
Veln keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan mengenakan setelan piyamanya, pandangannya tidak mendapati Ray berada dikamar. Namun layar televisi terlihat masih menyala tanpa ada yang menonton.
Dia pun meraih remot televisi yang berada diatas meja hendak mematikannya dengan menekan tombol merah.
Tak lama terlihat pintu kamar terbuka dan benar saja ternyata Ray masuk dengan membawa sebuah coklat yang sudah sedikit terbuka bungkus ujungnya, sepertinya Ray hendak memakan coklatnya.
Melihat Ray masuk, Veln pun menyalakan kembali televisinya. Ray menghampiri istrinya yang hendak beranjak dari ruangan tersebut menghalangi dan menahannya dengan berdiri tepat dihadapan Veln.
" Makanlah " Ray menyodorkan coklatnya kearah mulut Veln, namun Veln hanya memandanginya saja dan berbalik melangkahkan kakinya kesisi yang satunya untuk dia agar dapat beranjak dari ruangan tersebut. Tiba-tiba Ray menarik tangan Veln dengan cepat yang membuat istrinya terduduk disofa bersamaan dengan dirinya.
" Makanlah " Kembali Ray menyodorkan coklatnya kearah mulut Veln. Masih seperti sebelumnya dia tak membuka mulutnya hanya menatap kebatang coklat yang berada ditangan suaminya dan melirik Ray sebentar. Merasa tidak direspon Ray menaruh coklat yang sama sekali belum termakan itu keatas meja. Tangan Ray menarik lengan Veln hingga membuat istrinya tertidur dipangkuannya. Jari-jari Ray mengelus lembut rambut Veln.
Cih. Bahkan dia melakukan ini saat Yas berada dipelukannya.
Veln menepis lembut tangan Ray, entah mengapa saat itu dia justru tak menyukai sentuhan tangan Ray. Tidak seperti waktu itu bukannya membuat merasa nyaman malah saat ini dia merasakan panas ketika jari-jari Ray menyentuhnya.
" V.. besok aku akan meeting dengan Sam. Mungkin agak lama, tidak apa-apa kan kau aku tinggal? " Veln hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara.
" Maaf.. sebenarnya ini perjalanan bisnis yang diselipi bulan madu, karena pernikahan yang mendadak jadi Sam belum sempat membuatkan jadwal untuk bulan madu yang sesungguhnya " Veln hanya setia mendengarkan perkataan Ray tanpa merespon dengan mata yang fokus menatap layar televisi dipangkuan Ray.
" Mungkin lain waktu Sam akan menjadwalkan bulan madu season kedua, setelah menyesuaikan dengan jadwal pekerjaan ku " Ray memiringkan kepalanya yang ditumpu oleh telapak tangannya sembari memperhatikan wajah Veln yang masih fokus menatap layar televisi tanpa mengeluarkan ekspresi apapun. Padahal saat itu sedang diputar acara lawakan.
" Kau mau menelfon orang rumah? Sam mungkin menyimpan nomor paman mu " Ray memancing karena mencium ada yang tidak beres dengan istrinya yang sedari tadi diam tak bersuara. Namun senjata andalan yang dikeluarkan Ray tetap tidak membuat Veln tertarik.
" Baiklah.. perempuan yang kita temui tadi adalah Yas " Sepertinya Ray menangkap apa yang diinginkan Veln. Veln melentangkan posisi tidurannya dan mulai bersemangat untuk mendengarkan cerita Ray dengan mata menatap penuh kearah Ray.
" Dan tidak ada lagi yang perlu aku ceritakan tentang dia " Mendengar itu, kembali Veln memiringkan kepalanya yang masih bertumpu dikaki Ray kearah tv. Lengannya dijulurkan kearah meja hendak meraih remot, dan diluar dugaan apa yang dilakukan Veln.. Dia memencet tombol volume, menaikkan suara televisi hampir full membuat berisik ruangan itu. Terlihat Ray tersenyum tipis kearah istrinya dan menyaut remot televisi dari tangan Veln kemudian mematikannya dengan memencet tombol merah.
Veln secepat kilat bangun dari pangkuan Ray hendak beranjak dari tempat itu, namun lagi-lagi tertahan karena tangan Ray sigap menariknya.
" Lepas " Dengan suara penuh kekesalan Veln meronta. Bukannya melepaskan, Ray malah menarik tubuh istrinya lebih dekat membuat Veln terkesiap dan meraih bantal sofa dan memukul-mukulkan kearah Ray. Pukulan Veln tidak merubah apa pun hingga dia semakin kesal dan reflek menggigit lengan Ray dengan kuat.
