
Disore yang memasuki senja, Ray yang baru pulang dari gedung pencetak uangnya langsung terkesiap begitu membuka pintu kamarnya.
Pria itu menggelengkan kepalanya diiringi
dengan senyum cengengesan terpatri disudut bibir.
Bagaimana tidak, semenjak kejadian itu, tiga tahun yang lalu ada saja tingkah pola istrinya yang selalu mengejutkan mata.
Seperti saat ini, Veln yang masih terlihat seperti gadis remaja dengan balutan baju santai rumahannya tengah sibuk memasang sebuah tangga lipat tepat ditengah ruang tv kamarnya.
Setelah memposisikan benda itu sesuai dengan keinginan, perempuan itu menoleh kearah pintu. Sepertinya Veln menyadari kedatangan Ray.
Veln menyunggingkan senyum manisnya, dengan berjalan menghampiri Ray.
" Sudah pulang? Bagaimana harimu? Hem? " Veln mencium lembut pipi Ray, tanpa menunggu jawaban atas pertanyaannya.
Ray pun tak berniat untuk menjawab, pria itu hanya membalas dengan memberi senyum dan menikmati atas perlakuan istrinya.
Veln membantu melepaskan dasi yang masih mengalung dileher Ray, dasi yang sudah tak berbentuk.. Yang sudah dilonggarkan sang pemakai sebelumnya. Setelahnya, perempuan itu mengambil alih tas kerja suaminya dan berlalu untuk meletakkan ditempat semestinya.
Veln kembali menghampiri suaminya yang masih berdiri ditempat semula, bedanya sekarang tubuh Ray dalam posisi bersandar ditembok dengan kedua tangan dilipat didada.
" Lanjutkan kegiatanmu " Perintah Ray, saat melihat istrinya hendak menghampirinya.
" Tidak apa, aku bisa melanjutkannya nanti "
" Selesaikan saja sekarang, lagi pula aku tidak membutuhkan apapun. Malah, aku lagi ingin menikmati kegiatanmu "
" Ok " Veln pun langsung berbalik arah, menuju tangga lipat yang sempat dia tinggalkan.
Sebelumnya, perempuan itu menyempatkan diri untuk mengambil tas slempang yang berada diatas sofa. Begitu tasnya tersampir indah dibahu hingga melewati lehernya, Veln bersiap untuk beraksi.
Dengan tanpa ragu, kakinya menaiki tangga satu persatu hingga ujung. Tepat dipuncak, dengan terampil jari-jemarinya memutar bohlam kearah kiri. Rupanya, Veln hendak mengganti lampu bohlam yang padam dengan yang baru. Bohlam yang padam, Veln masukkan kedalam tas. Dan segera menggantinya dengan yang baru, yang dirinya ambil dari dalam tas itu juga.
Ray semakin cengengesan tak terkendali, saat menyadari fungsi tas yang tersampir dipundak istrinya. Nyatanya tas itu mempermudah perempuan itu. Karena Veln tidak harus repot menaiki dan menuruni tangga dengan menggenggam kotak bohlam yang merepotkan.
" Selesai " Perempuan itu bertepuk tangan, kemudian membuat gerakan mengibas seolah membersihkan debu dikedua telapaknya.
Ray tersenyum miring, lalu menjentikkan telunjuknya.. Meminta Veln untuk mendekat kearahnya.
" Ini salahku, karena membiarkanmu hidup mandiri dalam waktu yang cukup lama.. Hampir mencapai tiga tahun lebih "
" Hanya mengganti bohlam, semua juga bisa melakukan itu "
" Lain kali tidak boleh begitu, sekali pun kau bisa dan sanggup tapi tetap kau harus minta tolong padaku. Ok " Veln mengangguk saja patuh, biar kelar pikirnya. " Aku tidak suka dengan V ku yang terlalu mandiri "
" Hem "
" Tau, kenapa? "
" Kenapa? "
" Disitulah, betapa tidak berartinya seorang pria saat seorang wanita mampu melakukan dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Karena itu, berpura-puralah lemah dan teruslah bergantung padaku, sekali pun kamu sanggup dan bisa "
Veln mendongak dan mendenguskan wajahnya kearah wajah suaminya " Ray, seharusnya kau tidak perlu seprotes ini. Untuk sebagian besar mungkin aku bisa melakukannya sendiri, tapi tidak untuk yang satu itu.. Karena, untuk itu aku benar-benar membutuhkan bantuanmu " Wajah Ray langsung senang ke ge er an, pria itu kini merasakan bahwa V nya ternyata masih membutuhkan dan bergantung padanya meski hanya dalam satu hal. Setidaknya masih aman. Bukankah akan sangat menyedihkan, ketika seorang wanita terlanjur terlalu mandiri dalam hidupnya, bisa kelar harga diri dari seorang pria. Kemungkinan terburuknya mungkin bisa tidak dianggap keberadaannya.
