemah.
" Karma tidak akan dirasakan oleh orang yang tidak melakukan perbuatannya, balasan keburukan hanya akan menimpa pada pelakunya " Suara dingin khas dari seorang Ray kini terdengar kembali.
" Kau bisa gunakan aku sepenuhnya Kak, manfaatkan aku dengan baik untuk membalaskan dendammu. Aku berada dipihakmu. Wanita itu akan sangat kepanasan karena putra kesayangannya tidak pernah akan berada dibelakangnya "
" Ini tidak adil untukmu boy, lupakan.. fokuslah, cari perempuan yang setara dengan V ku. Bukankah seusiamu lagi asik-asiknya mengenal perempuan " Senyum Ray kembali diujung bibirnya.
" Untuk itu sepertinya aku harus sedikit bekerja keras "
" Benar-benar memalukan, ketampanan yang setara dengan dewa yunani yang aku wariskan untukmu terbuang percuma, karena sampai saat ini ternyata kau masih belum laku juga " Ray berdecih frustasi.
" Bukan belum laku Kak, hanya saja aku masih belum siap terjual " Terdengar nada pembelaan dari mulut Renand " Kau tidak tau saja banyak wanita yang mengantri hanya untuk dijadikan pacar olehku, dan saat diantara salah satu dari mereka ada yang seperti Kak V mu, aku akan langsung menyeretnya kepelaminan "
Pletak.. suara nyaring dari jitakan tangan Ray dikepala adiknya membuat Renand mengaduh.
" Selesaikan dulu pendidikanmu dengan benar, jangan seenaknya membawa asal anak gadis orang kepelaminan "
" Siap Boss " Renand memberi hormat kearah kakaknya dengan kepala mengangguk " Tapi aku protes keras, bagaimana bisa ketampananku diwarisi darimu?!! "
" Tentu saja bukan "
"Jelas, karena Papalah kita bisa jadi setampan ini " Mereka pun tertawa dengan bersamaan, sampai pada akhirnya tak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah berada tepat didepan bangunan besar bertingkat yang menguarkan aroma-aroma ilmu pengetahuan dan segala aktifitas yang berbau remaja, baik dari segi percintaannya, kesetiakawanan berikut dengan ragam pertikaiannya.
Bersambung..
__ADS_1