" Astaga.. Kau galak sekali, seperti harimau betina yang melindungi anaknya dari ancaman binatang lain " Ray pun melepaskan tangannya dari lengan Veln dengan terpaksa karena rasa kaget yang ditimbulkan dari gigitan istrinya. Secepat kilat Veln beranjak dari duduknya, namun ketika akan pergi dari ruangan itu kaki Veln terbentur meja karena saking buru-burunya membuat dia mendesis kesakitan.
" Au " Ray langsung menghampiri istrinya dan memegang kaki Veln yang terbentur meja tersebut untuk memeriksanya namun Veln mengibaskan tangan Ray sembari raut wajahnya terlihat meringis menahan ngilu.
" Diamlah, aku akan memeriksa kaki mu " Meminta istrinya untuk tenang dan tidak banyak bergerak.
__ADS_1
" Aku tidak apa-apa " Veln menepiskan tangan Ray, sebelum Ray sempat mengangkat celana panjang yang menutupi kaki istrinya. Veln memaksakan tubuhnya untuk berjalan setelah dirasa ngilu yang ada dikakinya sedikit menghilang, dan Ray berusaha membantunya dengan memegangi tubuh belakang Veln. Entah karena kesal yang sedang dia rasakan terhadap Ray membuat Veln tidak suka dan menyikut Ray yang berada dibelakang tubuhnya.
" Kau ini sebenarnya kenapa? " Ray ikut terbawa suasana.
" Masih tanya kenapa.. Aku tidak suka karena kau memakan coklat ku " Dengan nada sedikit meninggi tak terkontrol.
" Ya ampun kau tidak lihat coklat mu masih utuh diatas meja, sama sekali belum aku makan sedikit pun Sembari telunjuknya menunjuk kearah meja.
" Tetap saja kau sudah membukanya " Veln berkilah atas amarahnya yang sepertinya tak bisa tertahan lagi.
Astaga.. kenapa aku jadi membawa-bawa coklat dan bungkusnya??? Veln menertawakan dirinya sendiri dalam hati.
" Memang kau tidak takut gendut mau mengkonsumsi coklat itu sendirian? " Veln tak menghiraukan Ray, hendak berbalik meninggalkannya.
" Berhenti. Nona dengarkan baik-baik, aku paling tidak suka ketika berbicara kau malah mengabaikannya " Ray merasa kesal ketika pertanyaannya tak dihiraukan istrinya.
" Kalau begitu, kau harus membiasakan diri untuk berbicara dengan tembok. Sama seperti ku yang diharuskan oleh mu untuk terbiasa berbicara dengan tembok " Lega sekali sepertinya dada Veln ketika mengatakan itu dihadapan Ray.
" Kau sedang menunjukan kecemburuan mu? " Ray terlihat tersenyum penuh membuat Veln kembali merasakan kesal yang sempat menghilang.
" Cih. Siapa juga yang akan memohon dan menangis darah hanya untuk Nona Yas mu " Veln membuang muka membuat Ray juga merasakan panas diseluruh tubuhnya.
Dengan meronta sekuat tenaga, Veln yang kini berada digendongan Ray tak berkutik.
Ray menurunkan tubuh istrinya diatas kasur dengan sedikit kasar. Kilatan mata Ray seketika berubah menjadi tajam dan memburu, membuat Veln terkesiap untuk secepatnya turun dari tepi tempat tidur disisi yang satunya yang membuat Ray harus memutar balik mendekat kearah istrinya.
Ray mendekati istrinya dengan wajah siap menerkam, membuat Veln memundurkan langkahnya hingga terpojok ketembok.
" Habislah kau " Senyum menyeringai Ray membuat bulu kuduk Veln merinding. Sementara Ray tanpa ampun terus mendekat kearah istrinya.
Gleg..
Veln menelan ludah, dengan benar-benar gemetar kali ini.
Mendapati Ray yang sekarang sudah benar-benar tak terkendali, matanya seolah-olah menyiratkan bahwa kali ini sudah tidak ada ampun lagi.
Tangan kanan Ray mencengkeram leher Veln, sementara tangan kirinya memegang sebelah pinggang Veln dan menariknya lebih dekat.
__ADS_1
" Bernafaslah.." Ray membisikkan kata-kata ditelinga Veln, yang membuat tengkuk lehernya semakin merinding.