" Hal apa itu? " Kening Ray berkerut penuh tanda tanya.
" Sebuah kegiatan " Ray semakin dibuat penasaran, telapak lelaki itu dia daratkan dipinggang perempuan dihadapannya.
" Kegiatan apa? " Ray menekan pinggang Veln, untuk lebih mendekatkan tubuh perempuan itu kearahnya.
__ADS_1
" Kegiatan membuat adik bayi untuk Ley " Dengan wajah serius dan tanpa dosanya, Veln berucap. Setelahnya, Veln malah mengedipkan kedua bola matanya beberapa kali seolah sengaja meledek pria dihadapannya.
" Akhhhhhh... " Ray mendesah frustasi, petang ini dirinya benar-benar kalah telak dua set dari perempuan dihadapannya. Apa lagi setelahnya terdengar tawa kemenangan menyeruak dari bibir seksi milik Veln.
Namun, alih-alih marah atau kesal.. Ray lebih memilih untuk memanfaatkan keadaan dan situasi ini.
" Baiklah, aku hanya bisa bilang yes " Dengan gerakan cepat, Ray langsung memanggul istrinya layaknya karung beras. Terang saja, hal itu spontan membuat Veln meronta dengan menjerit-jerit tidak karuan.
" Ampun, Ray. Turunkan "
" Akan aku turunkan.. " Ray menuju kasur king sizenya, dan melempar istrinya begitu saja disana dengan senyum penuh menyeringai.
" Akh " Veln mendesah pelan saat tubuhnya mendarat dan bergetar dibenda kotak tersebut. Kali ini Ray yang tertawa puas. " Hentikan " Rajuk Veln, dengan satu tangan menahan dada Ray yang bersiap untuk menyerangnya dan sebelah tangannya menyilang diwajahnya.
" Aku hanya sedang mencoba untuk menjadi laki-laki yang berguna untukmu V " Tawa puas Ray kembali menyeruak.
" Ampun, Ray "
" Hem, sudah aku ampuni " Dengan semakin mendekatkan dirinya kearah Veln.
" Maaf, aku hanya bercanda "
" Aku maafkan " Ray semakin gencar menggoda perempuan itu, mensejajarkan wajahnya kewajah ayu Veln.
" Kalau begitu lepas " Veln menyentil kening Ray pelan, membuat sang pemilik mengaduh manja.
" Nyeri, V "
" Habisnya "
" Bukannya kamu yang mulai " Ray beranjak berdiri dihadapan Veln yang masih terlentang diatas kasur.
" Bener ya.. Awas kalau aku ditinggal tidur lagi, nanti aku obrak-abrik nih kasur beserta penghuninya " Veln malah terkekeh mendengar ancaman manis Ray.
Setelah drama sore itu, Ray pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Menghilangkan rasa lengket akibat debu dan keringat yang bercampur jadi satu.
●●●
Sementara itu dilain tempat, tepat pukul tujuh malam, Fenina yang baru saja mendaratkan tubuhnya diatas kasur terpaksa harus bangun saat mendengar bunyi suara dari ponsel miliknya.
" Hufttt " Perempuan itu hanya bisa menghembuskan nafasnya panjang setelah tak lama mengakhiri panggilan dari telfon selulernya.
Gadis itu beranjak menuju arah pintu kontrakannya, dengan cepat pula dia membuka pintu gerbang yang hanya setinggi satu setengah meter itu.
Semenjak Ayah tirinya semakin tak terkendali, Nina lebih memilih hidup mandiri. Tentu, tetap dengan menjaga talisilaturahmi diantara mereka. Dua minggu sekali gadis itu akan mendatangi rumah, untuk melaporkan diri bahwa dirinya baik-baik saja.. Sekaligus memastikan kondisi adik perempuannya pun sama sehat dengan dirinya.
Namun, sudah satu bulan ini Nina tak menampakkan diri dihadapan keluarganya. Karena Nina sudah mencium niat terselubung Ayah sambungnya. Saat itu, Fenina fikir Ayah sambungnya sudah mencium aroma Renand yang sedang genjar mendekatinya.
Aroma cowo ganteng, tampan dan mapan yang sedang menggilai putri sambungnya. Dan kali ini, demi Renandnya.. Nina tidak akan memberikan kesempatan sedikit pun untuk pria itu dapat mencicipi lembaran rupiah yang keluar dari dompet mantan bosnya. Apalagi pria itu kini resmi telah jadi pacarnya, Nina tidak ingin menjadi perempuan matre yang hanya bisanya menghabiskan uang milik pria kayanya.
Karena itu sebisa mungkin gadis itu menghindar agar jangan sampai bertemu dengan pria tua itu. Beruntung tidak ada satu pun yang tau baik Ayah atau adiknya, tempat tinggal dan tempat kerja barunya. Sehingga , Nina tetap dapat menjalani aktivitas seperti biasa meski diluaran sana Ayah sambungnya tengah sibuk mencari keberadaan dirinya. Bahkan dering ponselnya tak pernah mati, selalu berbunyi dengan nomor kontak yang sama.
" Ada apa? " Nada malas terdengar dari mulut Nina, tanpa basa-basi perempuan itu langsung mengintrogasi maksud dan tujuan kedatangan Renand kekontrakannya.
Nina sama sekali tak merasa kaget dengan kedatangan perdana laki-laki itu ketempat kontrakannya, perempuan itu fikir, mungkin tak ada yang tidak bisa dilakukan pria itu jika sudah menyangkut dirinya. Hanya mencari sebuah alamat tempat tinggal, bukan hal yang sulit untuk Renand.
Justru satu hal yang ditakuti Fenina, perempuan ini lebih takut jika dirinya dipergoki oleh pria tua itu saat sedang bersama Renand. Nina fikir akan lebih baik jika Renand tidak usah bertemu dahulu dengan Ayah sambungnya, sampai kondisi Ayahnya terkendali.. Tidak hanya uang dan uang yang dipikirkannya.
" Cih, beginikah caramu memperlakukan pria tersayangmu? " Nina memutar bola matanya malas, Renand yang sedikit kesal melihat perlakuan wanitanya hanya bisa berkacak pinggang dan membuang pandang kearah langit.
" Ehem, ehem " Nina berdehem mencairkan suasana yang sempat senyap tanpa interaksi. " Ada apa? " Kali ini suara Nina sedikit melunak.
__ADS_1
" Mau ngajak kencan "
" E, eh.. " Nina sedikit kaget tatkala Renand langsung menggiring dirinya masuk kedalam mobil.
" Malam ini jadilah gadis penurut, aku nggak mau ya kalau kencan kita berantakan akibat pembangkanganmu "
" Kamu sehat? " Fenina menjulurkan telapak tangannya kearah kening Renand yang terlihat sudah bersiap untuk menyalakan mesin kendaraan roda empatnya.
" Tentu saja " Renand menepis tangan Nina.
" Syukurlah.. Tapi, kayanya kamu ada salah minum obat "
" Aku hanya konsumsi vitamin "
" Ada kelebihan dosis nggak waktu meminumnya? "
Chiaaaaaaat Shiiiiiiiiiiit.. Jedug.
" Akh.. " Nampak sengaja, Renand menghentikan laju kendaraannya dengan mendadak. Membuat kening Nina harus rela sedikit menyentuh dan mencium dashboard mobil. " Aduuuh, sebenernya kamu ini bener-bener cinta nggak sih sama aku? niat nggak mau ngajak aku kencan? " Kesal Nina.
" Ha ha haa.. habisnya " Renand malah menyeruakan tawanya. " Makanya, tolong punya mulut dijaga. Apa itu? Over dosis? Memang kamu pikir aku pemakai apa? "
" Kalau aku amnesia gimana? repot nanti "
" Ngapain repot, dibikin simple dong.. Lupa ingatan? tinggal karungin terus bawa pulang "
" Aaaaaaaaaaaaaaa "
" Astaga, Fenina. Mulut tolong dikondisikan " Renand langsung membekap mulut perempuan itu yang tiba-tiba menjerit histeris.
Keduanya kini saling bertatapan sembari sibuk menurunkan ego masing-masing. Ego yang tidak penting yang selalu muncul tanpa alasan tiap kali mereka dipertemukan.
" Bagaimana sudah bisa tenang? " Tanya Renand yang begitu lembut dan tak semenyebalkan barusan.
Nina yang mulutnya masih dibekap telapak tangan Renand hanya menganggukkan kepala.
Renand mengusap puncak kepala Nina, setelah membebaskan telapaknya dari mulut Nina.
" Nin "
" Hem "
" Ayolah, mohon kerjasamanya.. Kita buktikan, kalau kita juga bisa romantis seperti pasangan yang lain "
" Jangan harap, dari awal memang sudah salah.. Ngajak kencan udah kayak mau melakukan penculikan "
" Jiahahahaa.. Aku sie orangnya nggak ribet, apalagi kamu tetep menarik perhatian dan terlihat unyu meski hanya berbalut piyama bermotif sapi seperti ini "
" Gombal.. Jadi kencan nggak nih? "
" Jadi lah.. Maka dari itu, berhentilah jadi perempuan yang menyebalkan. Setidaknya untuk malam ini jadilah perempuan yang penurut dan manis "
Fenina mengangguk tanda setuju, setidaknya malam ini dia akan berusaha untuk menjadi wanita yang penurut dan manis sesuai keinginan Renand. Lagi pula dirinya pun lelah jika harus beradu mulut terus menerus tidak jelas dengan pria dihadapannya. Wajar bukan sebagai makhluk Tuhan yang indah dan seksi, Nina juga ingin merasakan suasana nyaman dan romantis saat bersama lawan jenis.
.
.
.
Hii.. Baca juga novel kedua author ya yang berjudul Menggoda.😘
__ADS_1