Dengan lembut dan perlahan Ray ******* habis bibir Veln yang membuat istrinya sedikit melebarkan matanya karena merasa kaget. Tangan kiri Ray mulai aktif dan hendak menjelajah tiap lekuk tubuh Veln, membuat Veln menggeliat dan meremas-remas pinggang Ray dengan kedua tangannya yang yang sedang memegangi pinggang Ray menahan geli. Ray mendapati mata istrinya yang terpejam terbawa arus seolah menikmati tiap sentuhan dan ciuman yang dia berikan. Dengan senyum menyeringai Ray menghentikan sejenak ciuman dan aktifitas yang lainnya, membuat Veln membuka matanya dan merasa heran menatap Ray.
" Kau sudah siap " Ray memastikan dengan ibu jarinya mengelus-elus lembut bibir Veln.
Veln mengangguk pelan, tanpa komando Ray pun melanjutkan kegiatan menjelajahnya. Kembali Ray menyatukan bibirnya lembut dengan bibir Veln begitu lama dan mengalihkan ciumannya keleher jenjang Veln dengan penuh gairah membuat istrinya kembali menahan sensasi rasa yang baru dengan menggigiti bibir bawahnya dan sedikit mendesis.
" Ray "
Mendengar suara Veln yang terdengar seksi ditelinga membuat Ray semakin liar tak terkontrol. Veln dibuat kewalahan merasakan sentuhan Ray, namun tiba-tiba aktifitas yang sudah hampir memanas itu harus terhenti seketika..
" Aku mau kekamar mandi sebentar " Senyum bersalah terlihat dari sudut bibir Veln. Ray pun melepaskan tubuh istrinya dengan terpaksa dan tak rela dan tubuhnya merasakan lemas seperti ada yang tertahan disana.
Mata Ray lekat menatap punggung istrinya yang sedang berjalan menuju kamar mandi sampai menghilang dibalik pintu. Tak lama terdengar suara gemericik air yang keluar dari kran begitu derasnya.
Veln keluar dari kamar mandi dan mendapati Ray setia menunggu berdiri masih dengan kilatan matanya yang siap menerkam sembari melipat kedua tangannya diatas dada dan menyenderkan sebelah tubuhnya ditembok.
Ray langsung mendekati istrinya dan memulai kembali serangannya.
Setiap tengkuk leher Veln habis diciumi oleh Ray, bahkan disatu titik Ray menciumnya dengan begitu lama. Ray menaikkan wajahnya menuju kearah bibir Veln dan **********, lalu menurunkan kembali wajahnya kearah leher Veln membuat Veln kembali terbawa sensasi dan melupakan satu hal. Satu tangan Ray membuka beberapa kancing baju bagian atas istrinya, menarik sebelah piyama yang dikenakan Veln membuat sebelah bahunya terlihat. Ray menciumi berkali-kali dibagian itu, lalu menghentikan gerakannya. Dengan nafas memburu Ray hendak mengangkat tubuh istrinya memindahkan diatas tempat tidur, namun Veln menghentikan pergerakannya dengan mendekap tubuh Ray dan menenggelamkan wajahnya didada bidang Ray.
" Maaf.. " Kata-kata Veln terdengar lirih dan membuat Ray mengernyitkan dahinya.
" Sepertinya kita terpaksa harus menghentikan ini " Dengan menyesal Veln mengatakannya dan mendongakkan wajahnya kearah Ray, terlihat Raut wajah Ray yang dibuat semakin tidak mengerti oleh istrinya.
" Aku kedatangan tamu " Kembali Veln menenggelamkan wajahnya didada Ray.
" Aku datang bulan " Sembari mengeratkan pelukannya dan menggigiti bibir bawahnya.
Ray terdengar menghela dan membuang nafas panjang, dia mengendurkan pelukan istrinya membuat Veln melepaskan dekapannya ketubuh Ray.
Sejenak mereka saling pandang sembari berdiri berhadapan, terlihat jelas rasa bersalah didalam diri Veln. Sementara Raut wajah Ray terlihat begitu kesal dan kecewa, seperti seseorang yang hendak menumpahkan emosinya namun belum menemukan sasaran yang tepat sehingga tertahan tak dapat diluapkan. Ray mengusap wajahnya kasar, menarik dan membuang nafas panjangnya sampai berkali-kali. Setelah dirasa tenang Ray merengkuh tubuh istrinya, dipeluk dengan eratnya sembari tangannya mengusap-usap rambut Veln dan bibirnya berkali-kali menciumi ujung kepala istrinya.
○○○
Bersambung...
__ADS_1